
"Hehe iya kalo jadi. Ya ..., gimana ya ...." tanggap Delan menggantung. Ia tahu mungkin yang dipikirkan teman-temannya terhadap keputusan Delan adalah berlebihan, namun ia tidak merasa tidak dapat memaafkan dirinya sendiri. Perasaan bersalah itu bukan hanya karena mengajak Naryla untuk berkuliah di universitas yang sama, melainkan alasan yang satunya lagi.
Charlos yang geram mendengar penuturan Delan hendak berkata kasar namun berusaha mengontrol. "Coba lu pikirin lagi Del. Masa gara-gara itu doang lu mau cuti kuliah si. Lebay lu ah."
"Gue tau Del lu mungkin sayang banget sama dia, tapi ya ... itu takdir, gimana ya ..., masa lu ngorbanin masa depan lu demi sesuatu yang bahkan bukan kesalahan lu. Logis dikit lah," sambung Gerald.
Keido yang juga terbawa suasana ikut menambahkan. "Lu ngorbanin hal yang terlalu besar demi dia yang ga pasti, dia bahkan belum tentu suka juga sama Lu Del," ucapnya, "eh ...." Mendengar ucapan Keido, Tommy menyenggol lengannya.
"Gapapa Do, kita harus buat Delan sadar emang. Lu jangan jadi bucin Del," lanjut Charlos lagi.
"Eh apaan dah kalian ini. Iya gue bucin iya. Gue gatau dia punya perasaan yang sama kayak gue apa ngga. Gue tau menurut kalian gue ga salah. Tapi kalian bukan gue dan kalian gatau apa-apa," bantah Delan.
"Se-ngga tahu nya kita, gue yakin emang Lu nya aja yang lebay. Lagian emang Lu mau kemana cari dia, ha?!" geram Keido lagi.
"Apaan sih, yang nyari juga gue bukan kalian. Kok kalian yang repot," balas Delan yang mulai emosi.
"Kita ga repot kok. Nih, tim pencari dari dua negara aja gabisa nemuin dia apalagi ... Lu!" tambah Charlos yang menekankan jari telunjuknya perlahan namun kuat ke pundak Delan. Delan yang mendapat perlakuan seperti itu makin emosi.
"Santai dong!" Delan mendorong balik pundak Charlos. Charlos langsung menepis tangan Delan dengan kuat karena terbawa emosi juga.
"Lu yang ga santai Bro. Hah, miris gue sama 'bu-cin' kayak Lu. Bu-Cin!" Charlos kemudian memalingkan mukanya dengan ekspresi yang tidak enak dipandang. Ucapan dan ekspresi Charlos membuat emosi Delan memuncak, ia menarik ke atas kerah baju Charlos seperti mengajak bertengkar.
"Apa Lu bilang?!" Setelah menarik ke atas kerah baju Charlos, Delan berdiri dan menarik Charlos yang saat ini duduk di seberangnya sehingga terpaksa Charlos tertarik untuk berdiri. Tatapan mata mereka penuh emosi dan seperti ingin menghajar satu sama lain.
__ADS_1
"Ow ow.. Santai Bro ..., santai ...." tanggap Gerald berusaha menengahi. Tangan kirinya memegang siku dalam tangan kiri Delan sedang tangan kanannya meraih pergelangan tangannya dan mencoba melepas genggaman kuat penuh emosi milik tangan Delan. Delan menepis genggaman Gerald sehingga ia pun tidak lagi berani melanjutkannya.
"Lu mau mukul gue ha?! Pukul! Kenapa ditahan?! Ga berani Lu?!" bentak Charlos yang juga emosi. Delan semakin geram dan hendak memukul wajah Charlos.
Sat. "Delan!" Kepalan tangan Delan yang sedikit lagi mengenai pipi Charlos berhasil ditahan oleh Tommy. "Tenang Del tenang. Kalem," ucap Tommy sembari menyingkirkan tangan Delan menjauh dari tubuh Charlos.
"Hah!" Delan kembali duduk.
Tanpa mereka sadari, pertengkaran mereka tadi menahan pramusaji yang hendak mengantarkan pesanan mereka. Pramusaji yang merupakan perempuan lemah lembut, baik hati, dan rajin menabung kemudian menyerahkan sajian di tangannya pada pramusaji laki-laki. "Gue ga berani, lu aja nih hidangin," ucapnya dan disanggupi pramusaji laki-laki itu.
"Permisi Brother, ini makanannya silakan dinikmati," kata si pramusaji laki-laki itu.
