Merah Kuning Hitam

Merah Kuning Hitam
Episode 23 - Bakat Spesial 2


__ADS_3

“Wow! Apa itu Paman?” tanya Veda.


Sebuah layar berwarna dasar kuning mendekati jingga bergaris merahtepi  muncul dari benda itu. Layar tersebut bertuliskan ‘Welcome’ dan terdapat tombol masuk di bawahnya. Pangeran yang juga tidak tahu-menahu tentang benda itu hanya menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Veda.


“Coba aku tekan tombol ini,” ucap pangeran mengarahkan ujung jari telunjuknya mendekati tombol masuk tersebut. Benda mirip brigadeiro yang tadinya ia pegang di tangan kanannya, sekarang ia pindahkan ke tangan kiri, sehingga jari yang menekan tombol itu adalah jari telunjuk kanan.


Srassh. Ting. Ting. Ting. (99x). Layar tersebut menampilkan sebuah daftar. Pangeran menggulir daftar tersebut melihat seberapa banyakkah butir-butir yang tercantum.


“Lumayan banyak juga. Tapi ini apa ya?” tanya pangeran pada dirinya sendiri. Veda hanya memperhatikan kegiatan paman yang mengabaikannya itu dengan saksama. Ia kesal sekaligus heran mengapa ketika pangeran yang memegangnya muncul sesuatu seperti itu, sedangkan ia sudah berkali-kali memainkan benda tersebut tapi tidak terjadi apa-apa.


“Paman,” panggil Veda. Namun, pangeran masih asyik memuaskan rasa penasarannya dengan apa yang muncul di layar tersebut. Mengklik acak daftar yang tercantum di dalamnya.


“Paman!” panggilnya lagi.


“E-eh iya,” sahutnya.


“Paman asyik banget sih main itunya, sampe aku panggilin ngga nyahut,” kesal Veda.


“Hehe iya maaf ya, soalnya paman penasaran. Nih coba kamu lihat banyak banget informasinya yang paman belum pernah tahu.” Pangeran menunjukkan layar itu ke hadapan Veda. Veda tidak mengerti maksud tulisan-tulisan itu karena menggunakan bahasa yang tinggi.


“Aku ngga ngerti ah.” Veda merajuk.


“Hehe, iya iya udah jangan ngambek dong,” mohon pangeran.


“Ngga tahu ah. Aku mau main di luar aja,” rajuk Veda turun dari kasurnya, “lagian pas aku mainin ga kenapa-napa, pas Paman yang megang bentar langsung keyak gitu.” Veda berjalan keluar meninggalkan paman.


“Eh, i-iya juga ya,” gumam paman, “mengapa benda ini bereaksi padaku?”

__ADS_1


Pangeran kemudian mencari tuan putri untuk mengetes dugaannya. “Apakah akan sama jika adik yang memegangnya?” duga pangeran. Ia mengelilingi seisi rumah mencari tuan putri namun tidak menjumpai. Akhirnya ia memilih untuk mencari di tempat kesukaan adiknya.


Hamparan luas alam Kerajaan Sterm sangat indah dipandang. Warna-warni tumbuhan dan pepohonan, ladang ladang dan sawah hijau yang membentang, semakin indah dihiasi oleh genitnya liku sungai jernih diantara mereka. Sejauh pandang tuan putri lepaskan. Merenungkan sesuatu.


Sepasang mata penuh kasih sekaligus sedih menatap punggung gadis anggun itu. Ada perasaan marah dengan keadaan, namun disisi lain tidak dapat melawan takdir. Gadis anggun inilah yang menjadi penguatnya hingga sekarang. Ya, ia harus menjaga dan membahagiakan satu-satunya yang ia miliki sekarang.


“Hei, Nenek sihir ngelamun aja.” Pangeran menghampiri tuan putri dan mengambil posisi duduk di sebelah kirinya. Mereka menikmati indahnya pemandangan Kerajaan Sterm dari pinggir tebing.


“Ih, Kakak apa sih,” sangkal tuan putri atas ejekan kakaknya itu. Ia menekukkan wajahnya.


“Kenapa siih? Sini sini bersandar di bahu kakak,” tawar pangeran sambil menepuk-nepuk bahunya sendiri. Tuan putri menatap sesaat manik indah mata kakaknya yang sama dengan miliknya, lalu mengalihkan kembali ke indahnya permadani di kaki langit. Pangeran pun melakukan hal yang sama. Keheningan yang memeluk mereka membuat pangeran lupa akan tujuannya mencari tuan putri.


“Kenapa mereka harus seperti itu ya Kak,” ucap tuan putri memecah keheningan.


“Hm …,” tanggap pangeran khawatir salah berbicara.


