Merah Kuning Hitam

Merah Kuning Hitam
Episode 29 - Organ Tercanggih


__ADS_3

“Hei bangun bangun.. Anak muda jaman sekarang memang pemalas ya?” keluh Nenek Kane membangunkan Naryla yang masih terlelap dalam mimpinya.


“Ehm.. Nenek.. Naryla masih mengantuk Nek,” jawab Naryla memiringkan badannya membelakangin nenek. Kemudian Nenek Kane memukul bokong Naryla.


“Bangun atau nenek siram minyak goreng?!” ancam Nenek Kane.


“What?! Minyak goreng? Ngga mungkin lah nenek kayak gitu, paling air doang,” batin Naryla tetap berbaring.


“Baiklah, kau sendiri yang memintanya ya. Nenek ambilkan minyak goreng sekarang.” Naryla yang mendengarnya percaya tidak percaya karena barusan nenek berkata seolah akan menyiramnya dengan minyak goreng sungguhan.


Naryla kemudian bangun dan bersembunyi di balik pintu kamar. Tak berapa lama kemudian, suara nenek terdengar lantang bahkan sejak sebelum masuk kamar.


“Naryla! Nenek bawakan minyak goreng nih, bangun atau nenek siram?!” Nenek Kane masuk Kamar, “Eh, dimana anak itu?” suara nenek pelan.


“Nary- Kyaa! Byurr.”


“Uumm Neneek..” Wajah dan baju bagian depan Naryla basah dengan minyak goreng yang dibawa Nenek Kane tadi. Naryla hanya merengut menerimanya. Ia menyejajarkan wajah dengan ekspresi yang dibuat-buat di belakang kepala nenek, sehingga ketika nenek berbalik nenek akan kaget dibuatnya.


“Ih Kamu ini ya ngagetin nenek aja. Suruh siapa ngagetin, kan jadi kesiram beneran.”


“Aduh duh, Nek udah Nek ampun maafin Naryla,” Nenek Kane memukuli Naryla yang sudah membuatnya jengkel dua kali, yaitu ketika ia sulit dibangunkan dan kemudian mengagetkan jantung tuanya.


“Dasar kamu ya, sana bersihkan tubuh dan pakaianmu.” Nenek Kane hendak meninggalkan Naryla, tetapi berbalik mengambilkan lap wajah untuk Naryla.


“Nih, lap wajahmu supaya bisa melihat,” ucap nenek kemudian pergi. Naryla berteriak dalam hatinya jengkel bercampur malas mencuci baju yang terkena minyak, siapa sangka kalau Nenek Kane akan benar-benar membawa minyak goreng.


“Iyuhh beneran minyak goreng lengket banget,” keluh Naryla dalam hati sambil menyentuh tumpahan minyak di wajahnya.


Setelah selesai mandi dan mencuci pakaiannya, Naryla menghampiri nenek yang sedang memasak di dapur. Ia hendak mengagetkan nenek lagi namun gagal karena suara langkahnya terdengar oleh nenek.


“Udah ketauan, ngga bisa ngagetin lagi,” ucap nenek sambil terus fokus memasak.


“Yahh.. yaudah deh. Sini Nek ada yang bisa Naryla bantu?” tanya Naryla.


“Kamu beresin aja tuh meja makan, masakan sebentar lagi selesai kok,” pinta nenek yang diiyakan Naryla.

__ADS_1


Naryla kemudian berbalik menuju ruang makan, “Astagaaa,” Naryla mengehembuskan nafasnya berat.


“Nenek ngapain aja sih banyak banget barangnya disini. Udah tua masih rajin baca buku, aku aja males.” Naryla membatin. Ia tetap bergerak mengembalikan buku-buku yang berserakan tersebut ke tempatnya. Tak lama kemudian nenek datang membawa satu panci sup ke meja makan.


“Naryla, singkirkan benda-benda itu nenek mau meletakkan ini. Cepat, berat nih,” perintah nenek pada Naryla.


“Eh? Iya iya Nek sebentar.” Naryla memindahkan buku dan kertas yang tersisa di meja.


“Nek, ngapain satu panci dibawa kesini semua Nek? Kan bisa diambil pakai mangkuk saja,” ucap Naryla membantu nenek mengangkat panci berukuran sedang yang dibawa nenek.


“Nenek malas nyuci piring. Lagian kan enak kalau mau dipanaskan tinggal taruh di kompor aja, hehe,” jawab nenek. Naryla hanya menggelengkan kepalanya.


Mereka siap untuk menyantap hidangan yang tersedia. Naryla mengambilkan nasi, lauk pauk, dan sayur untuk Nenek baru mengambil untuknya. Selama kegiatan makan pagi berlangsung, mereka tidak berbicara satu sama lainnya sehingga sarapan itu terasa khidmat. Sampai akhirnya,


“Naryla, Kamu sebenarnya siapa?” tanya nenek tiba-tiba membuat Naryla bingung. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan nenek.


“Erm … aku remaja biasa yang tinggal di bumi Nek,” jawab Naryla.


“Apakah kamu sudah pernah kesini sebelumnya?”


“Lalu, bagaimana caranya kamu datang kemari?” tanya Nenek lagi.


