
Melbourne, Australia
Gerald beralih topik mencari informasi tentang CIPT (Central Institute of Philosophical Technology), namun tidak membuahkan hasil.
“Ini dia CIPT!” girang Gerald sebentar ketika muncul CIPT dengan kepanjangan yang lain bukan Central Institute of Philosophical Technology, “Eh tapi bukan ini yang kucari.”
Ia mengklik hampir semua webpage namun tidak mendapatkan informasi tentang CIPT yang ia maksud. CIPT yang Gerald ingat dan lihat di game tersebut memiliki logo yang berbeda dengan CIPT yang ia temukan di google. Bagaikan sebuah bayangan, keberadaan CIPT (Central Institute of Philosophical Technology) ada tetapi tidak bisa ditangkap.
Di malam yang sama, ia teringat akan game yang Tommy bicarakan tempo hari. “M-mana handphone mana handphone?” Gerald mencari ponsel pintarnya dengan sedikit gemetaran. Ia berniat membuka group chat antara dia, Tommy, Delan, Charlos, dan Keido untuk melihat kembali nama dan informasi tentang game tersebut.
“Tolonglah beri aku petunjuk,” bicara Gerald pada dirinya sendiri sembari mengetikkan kata sandi di ponselnya dan segera membuka aplikasi Line. “Baik …, ketemu …,” batinnya. Gerald melakukan scrolling dan terus men-scrolling, “Argh mana sih?! Banyak banget chatnya.” Gerald kesal karena tidak menemukan pesan tersebut yang memang waktu itu hanya dibicarakan sebentar.
“Personal chat Tommy aja deh,” keluh Gerald. Ia mencari percakapannya dengan Tommy di Line, dan berhasil menemukan pesan tersebut. “Bagus bagus nak, sekarang kita cari pelan pelan ya.. Jangan takut, huftt..” yakinnya untuk mencoba menenangkan diri dan kembali ke ruang tempat laptopnya duduk.
“Ar …, bi …, tro …, ss …, Tou …, rld …,” eja Gerald sambil mengetik perlahan supaya tidak salah.
Klik. Tombol enter pun tergencet telunjuk Gerald. Muncul hasil pencarian yang tidak memuaskan yaitu nams-nama agensi wisata dan perjalanan.
“Aarrgh! Kok gaada sih,” geram Gerald, “Lu kira gue mau jalan-jalan apa Mbah?! Argh.” Gerald frustasi dan malah menjadikan google dan laptopnya sebagai kambing hitam.
“Apa gue telpon Tommy aja ya?” lanjutnya, “jangan deh besok aja,” pikirnya lagi, “ah, tapi greget banget.” Akhirnya ia menelepon Tommy.
Tung tung tung, tung tung tung, tung tung tung, tung tut turut. Gerald menelepon Tommy melalui aplikasi Line terlebih dahulu.
“Ya, halo?” Rupanya Tommy masih bangun.
“Dude, lu inget kan game baru yang tempo hari kita bicarain?” tanya Gerald mengawali.
“Eh, erm …, iya yang lu ngga mau main itu kan?” jawabnya.
“Yups, lu dapet informasi itu darimana kemaren?” lanjut Gerald.
“Em …, ada yang ngirim ke gua lewat Line,” jawab Tommy lagi, “kenapa?”
“Bukan apa-apa, boleh tolong kirimin ke gua ngga kontaknya?” sambung Gerald.
“Oke, sebentar ya. Hm, mana ya …,” Tommy mencari pesan yang dimaksud Gerald, “lah, empty chat Ger,” sambungnya.
“Kok bisa?”
“Mana gue tau,”
“Hm.. yaudah deh, besok lu ada kegiatan ngga? Lunch bareng yuk,” ajak Gerald.
“Boleh, lu traktir kan?” canda Tommy yang beruntungnya disanggupi oleh Gerald.
“Oke jam 12 p.m. di tempat biasa,” terang Gerald kemudian menutup telepon.
__ADS_1
Keesokan harinya, pukul 11.30 Gerald berangkat dari apartemennya menuju restoran tempat biasa mereka menongkrong yang membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai, namun kali ini hanya berdua dengan Tommy karena tujuan Gerald yang ingin melihat riwayat pesan Tommy dengan si pengirim.
“Langsung pesen aja Tom.” Ternyata Tommy sudah sampai duluan.
“Sekalian aja lah yuk,” pintanya. Mereka memanggil pelayan restoran dan memesan seporsi makanan dan minuman.
“Gimana Ger, kenapa lu ngajak gue ketemu?” tanya Tommy heran.
“Gue masih penasaran sama yang semalem, kalo boleh gue pengen liat chat lu sama si pengirim itu,” ungkap Gerald to the point.
“Ohh, okee sebentar,” jawab Tommy kemudian mengambil ponselnya, “nih,” serah Tommy.
“Ya tunjukin Pinter, mana gue tau chatnya yang mana, gajadi traktir nih,” geram Gerald.