"Baik Kak, terimakasih ya." Tommy menjawab pramusaji itu sambil menyunggingkan senyumnya. Charlos dan Delan masing perang dingin dan saling memalingkan wajah. Tommy dibantu Gerald menggeserkan setiap pesanan ke sisi meja masing-masing. Delan hanya melirik piring pesanannya tanpa menolehkan wajah. Tak lama kemudian teman-temannya mulai makan kecuali Charlos dan Delan. Charlos hanya meneguk minumnya.
Delan mengeluarkan kunci motornya dari saku jaket yang dipakainya dan mulai menyalakan motornya. Ia hendak kembali ke apartemen untuk menenangkan diri. Delan frustasi dan bingung hendak marah pada siapa. "Apakah bener yang dikatakan mereka kalau gue bucin?" pikirnya, "tapi sakit sih mengakui kalo Naryla emang belum tentu membalas perasaan gue."
Ngiiitt. Karena tidak fokus, ia tidak sadar lampu merah menyala sehingga ia berhenti mendadak. "Hahh.." hembusnya berat.
***
Serr. Serr. Suara ombak memenuhi telinga. Tanpa diganggu suara lain, pria yang berhasil menggunakan bakat spesial beserta orang-orang yang membersamainya mengapung setengah meter dari permukaan laut. Tak ada suara burung camar yang menandakan bahwa mereka sudah dekat dengan sebuah pulau.
Diantara mereka, terdapat dua orang dengan bakat mengontrol energi yang kemampuannya itu masih dapat membuat dua orang lainnya ikut melayang.
__ADS_1
Mereka berada di bagian selatan Samudra Pasifik. Ya, mereka sampai ke bumi.
"Ergh.." si wanita mengedip-kedipkan matanya yang sudah lama terpejam. Dilihatnya sesuatu yang hitam dan luas. Semakin jelas pandangannya, muncul titik-titik putih tersebar di bentangan hitam itu. "D-dimana ini?" tanyanya pelan.
Ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya dimana mereka dikejar oleh pasukan kerajaan yang hendak mengeksekusi mereka atas perintah raja. Mereka bersembunyi di dalam sebuah gua yang ternyata ditinggali oleh makhluk yang entah apa dan kemudian mereka terjatuh dari jurang gua. Saat sedang jatuh, ia menyuruh si pria menggunakan bakat spesialnya yang baru diketahui beberapa pekan terakhir.
Wanita itu menoleh ke kanan kirinya dan dilihat rombongannya masih lengkap. "Kontrol energi ya," pikirnya menyadari kalau mereka melayang. Melihat yang lainnya belum sadar, ia kembali terlentang memandang background hitam bertitik-titik putih yang tidak lain tidak bukan adalah langit malam yang dihiasi bintang. "Indah.." ungkapnya terpesona.
"Emm ...." seorang bocah laki-laki bangun dari pingsannya tak lama kemudian. Ia mengerjap-kerjapkan matanya lemah. Wanita yang sudah berpindah posisi menjadi duduk itu kemudian dikejutkan dengan panggilan bocah itu.
"K-kakak?" panggil si bocah laki-laki melihat seseorang duduk di sampingnya. Si wanita kemudian menoleh ke bocah itu.
"Kamu sudah bangun? apa kau baik-baik saja?" tanya wanita itu mengkhawatirkan si bocah sambil mengelus ubun-ubunnya. Bocah laki-laki itu tidak menjawab dan mencoba duduk mengikuti orang yang dipanggilnya kakak itu. Akan tetapi, karena masih lemah dan tak berdaya, ia jatuh lagi dan si wanita dengan sigapnya menopang kepala hingga punggung bocah itu menggunakan lengannya yang ditekuk. Ia kemudian membawa bocah itu ke pangkuannya.
"Terima kasih Kak," ucap si bocah mencoba bersandar ke wanita itu.
"He-em," jawab si wanita. Mereka bersama-sama menikmati indahnya langit malam berbintang dari permukaan laut yang sangat luas itu. Entah sudah berapa lama mereka tertidur dan sebenarnya dimana mereka berada saat ini.
_____
Jadi sampai saat ini ada lima bagian cerita, yaitu Kapten dan timnya, Mama Rianti dan Papa Haris, Delan dan teman-temannya di Melbourne, Naryla di Kerajaan Sterm, dan satu tambahan cerita Si pria dan rombongannya.
Maafkan atas segala kekurangan dan terimakasih atas dukungan kalian semua..
__ADS_1
Salam sayang dari author.. :)