
Para pelajar kelas 3 SMA di sekolahnya kembali ke rumah masing-masing sembari menunggu hasil ujiannya. Begitupun Naryla, ia pulang dan menghabiskan waktu di rumah bersama orang tua. Naryla sangat dijaga oleh orang tua nya, ia bahkan baru memiliki smartphone miliknya sendiri setelah Ujian Nasional alih alih masih belum diperlukan selama ia bersekolah. Sama halnya dengan smartphone, Naryla pun baru memiliki akun social media seperti Instagram, line, whatsapp, saat itu juga, dan ketika si polos Naryla dihadapkan dengan itu untuk pertama kalinya, ia cukup terobsesi sehingga menghabiskan waktunya untuk bermain handphone.
“Ri, aku sudah punya akun sosial media ku sendiri dongg hehe. Jangan lupa add ya ig aku xxx, id line aku yyy,” pesan Naryla kepada Riri teman dekatnya melalui sms karena ia menyimpan nomor telepon temen-temen dekatnya.
“Weeyhh akhirnya si pintar Naryla main sosial media juga, hati hati kecerdasanmu berkurang loh karena main sosial media terus hahaha. Oke aku add ya, nanti langsung pindah ke line aja biar pulsanya ngga abis hehehe,” balas Riri.
“Hahaha apasih Ri, okee makasiih yaa,” balas Naryla.
Line. Line. Line. Notifikasi pesan line dari Riri ke Naryla.
__ADS_1
“La, udah aku add nih ya," balas Riri, "Instagram kamu juga udah ku follow,” sambungnya, “JANGAN LUPA FOLLBACK!! AWAS LOH KALO NGGA!” pinta Riri.
“Siapp bosss, tolong bilang ke Mira sama Tita juga yaa suruh add aku hehe, maacii beb luvyuu..” balas Naryla.
Tak lama dari hari itu pun Line friends dan followers Naryla bertambah, yang tidak lain tidak bukan adalah teman teman satu sekolahnya dan beberapa teman SMP dan SD nya dulu. Ia asik men-scroll laman instagramnya melihat postingan teman-temannya dan sesekali stalking akun teman-temannya. Tak lupa ia juga mengetik nama doi di pencarian berharap dapat menemukan akun Instagram kekasihnya dulu.
Naryla sewaktu SMA memang tidak memunculkan dirinya diantara teman seangkatan laki-lakinya, sehingga ia hanya populer di kalangan pelajar perempuan karena sekolahnya memang memiliki wilayah terpisah untuk perempuan dan laki-lakinya. Ia tidak berminat untuk dekat dengan teman laki-laki seangkatannya seperti teman-teman perempuan Naryla yang sering melakukan komunikasi illegal ke kehidupan seberang sana, ya sekolah wilayah laki-laki. Sedikit yang mengetahui tentang Naryla, mungkin hanya meliputi teman-teman laki-lakinya yang juga ambisius untuk memperebutkan posisi teratas setiap semesternya. Tak jarang nama Naryla tersebut di wilayah sana karena pencapaiannya, namun bak hembusan angin, hanya beberapa orang yang menyadari dan ingat nama Naryla.
**Flashback on
__ADS_1
“Naryla, kamu mau ngga jadi pacarku?” ucap Rendra mengungkapkan perasaannya pada Naryla ala ala anak SMP. Tidak ada siapapun yang melihat peristiwa itu karena keduanya sama-sama memiliki sifat malu untuk satu hal ini.
Deg.. deg..
“Emm.. boleh aku jawab nanti ngga?” Jawab Naryla gugup.
“Nanti malem ya?” mohon Rendra pada Naryla.
“Baiklah..” jawab Naryla.
__ADS_1
Rendra adalah salah satu cowok populer di sekolah itu, selain wajahnya yang tampan, ia juga pintar dan unggul di olahraganya. Kalau dibandingkan Naryla, Rendra tidak sepintar Naryla, namun untuk olahraga adalah sebaliknya. Baru melewati satu semester mereka bersekolah, mereka sudah jadi orang-orang populer. Tidak paling populer, tapi cukup untuk memiliki beberapa secret admirer. Selama ini banyak yang menyukai Naryla namun tidak berani mengungkapkan karena tau Naryla tidak akan membalasnya, namun berbeda dengan Rendra, setelah beberapa waktu lalu mengikuti event bersama Naryla dan mendapat sinyal hijau darinya, ia memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.
“Gila gila gilaaaa gue harus gimanaa inii, gue suka sama Rendra tapi temen-temen juga sukaa. Bakal diapain gue kalo sampe gue terima Rendra dan mereka tau kita pacaran. Aaaa,” batin Naryla mengingat teman-temannya yang sering membicarakan tentang Rendra.