
Myshkin, Rusia
(setelah panggilan dari markas utama/pusat)
“Ada yang mau berpendapat?” Kapten bertanya ke anggota tim nya.
“Erm.. itu bukannya seperti mitos yang beredar di markas selama ini Kapten? Lagipula itu baru dugaan,” ujar A106.
“Kita sudah sering dengar anggota markas berbicara tentang ini, tapi tidak pernah ada yang serius,” sambung A104.
“Dan juga bukannya itu salah satu dari sekian banyak omong kosong wanita autis itu? Li er si kelinci percobaan.” A105 mengingat bahwa ada seorang yang menjadi bahan percobaan di laboratorium markas utama sering mengatakan hal hal aneh.
“Aarrgh. Yang benar saja, apa yang markas utama pikirkan dengan menyuruh kita menyelidiki hal tidak masuk akal itu. Kita tim utama loh bukan tim abal-abal.” A102 ikut memberikan pendapatnya.
Mereka mulai ribut tidak percaya akan apa yang baru mereka dapatkan ini. Biasanya mereka adalah tim yang bertugas meneliti, mendesain, dan mengembangkan prototipe penemuan terbaru dari organisasi itu. Organisasi mereka mencakup berbagai bidang, dari kesehatan sampai persenjataan militer.
Kembali ke kapten, ia mencoba tenang menghadapi setiap keluhan anggotanya. “Kapan terakhir kali kalian mendengar sesuatu tentang lintas ruang?” tanya kapten.
“Hmm akhir tahun lalu, saat proyek transportasi terbaru kita 60% selesai. Tapi itu hanya bualan salah satu rekan saja yang berimajinasi pasti akan sangat keren kalau produk kita bisa menembus lintas ruang layaknya mitos yang orang-orang bilang. Itu seingat saya Kapten,” jawab A102.
“Kalau saya sebelum kita meninggalkan markas utama terakhir kali Kapten, ketika sedang bermain dengan si kelinci percobaan itu, hahaha.” A103 menimpali jawaban A102.
“Hmm sejauh ini semua tentang lintas ruang hanya bualan ya,” ucap kapten, “tapi markas besar memberikan informasi pasti tentang letaknya,” sambung kapten.
“Juga menyatakan radar khusus,” lanjut A106.
“Kasus radar khusus terakhir ialah kasus asteroid besar yang hampir jatuh ke bumi namun tiba tiba bertolak kembali keluar angkasa, Kapten,” sambung A103.
“Hampir seperti lelucon, tapi kita harus ambil kemungkinan terkecilnya kalau memang gerbang lintas ruang itu terbuka,” ujar kapten, “besok kita diskusikan lagi, sekarang kita istirahat dulu.” Kapten kemudian mengubah kendaraan itu ke mode normal yaitu mobil biasa.
Semua mengikuti kapten keluar. Ketika tinggal A105 yang terakhir akan keluar, kemudian,
Tuut. Tuut. Tuut. Suara panggilan lagi kali ini ke komunikator kendaraan.
“Kapten, ada panggilan,” ucap A105.
__ADS_1
“Hhhh apalagii, ini waktunya istirahat tolonglaah, yasudah jawab saja.” Kali ini kapten yang mengeluh mungkin karena lelah.
“Tim 1 masuk.” A105 menjawab panggilan.
“Unit 2 percobaan penerbangan pesawat komersial dengan tinggi 65,000 kaki kita hilang dari radar. Tidak ada sinyal darurat apapun baik pan-pan atau mayday dari awak pesawat sebelumnya,” terang seseorang dari panggilan.
“Baik. Sebentar,” jawab A105, “Kapten. Kemari.. Kabar tentang unit percobaan,” panggil A105.
“Hhh.. iya iyaa,” jawab kapten, “Kapten tim 1 masuk,” sambung kapten. Seseorang nan jauh disana itu menerangkan kembali detailnya kepada kapten.
“Bagaimana dengan korban dan jalur penerbangannya?” tanya kapten dan dijawab oleh lawan panggilan, “Huh cuma orang-orang bodoh tidak penting,” batin kapten.
“Tidak masalah, bukankah unit 1 berhasil? Kalian sudah bekerja dengan baik, nanti kita selidiki lagi dimana masalahnya. Untuk saat ini temukan bangkai pesawat dan beritahu media kalau itu hanya kecelakaan teknis biasa.” Kapten menjawab malas informasi tersebut. Ia pikir yang paling utama adalah percobaannya berhasil sekalipun harus mengorbankan banyak nyawa dalam pencapaiannya. Kemudian kapten menutup panggilan dan masuk bersama anggota tim lainnya untuk beristirahat.
