
“Aduh maaf ya saya salah tempat duduk (Naryla sangat malu karena ia salah menempati kursi yang seharusnya milik orang itu), silakan masuk (sila Naryla padanya dan menyusul duduk di sebelahnya).” Naryla kembali duduk sambil menghujat dirinya sendiri dalam hatinya, “Bodoh lu La pake salah segala, mana orangnya misterius banget lagi.”
Tak berapa lama kemudian pesawat lepas landas. Naryla menghubungkan earphone ke layar LCD di depannya dan
memilih film untuk ditonton namun gagal menyelesaikan film nya karena ia tertidur di tengah-tengah kegiatannya.
Sepasang mata memandang Naryla yang sedang tertidur. Ya, ia lah seorang pria berambut setengah putih itu. Ia
memejamkan matanya bak seorang peramal yang hendak menguak masa depan dan masa lalu melalui pikiran orang di hadapannnya.
“Hmm.. Selamat datang.” Ia menyeringai dan bergumam sendiri setelahnya.
Sreett, hik! Sreett, hik! Kepala Naryla tidak bisa diam. “Haah!” batinnya saat merasa kepalanya keluar jalur dan hampir menabrak pramugari yang lewat. Ia mengembalikan kepalanya ke posisi.
Kali ini ke arah berlawanan, kepalanya bergerak ke kiri bak mencari tempat bersandar agar dapat berhenti. Pria itu nampaknya tidak ingin Naryla bersandar di pundaknya, ia menggunakan botol minumnya untuk menolak kedatangan kepala Naryla ke bahunya.
“Sekali kau menyentuh kulitku kau akan menyesal seumur hidup nak,” bisiknya sembari melakukan hal yang sama lagi.
Di tengah perjalanan, terdengar suara ‘grrudukk grrudukk grrudukk’ akibat guncangan pesawat. Naryla terbangun karena merasakan guncangan yang cukup besar. Kemudian terdengar suara pengumuman untuk kembali ke tempat duduk masing-masing dan memakai sabuk pengaman karena pesawat sedang menghadapi pergolakan sehingga mengurangi kestabilan.
“Ladies and Gentlemen, the Captain has turned on the fasten seat belt sign. We are now crossing a zone of
turbulence. Please return to your seats and keep your seat belts fastened. Thank you”
Jam tangan Naryla terus berdetik dan sudah ada sekitar tiga puluh menit guncangan tersebut belum juga reda. Bohong apabila Naryla tidak gelisah, ia berdoa dalam hatinya supaya tak terjadi apa apa dan berusaha menenangkan diri. Sesekali ia menoleh ke pria di sebelahnya, ia heran mengapa orang itu sangat tenang dan tidak nampak risau sedikitpun.
“Coba ah gue denger lagu aja siapa tau ngurangin degdegan gue.” Namun tetap saja ia tidak bisa berhenti gelisah. Tak berhenti ia mengetukkan jari tangan kanannya bergantian dari kelingking hingga telunjuk di dudukan lengan kursi berupaya menenangkan pikirannya dari dugaan yang tidak tidak.
Tiba-tiba dupp lampu pesawat mati.
“Aaaaa,” teriak orang-orang. Naryla semakin takut dan tak sadar memegang lengan manusia di sebelahnya.
__ADS_1
“Hei! Jangan sentuh saya!” Orang itu menghempaskan tangan Naryla dengan kasarnya tanpa menyentuhnya. Wajahnya tampak marah dan sedikit memelototi Naryla.
“Ah, iya maaf saya tidak sengaja,” tutur Naryla makin tidak karuan perasaannya.
Orang itu lupa kalau ia sedang tidak memakai jaket dan sarung tangannya yang ia lepas tadi karena gerah. Sesegera mungkin ia memakainya kembali setelah Naryla hampir menyentuh kulitnya.
