
Suatu hari di Kerajaan Sterm,
“Hah hah, ayo percepat langkah kalian, mereka semakin dekat,” ucap seorang pria.
Mereka menerjang hutan paling belantara di Kerajaan Sterm dimana tidak banyak orang berani mengambil resiko untuk masuk kesana. Seperti ikut merasakan gejolak kecemasan mereka, sang surya yang sedang mengintip pun kabur pelan-pelan. Suasana petang yang mulai gelap memberikan mereka keuntungan maupun kemalangan. Keuntungannya ialah si pengejar akan lebih sulit menemukan mereka dimana kemalangannya ialah mereka sedang berada di hutan tersebut tanpa pencahayaan sama sekali.
“Paman, saya lelah,” ungkap seorang bocah di rombongan mereka. Kemudian mereka menggendong bocah-bocah tersebut agar pergerakan semakin lancar.
“Disana! Cepat!” Orang terdepan dari pasukan pengejar melihat keberadaan mereka yang sempat berhenti tadi dari jarak jauh.
“Ah, ayo bersembunyi disana.” Pria tadi mengarahkan mereka semua untuk bersembunyi di sebuah gua dibawah tebing. Ketika masuk beberapa meter, mereka bertemu percabangan yang dengan tanpa berpikir panjang, pria tadi mengambil jalan kiri meskipun tidak tahu kemana arahnya dan apa yang akan mereka hadapi.
Mereka berlari sambil meraba-raba dinding gua yang gelap itu. Setelah merasa cukup dalam, mereka berhenti dibalik sebuah batu besar dekat dengan dinding gua. Batu tersebut menjulang dengan ketebalan yang tidak seberapa namun tajam pada bagian atasnya. Bocah-bocah tadi terpejam ketakutan dalam pelukan masing-masing penggendong. Mereka tahu kalau saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengeluarkan suara tangisan.
“Huft … huft ….” Mereka semua mengatur nafas agar tidak terdengar oleh pengejar.
“Huh, pergi kemana mereka,” ucap kepala pasukan pengejar, “Hei kalian, keluarlah! Atau kuhabisi kalian di tempat jika ketemu,” teriak bos sambil memutar-mutarkan tubuhnya memantau ke segala penjuru hutan. Anggota pasukan lainnya mulai berpencar.
“Disini ada gua, mungkin mereka bersembunyi di dalam,” teriak salah satu anggota pasukan yang mengarahkan pemancar cahayanya ke dinding tebing. Pesan tersebut disampaikan dari mulut ke mulut hingga sampai ke telinga si bos. Segera ia memerintah sebagian pasukannya untuk mengepung gua tersebut sedang sebagian lainnya tetap berjaga di tempat.
Pasukan yang mengepung gua kemudian mulai masuk mencari buronan mereka.
“Bos, ada tiga jalur di depan. Kita mau kemana?” tanya anggota pengejar yang masuk ke gua lebih dulu. Si bos memerintahkan untuk membagi tiga pasukan tersebut dan masuk ke setiap cabangnya. Bos itu sendiri masuk ke jalur yang tengah dengan lima orang lainnya.
Mereka ditemani alat penerang yang mereka bawa memasuki cabang itu perlahan dan hati-hati. “Keluarlah kalian sebelum kami duluan yang menemukan kalian, kalau tidak kami tidak akan berbelas kasihan lagi,” setiap tim mengutarakan hal yang serupa.
*Tap. Tap. Tap. *Tim yang mengambil jalur kiri melangkah semakin dalam mendekati posisi pria tadi. Sinar dari alat penerang mereka sudah mulai sampai ke dasar gua dekat batu tempat mereka bersembunyi. Sinar tersebut semakin dekat dan mulai memunculkan kekhawatiran pria tadi dan teman-temannya.
Pria itu mencoba mencari tempat persembunyian lain yang jaraknya tidak terlalu jauh sehingga memungkinkan mereka untuk berpindah tempat dengan cepat tanpa disadari oleh tim pengejar. Berkat sinar dari para pengejar tersebut, ia berhasil melihat sebuah jalan keluar namun beresiko besar. Ia pikir jikalau harus mati karena mengambil jalan itu akan lebih baik daripada mati di tangan para pengejar tersebut.
__ADS_1
“Sst.. Dengarkan aku, kalian lihat itu?” tunjuk pria tadi ke ujung gua yang berupa jurang. Hal tersebut disadarinya setelah para pengejar mengarahkan sinar dari alat penerang mereka ke ujung gua. Bukannya jalan buntu yang terlihat, namun bayangan dari dasar gua tempat mereka manapakkan kaki sekarang memutuskan sinar yang mengenai dinding gua dan dasar gua. Pria tadi berasumsi bahwa itu merupakan jurang.
“Mereka semakin dekat, kita tidak punya pilihan selain kesana,” lanjut pria itu.
“Ta-tapi …,” jawab seorang wanita.
