Merah Kuning Hitam

Merah Kuning Hitam
Episode 11 - QR Code


__ADS_3

“Apaa?! Yang bener kamu Delan, jangan bercanda. Coba ngomong yang jelas.” Papa Haris syok mendengar ucapan Delan, berharap ia salah dengar.


“Iya Om, tadi pagi Delan datang ke bandara, tapi di layar informasi tidak ada nomor penerbangan Naryla, saya pikir saya yang salah mencatat Om, tapi setelah tanya Om ternyata sama, kemudian Delan tanya ke petugas perihal itu, dan katanya pesawat yang ditumpangi Naryla, pukul 05.55 waktu sini, hilang Om.. Delan minta maaf Om..” Delan mencoba menerangkan apa yang terjadi pada Papa Haris.


Papa Haris terdiam membeku. Tidak percaya akan apa yang terjadi pada anaknya. Ia menyalahkan dirinya yang lebih mementingkan pekerjaan dibanding mengantar dan memastikan anaknya selamat sampai tujuan, malah membiarkan putri kebanggaannya sendirian.


“Om?” panggil Delan lagi.


Papa Haris tersadar dari lamunannya, “Eh iya Nak Delan,” jawab papa.


“Maafkan Delan Om, Delan akan berusaha mencari dan menemukan Naryla. Mohon Om dan tante bersabar yaa.. Delan akan berusaha semaksimal mungkin.” Delan berusaha meyakinkan Papa Haris lagi.


“Eh? Ohh iya Nak tidak apa apa, tolong yaa temukan Naryla.. Bawa dia kembali hidup-hidup,” jawab papa lagi.


“Delan usahakan Om, Delan yakin Naryla akan baik baik saja, kita sama sama berdoa ya Om. Delan tutup dulu teleponnya Om.” Kemudian Delan menutup telepon tak sanggup membicarakan hal itu lagi dengan keluarga Naryla.


Papa masih termenung, terlintas kenangan kenangan bersama anaknya itu. Tak terasa ia menitikkan air mata. Mama yang baru selesai mandi mendapati papa seperti itu langsung menghampiri.


“Pa? Papaa? (mengayunkan tangannya di depan wajah papa),” ucap mama.


“Ada apa Pa?” tanya mama lagi. Papa kemudian menceritakan apa yang disampaikan Delan.


“Huhuuu kenapa harus Naryla Pa? kenapa harus putri kecil kita? dia tidak melakukan kesalahan apapun.. Ini salah mama yang tidak mengizinkan Ila memilih jurusan sesuai keinginannya.. memaksakan kehendak mama, akhirnya malah begini.. mama bersalah Pa.. huhuuu..” Mama menangis tersedu-sedu.


“Sudah Sayang, bukan salahmu, jangan salahkan dirimu.. Selama belum ada keterangan apa-apa, kita masih punya harapan.. Kita berdoa semoga Ila bisa ditemukan dalam keadaan baik-baik saja yaa..” Papa mencoba tegar, siapa lagi yang akan jadi tempat bersandar wanita yang dicintainya ini jika bukan dia.


“Tapi mama tidak bisa hidup tanpa Naryla Pa.. Mama sangat menyayanginya seperti anak kandung sendiri,” sambung mama.


“Papa pun begitu Ma, tolong jangan terlarut yaa.. Kita harus ikut mencari Naryla, jangan sampai diam saja kalah dengan kesedihan. Bocah kecil kita pasti sedang menunggu papa mamanya menjemputnya pulang.. Yaa.. Ma? Papa mohon,” Papa memeluk erat mama berusaha menjadi tempat bersandar terbaik untuk mama melepaskan kesedihannya.


Keesokan harinya, Papa Haris dan Mama Rianti menceritakan pada rekannya tentang apa yang terjadi, dan menyampaikan niatnya untuk sejenak mencari keberadaan Naryla. Untungnya, rekan mereka dapat mengerti dan menyilakan mereka untuk fokus pada pencarian Naryla saja dan biar proyeknya diawasi oleh rekannya itu.

__ADS_1


Tidak menunggu lagi, sore hari nya Papa Haris dan Mama Rianti menaiki penerbangan ke Indonesia. Mereka menghubungi semua kenalan yang kiranya dapat membantu pencarian itu.


Tiga hari kemudian, berita hilangnya pesawat Naryla sudah tersiar di berbagai media dan dua minggu setelahnya dengan cepat menjadi trending topic dunia. Pasalnya, tidak ditemukan bangkai pesawat ataupun mayat korban di jalur penerbangan dan area sekitarnya. Pemerintah Indonesia dan Australia sudah mengerahkan segala upaya untuk melakukan pencarian hingga ke Samudra Hindia.


Kebuntuan kasus tersebut mengundang banyak asumsi dari berbagai pihak. Mama Rianti dan Papa Haris, teman teman Naryla, dan juga Delan yang mengetahuinya merasa sangat sedih.


