Merah Kuning Hitam

Merah Kuning Hitam
Episode 21 - Brigadeiro


__ADS_3

“Ehm, a-adik … dan … paman apakah tadi sudah bangun Kak?” bocah laki-laki itu memandang bergantian pria dan si bocah perempuan yang masih tak sadarkan diri. Keduanya terbaring tak jauh dari mereka. Si kakak menolehkan wajahnya ke arah dua orang itu setelah mendengar pertanyaan si bocah laki-laki.


“Kakak juga tidak tahu. Tetapi, sejak kakak bangun tadi mereka seperti itu terus,” jawab si kakak. Mereka memandang lama keduanya. Ingin rasanya si bocah laki-laki itu mengelus rambut adik perempuannya, namun apalah daya ia masih lemah. Melihat pandangan sedih bercampur rindu si bocah laki-laki itu, kakak memeluknya dengan penuh kasih sayang.


“Kamu kakak yang kuat,” hibur si kakak yang dibalas dengan senyuman dan setitik air mata di pelupuk mata kanan bocah laki-laki itu.


“Oh iya Kak …,” ucap bocah laki-laki itu menggantung, “Ini,” lanjutnya sambil memberikan sebuah benda seperti brigadeiro pada si kakak. Si kakak sedikit terkejut namun juga senang bercampur penasaran akan bagaimana bisa ia berhasil membawa  benda itu kesini.


“K-kamu membawa itu bersamamu? bagaimana bisa?” tanya si kakak, “bukankah perwakilan pasukan kerajaan sudah manyitanya?” lanjut si kakak. Ia ingat sekali kalau benda itu sudah terpaksa diberikan kepada salah satu perwakilan pasukan kerajaan yang menyergap rumah keluarga kedua bocah itu. Ya, tepatnya sebelum perwakilan pasukan kerajaan mengingkari janjinya untuk tidak membunuh orang tua mereka.


*Flashback on


“Kakak, lihat dong aku punya kue kakak tidak syalalalala,” ucap si adik perempuan dengan riangnya. Bocah perempuan itu menggenggam sebuah kue coklat bertabur meses berbentuk bola yang ukurannya tidak lebih besar dari bola bekel. Ia sangat riang mendapati dirinya bisa pamer pada kakak laki-laki tersayangnya.


“Wah Adik kakak ini dapat kue darimana? kakak mau dong,” jawab si bocah laki-laki. Ia menghampiri adik  perempuannya ingin melihat kue tersebut. Bocah perempuan itu langsung menarik tangannya ke balakang punggung menyembunyikan kue yang dibawanya dari kakaknya. Ia ingin membaginya, tetapi nanti setelah ia puas memamerkannya pada kakaknya.


“Tidak boleh! Wlee wlee,” ledek si adik yang kemudian lari. Si kakak yang memiliki kaki lebih panjang dengan mudahnya menangkap adiknya itu. Ia mengepung adiknya di pelukannya sambil mencoba membuka genggaman erat tangan kanan si adik yang memegang kue itu.


“Kasih kakak ngga, ntar kakak gelitikin loh.” Si kakak yang sebenarnya bisa saja membuka genggaman tangan si adik dan mengambil kue itu berpura-pura agar adiknya tidak sedih. Ia sedikit menggelitiki pinggang adiknya yang akhirnya tertawa kegelian.


“Hahaha, udah Kak geli lepasin aku hahaha,” ucap si adik kegelian. Si kakak yang berusia masehi tujuh tahun itu kemudian menghentikan gelitikannya terhadap si adik perempuan yang berumur tiga tahun. Si adik lalu mencoba membagi dua kue itu namun gagal.


“Keras Kak, aku ngga bisa belahnya,” ungkap si adik menyerahkan kue itu pada kakak. Si kakak lalu mencoba membelah kue berbentuk bulat itu dengan kedua tangannya. Sama halnya dengan si adik, ia juga tidak bisa melakukannya. Bahkan, ia mencoba menggigit kue tersebut.


“Aw,” ucapnya sambil memegang pipi kanan yang gigi di dalamnya baru digunakan untuk membelah kue itu. Ia juga tidak bisa membelah kue tersebut dan menyerahkan kembali ke adiknya.


“Itu kue apa kok keras banget?” tanya si kakak.


“Ini kue bola-bola cokelat Kak tuh ada mesesnya juga,” jawab polos si adik.


“Itu bukan kue, Dek. Masa kue keras banget, aneh.” Si kakak yang terbiasa menambahkan kata ‘aneh’ di kalimatnya membuat si adik sedih mendengarnya. Ia mencoba menggigit juga kue itu namun tetap gagal membelahnya.


“Ini kue kok,” ucapnya.


“Bukan,”

__ADS_1


“Iya kue,”


“Mana ada kue keras begitu. Siapa yang mau makan kue sekeras itu coba, Kamu aja sana makan sendiri, aneh.” Si kakak pergi meninggalkan si adik dan melanjutkan kegiatan bermainnya tadi. Si adik yang matanya mulai berlinang pun kembali ke rumah. Ia sedih sering dikatai aneh oleh si kakak padahal kali ini ia benar-benar baru saja diberikan sebuah kue yang tampak lezat itu dari seseorang.


Sesampainya di rumah, ibu mereka mendapati balita perempuannya itu hendak menangis. Ia menduga hal tersebut berkat anak laki-lakinya lagi. Setelah melihat ibunya, bocah perempuan itu berlari menghampiri.