“Kakak kedua, mengapa ia tega …,” ucap tuan putri menggantung lagi.


“Sstt.. sudah ya Sayang, kita hadapi saja bersama-sama selanjutnya. Ada kakak disini, jangan sedih ya.” Pangeran mengelus ubun-ubun tuan putri sambil tersenyum tulus kepada adiknya. Tuan putri yang melihat ketulusan itu ikut tersenyum, ia tidak ingin menjadi beban untuk kakaknya. Pangeran adalah pahlawan yang paling gagah baginya dan ia berjanji untuk selalu mendukung pahlawannya hingga akhir.


“Makasih ya Kak,” jawab tuan putri tersenyum, “Oh iya Kakak kenapa mencariku?” lanjutnya.


“Oh iya, ini si Veda tadi memberi kakak benda ini.” Pangeran mengeluarkan benda tadi dari sakunya. Layar langsung keluar seketika pangeran memegangnya. Tuan putri yang heran hanya diam melihat kakaknya. Pangeran kemudian meletakkan benda itu di tanah sehingga layarnya hilang.


“Lihat, jika kakak lepaskan benda ini tidak ada apa-apa yang terjadi kan, tetapi jika kakak pegang …, Sringg! Muncul layar ini,” terang pangeran.


“Y-ya terus kenapa? Mungkin memang begitu cara kerjanya, harus dipegang baru muncul layarnya,” jawab tuan putri.

__ADS_1


“Ngga, gini gini. Si Veda udah biasa mainin ini, tapi ngga pernah muncul layar kayak tadi. Jadi kakak pikir kalo kakak bisa, apakah kamu juga bisa memunculkan layar itu? Gitu loh ….” Jelas pangeran lagi. Tuan putri mengernyitkan alisnya.


“Emang apa sih isi layarnya?” Tuan putri bertanya sambil mengambil benda itu. Sringg! Layar itu juga muncul di tangan tuan putri.


“Nih aku bisa,” lanjutnya.


“Tuh kan, berarti betul dugaan kakak kalau keluarga kerajaan saja yang bisa mengaktifkan benda itu,” terang pangeran.


“Ibu gimana? Emang ngga bisa juga? Mungkin Veda masih kecil jadi ngga bisa mengaktifkannya,” jawab tuan putri.


“Yasudah nanti coba kamu tanya ibu tentang ini ya,” pinta pangeran.


“Ih, kok aku sih,” jawab tuan putri.


“Udah kamu aja, kan sama-sama perempuan, ya ya?”  mohon pangeran sambil mengedip-kedipkanvmatanya. Akhirnya tuan putri mengiyakan. Mereka menikmati pemandangan lagi beberapa saat kemudian kembali ke rumah Veda. Pangeran yang sangat penasaran pun menyuruh tuanputri segera menanyakan perihal tersebut. Mau tidak mau akhirnya tuan putri melakukannya, dan benar saja ketika ibu memegang benda itu tidak ada hal yang terjadi. Akhirnya mereka melanjutkan kegiatan seperti biasa.


Di hari-hari selanjutnya, pangeran sering membuka layar benda itu dan membaca berbagai informasi di dalamnya. Terkadang Veda berada bersama pangeran saat sedang mempelajari informasi-informasi tersebut. Tak jarang ia bertanya tentang maksud kata atau kalimat yang tertulis disitu, dan pangeran dengan sabarnya menjelaskan. Pangeran yakin, kalau Veda adalah anak yang baik sehingga ia mempercayakannya untuk ikut mempelajari apa yang ada di layar tersebut.


Suatu pagi, pangeran yang sedang berjalan-jalan bersama Veda sedang beristirahat di sebuah gua kecil yang sejuk. Ia membuka lagi layar itu dan membaca informasi selanjutnya.


“Bakat spesial,” bacanya, “baik bakat special, aku datang.” Pangeran mengklik tulisan itu dan tertegun membaca penjelasan tentang bakat special itu.


Bakat ini tidak diketahui banyak orang di Kerajaan Sterm, namun jika diketahui secara publik maka hanya akan menimbulkan perselisihan untuk memperebutkan petunjuk cara mempelajari bakat ini. Akan tetapi, fakta yang mungkin akan menghancurkan keutuhan kerajaan adalah bahwasanya bakat ini hanya diturunkan pada darah keluarga utama kerajaan. Seseorang yang dapat berhasil menguasai bakat ini akan mengetahui jenis kehidupan lain.


“Jenis kehidupan lain? Apasih ngga ngerti,” gumam pangeran, “biarlah nanti tetap kulatih saja.”


Sejak saat itu pangeran berhenti membaca bagian selanjutnya karena berniat untuk mempelajari bakat spesial itu.

__ADS_1


__ADS_2