
Naryla masih menangis kecil sambil memeluk dirinya sendiri. Lampu di pesawat masih mati dan bisik orang-orang semakin membuat Naryla tidak enak hati. Pemandangan malam di luar pesawat bersamaan dengan gelapnya suasanya di dalam pesawat menambah kusut pikiran dan perasaan Naryla.
“Tuhann tolong aku, aku sangat takut, hiks..” batin Naryla memejamkan matanya ketakutan. Naryla termasuk tim takut gelap yang mana setiap tidur setidaknya harus ada sedikit cahaya yang menemaninya.
Gedubrakk.
Keadaan mencekam ini memakan seorang mangsa, seseorang terjatuh akibat tersandung kaki penumpang lain yang tidur dengan kaki menghalangi sebagian ruang untuk jalan. Naryla tidak mengerti lagi di keadaan seperti ini masih ada yang bisa dengan tenangnya menikmati tidur.
Penumpang yang tidur itu terbangun setelah merasa ada sesuatu dengan kakinya. “Pak, kalau tidur kakinya diatur dong jangan sembarangan kesana kemari. Emangnya ini rumah bapak apa?!” bentak orang yang tersandung.
Semua pandangan mata merespon rangsangan suara yang diterima telinga mereka sehingga menoleh ke arah sumber suara. Si penumpang tidur tadi malu dan segera meminta maaf, “Maafkan saya pak.”
Namun si korban masih terbakar emosi, “Dasar. Di keadaan seperti ini saja masih bisa tidur nyenyak sampe kaki nyandung orang. Aneh. Huh,” ucap si korban sambil berlalu. Suaranya kecil namun masih bisa terdengar sampai kursiku yang berjarak lima kursi dari tempatnya berdiri sekarang.
Disisi lain si penumpang tidur tidak terima dikatai seperti itu. Ceklek. Ia melepaskan pagutan sabuk pengamannya dan menghampiri si korban.
Bugh bugh. Perkelahian pun terjadi. Suasana makin ricuh namun pramugari atau pramugara belum juga datang menengahi.
Brukk.
“Aaaaa,” teriak Naryla. Seseorang jatuh tepat disampingnya. Ia langsung Kembali memeluk tangan orang
__ADS_1
disebelahnya.
“Hei! Sudah kukatakan jangan menyentuhku mengerti tidak?!” Orang itu membentak Naryla tanpa kasihan sedikitpun.
Sungguh berat rasanya berada disana bagi Naryla. Pikiran dan perasaannya sudah sangat kacau ditambah bentakan yang kasar lagi membuat emosinya membludak.
“Kenapa sih anda dari tadi marah terus, apa salah saya ha?! Kenapa memangnya kalau saya menyentuh Anda?! Anda tidak melihat suasana saat ini sangat kacau? dan Anda tidak merelakan lengan Anda untuk menenangkan seorang gadis kecil tak berdaya ini bahkan membentaknya dengan kasar?! Anda punya hati atau tidak?!” Emosi Naryla tak tertahan.
Tapi orang itu masih bersikukuh, “Anda tidak usah bertanya apa apa, tidak ada yang perlu anda tau! Saya bilang tidak boleh ya tidak boleh, mengerti?!”
“Memangnya kalau saya sentuh kulit anda apa yang akan terjadi?! Mana sini coba saya mau lihat apa yang terjadi.” Naryla membuka sarung tangan pria itu dengan paksa.
“Jangan! Anda akan menyesal!” tahan Pria itu. Namun entah dapat kekuatan darimana Naryla berhasil melawan orang itu dan melepas sarung tangan pria itu. Ia meremas erat dengan kesal.
Penumpang-penumpang lain mencoba menenangkan si penumpang tidur yang masih mengamuk. Di tengah kekacauan ini, tiba tiba sebuah kejanggalan terjadi.
Kecenderungan untuk mempertahankan keadaaan diam atau bergerak pada sebuah benda disebut inersia atau kelembaman benda. Secara mudah (Sir Isaac Newton) merumuskan sifat inersia benda dalam Hukum 1 Newton yang berbunyi, benda yang memiliki resultan gaya sama dengan nol akan tetap diam atau bergerak lurus beraturan.
Contoh hukum ini ialah ketika kita berada di dalam sebuah mobil yang tiba-tiba mengerem secara mendadak, disitu tubuh kita akan terdorong kedepan. Hal ini karena tubuh kita ingin mempertahankan posisinya yaitu tetap bergerak ke depan.
“Inersia.., ya inersia. Tidak salah lagi,” batin Naryla. Semua orang yang berdiri langsung terjatuh dan yang duduk saat itu juga tercondongkan ke depan merespon gaya yang terjadi sesuai hukum newton 1 itu.
__ADS_1
“Hukum newton 1, pesawat, mobil. Ini tidak mungkin. Sangat mustahil. Sebenarnya apa yang terjadi? Harusnya inersia mempertahankan pesawat yang terbang dengan kecepatan konstan untuk tetap bergerak. Tidak mungkin pesawat berhenti mendadak, atau ia akan langsung terjatuh setelahnya. Tapi ini tidak. Apakah ada gaya yang sangat besar yang menghentikan pesawat ini? Tapi kenapa hanya sebentar kemudian normal lagi? Ada yang tidak beres.” Naryla terduduk bak membeku menyadari hal aneh seperti itu. Kepalanya pusing namun perutnya terasa
mual. Ia berjalan meraba raba menuju toilet.
Di dalam toilet ia menangis sejadi-jadinya atas semua yang terjadi hari ini. Ia membasuh wajahnya di sela-sela tangisnya. Naryla terduduk di balik pintu saking lelahnya. “Tuhan kumohon bangunkan aku, aku tau ini hanya sekedar mimpi kan? Aku seharusnya sedang di rumah tidur di kamar nyamanku sekarang.. Hiks hiks..” batinnya. “Aaaaaaa huhuhuuu,” teriak Naryla namun tidak sampai terdengar dari luar.
Melbourne, Australia
“Jangaaan kumohon jangan eksekusi dia.. Tolong gantikan saja dengan diriku,” mohon seseorang.
“Tidak **** jangan\, kamu tidak boleh mati\, bertahanlah..!” ucap seorang wanita membalas ucapannya.
“Biarlah aku mati demi kamu atau kita mati bersama, aku tidak sanggup melanjutkan ini semua tanpamu..” mohon seseorang itu lagi.
“Hah. Kalian terlalu banyak bicara, Algojo, laksanakan!” sambung seseorang di tengah perihnya hati sepasang kekasih yang akan terpisah oleh maut itu.
Chesss. Seketika itu sang wanita berubah menjadi abu kemudian menghilang.
“Aaah! Huh huh..” Gerald terduduk ngos-ngosan di sela tidurnya. Ia kembali memimpikan hal itu setelah sekian lama sempat menghilang. Ia tidak lagi bisa tidur dan memutuskan pergi ke toilet mencuci muka dan ke dapur mengambil minum.
__ADS_1
“Huh dasar Tommy, disuruh ke kamar sebelah malah tidur disini gak pake selimut lagi.” Gerald melihat Tommy yang tertidur pulas di sofa ruang TV apartemennya. Gerald kemudian mengambil dua selimut dari kamarnya dan menyusul Tommy tiduran di sofa sebelahnya. Lama kelamaan ia pun tertidur kembali.