Merah Kuning Hitam

Merah Kuning Hitam
Episode 28 - Kerjasama Tim


__ADS_3

“Yakin tidak mengenai daerah berpenduduk?” tanya A102.


“Yaah, hampir mencapai Cocos Island dan wilayah Australia barat siih, tetapi masih ada jarak beberapa kilometer. Saya pikir masih aman,” lanjutnya.


.


“Cocos Island lagi.” Seperti janjian, seluruh tim utama memikirkan hal yang sama.


.


“Ohh begitu ya, yah semoga segera terpecahkan ya,” jawab Kapten dijawab anggukan olehlawan bicaranya.


Setelah berbincang banyak disela-sela makan mereka, akhirnya tim utama kembali menuju ruangan utama tempat para tetua berkumpul. Setiap kedatangan mereka, semua tetua akan berkumpul baik untuk menanti laporan maupun membincangkan hal-hal penting.


“Hei, apa kalian tidak merasa apa yang dibicarakan tim tadi ada hubungannya dengan yang sedang kita selidiki?” tanya A103 membuka percakapan di tengah perjalanan mereka ke ruangan tujuan.


“Maksudmu gerbang lintas ruang?” jawab A105.


“Yaa, itu salah satunya.”


“Hem, kalau aku kok malah berpikiran pesawat hilang, gerbang lintas ruang, dan yang tadi dibicarakan mereka saling berkaitan ya,” sahut A104.


 “Pesawat hilang? Unit 2? Apa kaitannya?” ucap A106 mencampuri.


“Tadi dia bilang kan hampir kena Cocos Island dan bagian Australia barat tuh. Nah kalau Cocos aja mungkin berkaitannya sama gerbang lintas ruang saja, tapi ketika dia bilang Australia barat aku jadi ingat bukannya pesawat kita juga menuju Melbourne, Victoria, Australia bagian tenggara. Kupikir bisa jadi pesawat kita melewati area itu juga,” terang A104, “yaa itu hanya asumsiku.”


Tak terasa, mereka telah sampai di depan pintu ruangan,

__ADS_1


“Huft,” hembusan nafas kapten sebelum membuka pintu. Yang lain mengikutinya dari belakang. Kapten menempelkan jari telunjuk dan tengahnya ke sebuah monitor kecil yang terpasang di tengah-tengah pintu putih itu.


Ting. Sidik jari terdeteksi dan daun pintu terbuka ke atas. Terlihat dinding kaca bening yang mengarah ke alam buatan di luar sana. Didesain dengan kemiringan sekitar 65ᵒ dari perpanjangan lantai ruangan, dinding kaca tersebut memaksimalkan selayang pandang penghuninya. Ketenangan alam luas dengan jumlah pepohonan yang pas untuk memunculkan suasana sejuk sedang tersistem saat ini. Ya. Tiruan alam yang dibuat oleh markas ini bervariasi, mulai dari putihnya antartika hingga teriknya gurun. Uniknya, tak hanya pemandangan yang mirip namun temperatur alam yang tersistem akan ikut terasa.


Mungkin, menyambut kedatangan tim utama yang telah melalui perjalanan panjangnya selama beberapa waktu itu, para tetua ingin memosisikan mereka dalam kondisi relaks untuk melepaskan penat mereka. Akan tetapi, tetap saja tidak ada tempat atau suasana yang mampu membuat penat mereka luntur sebaik kebersamaan dengan keluarga.


“Tim utama melapor,” ucap kapten hormat.


“Ah, kalian sudah datang. Silakan duduk,” sila seorang tetua pada mereka. Mereka mengikuti arahannya.


“Jangan terlalu tegang, kalian kan baru sampai pasti sangat lelah. Nikmati saja suasanya saat ini, sangat damai bukan?” ungkap seorang tetua sambil di kursi besar empuknya sambil memegang gelas berisi minuman. Tampak seperti wine, tetapi sebenarnya itu adalah minuman racikan markas yang sama nikmatnya dengan wine puluhan tahun dan tentu kesehatannya sangat terjamin.


“Baik Tetua.” Saat ini mereka telah duduk di sofa panjang berwarna krem.


Chess. “Woah, nyaman banget ni kursi,” gumam A102 dalam hati. Ia tak sengaja berekspresi sedikit terkejut dan itu terekam oleh mata tetua tadi.


 “Hehe, bagaimana nyaman bukan? Itu produk terbaru loh, duplikat pertamanya pun belum selesai dibuat,” ucap si tetua.


“Baiklah, cukup basa-basinya. Kita langsung ke intinya saja. Jadi, apa yang kalian dapatkan selama perjalanan kali ini?” tanya tetua pertama membuka pembicaraan yang mendebarkan bagi tim utama.


Kapten akhirnya memulai ‘presentasinya’ di hadapan tetua-tetua tersebut. Kegagalan unit 2 pesawat yang diterbangkan dari Indonesia ke Australia hanyalah salah satu dari banyak hal yang mereka laporkan.


“Jadi sementara ini hanya itu yang kami dapatkan Tetua,” ucap kapten menutup laporannya.


