Merah Kuning Hitam

Merah Kuning Hitam
Episode 24 - Bombyx mori


__ADS_3

Lain halnya dengan pangeran, tuan putri tidak begitu tertarik dengan benda ‘keramat’ yang menyimpan banyak rahasia itu. Ia hanya menjalani hidup seperti biasa dengan membantu ibu, bermain dengan Bubu, terkadang juga Veda meskipun Veda lebih sering bermain dengan pangeran.


Siang itu, tuan putri hendak menghampiri ibu. Ia melewati hal-hal yang membuat bulu kuduknya berdiri karena geli melihat semua itu. “Ibu, lagi buat apa ini?” tanya tuan putri menghampiri ibu dan pegawai-pegawainya yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu.


“Ohh ini ibu sedang membuat rak tambahan untuk kandang,” jawab ibu sempat menengok ke tuan putri sebentar kemudian melanjutkan kegiatannya.


“Apakah yang biasanya kurang, atau ada yang rusak bu?” tanya tuan putri.


“Ohh tidak, yang lain baik-baik saja. Ibu ingin menambahkan kapasitas saja,” jawab ibu tersenyum.


“Saya ingin membantu Ibu, tapi tidak ahli. Maaf ya Bu,” ungkap tuan putri.


Ibu tersenyum, “Iya, tidak apa-apa, Tuan Putri. Kalau berkenan Tuan Putri boleh membantu di proses yang lain. Mungkin Tuan Putri bisa memindahkan bibit Bombyx mori yang baru menetas, atau menjenguk mereka yang sudah dewasa , hihi.” Ibu terkekeh kecil meledek tuan putri yang tidak suka melihat ulat, apalagi berinteraksi langsung dalam jumlah yang banyak. Bagaimana tidak, barusan ia melewati rak-rak berisi ribuan ulat di dalamnya dan ibu bilang harus menjenguk mereka? Sangat  tidak mungkin tuan putri akan melakukannya.


“Ehm, Ibu …, saya ngerebus kepompongnya aja deh ya, Bu. Hehe,” jawab tuan putri cengengesan, “atau bantu proses reelingnya aja deh.” Ekspresi dan tingkah tuan putri sangat menunjukkan bahwa ia lemah terhadap Bombyx mori atau yang di bumi sering dikenal sebagai ulat sutra. Tidak. Tuan putri lemah terhadap semua jenis ulat.


Ibu Veda memiliki bisnis pengolahan ulat sutra. Tinggal di pinggiran kerajaan, menjadi sebuah peluang dimana tanahnya sangat subur untuk menanam pohon Morus alba atau murbei yang menjadi santapan utama ulat sutra. Udaranya yang segar dan jauh dari kepadatan aktivitas ibukota juga baik untuk pertumbuhan dan perkembangan ulat sutra.


Tuan Putri yang hanya melihat kegiatan ibu yang sedang mengawasi pegawainya membangun kandang ulat sutra baru itu, menyadari bahwa kakaknya tidak ada disini untuk membantu. Ia pun berinisiatif memanggil kakaknya dan menyuruhnya agar membantu ibu dan pegawai lainnya.


“Ibu, saya mencari kakak dulu ya biar bantu-bantu disini,” pamit tuan putri.


“Eh, tidak apa-apa Tuan Putri, tidak kurang orang kok.” Ibu menolak kebaikan Tuan Putri yang hendak meminta kakaknya membantu mereka karena tetap saja beliau masih menyandang status pangeran secara keturunan.


“Tidak apa-apa Bu, saya permisi dulu.” Tuna putri segera pergi mencari kakaknya.


Ketika tengah mencari kakaknya, tuan putri menemukan bahwa Veda yang ia kira sedang bermain dengan kakaknya sedang menemani Bubu.

__ADS_1


“Loh, Veda ngga main sama paman toh?” tanya tuan putri celingak-celinguk memastikan kakaknya tidak ada disana, “kemana dia?” tanya tuan putri lagi.


“Ngga tau tuh paman udah jadi patung kali di markas. Dari tadi diem aja disana aku ajak main ngga mau, kesel.” Veda merajuk kesal mengingat acuhan pangeran ketika diajak bermain dengannya.


“Markas?” heran tuan putri.


“Ia, Kak. Di gua kecil deket tebing,” jawab Veda. Tuan putri yang mengetahui tempat yang dimaksud Veda segera  mengelus kepala Veda karena gemas melihat tingkahnya saat merajuk. Kemudian ia segera menuju ‘markas’ hendak memaki kakaknya yang entah sedang melakukan apa disana sehingga tidak membantu apa-apa.


Sesampainya di depan gua,


“Kakak! Kakak!” teriak tuan putri memanggil. Ia berjalan masuk ke dalam gua dan menemukan kakaknya yang ia kira sedang berbaring telentang sambil melipat lengannya dibawah kepala. Melihat kakaknya yang bersantai seperti itu, tuan putri semakin geram. Ia melangkah cepat menghampiri kakaknya.


