Merah Kuning Hitam

Merah Kuning Hitam
Episode 27 - Disana lagi


__ADS_3

“Iya, benar. Berikan itu maka ibumu selamat,” ucap pimpinan mereka.


“Lepaskan dulu ibuku baru aku berikan!” teriak Veda. Si bos pun mengisyaratkan anggotanya untuk melepaskan ibu Veda. Veda kemudian memberikan benda tersebut ke si bos. Saat benda itu sudah di genggaman si bos,


Tes tes. Darah mengalir dari dahi ibu dan seketika itu ibu pun tumbang. Ya, seseorang menembakkan peluru ke dahi ibu. Pangeran yang syok segera menggendong Veda untuk lari.


“Ibuu! Ibu! Huhu,” teriak Veda menyadari ibunya telah dibunuh. Ia sangat terpukul. Bubu yang tidak mengerti apa apa hanya menangis ketakutan.


Dorr. Dorr. “Berhenti!” teriak si bos pada mereka.


Pangeran yang menggendong Veda dan tuan putri yang menggendong Bubu segera berlari menjauhi rumah.


“Apa yang kalian tunggu?! Kejar mereka!” titahnya pada anah buahnya. Sesaat setelahnya, para pasukan mengejar mereka.


“Turunkan aku Paman, turunkan!” pinta Veda membentak pangeran. Veda merasa sedih, marah, dan kesal bercampur dendam entah pada siapa. Ia memberontak di gendongan pangeran yang membuat pangeran menurunkannya. Pangeran pikir itu lebih baik daripada Veda terjatuh. Mereka terus berlari hingga sampailah di sebuah gua dengan tiga jalur yang berbeda di dalamnya.


“Huhh, huhh.” Mereka mengatur nafas.


“Tadi bukan yang asli kan?” tanya pangeran pelan pada Veda.


“Iya,” jawabnya. Tak lama kemudian, terjadilah pergerakan dari seekor monster yang membuat mereka jatuh.


*Flashback off


 


“Jadi gitu Kak, yang Veda berikan adalah kue yang terkena bakat Veda.”


“Ohh, syukurlah kalau begitu,” jawab tuan putri.


Suasana kembali hening, langit yang tadinya gelap kini sudah bangun dari tidurnya. Sang surya membuka matanya di ufuk timur menjadi sumber cahaya pengganti bintang-bintang dan bulan. Akan tetapi, pangeran dan Bubu masih belum juga bangun.


Kruuwkk. “Hehe,” cengir Veda di hadapan tuan putri.


“Veda lapar? Hihi,” tanya tuan putri tepat sasaran. Tuan putri celingak celinguk berharap menemukan sesuatu untuk mencari makanan. Ia melihat gelang navy keunguan milik pangeran yang terpasang mantap di pergelangan tangan kanan pangeran.


“Hm, kakak belum bangun lagi.” Tuan putri menghela nafasnya karena gelang penyimpanan itu hanya dapat dibuka oleh pemiliknya.


“Kakak nyari apa?” tanya Veda.


“Cari sesuatu untuk mancing ikan,” jawab tuan putri, “Veda punya sesuatu yang tajam atau sejenisnya ngga yang kita kita bisa dipakai sebagai kail?”


“Hm …, Veda ngga punya. Tetapi, kayaknya Bubu ada. Coba Kak di baju bagian belakang Bubu ada jarum atau jepitan logam ngga? Biasanya ibu …,” ucap Veda menggantung. Ia kembali sedih mengingat ibunya telah pergi.


“Sstt.. Veda tidak boleh bersedih terus ya.. Kan masih ada kakak, paman, dan Bubu yang harus kamu jaga. Kalau Veda larut dalam kesedihan dan Bubu terbengkalai ibu pasti sangat kecewa disana,” hibur tuan putri menenangkan Veda. Ia mengelus rambut kepala Veda dengan penuh kasih sayang, menganggap Veda sebagai adik kandungnya sendiri.


Veda tersenyum, “baiklah Kak.”

