Merah Kuning Hitam

Merah Kuning Hitam
Episode 5 - Gadis Mandiri


__ADS_3

Beberapa hari terakhir ini Naryla secara intens menghubungi Delan untuk mendapatkan informasi penerimaan mahasiswa baru, kebetulan sekarang dibuka penerimaan mahasiswa baru yang akan ditutup beberapa pekan lagi. Ketika mengetahui informasi tersebut, Naryla langsung mencaripapanya.


“Paa, Papaa…“ Naryla kelilin rumah mencari papanya, tidak berhasil menemukan papanya di rumah, ia pergi ke halaman depan dan belakang namun tetap tidak ada.


“Ila, ada apa nak?“ sahut mama melihat anaknya berkeliling rumah mencari papanya.


“Eh Mama, papa mana ya Ma? Ila mau ngobrolin tentang kuliah di Ausie waktu itu,” jawab Naryla.


“Ohh, papa sedang di kantor, sini bilang ke mama aja nanti mama sampein ke papa kalau udah pulang.” Mama Rianti menawarkan diri untuk mendengar penerangan anaknya.


“Jadi gini Ma, maaf ya sebelumnya Ila ngga bisa ambil kedokteran sesuai yang mama papa mau, tapi Ila pikir mungkin kalo ambil bidang ekonomi bagus juga karena setidaknya mudah-mudahan kedepannya Ila bisa bantu papa di perusahaan. Ila juga kalo bidang sosial ada minat di ekonomi. Nah Ila baru dikasihtau sama senior Ila namanya Kak Delan kalo penerimaan mahasiswa baru di kampusnya lagi buka dan sebentar lagi tutup. Kalo bisa Mama boleh ngga diskusiin sama papa nya dalam beberapa hari ini? Maksudnya kalo emang ngizinin, masih ada waktu untuk nyiapin persyaratan masuknya.“ Naryla dengan santunnya menjelaskan kepada mamanya di ruang makan.


“Ohh gitu.. Ila kenapa ngga ambil ekonomi nya di Indonesia aja?” sambung mama.


“Kalau ikut ujian di Indonesia harus belajar dua kali lipat saintek dan sosial, Ila males hehe..” Naryla dengan polosnya memberi alasan sambil nyengir ke mamanya.


“Yee dasar ya, yaudah nanti mama sampein ke papa, sana mandi dulu udah sore bau ih,” jawab mama sambil menutup hidungnya meledek Naryla.


“Mama maah.. yaudah iya Ila mandi, makasih Ma..” Naryla kemudian pergi bersiap mandi.

__ADS_1


Beberapa waktu kemudian, mereka berbincang kembali dan akhirnya setuju dengan mengizinkan Naryla berkuliah di tempat Delan berada jurusan ekonomi. Naryla memang tidak dapat memilih jurusan pertanian seperti impiannya, tapi ia pikir ia juga memiliki sedikit minat ke bidang ekonomi meskipun sebenarnya itu cukup menyimpang jauh dari pertanian. Naryla percaya tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, seperti yang dikatakan gurunya saat sekolah dasar bahwa “Begitu pintu keingintahuan itu dibuka, segalanya mungkin terjadi”.


Singkat cerita, Naryla diterima di perguruan tinggi tempat Delan berada. Ia dan orang tua sangat bahagia dan segera menyiapkan kebutuhan-kebutuhan penting yang bisa disiapkan sebelum berangkat ke Australia. Namun,


“Ila, sini dulu deh sebentar,” panggil mama saat ila sedang memilah-milah dokumen.


“Iya maa sebentar yaa” Ila menyaut dari dalam kamar dan meletakkan apa yang jadi kesibukannya saat ini. Beberapa menit kemudian ia turun ke ruang keluarga tempat mama papanya berada.


Di ruang keluarga, Mama Rianti dan Papa Haris sudah menunggu Naryla sambil menonton TV dan menikmati teh yang ditemani biskuit sebagai pendampingnya. Naryla pun menyusul dan mengagetkan mama papanya dari belakang, “Hayo lagi nonton apa?!” Kejut Naryla yang memeluk mereka berdua dan menyisipkan kepalanya di sela sela kepala orang tuanya itu.


“Ih Ila ngagetin aja, nanti papa jantungan ngga ada yang nyeleksi calon suami kamu lagi,” ucap papa setelah


“Yaudah nanti Ila ikutan take me out aja Ila seleksi sendiri bersama dukungan penonton.” Naryla merebahkan


tubuhnya di sofa sebelah sofa mama dan papanya.


“Heh, sembuarangan. Emang take me out itu apa?” sambung mama mendengar jawaban Naryla.


“Hahahaha, ngga kok ma cuma acara ‘ambil-aku-keluar’ aja di TV,” canda Naryla malas menjelaskan panjang lebar. “Hehe maaf ya Ma, Pa, Ila udah ngagetin Mama sama Papa..” Naryla yang tahu bagaimana bersikap tetap meminta maaf ke mama dan papa. “Ada apa ma manggil Ila?” sambung Naryla mengingat mama memanggilnya tadi.

__ADS_1


“Kamu kapan berangkat ke Australia? udah beli tiket belum?” tanya mama.


“Belum beli ma, tapi kalo liat-liat kalender akademik kampusnya sih kayaknya bulan depan harus udah disana,


emangnya kenapa ma?” ucap Naryla yang tangannya ikut mengambil biskuit di meja depannya.


Mama melirik papa daripada langsung menjawab, membuat Naryla terheran heran dan menaikkan sebelah alisnya.


Tak berapa lama kemudian, papa bergerak membetulkan posisi duduknya mengubah sudut duduknya menghadapku.


“Ekhem. Jadi, gini loh, La..., “ ucap papa menggantung. Mata Naryla terus melihat sudut bibir papanya penasaran akan kalimat apa yang hendak diucapkan. Tapi kemudian papa malah mengambil teh dan makan beberapa potong biskuit dan menghabiskannya. “Haa? Papa ngapain siih, mau ngerjain aku ya?” batin Naryla mengubah pandangan matanya mengikuti perpindahan tangan papa sambil melongo.


“Jadii?” gerak lisan Naryla mengikuti arahan otaknya setelah merasa penasaran dan khawatir.


“Papa sama mama sedang memulai membuat proyek baru di luar negeri bekerjasama dengan teman papa, masalahnya itu membutuhkan waktu beberapa bulan dan kebetulan berdekatan sama waktu mulainya perkuliahan


kamu, jadi kayaknya mama dan papa ngga bisa ikut nganter kamu.. Ila bisa ngga kalo berangkat sendiri dan nanti minta tolong Delan yang jemput di bandara sekalian nemenin Ila ngurus semuanya? Atau kalo Ila ngga berani, papa bakal minta tolong Om Rudi (adik papa) dan istrinya nemenin kamu.“ Papa menjelaskan dengan hati-hati kepada Naryla. Sebenarnya papa tidak tega membiarkan anaknya pergi sendiri, namun perihal perusahaan ini adalah demi anaknya juga dimasa depan.


Hati Naryla yang mendengarnya sebenarnya sangat sedih bercampur kecewa, namun ia berusaha mengerti dan bijak dalam meghadapi apapun yang seharusnya terjadi.

__ADS_1


__ADS_2