“Ibu, kakak jahat,” adunya. Ia memeluk ibunya yang sedang minum air jahe panas dicampur gula aren di pelataran rumahnya.


“Kenapa Sayang?” tanya si ibu. Bocah perempuan itu menceritakan hal tadi pada ibunya. Si ibu tersenyum menanggapi keluhan hati anak imutnya.


“Ya sudah, nanti ibu buatkan kue bola-bola coklat yang seperti ini ya tapi yang lembut dan bisa dimakan sama Bubu,” hibur ibu mencubit gemas hidung Bubu, anak keduanya.


Sorenya, ibu sudah menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kue permintaan anaknya.


Resep Brigadeiro (Anugrah, n.d.)


Bahan :


-        1 kaleng susu kental manis


-        2 sdm cokelat bubuk (cocoa powder). Larutkan dengan sedikit air.


-        Meses secukupnya


-        Mini baking cup


Alat yang diperlukan :


-        Sendok kayu


-        Panci anti lengket


Cara membuat :


1.      Nyalakan api sedang, lelehkan 2 sdm unsalted butter.

__ADS_1


2.      Masukkan susu kental manis. Aduk. Tambahkan cokelat bubuk yang sudah dilarutkan. Aduk rata. Terus aduh dan masak adonan selama kurang lebih 20 menit hingga adonan mengental. Ditandai dengan adonan yang tidak langsung jatuh jika disendok.


3.      Pindahkan adonan ke piring datar. Dinginkan di dalam kulkas sekitar 30 menit hingga adonan mengeras dan mudah dibentuk.


4.      Lapisi tangan dengan sedikit mentega. Ambil satu sendok kecil adonan, bentuk bulat. Gulingkan dalam cokelat meses, lapisi hingga rata. Sajikan dalam mini baking cup yang cantik. Dinginkan sebelum disajikan.


5.      Setelah dingin, kemudian sajikan.


Tringg. Kue bola-bola cokelat keinginan Bubu siap disantap. Bubu yang ikut membantu ibu membuat kue dan senang membulat-bulatkan adonan sudah kotor dengan taburan meses di sekitarnya. Ia sangat bahagia ketika ibunya mengatakan akan membuatkan kue seperti yang ia pamerkan pada kakaknya namun gagal tadi.


“Taraa, sudah selesai.” Ibu menghidangkan sewadah kue bola-bola cokelat itu ke meja makan. Bubu mengintili ibunya dari belakang.


“Silakan dicoba Tuan Puteri,” sila ibu pada Bubu.


“Makasih Ibu, tapi Bubu mau makannya nanti tunggu kakak. Ibu jangan makan dulu ya kuenya,” pinta Bubu mencegah ibunya untuk makan sebelum kakaknya datang. Tak berapa lama kemudian, kakaknya pulang dari bermain dengan teman-temannya karena memang sudah semakin petang.


“Aku pulang,” teriaknya dari pintu belakang. Mendengar suara kakaknya, Bubu berlari menghampiri dan menarik kakaknya ke meja makan.


“Kakak, Bubu punya kue yang bisa dimakan sekarang, ayuk ke meja makan,” ucapnya riang. Veda yang ditarik oleh adiknya itu heran namun tetap mengikuti. Melihat kue cokelat yang tampak sedap di meja makan, ia segera mencuci tangan dan mengambil kue itu.


“Nah ini baru kue, Bubu.” Veda mengunyah lagi kue keduanya. Bubu yang senang melihat kakaknya jadi bersemangat juga menyantap kue itu. Ibu hanya tersenyum melihat kedua buah hatinya bahagia. Ia meletakkan benda keras mirip kue tadi ke meja belajar anaknya berpikir mungkin bisa dijadikan untuk mainan.


Hari semakin larut, ketiga orang itu sudah terlelap bersama. Veda terbangun di tengah malam karena ingin ke toilet. Selesai dari toilet, ia ke dapur mengingat kue cokelat lezat tadi masih tersisa. Sambil menyantap kue itu dalam keheningan, ia berpikir mengapa kue cokelat yang sebelumnya dibawa Bubu itu sangat keras.


“Tadi itu bentuknya seperti ini, tapi keras banget.” Veda memutar-putar kue cokelat yang berada di jepitan antara jari tengah dan ibu jarinya.


“Hm, ini empuk,” ucapnya sambil menekan kecil kecil kue itu, “coba kue ini dipadatin dan dikerasin, bakal sama ngga ya kayak yang tadi?” tanyanya dalam hati.


Sring. Zutt. “Eh!” Veda melempar kue yang seharusnya sudah tidak berbentuk bulat karena ia tekan tadi ke lantai. “K-kenapa itu?” jantungnya berdegup kencang ambil melirik kue yang dilemparnya. Barusan kue itu menyempurnakan bentuk dan teksturnya persis seperti benda yang dipikirkan Veda.


Menyadari hal tersebut, Veda hendak meninggalkan kue yang jatuh itu. Namun, ia berhenti dan mengambilnya karena tidak mau membuat siapapun mengetahui kejadian aneh itu.


________


Anugrah, W. (n.d.). Resep Coklat Brigadeiro yang Enak Sekali. Retrieved from

__ADS_1


WIDHIAANUGRAH.COM: https://widhiaanugrah.com/resep-coklat-brigadeiro-yang-enak-sekali/


__ADS_2