Melbourne, Australia


Delan sedang berkumpul bersama teman-temannya di apartemen Gerald. Seperti biasa mereka berbincang-bincang, main game, atau menonton film. Namun Delan terlihat tidak bersemangat sejak pagi itu di bandara.


Keido yang menyadari perbedaan sikan Delan sejak beberapa waktu terakhir akhirnya memberanikan diri bertanya pada Delan. “Delan, akhir akhir ini lu kelihatan berbeda. Apa lu lagi ada masalah?”


“Eh Oh? Ngga gue gapapa kok, sorry sorry.” Delan mencoba tersenyum dan meneguk minuman yang disediakan Gerald.


Keempat teman Delan saling lirik seakan mengisyaratkan “Kita harus bicara.”


Kali ini Tommy yang memulai, “Del, mungkin kita ngga ngerasain apa yang jadi masalah lu, tapi kita disini udah sama sama dari awal, susah senang bareng. Kita ngga pengen lu nganggep kita orang lain, kita-kita khawatir dengan kondisi lu dan berharap bisa bantu lu meskipun sedikit. Jadi gue harap lu mau berbagi cerita ke kita kita, setidaknya itu bisa ngurangin beban lu.”


“Iya Del, gue ngerasa lu agak beda dua minggu ini. Lu juga kayak kurang ngurusin badan lu, kan kita khawatir ntar lu sakit atau gimana-gimana,” sambung Charlos.


“Hmm.. kalian tau berita yang jadi trending topic saat ini?” Delan mulai bersuara, “Hari itu gue disana, tapii di-dia ngga ada.” Teman-temannya bingung dengan apa yang disampaikan Delan.


“Coba lu pelan-pelan certain detailnya gimana,” ucap Gerald sambil memberi minum air mineral.


“Hiks,” Air mata Delan tak tertampung lagi, “Dia.. pujaan hati gue, gue baru coba deketin dia beberapa bulan ini, dia mau kuliah disini juga karena tau info dari gue, tapi dia malah …,” ucap Delan menggantung. “Dia ada di pesawat itu.., harusnya gue jangan deketin dia, jadi dia akan baik-baik aja sekarang..” Delan menutup ceritanya.


Charlos, Tommy, Keido, dan Gerald diam sesaat. Kemudian mereka mencoba meyakinkan Delan kalau itu bukan salahnya dan memang sudah takdir. Harus terus berdoa semoga pujaan hatinya itu segera ditemukan, dan kalaupun tidak ia harus bangkit agar arwah pujaan hati itu tenang disana.


Delan semakin menangis namun bebannya berkurang setelah menceritakan itu.


Hari semakin malam, mereka berempat pulang ke tempat tinggal masing masing. Gerald merapikan apartemennya seperti semula dan berniat membaca berita-berita tentang trending topic yang diungkit Delan tadi. Ia duduk di meja ruang tengah dengan laptop dan segelas jus.

__ADS_1


Tik tik. Tik tik. Ia mengetikkan beberapa kata kunci yaitu trending topic kabar penerbangan. Sembari membaca artikel, iya menyeruput jus nya. “Slrupp, Aaah.. Segarr,” ucapnya menikmati..


Ia terus membaca dan membaca, sekali-kali menonton siaran berita di youtube. Belasan artikel sudah ia baca, sampai jus nya hampir habis. Hingga tibalah di satu artikel, “Uhuk. Uhuk.” Ia tersedak melihat isi artikel tersebut.


Seseorang mengunggah foto tiket elektronik milik kerabatnya yang menaiki pesawat itu. Ia melihat sesuatu yang tidak mengenakkan. Terdapat sebuah QR Code di bagian tengah bawah tiket elektronik tersebut. Dari jauh, terlihat tidak ada yang salah dari QR Code tersebut. Tidak. Jika orang lain yang melihat, akan merasa tidak ada yang salah dengan itu.


Gerald memperbesar gambar itu.


Tik.. tik.. tik..


Kemudian menekan tombol panah ke kanan di keyboard nya tiga kali, dan memperkecilnya lagi sedikit.


“Hahh!” Gerald terperanjat hingga ke sandaran sofa tempat ia duduk. “Apa-apaan ini, apakah ada hubungannya dengan itu?” Jantungnya berdetak kencang mendapati logo CIPT terukir di QR Code tersebut.


 


__________


Haii pembacaku tercintaa..


Gimana sejauh ini pendapat kalian tentang ceritanya?


Menguras tenaga untuk berpikir?


Semoga enjoy yaa..


Kalau ada saran atau masukan, bahkan kalau mau request gimana arah jalan ceritanya sangat diterima yaa..


Karena kepuasan pembacaku adalah yang utama..


Terimakasih.. Salam hangat dari author..

__ADS_1


Semoga cerita ini bisa menemani kalian kala lockdown yang entah kapan akan berakhir..


Stay safe semuaa..


__ADS_2