__ADS_1


Tuan putri dan Veda menghampiri Bubu yang masih belum sadar dan mengecek apa yang disampaikan Veda tadi. Benar saja, terpaut sebuah lugam kecil tajam yang mengait pakaian Bubu agar tidak kebesaran. Segera mereka melepasnya dan kembali duduk.


Tuan putri mengarahkan telapak tangan kanannya mengelilingi jarum yang ia pegang di tangan kirinya. Sama halnya seperti Xero ketika menangkap ikan menggunakan pensil besar yang diberi bakat, tuan putri pun mengalirkan salah satu dari banyak bakatnya ke jarum itu.


“Hm, karena kailnya kecil mungkin kita hanya bisa menangkap ikan kecil. Jadi, supaya cukup mungkin kita akan mencari beberapa,” jelas tuan putri pada Veda sambil mencemplungkan kail dari jarum itu.


“Kakak sama paman hebat ya, punya bakat yang banyak. Veda bisa juga ngga kalo mau kayak Kakak?” tanya Veda sebagai bocah laki-laki yang terpesona pada hal baru yang sebenarnya biasa bagi orang dewasa.


“Kamu temuin sendiri yan anti bakatmu apa saja,” tanggap tuan putri.


 


Markas Utama, Pengunungan Ural


Tap tap tap. Kapten dan anggota tim utama melangkah menuju pintu dari pusat penelitian terbesar di dunia yang tersembunyi itu. Bisa dibilang illegal, namun sudah mengikat kerjasama dengan berbagai pihak yang memiliki kesinambungan visi misi dengan mereka. Akan tetapi, selain anggota organisasi, tidak satupun pihak lain mengetahui lokasi markas besar sekalipun itu sekutu penting.


Meskipun berbeda haluan dengan bisnis-bisnis gelap karena fokus mereka adalah penelitian dan inovasi, status ilegal mereka tidak akan diterima oleh khalayak karena berbagai alasan. Apabila salah satu sekutu mereka mengatahui lokasi markas utama yang berperan sebagai jantung organisasi dan mereka berkhianat, pihak organisasi tidak akan dapat membela diri atas kejahatan dan kerugian yang sudah mereka timbulkan sejak dulu. Pihak organisasi juga tidak bisa menuntut sekutu yang dilindungi oleh hukum.


Lain halnya dengan anggota organisasi. Jika mereka berkhianat, chip pelacak yang mereka terima saat pendataan dan setelahnya terpasang di tubuh mereka, dengan mudahnya bisa berubah menjadi bahan peledak. Meskipun hanya seukuran ujung bolpoin namun daya ledaknya dapat menghanguskan tubuh seseorang hingga menghilang bahkan tak tersisa abu apapun.


Cetrek. Dup dup. Sresss. Pengawal penjaga pintu masuk membuka jalan untuk tim utama itu. Suatu kehormatan bagi mereka berkesempatan untuk bertemu dengan anggota tim utama yang setiap harinya berkeliaran di luar sana sibuk menjalankan berbagai misi. Ketika masuk ke dalam 15 tim teratas organisasi, seseorang harus siap dengan segala konsekuensi salah satunya yaitu memiliki sedikit waktu bersama keluarga. Hal baiknya, keluarga dari setiap anggota tim akan dijamin keselamatannya oleh organisasi. Jika dihitung berdasarkna jumlah anggota per tim dikali 15, setidaknya ada 90 keluarga yang tersebar di seluruh penjuru dunia mendapatkan jaminan keamanan berkat pengorbanan setiap anggota tim.


“Silakan lepaskan perlengkapan anda dan bersiap untuk penetralan tubuh”


Suara khas yang mereka dengar setiap kembali ke markas besar akhirnya mereka jumpai. Kapten, A103, dan A105 mengambil posisi di ruangan-ruangan bagian kanan sementara sisanya di bagian kiri. Ruangan berbentuk tabung itu hanya memiliki cahaya biru muda dari sisi atasnya sebagai sumber cahaya. Sesaat setelah masuk, sesuatu yang seperti menyedot ‘hawa negatif’ pun bekerja sehingga mereka keluar dengan keadaan bersih dan berganti pakaian dengan sendirinya.