Keesokan harinya, pagi pagi sekali mereka sudah bangun dan bersiap untuk sarapan. Jangan ditanya pelayanan semacam apa yang disediakan markas cabang itu untuk sebuah tim utama dari markas utama, mereka memberikan yang terbaik untuk tim itu.
Selesai sarapan, masih ada waktu sekitar setengah jam lagi sebelum jadwal mereka melanjutkan perjalanan ke markas utama.
“Kapten, bolehkah kami berkeliling kota sebentar untuk menghirup udara segar? Mumpung masih ada waktu tiga puluh menit lagi, hehehe,” pinta A103 mewakili dirinya, A104, A105, A106.
“Baik Kapten!” jawab A102, “Huft, baru saja mau ikut mereka jalan-jalan, malah disuruh keliling markas yang membosankan. Nasiib nasib.” A102 mengikuti langkah kapten sambil membatin.
***
Cuit cuit cuit. Ngaakk ngaakk. Kruuttututuutt.. Bermacam jenis burung menari di udara yang bersih nan segar. Berbagai hewan juga bermain di hutan yang asri.
Whusss.. Angin pantai berhembus menggoda ranting ranting pohon dan menyampaikan senandung mereka ke penjuru pantai.
Byurrr serrr.. Ombak juga menyapu dan menarik fauna-fauna kecil laut yang telah bersusah payah menuju daratan.
“Aaah dasar ombak sialan, kenapa harus sekarang.. Sedikit lagi aku sampai daratan yang kau tidak akan capai.” Seekor binatang mirip umang-umang namun bercangkang seperti bulus itu mengeluh kesal sekali.
“Hahahaa kau lambat sih,” ejek si kepiting sang pemenang bertahan perlombaan lari penduduk pantai itu.
“Hohohoo maaf yaa sudah jadwalku mengulum bibir pantai, bukan begitu sayang?” timpal si ombak.
__ADS_1
“Ih ombak genit jaga bicaramu,” jawab pasir pantai merona.
“Errghh.. dimana aku?” seseorang mengedipkan matanya pelan, “apa aku di surga?” bicaranya pada diri sendiri sambil membuka mata. Ia menggeliat.
“Ehh.. kok kok kokk,” ucapnya menyadari sesuatu dan mencoba berdiri, “Whoaa oww oww.. eit eit eitt.. Hup! Berhasil.” Ia berhasil berdiri dengan imbang di ruang yang seharusnya untuk terbang itu.
“Hei, dia bangun! Cepat panggil tuan!” Si burung yang memiliki suara 'Ngaakk ngaakk’ menyuruh para monyet untuk memanggil tuannya di persemaian.
“Siapa yang berbicara? Dimana kau?! Keluar!” seseorang yang masih menjaga keseimbangan itu penasaran siapa yang bersuara.
“Hei! Aku yang berbicara,” ucap gagak, “Keluar! Dimana kau!” sambung si orang, “Ini aku heii di atasmu,” orang itu mendongak.
“Haa? burung berbicara? Tidak mungkin,” batinnya. Ia lemas menyadari itu, dan kemudian, “Kyaaaa! Toloongg!” ia kehilangan keseimbangan dan jatuh.
“Hap! Kutangkap kau.” Datang seseorang yang mereka sebut tuan itu menangkapnya.
Ya, itu adalah Naryla yang terbangun dari pingsannya dengan kondisi tiduran di udara, melayang sejajar dengan permukaan laut. Ia terkejut bukan main mendengar hewan-hewan berbicara, sehingga ia pingsan kembali namun kali ini dipelukan seorang pemuda yang disebut tuan oleh flora dan fauna disekitar situ.
“Haduuh.. baru juga bangun udah pingsan lagi,” batin si pemuda, “Lihatlah dia pingsan lagi, lemah sekali. Aku akan membawanya ke tempat tinggalku, kalian jangan mengganggu,” ujar pemuda itu pada penduduk pantai.
“Tuan, kau akan berbuat apa padanya? Jangan macam-macam Tuan, nanti kita punya tuan kecil lagi. Hahaha.” Seekor tupai menggoda tuannya diikuti tawa yang lainnya.
“Ya, aku akan memberi kalian tuan muda kecil yang banyak. Tunggu ya, kalian akan dibuat repot oleh mereka nantinya. Hhh kalian banyak bicara..” jawab pemuda itu meladeni ejekan si tupai.
“Kami tunggu loh Tuan. Hahaha,” lanjut mereka menggoda. Pemuda itu hanya menggelengkan kepalanya dan segera membawa Naryla ke rumahnya.
______
Ada yang ketika baca
(burung yang memiliki suara 'ngaakk ngaakk' ),
ikutan menghayati nadanya dalam hati?
Terimakasih kepada yang sudah mampir, membaca, dan memberikan dukungannyaa..
__ADS_1
Doa baik untuk kalian semua..