MEREKA DI SEKITAR KITA

MEREKA DI SEKITAR KITA
PART 21 MISTERI POHON KAMBOJA


__ADS_3

Sudah menjadi tradisi mahasiswa baru dari zaman ke zaman. Bagi setiap mahasiswa baru pastilah ada yang namanya Ospek(Orentasi Pengenalan Kampus) wajib bagi setiap mahasiswa baru.


Pengumuman dari panitia Ospek di beritahukan kepada mahasiswa baru melalui pengumuman oleh para panitia Ospek.


Kali ini Ospek wajib diikuti oleh setiap mahasiswa baru. Harus diadakan sampai malam dan melewati banyak kuburan.


“Krakkk ... krakkk ... krakkk ....” Bunyi langkah kaki.


Itu jelas bukan suara langkah seseorang yang bernama Agung. Suara itu muncul dari belakangnya.


Suara itu seperti orang yang melangkah kaki dengan keras. Pelan tetapi sangat mengintimidasi. Membuat jantung Agung makin berdegub kencang.


Agung mempercepat langkahnya. Tetapi tetap berhati-hati agar lilin di tangannya tidak padam. Suara itu tetap terdengar.


Kemudian Agung memutarkan badan dan melihat kondisi di belakang. Ternyata tidak ada apa dan kosong.


Tak ada siapa-siapa di situ. Semakin lama semakin berdebar. Agung mendengarkan suara langkah itu terseret semakin jelas terdengar di telinganya.


Agung kemudian melangkah lagi. Ia terhenti dan melihat di pohon kamboja yang tepat di hadapannya.


Di salah satu ranting, seorang wanita sedang duduk dengan kaki menjuntai. Jarak tidak terlalu jauh dari Agung.


Sehingga Agung bisa melihat dengan jelas. Ia pun terdiam sejenak. Wanita itu benar-benar menyeramkan. Ia lalu menoleh pada Agung.


Menunjukkan wajah pucat dan matanya yang marah sedang memandang bengis.


“Krekkk ... krekkk ... krekkkk ....” Bunyi kaki terseret lagi.


Tinggal beberapa meter lagi di belakang Agung. Ia sambil menelan ludah dan mulai merasakan merinding ketakutan.


Tetapi Agung tak boleh berteriak. Dia hanya berpura-pura tak melihat dan mendengar saja.


Agung melangkahkan kakinya lagi. Riuh seperti angin yang bertiup di tengkuknya membuat semakin merinding.


Sedetik kemudian lilin yang dipegang oleh Agung pun padam. Ia sadar dengan kondisinya sekarang itu.


Tengah malam sendirian di tengah pemakaman umum. Dengan seorang wanita mengerikan duduk di atas ranting pohon kamboja.


Serta suara langkah kaki yang terseret terus mengikuti. Apakah para pembaca yang budiman pernah merasa takut saat menonton film horor? Aneh bukan? Para pembaca yang budiman semua kejadian di film itu hanyalah berdasarkan skenario.


Semuanya telah diatur oleh sutradara. Hantu-hantunya pun sebenarnya adalah manusia biasa.


Yang dirias sedemikian rupa dan setelah berakting akan mendapatkan horor atas perannya sebagai hantu.


Para pembaca yang budiman tahu semua tahu itu. Tetapi ternyata pembaca yang budiman masih takut saat menyaksikan film horor, ya? hehe.


Seperti menonton film horor, itulah perumpamaan yang bisa Agung ambil untuk keadaannya sekarang itu.


Hanya saja Agung menonton ini tidak lewat layar kaca, ia mengalami secara langsung.


Dengan cara berada sendirian di dalam komplek pemakaman saat tengah malam.


Agung tahu semua hantu di sini adalah senior-seniornya di kampus. Namun, tetap saja dia merasa ketakutan.


Ini adalah semacam ospek jurusan yang sudah dilaksanakan secara turun temurun.


Atas nama latihan dan uji mental para seniornya mewajibkan semua mahasiswa baru jurusan mereka untuk mengikuti ritual itu.


Bagi yang tidak ikut akan dikucilkan oleh semua orang selama kuliah sampai wisuda. Maka dengan berat hati Agung mau tidak mau harus mengikuti prosedur ospek jurusan itu oleh senior-seniornya.


Malam ini satu per satu mahasiswa dipersilahkan membawa sebatang lilin yang menyala dan masuk ke kompleks pemakaman.


Di dalam kompleks tersebut, mereka diwajibkan mencari tiga posko yang telah disiapkan.