Semakin mendekat, ternyata kakaknya bukan sedang telentang, melainkan setengah telentang dengan kedua kakinya disandarkan ke dinding gua. Entah mengapa tuan putri semakin geram melihatnya. Ia berdiri disamping kakaknya yang sedang memejamkan mata dan mendekatkan tangannya ke arah betis kakaknya.


Cchit. “Aww! Apasih?!” Ssett. Pangeran segera menekukkan kakinya dan mendorong tubuhnya menjauh dari dinding gua agar bisa duduk. Ia mengelus betisnya yang sakit akibat cubitan maut adiknya. Ia duga itu akan berakhir dengan noda hitam beberapa hari lagi.


“Kakak tuh yang kenapa. Orang-orang pada sibuk membangun kendang sutra yang baru, kakak malah disini santai-santai,” balas tuan putri lebih galak, “ngga malu apa udah numpang tinggal bukannya bantuin sesuatu malah santai-santai ngga jelas. Sana tinggal di hutan aja sana sendiri ngga usah ngerepotin orang. Makan tuh hidup sama binatang.” Tuan putri yang tetap saja adalah seorang perempuan, sengaja ataupun tidak, senjata cerewet galaknya pun keluar.


Pangeran yang malas mendebat tuan putri pasrah, “Iya iya, kakak bantuin setelah ini. Tapi kakak bukan lagi santai santai ya kalo kamu mau tahu.”


“Ya terus ngapain tiduran ngga jelas kayak tadi kalo bukan santai-santai?” balas tuan putri tidak mau kalah.


“Kakak tuh sedang mengikuti petunjuk dari benda yang dikasih Veda, kakak penasaran katanya bisa mengetahui jenis kehidupan lain dan kalo diketahui banyak orang bakal nimbulin masalah. Jadi mending kakak yang menguasai daripada jatuh ke orang yang salah,” jelas kakaknya sedikit antusias.


“Apa-apaan petunjuk kok nyuruh santai. Udah ngga usah ngeyel, nanti lagi main itunya. Sekarang bantu ibu dan yang lain membangun kandang,” bentak tuan putri namun pangeran masih bertahan di posisinya ingin melanjutkan kegiatannya tadi, “cepat ih Kakak.” Tuan putri menarik lengan pangeran agar berdiri dan melangkah pergi. Pangeran pun pasrah dan mengikuti ajakan adiknya.


Di jalan menuju lokasi perawatan ulat sutra milik ibu, pangeran yang masih ditarik sebelah tangannya oleh tuan putri mencoba menjelaskan sesuatu.

__ADS_1


“Dik, tadi tuh kakak ngga santai-santai. Kakak lagi bertapa, cailah bertapa. Tapi bener kakak lagi memperkuat bakat-bakat kakak yang lain sebelum bisa menguasai bakat spesial,” jelas kakak.


“Bertapa pala Kakak, itu mah tiduran,” balas tuan putri semakin kuat menarik kakaknya yang sengaja memperlambat langkahnya, “cepetan ih lama bener,” geram tuan putri. Pangeran hanya cengengesan melihat adiknya yang menggemaskan bila sedang marah itu.


Sesampainya mereka di dekat lokasi ibu berada, tuan putri melepas cengkraman kuat pada kakaknya tadi dan menggantinya dengan dorongan. Pangeran yang jahil berlari menuju ibu, meninggalkan tuan putri yang hendak mendoronya tadi sehingga ia hampir terjatuh kedepan karena kehilangan beban yang hendak didorongnya. Tuan putri semakin kesal.


***


Keesokan harinya, pangeran hendak kembali ke ‘markas’. Namun, sebelum berhasil pergi tuan putri memergokinya sehingga ia harus menjelaskan sebuah alasan untuk mendapat izin adiknya tersebut.


“Dik, ini tuh penting. Mumpung kita lagi ngga diburu orang-orang kerajaan dan kondisinya tidak sibuk sehingga mendukung untuk kakak latihan. Siapa tahu akan berguna suatu saat, kan kita belum tahu.” Pangeran mencoba menjelaskan ke adiknya yang sudah menunjukkan wajah dengan ekspresi menahan emosi itu.


“Huhh, terserah kakak aja. Buktiin kalo latihan kakak ada hasilnya, baru aku tidak akan mempermasalahkannya,” jawab tuan putri sambil berbalik meninggalkan kakaknya. Pangeran bersorak ria dalam hatinya setelah mendapat persetujuan dari adiknya yang kadang ia takuti itu.


“Liat aja Dik, kakak akan buktiin kalo kakak bisa menguasai bakat misterius itu. Kalo perlu kakak ajarin juga ke kamu nanti,” batin pangeran dalam hati.


______


Hai, para pembacaku tercinta..


Mohon maaf ya episode ini agak lama updatenya, terjebak disini karena lockdown membuatku suka kehilangan semangat.


*lah jadi curhat


Tapi aku usahain tetep lanjut kok updatenya..


Makasih banyak atas dukungannya sampai saat ini.. :))

__ADS_1


Doa baik untuk kalian semua..


__ADS_2