Naryla yang diperlakukan seperti itu makin merasa kacau, ia memeluk dirinya sendiri, “Mamaa, Papaa, jangan lupa
cari mayat Ila ya kalo nanti Ila meninggal di kecelakaan pesawat,” batin Naryla menangis dihatinya.
Melbourne, Australia
Delan merebahkan tubuhnya diranjang apartemen nya sambil melihat-lihat Instagram Naryla. “Besok pagi dia sampe, gue harus bawa dia kemana dulu ya, hmm makan siih pastinya. Tapi kantor asrama dia ngga buka besok masa harus gue suruh tinggal disini sih,” pikir Delan untuk menyambut Naryla esok harinya. “Ngga ngga gabisa, takut ngga kuat gue kalo dia disini, bisa bisa jadi bapak tahun depan.” Delan menggeleng-gelengkan kepalanya
menghilangkan pikirannya.
Delan mengambil handuk dan beranjak mandi karena merasa gatal setelah keluar dengan teman-temannya tadi. Selesai mandi ia menuju kulkas mencari cemilan untuk menemaninya bermain game.
“Siap gan bentar ya ajak anak anak,” balas Charlos.
Tak berapa lama kemudian keempat temannya sudah online dan siap membentuk satu tim.
“Yang MVP traktir ya,” ucap salah satu anggota mereka karena microfon diaktifkan. Mereka asik bermain tak lupa
melontarkan kata-kata hujatan saat terbawa emosi.
Congratulations!! You’ve Finish this adventure and come back soon!!
“Wooo,” teriak salah satu diantara mereka, “emang tidak terkalahkan kita ini,” sambung yang lain, “lanjut ngga nih?” tanya Charlos.
__ADS_1
“Gue udahan lah besok ada urusan, takut telat bangun,” jawab Delan.
“Urusan apa lu besok libur, nge-date lu?” balas Charlos, “sejak kapan lu punya cewek Del? Hahaha” sambung yang Gerald.
Delan tertawa geram dengan ejekan teman-temannya. “Sialan, otw nih liat aja lu pada ntar, hehehe.”
“Idih ketawanya serem,” sahut Gerald.
“Yaudah gih tidur yang nyenyak ya sayang, good night love.. hahaha.” canda Charlos.
Delan geli mendengar ucapan Charlos. “Dih geli, yaudah night guys semoga menang game selanjutnya.”
“Pastii.” tutup mereka serentak.
Delan segera tidur dengan perasaan hati harap-harap senang akan bertemu dengan pujaan hatinya esok hari.
***
Gerald sedang bersama dengan Tommy di apartemennya. Tommy berencana menginap disana karena sedang tidak ingin pulang ke rumahnya. Entah ada perselisihan dengan keluarga atau bagaimana ia tidak menceritakan detailnya ke Gerald.
“Eh ada yang kirim info game baru nih, kayaknya asik coba lu liat deh.” Tommy menyerahkan ponselnya ke Gerald.
Setelah melihat-lihat, Gerald juga ikut tertarik dan mengajak teman-temannya mencoba permainan tersebut. Yang lain juga cukup tertarik untuk bermain game itu. Tetapi, setelah menyadari satu hal, Gerald berubah pikiran.
“Eh guys by the way ini ada logo CIPT (Central Institute of Philosophical Technology), kayaknya kita jangan mainin ini deh.” Gerald mulai berkeringat setelah menyadari akan adanya logo tersebut.
Tommy yang heran melihat Gerald memukul lengan Gerald. “Ger, lu kenapa dah tadi semangat sekarang malah gini. Ada apa sih?”
“Pokoknya jangan!” seru Gerald yang membuat semua temannya diam.
“Oke oke kita ngga main ini ya, kalo mau main yang biasa aja.” Keido mencoba menenangkan suasana.
__ADS_1
“Gue ngantuk, tidur duluan ya guys.” tutup Gerald. “Tommy gue duluan ya, lu kalo laper ambil aja makanan di
kulkas. Anggep rumah sendiri ya.” Gerald berlalu ke kamarnya meninggalkan Tommy.