MEREKA DI SEKITAR KITA

MEREKA DI SEKITAR KITA
PART 29 MISTERI PEREMPUAN PEMBELI BAKSO


__ADS_3

Sosok pemimpin dalam rumah tangga berani merantau demi membahagiakan keluarganya.


Sosok itulah bernama Pak Margono. Ia sedang sibuk menata dagangan baksonya, saat Dino teman satu kost pulang dari tempat kerjanya.


Dino melihatnya sejenak. Kemudian ia masuk ke dalam kamar kost untuk berganti pakaian dan menaruh sepatu.


Tidak berapa lama dia lalu keluar kamar menemani Pak Margono.


“Baru pulang, No?” tanya Pak Margono.


Pak Margono melirik ke arahnya sebentar, lalu kembali melanjutkan menata dagangan baksonya.


“Iya nih. Tadi ada lembur,” jawab Dino.


Sambil duduk kembali di bangku kecil dekat gerobaknya Pak Margono.


“Wah enak ya kamu. Tiap minggu dapat upah. Apalagi bila lembur. Wah duit ngumpul, tuh,” ucap Pak Margono sambil bercanda.


Dino adalah seumuran dengan anak Pak Margono yang dikampungnya. Dia juga baru lulus Sekolah Menengah Atas setahun yang lalu, masih muda.


Tenaganya masih laku di dunia kerja. Meski sebagai buruh penghasilannya. Juga pas-pasan. Tetapi tiap minggu masih ada yang yang bisa diharapakan.


Beda dengan Pak Margono yang hanya menjual bakso keliling. Penghasilannya tidak pernah tentu, terkadang sudah semalaman jalan tidak banyak pembeli.


“Kalau sudah begini tabungannya yang aku simpan di almari terpaksa diambil buat modal selanjutnya! Terkadang memang ramai juga, sih! Apalagi bila ada yang pesan untuk hajatan atau acara tertentu! Lumayanlah kalau itu,” ucap Batin Pak Margono.


“Wah Pak Margono ini ..., Aku cuma buruh pabrik, Pak. Upah juga mepet banget,” ucap Dino merendah.


“Kalau lagi baksonya laris manis, duitnya Pak Margono juga nanti banyak, kan.” Gantian dia meledek Dino.


“Haha ... Aku tertawa sambil geleng-geleng kepala! Kalau laris manis ya duitnya ngumpul. Tetapi kalau sepi, ya gitu deh,” ucap Pak Margono.


“Kok jualan malam hari ya, Pak? Kalau siang kan banyak orang. Kemungkinan orang beli juga tentu lebih banyak daripada malam hari?” tanya Dino lagi.


“Wah kalau siang tuh banyak saingan. Banyak pedagang makanan. Pernah dulu aku jualan siang tetapi ternyata hasilnya lebih banyak pas jualan malam hari,” jawab Pak Margono.


“Aku jadi ingat dulu waktu aku pertama kali datang ke kota ini. Harapan membuncah untuk mencari rezeki. Apalagi ada tanggungan di kampung yang harus aku hidupi anakku seumuran kamu, Dino.” Ucap cerita Pak Margono.


“Oh begitu to, Pak! Mudah-mudahan Pak Margono dapat rezeki yang banyak biar dapat uang untuk kebutuhan istri dan anak Pak di kampung,” ucap Dino.


“Hari-hariku lalui dengan rutinitas yang pasti juga penghasilan yang tak pasti pula. Tetapi itu tidak berlangsung lama. Saat krisis melanda negara ini pabrik tempatku bernaung ternyata tidak mampu bertahan. Jadilah, pemutusan kerja besar-besaran. Bahkan pabrik kemudian ditutup.” Begitulah ceritanya Pak Margono kepada Dino.


Banyak sekali pengangguran kala itu dengan kondisi kenaikan harga yang gila-gilaan. Mau tidak mau Pak Margono harus banting stir mencari lahan ekonomi yang lain, untuk mencari pekerjaan sudah sangat sulit.


Di usia yang tidak lagi muda juga kondisi ekonomi negara yang tidak lagi muda dan tidak menentu lapangan kerja. Jadi, seperti menciut.


Terpaksalah Pak Margono kerja serabutan, apa saja asal halal dan menghasilkan. Dan jadilah Pak Margono menjadi penjual bakso keliling.


Awalnya Pak Margono jualan siang hari, pikirannya banyak orang yang beraktivitas dan membutuhkan makanan. Tetapi ternyata saingannya banyak sekali.


