
Ibu pernah bilang kalau magrib tiba, tutuplah pintu dan jendela.
"Kenapa emangnya?"
"Nanti setan bisa masuk."
Aku percaya. Dulu. Sekarang sejak kuliah, semua bisa lupa. Lupa mandi, lupa makan, apalagi lupa sama nasihat ibu. Terlebih lagi semua menjadi wajar dan sesuai nalar. Soal hantu dan setan kuabaikan saja. Lebih mengerikan dosen yang ngasih tugas banyak dan yang pelit nilai. Dan juga maling yang suka menarget para penghuni kosan.
"Aku ke kos ya, Bro?" tanya seorang teman. Roy namanya.
"Boleh. Kapan?"
"Habis magriblah. Habis futsal langsung cus. Numpang mandi. Air di kosan mati soalnya. Perbaikan PDAM. Oke?"
"Beres. Tapi gak gratis ya?" Dia pun tertawa.
"Siap..."
Kami berpisah. Siang terik membuatku lelah. Tertidur begitu saja sesampainya di kos. Pintu kubiarkan terbuka. Tanpa sadar sore menjelang magrib, aku terbangun.
Aku terperanjat dari tidurku. Sedikit melompat segera menutup pintu. Kukancingkan besi pengaitnya lalu mulai kucek satu per satu. Dari dompet sampai laptop. Kubongkar semuanya.
Aman.
__ADS_1
Semuanya utuh. Uang juga tidak berkurang jumlah lembarannya. Karena semuanya terkendali, nafasku mulai teratur. Setelah melihat jam kecil di atas meja, aku sadar Roy akan datang. Bergegas kuambil handuk dan mandi. Tubuhku berkeringat hebat saat tidur. Jadi aku tidak mau menambah kegerahan.
Lima belas menit semedi di kamar mandi, tubuhku mulai segar lagi. Handuk kugantungkan lagi di tempatnya semula. Kucek lagi dan lagi dari balkon lantai dua, sepeda motor Roy belum tampak.
"Pak, teman saya ada yang datang gak ya?"
Bapak kos tidak menjawab. Padahal kuyakin suaraku sampai. Ingin kutanyakan lagi dengan sedikit berteriak, kuurungkan karena magrib. Aku kembali ke kamar. Menyibukkan diri menonton musik video baru dari boy band asal Korea. Dua hari yang lalu, pacarku meributkannya. Aku harus dengar katanya. Walau aku tidak suka. Mau bagaimana lagi. Tuntutan pacaran.
Sepuluh menit berlalu, sudah setengah tujuh malam. Ini bahkan sudah hampir isya.
"Roy, jadi gak? Aku cari makan dulu ya. Tunggu aja nanti di balkon."
Kukirim pesan untuk Roy. Perutku mulai bergemuruh. Sudah panas dan perih. Sedikit berlari menuruni tangga dan mampir ke warung. Memesan nasi telur dan es teh manis.
Aku naik cepat. Melewati bapak kos yang sejak tadi sibuk membersihkan galon. Aku sempat berhenti sebentar di ruang tamu.
"Kok dari tadi, bapak kos gak kelar-kelar ngerjainnya?"
Aku sempat ingin kembali. Tapi suara Roy memanggil dari atas.
"Angga, lama sekali sih," ucapnya.
Aku sedikit tertawa dan riang menaiki tangga. "Wah, nungguin ya? Sorry, kunci kubawa soalnya ya, kamu lama sih, Roy."
__ADS_1
Aku melihat Roy duduk di tepi sandaran balkon. Kakinya bertumpu pada meja kaca. Karena lampu balkon belum sempat diganti, aku hanya melihat sekelebat saja. Lantas aku berbalik sebelum sampai di balkon dan segera kubuka pintu kamarku.
Ponselku berdering. Tanda pesan masuk. Sentuhan pertama langsung membuka sandi kunci. Memunculkan pesan itu.
Dari Roy?
"Bro, sorry, ban bocor. Gue dorong dari tempat futsal. Gak jadi deh ke kosanmu. Jauh. Gue mandi di kosnya Andika aja yang lebih dekat."
Tanganku gemetar. Kucek berkali-kali waktu pesan itu. Kupastikan dengan jam di ponselku. Selisihnya cuma semenit. Aku merinding. Seketika di ekor mata, bayangan hitam tampak jelas. Menggelayut dan melambai. Kutelan ludah, memaki dalam hati. Aku tidak berani menoleh ke belakang. Nalarku tiba-tiba mati. Ini bukan lelucon, kan? Kukirim pesan balasan lagi ke Roy.
"Kampret, serius dong!"
Tanda mengetik muncul di layar. "Sorry Bro, jangan emosi dulu dong. Nih buktinya."
Roy mengirim video singkat. Dia sedang di pinggir jalan dan kepayahan. Nafasnya tersengal. Suara di video itu terdengar jelas. Suara keramaian jalan dan suaranya. Itu suara Roy.
Terus yang ini?
"Angga... pinjem kamar mandi ya? Mau mandi nih..."
Aku berteriak kencang. Melepaskan otot kaku di kakiku. Langsung masuk ke dalam kamar dan kututup rapat. Kukunci ganda. Aku melompat ke kasur. Sampai kurasakan menghantam lantai lututku. Kutahan rasa sakit itu. Tidak perlu berpikir. Kutarik selimut. Membungkus semua bagian tubuh. Kutarik kakiku meringkuk.
"Angga... Tungguin dong..." Suaranya semakin mendekat. Rasanya sudah di depan pintu. Kupejamkan mata erat.
__ADS_1
Terbesit pesan ibu. Aku mengutuk diri sendiri. Maafkan aku, Bu. Tidak menuruti nasihatmu.