“Tidak ada tapi-tapian, saat ini kita tidak memiliki pilihan lain. Lebih baik kita mati terjatuh dari jurang itu daripada harus mati ditangan mereka." Keraguan yang tadi muncul sudah berubah menjadi sebuah keyakinan. Ketika hendak berpindah,
“Eww apa ini?” ucap seorang pengejar yang menginjak cairan agak lengket seperti lendir. Pria dan rombongannya tadi tersentak ketika mendengar suara si pengejar sehingga kembali duduk karena khawatir akan ketahuan.
“Ada apa?” tanya anggota lainnya. Sresss. Lendir tersebut semakin bertambah dan menjangkau jarak yang semakin jauh. Mereka mundur sedikit demi sedikit tidak ingin menginjak lendir itu. Pria tadi dan teman-temannya masih terduduk di tempat semula. Menyadari sinar yang semakin menjauh, mereka mulai merangkak perlahan menuju jurang di ujung gua. Namun, baru berpindah beberapa langkah, mereka merasakan dasar gua itu bergerak.
Ggrrrr. Sett. Gruduk gruduk gruduk. Semakin lama, dasar gua itu miring dan membuat mereka merosot perlahan ke ujung gua.
“Erm …, itu …, m-makhluk a-apa itu?” ungkap salah satu pengejar.
“Aaaaaa!” dasar gua yang mereka duduki bergerak dan mereka terperosot cepat tak dapat menahan posisi lagi. Batu tempat mereka bersembunyi melebar, ujung tajamnya terpisah menjadi lima bagian dengan selaput diantara satu ke yang lainnya. Ya, itu adalah sirip makhluk yang dilihat oleh si pengejar. Hewan tersebut bangkit setelah menerima rangsangan cahaya yang mengganggunya.
“B-berbalik! Lariii!” teriak anggota pengejar mengarahkan.
Disisi lain,
“Bakat spesialmu! Coba gunakan bakatmu, cepat!” teriak seorang wanita ke pria tadi yang sedang jatuh ke dasar jurang.
“Aku tidak yakin!” jawab pria tadi.
“Lakukanlah! Cepat!” paksa wanita itu. Mereka semakin dekat dengan dasar jurang dan dapat dipastikan kematian akan mendatangi mereka jika sampai kesana dengan kecepatan seperti itu.
“Kyaaaaa!!”
__ADS_1
Whusssss. Pria itu berhasil menggunakan bakatnya tepat sebelum mereka mencium dasar jurang. Pasrah dengan apapun yang akan terjadi, kesadaran mereka hilang. Bakat pria tadi membawa mereka entah kemana, yang pasti berhasil menyelamatkan mereka dari kematian.
Melbourne, Australia
Delan adalah mahasiswa tingkat dua di Universitas Mibourne jurusan Bachelor of Science. Menjadi peneliti dan bekerja di instansi elit bidang penelitian adalah salah satu impian terbesarnya. Namun, perusahaan seperti itu kebanyakan mensyaratkan ijazah sarjana.
Fokus Delan tadinya hanya satu yaitu menyelesaikan kuliahnya dengan baik dan aktif di organisasi yang bersesuaian dengan bidangnya. Ia berharap usahanya dimasa kuliah ini akan mempermudah dirinya untuk menggapai impian. Akan tetapi, semenjak ia menemukan Naryla kembali hari itu di sosial media, fokus Delan jadi terganggu.
“Gue pesen nasi ayam penyet deh, kalian apa?” tanya Delan pada teman-temannya. Mereka sedang berada di restoran Indonesia atas usul Delan yang sedang rindu makanan tanah air.
“Sama, gue juga.” Keempat temannya menyukai nasi ayam penyet disana, namun Keido selalu memberikan sambalnya pada yang lain. Lidah Jepang Keido yang mengategorikan makanan berbumbu lada sebagai makanan yang sangat pedas tidak akan kuat melahap nikmatnya kepedasan sambal ayam penyet Indonesia.
Setelah memesan, Delan kembali ke tempat duduknya untuk berbincang dengan kawan-kawannya itu.
“Hahh.. lelahnya hidup ini,” ucapnya ketika duduk di sebelah Charlos.
“Hidup lu aja kali yang menyedihkan Del, gua sih kagak hehe,” ceplos Charlos.
“Yee dasar lu,” lanjut Delan.
“Gimana Del pencarian pujaan hati lu?” tanya Keido sambil meledek Delan dengan kata pujaan hati.
“Naryla. Namanya Naryla. Jangan sebut pujaan hati deh geli gue dengernya kalo kalian yang ngomong,” jawab Delan.
“Iya iyaa. Jadi gimana Delan kabar pencarian Naryla sang pujaan hati? Apakah sudah ada petunjuk?” Keido makin meledek Delan.
“Et dah, masih aja ni anak,” jawab Delan, “belum ada kabar sampai saat ini. Gue berniat mau cuti kuliah dulu deh kayaknya untuk nyari dia.”
“Apaa?! Cuti kuliah?!
__ADS_1