“Iya, kenapa memangnya?” sahut kapten.


Keempat anggotanya saling menatap, “kami lapar Kapten, boleh tidak kita makan dulu? Hehehe,” jawab A104 mewakili. Kapten hanya berdecak kecil dan merubah arah menuju tempat makan markas. A102 diam-diam juga bersorak dalam hatinya karena ternyata dirinya juga lapar.


Sesampainya di lokasi seperti restoran markas namun tak berbayar itu, mereka bertemu dengan salah satu dari 15 tim teratas markas yang baru datang beberapa hari lalu. Mereka bertegur sapa.


“Kalian baru datang?” tanya salah seorang anggota tim lain itu.


“Iya, baru saja. Bahkan belum sempat bertemu para tetua,” jawab kapten sambil melirik keempat anggotanya menyindir bercanda. Keempat anggotanya itu hanya tersenyum cengengesan.


“Laper Bang, makan dulu. Menatap mata para tetua aja udah menguras tenaga saking gugupnya, hehe.” A104 menyahut sindiran kapten yang sebenarnya bercanda itu. Akhirnya mereka makan di meja yang sama.


Di tengah perbincangan di meja makan, kapten dari tim lain itu mengatakan sesuatu.


“Oh iya, kudengar percobaan pesawat unit 2 kalian menghadapi sedikit masalah ya?”


“Hm, iya. Sampai saat ini belum dapat di deteksi keberadaannya,” jawab kapten tim utama, “kalian sendiri bagaimana? Apa semuanya lancar?”


“Sebenarnya semua hampir baik-baik saja, tetapi kami masih belum dapat memecahkan fenomena lapisan atmosfer yang …, apa ya, bisa dibilang kacau, tidak stabil, unsur-unsur di setiap lapisannya itu bercampur menjadi satu di sebagian area,” jelas kapten tim tersebut yang nampaknya lebih senang berbicara daripada kapten tim utama, “untungnya itu bukan di atas permukaan bumi yang ramai manusia, kalau tidak bisa bahaya untuk kesehatan,” lanjutnya.


“Memang dimana Bang lokasinya?” tanya A103.

__ADS_1


“Samudra Hindia.”


“Uhuk.” Batu beberapa anggota tim utama bersamaan.


“Kenapa?” tanya kapten tim lain itu.


“Yakin tidak mengenai daerah berpenduduk?” tanya A102.


“Yaah, hampir mencapai Cocos Island dan wilayah Australia barat siih, tetapi masih ada jarak beberapa kilometer. Saya pikir masih aman,” lanjutnya.


.


.


“Cocos Island lagi.” Seperti janjian, seluruh tim utama memikirkan hal yang sama.


.


.


_______


Pembaca : "Thor, kok lama banget sih updatenya? nungguin nih,"


Author : "Wah seneng deh ada yang nungguin cerita author update,"


Pembaca : "Ya kalo gitu jangan lama-lama dong Thor update nya, ntar pindah nih."


Author : "Waaa jangan jangann, iya iya maafin author updatenya kali ini lama banget ya. Tugas author lagi banyak banget dan kemaren sempet buat video juga iseng mau ikutan lomba ramadhan, hehe"


Pembaca : "Alasan aja kali Thor,"


Author : "Iyaa beneran kok huhuu percaya dong sama aku,"


Pembaca : "Iya deh, pokoknya up nya yang cepet. cepet. cepet. cepettt.. gamau nunggu. nunggu itu berat thor,"


Author : "Iyaaa ampun ampun. Aku usahain yaa,"


Pembaca : "Nah gitu dongg,"


.


.


Ramadhan Kareem.. Semangat berpuasa bagi yang menjalankan..


Stay safe semuaa di rumah masing-masing.. yang masih di kosan sabar yaa..

__ADS_1


Luv luv dari author untuk pembaca semua.. :D


__ADS_2