Akhirnya Pak Margono berdagang di malam hari, lumayanlah. Saingan tidak banyak dan aku bisa memutar modal.


“Memang enggak takut sama hantu malam hari ya, Pak?” tanya Dino dengan polosnya.


Dino belum lama menginjakkan kaki di kota ini, katanya sih selepas SMA Dino diajak kerabatnya untuk bekerja di pabrik mebel sebagai tenaga mengemplas.


“Kalau hantu, sih. Dirapal doa juga ngacir,” jawab Pak Margono.


“Emang pernah ketemu sama hantu, ya?” tanya Dino lagi seperti merasa penasaran.


“Ah itu sudah lama sekali ..., Aku juga sudah agak lupa.” Ungkap Pak Margono.


“Cerita dong,” pintanya serius.


“Tetapi seingatku saja, ya,” Pak Margono mengangguk setuju.


“Dulu ..., sekali aku pernah jualan di dekat kuburan. Terus ada perempuan membeli semangkok bakso. Dia itu sangat cantik dan wangi sekali. Cuma bajunya itu lho .... Putih panjang kayak kuntilanak. Eh ternyata beneran. Setelah dia pergi uang yang tadi buat membayar bakso berubah jadi daun ...! Ya rugilah aku,” cerita seru Pak Margono.


“Kok kayak cerita film-film itu, ya.” Ucap Dino sambil mengeryitkan dahi.


“Ternyata dia pintar juga sebenarnya aku belum pernah ketemu hantu. Cuma mencuplik dari film yang pernah aku tonton dulu,” ucap Batin Pak Margono.


Dino hanya mengangguk-nganggukkan kepala, entah dia percaya dengan omongannya Pak Margono apa tidak. Atau dia menyerah untuk tidak berdebat dengan Pak Margono jauh lebih tua ini.


“Seperti yang aku katakan tadi, No! Kalau hantu mah bisa diusir pakai rapalan doa-doa yang paling aku takutkan sebenarnya bukan hantu! Tetapi orang penjahat atau perampok. Itu bisa membahayakanku lho ...,” cerita Pak Margono kepada Dino.


“Penjahat atau Perampok! Padahal kita ini termasuk orang tak mampu!“ Dino mebelalakkan mata.


Belum selesai Dino bicara Pak Margono memotongnya.


“Duit ....” Pak Margono mengeja huruf demi huruf.


“D-u-i-t tidak mengenal orang mampu atau tidak mampu. Duit bisa bikin orang silau,” ucap Pak Margono lagi.


“Pak Margono pernah mengalaminya?” tanya Dino lagi.


“Ya pernah, jali ini aku berkata jujur. Dulu aku pernah di palak preman. Udah minta bakso gratisan eh merampok uang lagi.” Jawab Pak Margono.


Pak Margono sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Makanya aku selalu menaruh uang nominal besar di tempat yang berbeda. Jadi, kalau ada kejadian seperti itu! Masih ada yang buat modal besok,” ungkap Pak Margono lagi.

__ADS_1


“Wah resiko juga ternyata ya, Pak!” seru Dino.


“Semua pekerjaan ada resikonya, No! Yang penting kita kerja di jalan yang di restui Tuhan alias halal. Insya Allah akan dimudahkan,” ucap Pak Margono sambil menasehati.


Dino mengangguk-ngangguk lagi.


“Aku mau mandi dulu, Pak Margono. Hampir Magrib, nih,” ucap Dino.


Sambil bangkit dari kursi untuk selanjutnya menuju kamar mandi di ujung baris kamar kos ini.


Sederajat kamar kos berjumlah sepuluh satu kamar mandi dan WC di ujungnya. Bisa dibayangkan kami harus antri.


Kamar kos dan Dino berada di nomor lima, ruangan kecil saja ukuran dan setengah kali tiga meter.


Untuk menyiasati agar tidak terlalu penuh, pemilik kos menempatkan sebuah tempat tidur tingkat.


Tetapi dengan jam kerja yang berbeda antara Pak Margono dan Dino, ruang itu jadi lebih plong.


Dino bekerja dari pagi sampai sore bahkan petang atau malam kalau pas lembur, sedang Pak Margono dari selepas Magrib sampai dini hari.


Mereka berdua jadi jarang bertemu, layaknya punya kamar kos sendiri saja. Selepas Magrib Pak Margono mulai menjajakan dagangannya. Dimulai dari daerah sekitar tempat tinggal lalu menjauh mengikuti rute yang biasa di jajakannya.