__ADS_1


Kawan-kawan Agung diwajibkan mencari mendapatkan tanda tangan beberapa panitia di setiap poskonya sebagai bukti telah sampai di sana.


Jika sudah berhasil mengumpulkan tanda tangan dari ketiga posko itu, barulah mereka diberi tahu dan diperbolehkan keluar dari kompleks pemakaman itu.


Masalahnya adalah kompleks pemakaman ini adalah yang terbesar dan jauh dari pemukiman warga.


Sehingga tidak ada penerangan lain kecuali sebatang lilin yang mereka bawa tadi.


Jika lilin padam, kami terpaksa berjalan tanpa penerangan di antara batu-batu nisan dan pohon kamboja.


Lilin baru akan dihidupkan lagi oleh senior jika sudah sampai di salah satu posko. Itu pun setelah mendapat tamparan, pukulan, dan terkadang tendangan dari mereka.


Mendapatkan tanda tangan para panitia di setiap posko juga tidak gratis. Mereka pun wajib push up dan sit up masing-masing lima puluh kali dalam batas waktu yang singkat.


Jika melewati batas waktu, mereka akan ditampar lagi, dipukul, dan ditendang oleh masing-masing mereka.


Hantu-hantu itu pun berdasarkan bocoran yang Agung dapatkan adalah tidak lain seniornya sendiri.


Jika ada yang ketahuan berteriak atau menangis saat melihat mereka, para senior itu akan menghubungi panitia di posko dan menyuruh untuk menambah tamparan dan pukulan pada mereka.


Sungguh kejam, tak sedikit di antara Agung dan kawan-kawannya mengalami luka-luka.


Bahkan beberapa tahun yang lalu ada tiga mahasiswa baru di kampus mereka itu ada yang meninggal dunia.


Berita itu segera menjadi sorotan nasional. Tetapi ospek di setiap jurusan masih saja terus dilaksanakan dengan berbagai alibi dan alasan.


Hanya saja berdasarkan kabar yang Agung dapatkan, sejak kematian ketiga mahasiswa itu sering ada cerita-cerita mistis di lingkungan kampus Agung.


Namun, itu tetap tak membuat kegiatan ospek berhenti. Kembali pada Agung, dia sudah mengumpulkan tanda tangan dari dua posko.


Sejauh itu Agung juga sudah melihat pocong, satu kuntilanak, dan satu suster ngesot serta beberapa hantu lain.


Ditambah lagi wanita yang berada di atas pohon tadi, entah sudah beberapa hantu yang di lihat oleh Agung sendiri.


Kemudian dia melanjutkan perjalanannya itu. Agung sangat berhati-hati di antara beberapa batu nisan itu.


Lilin di tangannya sudah mati. Agung benar-benar hanya mengandalakan cahaya dari bulan yang samar-samar.


“Krekkk ... kreekkk ... kreekkk ....” Suara kaki menyeret itu kembali lagi.


Suara langkah terseret terus mengikuti. Niat sekali senior yang satu itu menakutinya.


Namun, Agung tetap saja melangkahkan kakinya itu. Pohon kamboja itu sudah dia lewati. Dan dia mencoba menoleh ke belakang.


Wanita yang tadi duduk di ranting pohon itu hilang. Wujud orang yang melangkah terseret itu juga tetap tak ada.


Perlahan tapi pasti Agung mencoba menjauh dari suara-suara itu. Entah kenapa aroma-aroma khas kuburan semakin menusuk saja.


Agung semakin ketakutan untungnya suara langkah kaki tadi sudah menghilang.


“krekkk ... kreekkk ... kreekkk ....” Suara kaki menyeret itu kembali lagi.


“Sialan baru saja aku mau melangkahkan kaki ehk kali ini juga disertai dengan bunyi orang mengerang kesakitan ....” Ucap batin Agung.


Sekali lagi semakin membuat Agung langsung merinding. Dan Agung baru sadar kalau bunyi itu sekarang asalnya tidak lagi dari belakannya.


Tetapi sudah berada di depannya. Namun, Agung walau dalam keadaan ketakutan dia tidak memperdulikannya.


Dia melihat di depan ada tanda-tanda posko ketiga. Semakin cepat kakinya melangkah. Saat tiba-tiba kakinya ternyata menyandung sesuatu yang terjatuh.


Kepalanya tidak membentur batu nisan di depannya. Agung mencoba mencari tahu. Dia merasakan tangannya menyentuh sebuah benda yang tersandung olehnya tadi itu.