“Baik, sejauh ini sudah bagus. Hanya saja, saya sedikit kecewa atas perkembangan penyelidikan dugaan terbukanya gerbang lintas ruang. Mengapa tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan? Bukan begitu tetua lainnya?” Tetua pertama menanggapi laporan kapten.


Inilah hal yang tidak disukai kapten dan tim. Dari sekian banyak kontribusi yang mereka lakukan, kekurangan kecil malah menjadi fokus para tetua tersebut, seolah harus selalu sempurna dan tidak mengizinkan mereka menjadi manusia biasa.

__ADS_1


“Sudah sebulan lebih loh sejak kami memberi instruksi. Apa kalian benar-benar layak untuk gelar tim utama?” sambung tetua lainnya dengan nada lembut namun tajam menyindir.


“Sssh. Apaan sih para tetua ini, coba saja mereka yang diposisi kita.” A104 kesal dalam hati.


Kapten dan tim hanya menundukkan kepala. Suasana diam mencekam. Kedua pihak baik para tetua maupun tim tak bersuara. Satu pihak menunggu jawaban, sementara lainnya kikuk tidak tahu harus berkata apa. Jika diteruskan, maka keheningan tidak akan teratasi.


“Jadi …, bagaimana? Apa ada yang ingin kalian sampaikan?” ucap salah satu tetua dengan menaikkan salah satu alisnya, memecah keheningan. Tim masih terdiam.


“Hm …, maaf …,” ucap kapten terpotong,


“Sebenarnya ada hal lain yang menarik perhatian kami, Tetua.” A104 memotong ucapan maaf kapten. Ia geram dengan kalimat-kalimat yang dilontarkan para tetua.


“Oh, benarkah? Apakah itu?” seorang tetua menanggapi namun disisi lain juga sedikit meremehkan, seolah berkata ‘apakah kau yakin itu juga menarik bagi kami?’.


Kapten dan anggota lainnya agak terkejut dengan tindakan A104 yang menurut mereka sembarang berbicara. A104 yang merasa tindakannya tidak mendapat dukungan dari rekannya menatap tegas kedepan tanpa melirik yang lain.


“Ini berkaitan dengan perkara yang dihadapi oleh tim xxx tentang ketidakstabilan atmosfer di atas Samudra Hindia. Kami tadi berdiskusi dengan mereka sehingga mengetahui akan hal ini dimana unsur-unsur di setiap lapisan atmosfer yang seharusnya teratur, saat ini sedang bercampur tidak tentu seperti dirusak kestabilannya oleh sesuatu yang memiliki energi sangat besar,” jelas A104 mengawali, “maaf, permisi Kapten.” A104 menuju layar presentasi laporan kapten tadi untuk menampilkan peta.


“Mereka juga berkata bahwasanya hal tersebut hampir mempengaruhi langit Australia bagian barat dan Cocos Island. Disaat yang bersamaan, seperti yang para tetua informasikan pada kami sebelumnya, Cocos Island merupakan sumber dugaan terbukanya gerbang lintas ruang. Hal lainnya ialah hilangnya unit 2 percobaan pesawat komersial kita. Pesawat tersebut dijadwalkan terbang dari Batam, Indonesia bagian barat dan mendarat di Australia bagian tenggara, yaitu Melbourne, Victoria. Jika kita tarik garis lurus, besar kemungkinan bahwa pesawat terebut akan melewati langit Australia barat,” terang A104 lebih lanjut.


“Em …, maaf Tetua,” potong A102 yang dihentikan oleh isyarat tangan kiri A104.


“Sebelumnya, kapten kami telah menjelaskan bahwa sinyal yang muncul di radar ialah hanya sebagian kecil sehingga kita belum bisa memastikan bagaimana area sebenarnya dari gerbang lintas ruang itu jika memang terbuka. Jadi saya berasumsi bahwa ketiga hal ini berkaitan satu sama lain, dan jika memang benar kami akan mengusulkan kerjasama dengan tim xxx, sekian.” A104 menundukkan kepalanya pertanda selesai berbicara.


Anggota tim lainnya memendam emosi pada A104 yang membicarakan pemikirannya sendiri tanpa dibincangkan terlebih dahulu. Ketika A104 kembali duduk, ia menjadi incaran kedua siku di kanan dan kirinya.


“Hmm, masuk akal juga. Baiklah, setelah ini jika kalian benar ingin bekerjasama dengan tim tersebut untuk menyelidiki gerbang lintas ruang, kami akan memberikan perintah langsung kepada mereka. Tunggu saja kabar dari kami selanjutnya.” Tetua pertama menyampaikan itu setelah membincangkan sebentar dengan tetua lainnya.

__ADS_1


Kapten dan anggota lainnya sedikit terkejut dengan respon tetua yang bukannya marah tetapi malah mendukung kerjasama yang asal diusulkan oleh A104 untuk menyelamatkan tim mereka tadi.


“Huft.” Kapten menghembuskan nafas lega.


__ADS_2