“Oh iya ya, hehehe.. Ya maaf sih, tetep traktir lah ya..” Tommy kemudian memberi lihat Gerald pesan si pengirim itu.
Betul kata Tommy bahwa si pengirim sudah menghapus akunnya sehingga tidak bisa dideteksi lagi, sayangnya juga Tommy tidak mendapat pesan lain selain pesan yang sama seperti yang ia teruskan pada Gerald tempo hari.
“Emang ada apa sama pesan itu? Bukannya lu ngga tertarik untuk mainin game itu ya? Malah sampai berubah ekspresi kayaknya,” lanjut Tommy.
“Ngga, bukan apa-apa kok, hehe,” jawab Gerald.
“Haish, pada kenapa sih temen gue ngga percayaan amat sama sahabat sendiri. Kemaren Delan sekarang Gerald, besok Charlos apa Keido tuh,” sambung Tommy.
“Hehe, maaf ya lain kali kalo gue ngerasa perlu cerita pasti gue usahain cerita kok,” jawab Gerald.
“Terimakasih kak,” ramah Gerald, “Makan dulu Tom.”
“Gue cuci tangan dulu deh, gue ke toilet ya,” jawab Tommy dan dijawab oleh alis mengiyakan Gerald.
Sepuluh menit kemudian, Tommy kembali ke mejanya.
“Lama ya cuci tangan,” ledek Gerald.
“Iya, buang air dulu tadi, hehe.” Tommy mulai menggeser pesanannya ke hadapannya.
Sambil makan, mereka terkadang bercanda dan pastinya sempat hampir tersedak. Itu membuat mereka diam dan fokus menghabiskan makan. Setelah selesai makan,
“Eh gimana bisnis papa lu? Lancar?” tanya Tommy.
“Sejauh ini lancar, proyek terbarunya berhasil juga,” jawab Gerald, “keluarga lu gimana? Udah baikan?”
“Hm, begitulah.” Tommy menjawab datar.
“Erm ..., maaf ngga bermaksud,” jawab Gerald.
“Haha santai Dude, it’s ok.. Kabar nenek gimana?” Tiada angin tiada hujan tiba-tiba Tommy menanyakan tentang nenek Gerald.
__ADS_1
“Ya …, gue masih belum pernah ketemu,” jawab Gerald.
“Yang sabar ya, nanti kalo udah ada informasi kabarin gue, gue bakal bantu lu ketemu nenek lu dan gue akan jadi temen cucunya yang tersayang, oke ngga tuh, haha,” jawab Tommy.
“Ada-ada aja lu Tom, tapi gue pegang ucapan lu,” jawab Gerald.
Apartemen Delan,
Tommy : “Del,”
Delan : “Iya, lagi dimana?”
Tommy : “Ini sama Gerald lagi makan,”
Delan : “Ada info terbaru apa?”
Tommy : “Dia nanyain Arbitross Tourld,”
Delan : “Ngapain? Semua baik-baik aja kan tapi?”
Tommy : “Iya aman kok,”
“Makan siang sono. Jangan sampe kekurangan gizi lu, aktor harus sehat selalu.”
Delan : “Haha, iya iya nanti gue makan,”
Tommy dan Delan sambil berkirim pesan selama Tommy makan siang bersama Gerald.
Batam, Indonesia
‘Pesawat BCM Airways dengan nomor penerbangan ZYT-9016 yang lepas landas dari Bandara Internasional Hang Nadim pada 12 Juli 2022 pukul 10.50 malam WIB dan dijadwalkan mendarat di Bandara Melbourne pada 13 Juli 2022 pukul 08.55 pagi waktu setempat, menghilang dari radar pada pukul 2.30 am WIB.
Pencarian oleh tim SAR dan tenaga pencari yang dikerahkan oleh pemerintah Australia hingga saat ini tidak membuahkan hasil, baik bangkai pesawat maupun korban dari penerbangan tersebut belum berhasil ditemukan.
Hal ini memunculkan berbagai asumsi dari beberapa pihak …,’
“Sudah Pa, ganti ya …, mama tidak ingin melihat berita itu,” pinta mama ketika mendengar reporter dari salah satu stasiun TV yang sedang ditonton mama dan papa. Papa pun langsung menggantinya.
Sudah lebih dari tiga pekan tidak juga ada tanda-tanda ditemukannya pesawat Naryla, malah muncul banyak asumsi yang membuat Mama Rianti makin sedih, mulai dari keterkaitan pemerintah Amerika terhadap kasus ini demi keuntungan mereka hingga gangguan jin dan berbagai hal mistis lainnya.
______
Terimakasih untuk semua yang sudah mendukung author dan novel ini, baik yang sudah mampir, membaca, memberikan like, comment, vote dan ratenya..
Aku mengapresiasi penuh dukungan kalian..
__ADS_1
Doa baik dan salam sayang dari aku untuk kalian..