
“Hm, begitu ya.. turut berduka ya Bu, semoga Naryla baik-baik saja dimanapun ia berada sekarang. Kalaupun sudah tidak ada, berarti tuhan lebih sayang padanya.” Bunda mencoba menghibur mama dan kemudian teringat sesuatu tentang Naryla, “Oh iya Bu Rianti, disini masih ada beberapa barang milik Ila dan kalau Ibu mau, boleh dibawa pulang,” tawar bunda.
“Terimakasih Bu, kalau boleh saya ingin melihatnya saja namun bisakah tetap ditinggal disini saja? agar menjadi kenang-kenangan untuk panti ini ….” Ujar Mama Rianti.
Mereka melihat-lihat barang Naryla di dalam panti. Ada lukisan tangan Ila saat kecil, buku-buku, sejumlah pakaian, dan juga keranjang bayi yang ditinggalkan bersama Naryla dulu. Mama Rianti menatap dan meniup debu yang menempel disana dengan perasaan rindu teramat dalam pada Naryla. Sebagian dirinya masih menyalahkan keegoisan akan kehendaknya pada anak itu. Terkenang senyum dan tawa bahagia Naryla bersamanya dulu, tangisnya kala menceritakan masalah di sekolahnya, dan beberapa sikapnya saat merajuk. Mama sudah sangat mencintai Naryla seperti anak kandungnya sendiri. Tak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya.
“Ma …, sudah yuk jangan bersedih lagi.” Papa merangkul mama untuk berdiri. Kemudian mereka beralih ke ruang tengah melihat foto-foto penduduk panti sejak awal hingga saat ini. Terpampang foto bayi bertuliskan nama Naryla yang menarik perhatian mama. Di foto itu tergambar seorang bayi berpipi tembam dan berkulit putih sedang tersenyum riang tanpa gigi. Disekeliling gambar tubuh bayi itu terdapat warna biru muda yang mama pikir merupakan pudaran dari warna bajunya.
“Sudah cukup Ma?” tanya papa lembut disahut anggukan oleh mama. Mereka sudah berada di panti hampir dua jam. Akhirnya papa dan mama izin pulang pada bunda yang disambut peluk hangat untuk mama. Mama menangis tersedu sejenak namun berusaha kembali tegar.
“Sabar ya Bu, mungkin ini yang terbaik untuk Naryla,” tutupnya.
Mama Rianti dan Papa Haris berkendara kembali ke rumah dengan suasana hening penuh kesedihan.
***
Di area yang beriklim sub-arktik dataran Pegunungan Ural, Gunung Manaraga dikenal sebagai gunung paling indah dan menawarkan pendakian yang menantang. Terletak di Taman Nasional Yugyd Va, daerah terpencil Nether-Polar (1.600 km dari Moscow), infrastruktur turis belum banyak dikembangkan disana. Keindahan alam liar masih menguasai wilayah tersebut.
Berbeda dengan permukaan, bagian bawah Pegunungan Ural tepatnya beberapa puluh kilometer dari kaki Sang Manaraga, sekelompok manusia membangun kerajaan penelitian. Didesain dengan serinci mungkin sehingga tak dapat dideteksi, pusat penelitian yang haus akan pengetahuan itu menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan mereka.
Pusat penelitian tersebut membangun beberapa markas cabang di seluruh dunia untuk memperlancar ambisinya, contohnya di Kota Myshkin, Rusia yang merupakan salah satu markas cabang terdekat dari pusat.
“Kami akan melanjutkan perjalanan, terimakasih atas penyambutan terbaik kalian, kami akan membawa kabar positif tentang markas ini kepada markas utama.” Kapten tim utama mengucapkan hal tersebut kepada pimpinan Markas Cabang Myshkin di depan gerbang markas. Tim kemudian kembali masuk ke mobil mereka untuk melanjutkan perjalanan ke Pegunungan Ural tempat markas utama berada.
__ADS_1
Keberangkatan ini dipimpin oleh A102 sebagai supir hingga keluar Kota Myshkin. Setelah meninggalkan kota, ia mengubah kendaraan ke mode lanjutan otomatis.
Jegrek. Tek. Tek. Zrezzz. Satt. Sett. Tap! Ruangan putih berhias warna pastel lembut kembali muncul dengan posisi keempat anggota tim di ruang pertemuan dan kapten beserta A102 berada di ruang kendali. Tak lama kemudian, kapten dan A102 datang ke ruang pertemuan dan memulai rapat mereka membahas terbukanya gerbang lintas ruang dan gagalnya percobaan unit 2.
“Baik, kesimpulan terakhir di pertemuan kita malam itu adalah kita mengantisipasi kemungkinan terkecil bahwa gerbang lintas ruang itu memang terbuka.” Kapten membuka perbincangan.
“Iya, Kapten,” jawab para anggota setuju.