“Hm, aku juga tidak tahu Nek. Seingatku terakhir kali aku sedang perjalanan menuju ke negara tempat universitasku berada. Kemudian pesawatnya mengalami masalah, dan Boom! aku bangun dalam keadaan melayang di atas laut,” jawab Naryla.


“Sungguh? Sebab kalau kamu berbahaya, nenek punya banyak kenalan yang bisa dengan mudah menghabisimu sampai tidak tersisa sedikitpun,” tanggap Nenek. Naryla merinding mendengar ucapan tersebut.


“Uhuk. Erm, tidak kok Nek sungguh aku tidak ada niat buruk apapun pada siapapun. Kalau aku tau bagaimana cara kembali ke bumi aku akan segera kembali kok Nek,” jawab Naryla lagi.


“Ooh, jadi kamu tidak suka tinggal disini? Tidak suka bersama Nenek? dan Xero juga? Iya?” sahut Nenek.


“Eh, bu-bukan gitu Nek. Naryla senang kok bisa tinggal sama Nenek dan juga Xero,”  jawab Naryla, “haduhh kok jadi gini sih nenek ih,” batinnya, “tadi kan nenek bilang, kalau Naryla berbahaya Nenek akan menghabisi Naryla, makanya Naryla mengatakan ingin segera kembali  ke bumi supaya tidak dicurigai siapapun.” Naryla berusaha menjelaskannya perlahan.


“Bukan Nenek yang mau menghabisimu kok,” jawab Nenek.


“I-iya Nek, bukan Nenek tapi kenalan Nenek,” sambung Naryla, “iih greget,” batinnya sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya dengan geram. Mereka berdua kemudian melanjutkan makannya hingga selesai.

__ADS_1


Selesai makan, nenek mengajak Naryla kembali ke ruangan untuk mengecek bakat. Nenek Kane masih heran akan hasil pengecekan pada Naryla terakhir kali. Naryla yang tidak tahu harus melakukan apa pun akhirnya menurut saja. Kemudian langkah-langkah seperti sebelumnya dilakukan.


Tak lama, hasilnya pun mulai nampak. Terlihat ada sesuatu yang berbeda dari pengecekan sebelumnya. Terukir sebuah gambar mirip gambar otak yang biasa Naryla lihat di buku-buku.


“Wah Nek, ada satu gambar lagi Nek. Itu gambar otak ya?” tanya Naryla menunjuk gambar tersebut.


“Ehem, benar itu gambar otak,” jawab nenek singkat kemudian mengamati kembali hasil pengecekan itu. Naryla yang melihatnya terdiam. Suasana hening sampai akhirnya nenek meminta Naryla untuk menunggu.


Nenek kembali ke tumpukan buku yang tadi dibereskan Naryla, ia mencari halaman dimana ia membaca hal yang berkaitan tentang gambar otak di hasil pengecekan seseorang. Setelah menemukannya, nenek kembali ke ruangan tadi. Ia bolak-balik mengarahkan matanya ke buku dan ke hasil pengecekan bakat Naryla.


“Nak …,” ucap nenek menggantung, “siapa sebenarnya kau ini?” batin nenek, “apakah kau ingin tahu maksud gambar otak ini?” tanya nenek. Tentu saja Naryla mengangguk antusias.


“Gambar otak mengartikan bahwa ada bakat pada dirimu yang sumbernya berasal dari otakmu, pikiranmu. Kau tau bukan bahwa organ paling canggih dan kompleks di tubuh kita adalah otak?”


“I-iya Nek,”


“Nah, karena itulah hasil seperti ini memiliki arti sangat luas bahkan buku-buku yang menjelaskan tentang perbakatan di Kerajaan Sterm mengatakan bahwa penelitian lebih lanjut masih sangat diperlukan untuk menguak sejauh, sebanyak, dan seluas apa kemampuan orang yang memiliki hasil pengecekan berupa ukiran otak,” terang Nenek.


“Hemm.” Naryla tidak tahu harus mengatakan apa.


 “Haduhh Nak, kau semakin membuatku penasaran akan identitasmu sebenarnya,” ungkap nenek.


“Memangnya kenapa Nek? Bukannya nenek sudah sering menjumpai yang seperti ini?” tanya Naryla polos.


“Sering darimana, ini pertama kalinya nenek melihat yang seperti ini tahu. Selama ini nenek hanya membacanya di buku. Orang sepertimu ini sangat langka,” jawab Nenek.


“Lalu, aku harus apa Nek? Apakah kemampuanku itu bisa mengembalikanku ke bumi?” tanya Naryla lagi.


“Aku tidak tahu, yang pasti kau harus jaga dirimu baik-baik jangan sampai jatuh dibawah kendali orang jahat yang akan memanfaatkanmu. Kau cobalah cari tahu sendiri apa yang bisa kau lakukan sebagai bakat yang bersumber dari pikiranmu.” Nenek mengatakan itu sambil membereskan alat-alat yang ia gunakan untuk melakukan pengecekan.


“Sudah, ayo keluar,” ajak nenek setelahnya.


______


Minal Aidzin wal Faidzin semuaa.. Mohon maaf lahir dan batin yaa.. :)

__ADS_1


__ADS_2