Bulat besar seperti bola basket dan berambut. Agung segera tersadar benda itu. Benda itu ternyata adalah sebuah kepala.

__ADS_1


Tidak terlalu jelas dengan penerangan seperti itu. Namun, Agung bisa melihat kepala itu tak berbadan. Wajahnya hancur.


Lebam seperti bekas terbentur berkali-kali. Mulutnya juga sobek. Beberapa giginya patah-patah.


Dengan lidah menjulur mengerikan. Agung segera menutup mulutnya menahan teriakan.


Ia berangsur mundur dari kepala itu.


Meraih sebuah batu nisan dan mencoba untuk bangun.


“Itu ternyata hanya mainan saja, sialan ....” Ucap batin Agung.


Agung mencoba menenangkan diri kemudian dia dengan sangat cepat, wajah itu membelalakkan matanya.


Tak lama suara langkah kaki kembali terseret itu semakin terdengar jelas. Sebuah badan itu pun tak kalah dari kepala dan hancur.


Agung melihat beberapa tulangnya patah-patah. Terutama di kaki kanannya. Kaki itu patah hingga keluar tulangnya dari daging.


Itulah yang menyebabkan bunyi langkah kaki terseret-seret itu. Agung segera berlari dari tempat itu.


Tak berapa lama Agung pun sampai di posko ketiga. Para seniornya sudah menunggu. Dia kemudian push up dan sit up. Kemudian ditampar kembali dan dipukul beberapa kali juga.


Sampai mereka puas. Barulah mereka memberi tanda tangan di secarik kertas yang dibawanya itu.


“Huffff ..., alhamdulillah akhirnya aku mendapatkan ketiga tanda tangan setelah melewati beberapa posko sehingga membuat aku harus berjuang.” Ucap batin Agung sambil mengucapkan syukur.


Kemudian Agung berjalan santai keluar dan sempat menoleh. Agung melihat ada sosok wanita tadi sudah duduk kembali bertengger di atas pohon kamboja itu.


Tepat di atas seniornya tadi. Tetapi tidak ada seorang pun yang menghiraukannya.


Paling juga itu konspirasi agar orang berikutnya semakin takut. Terlepas dari itu, cepat juga wanita itu memanjat pohon.


Beberapa teman yang sudah lebih dulu uji mental sudah beristrahat. Sebuah perasaan lega. Akhirnya selesai juga.


Sekali lagi walaupun tahu semua hantu di situ adalah palsu, tetap saja Agung merasa sangat ngeri.


“Baiklah. Akhirnya aku mengumumkan kalian semua telah berhasil lulus dalam ospek jurusan kali ini. Selamat bergabung,” ucap ketua panitia penuh wibawa.


Kemudian mereka bertepuk tangan yang gemuruh.


“Selanjutnya aku akan memperkenalkan hantu-hantu yang kalian temui barusan.” Lanjut ketua.


Kemudian keluarlah pocong, kuntilanak, dan suster ngesot serta hantu-hantu lainnya yang semuanya Agung dan kawan-kawan temui tadi.


“Mana dua yang lain? Kok belum muncul-muncul juga, ya?” tanya batin Agung.


“Kak, hantu wanita yang di atas pohon kamboja dan kepala tanpa badan mana?” tanya Agung kepada Panitia ospek dengan bingung.


Seluruh panitia mendengar pertanyaan Agung bingung.


“Tidak ada, tidak ada hantu seperti itu di tim kita.” Jawab ketua panitia.


Agung tak percaya setelah apa yang dialami. Lebih kagetnya setelah mendengarkan penjelasan oleh pihak panitia.


Namun, mereka bersikeras kalau memang tidak ada hantu seperti yang dilihat oleh Agung.


Lalu siapakah dua hantu menurut para pembaca yang budiman? Tetapi setelah dicek, peserta yang lain memang tidak melihat dua hantu yang dimaksudkan oleh Agung sendiri.


Hanya Agung sendirilah yang dapat melihat kedua hantu itu. Saat itu juga kakinya merasa lemas.


Dan benar adanya ternyata yang di lihat oleh Agung adalah benar-benar hantu.


Kawan-kawannya Agung segera menopang tubuhnya yang akan ambruk. Ia melihat saat itu di pohon kamboja yang ada di belakang ketua panitia seorang wanita tengah duduk di salah satu rantingnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Sejak dari kelas 2 SD Agung sudah melihat dengan kasat mata. Keturunan dari neneknya. Sampai ia menjadi mahasiswa pun masih bisa melihat para hantu.


__ADS_2