“Disisi lain, kita juga menghadapi kegagalan percobaan unit 2 pesawat komersial yang terbang di atas 60,000 kaki,” terang kapten selanjutnya, “A103 apakah sebelumnya kau sudah benar-benar memastikan bahwa pesawat unit 2 ini dirakit dengan struktur yang sama pada unit 1? Karena unit 1 sebelumnya berhasil tanpa gangguan.”
A103 yang bertanggung jawab atas perakitan unit 2 tersebut dengan yakin menjawab pertanyaan kapten. “Ya, Kapten. Saya sudah mengeceknya sekian kali sebelum kita mengirim ke lokasi percobaan, bahkan disaksikan oleh petinggi markas utama saat itu.”
“Bagaimana dengan kapasitas berat penumpang, apakah kau berhasil mengumpulkan penumpang yang cukup untuk menguji batas kemampuan unit itu?” tanya kapten lagi.
“Meskipun tidak sedikit yang curiga dengan rencana kita, tetapi kami berhasil memenuhi target jumlah penumpang, Kapten. Bahkan saya bersama A104 menyebar perwakilan di wilayah sekitar lokasi percobaan dengan alasan sebagai seleksi awal di perekrutan anggota baru markas-markas cabang di seluruh dunia. Tentunya tanpa diketahui publik,” jelas A103 lagi.
A103 menyerahkan catatan informasi yang disampaikan markas pusat pada panggilan malam itu. Tak lupa ia juga menyerahkan benda hitam berbentuk kapsul berukuran sedikit lebih panjang dari cangkang kapsul obat yang berisi rekaman percakapan mereka.
“Diduga gerbang lintas ruang terbuka. Lokasi 12ᵒ11’13”S 96ᵒ49’42”E di kawasan udara Cocos (Keeling) island. UTC+6.30 waktu lokal 01.58 a.m. dan penyebab belum diketahui. Harap selidiki dan selalu laporkan hasil penyelidikan hanya melalui komunikator utama.”
Mereka mengulang-ulang cuplikan rekaman bagian itu sambil berpikir. “Stop,” perintah kapten saat pengulangan ketiga tepatnya bagian ‘diduga gerbang lintas ruang terbuka’.
“Pertama, kupikir kita harus mendapatkan informasi lengkap tentang apa yang memfaktori markas utama menyatakan dugaan ini,” ucap kapten.
__ADS_1
“Apakah berupa fenomena yang tertangkap radar markas utama sebelum informasi itu disampaikan, Kapten?” tanya A106.
“Ya, semacam itu,” jawab kapten sambil menekan tombol-tombol di atas meja pertemuan dan kemudian muncul peta dunia besar dan transparan membentang vertikal di atas meja yang jika diteruskan maka akan berpotongan pada garis diameter meja lingkaran itu. Ia mengetikkan lokasi 12ᵒ11’13”S 96ᵒ49’42”E Cocos (Keeling) island.
“Lihat. Ini lokasi Cocos (Keeling) Island yang disampaikan dalam panggilan, dan ini lokasi markas cabang terdekat (kapten mengarahkan jari telunjuk yang berhimpitan dengan jari tengahnya melingkari area di tepi Samudra Hindia). Jaraknya sekitar 1.250 km di barat daya Cocos (Keeling) island.” Kapten menerangkan pada semua anggotanya.
“Setahu saya, kemampuan radar kita menjangkau sebuah area ialah juga 1.250 km merata ke seluruh arah, Kapten,” sambung A102.
“Jadi, radar kita mendeteksi sesuatu yang terjadi di perbatasan antara area terjangkau dan tidak terjangkau,” timpal A104
“Jika ditarik menjadi sebuah bidang, area 1.250 km yang merata ke seluruh arah akan membentuk satu bidang lingkaran, sehingga sesuatu yang sempat terdeteksi oleh radar kita hanya sebagian kecil yang masuk ke lingkaran tersebut.” A105 juga menambahkan.
“Karena hanya sedikit yang terdeteksi oleh radar, jadi hanya cukup untuk menjadi sebuah dugaan bukannya fenomena pasti.” A103 mencoba mengambil poin kesimpulan dari diskusi mereka.
“Tepat sekali!” jawab kapten, “sepertinya kita harus memulai dari markas cabang itu dan menanyakan apa yang sebenarnya mereka dapatkan di hari itu.” Mereka mulai menemukan arah penyelidikan tentang dugaan terbukanya gerbang lintas ruang.
_____
Gimana, sejauh ini bisa dipahami semua kah?
Kalau ada yang kurang paham atau ingin ditanyakan boleh gabung ke grup ya supaya enak diskusinya..
Terimakasih atas dukungan teman-teman semua apapun itu bentuknya..
__ADS_1
Salam hangat dan sayang dari aku..
Stay safe ya semuanyaa..