“Bakso Pak!” Suara seorang ibu dengan kerasnya.


Sambil bertepuk tangan dan lalu melambaikan tangan. Pak Margono segera berbalik arah untuk menemui Ibu itu.


“Beli dua Pak! Nggak pakai irisan tahu dan seledri,” pesan Ibu itu.


Pak Margono segera melayaninya, selanjutnya Ibu itu membawa dua mangkok bakso ke dalam rumahnya.


Pak Margono diam dan berdiri sambil menunggu mangkok itu dikembalikan. Kemudian membunyikan mangkok kosong untuk memberi tanda kepada orang-orang agar tahu kalau ada jual bakso.


Sesaat kemudian Ibu itu keluar dari rumah dan menemani Pak Margono.


“Ini Pak mangkok dan uangnya,” seru Ibu itu.


Dan ibu itu menyerahkan mangkok kosong dan beberapa lembar uang.


“Di lapangan kampung Jawa ada acara pameran lho, Pak!” ucap sesaat Pak Margono saat menerima uang dan mangkok.


“Pameran apa, Bu?” tanya Pak Margono lagi.


“Terima kasih Ibu sudah memberitahukan informasi itu! Setidaknya ada rezeki nanti yang aku akan dapatkan!” batin Pak Margono.


“Pameran tanaman hias! Ramai Pak!” jawab Ibu itu dengan semangat.


“Aku sudah lihat kemarin! Penjual dadakan juga banyak tuh!” lanjutnya tanpa bermaksud promosi.


Ibu itu sambil ngangguk-ngangguk dengan pelan dan tersenyum ramah. Selanjutnya Pak Margono menuju lapangan kampung Jawa.


Kampung itu tidak terlalu jauh, berbatasan dengan kompleks perumahan yang terhitung belum lama berdiri.


Sesampai di sana, Pak Margono melihat suasana lapangan yang sangat ramai. Stan tanaman hias berdiri berjajar dengan aneka tanaman hias yang cantik.


Beberapa jenis tanaman hias yang baru popular di tengah masyarakat tampak ada di setiap stan. Lalu ada penjual dadakan seperti Pak Margono berbaris di sepanjang batas lapangan.


“Baksonya Pak lima,” ucap seoarang pemuda seumuran Dino.


“Irwan! Kamu mau beli minuman sana!” suruh seorang kepada salah seorang temannya.


Pak Margono segera melayani pesanan mereka.


“Pak! Kita duduk di situ, ya!” ucap pemuda itu.


Mereka sambil menunjukkan jarinya ke arah rerumputan yang masih kosong.


“Silahkan aja, Dik!” jawab Pak Margono.


Pak Margono melihat mereka lagi duduk-duduk melingkar di rerumputan lapangan itu.


Temannya yang tadi membeli minuman ikutan gabung dan duduk bersama mereka. Sambil menunggu mereka makan, Pak Margono melayani pembeli lain.


Di saat longgar tidak ada pembeli, Pak Margono melayangkan pandangan di sekitar pameran.


Banyak orang berlalu lalang dan melihat tanaman hias yang di pamerkan itu. Beberapa dari mereka membeli tanaman hias itu dan membawanya sambil berkeliling di stan yang lain.


“Pameran tanaman ini berapa ya lama, ya?” tanya seseorang pembeli yang menenteng tanaman hias di tangannya.


Dia membeli tiga porsi bakso dan minta dibungkus plastik untuk dibawa pulang.


“Ini terakhir ini, Pak!” jawabnya singkat.


“Oh pantas sangat ramai sekali, ya.” Seru Pak Margono sambil menuang bakso ke dalam plastik.


“Hehe ..., iya Pak! Biasanya memang gitu. Ramainya pas hari terakhir,” lanjutnya lagi.


Malam semakin larut, pameran sudah selesai sejak jam sebelas malam tadi. Tetapi karena masih ada orang yang berlalu lalang dan membeli makanan. Para pedagang pun siap melayani.


Sesaat setelah waktu menunjuk dini hari dan sebagian besar bakso sudah terjual, Pak Margono memutuskan untuk segera pulang.


Apalagi pembeli juga mulai menyurut. Pak Margono sudah lelah dan uang yang ada juga sudah cukup.

__ADS_1


Tetapi dalam perjalanan pulang Pak Margono lewat jalan tembus agar lebih cepat. Antara kompleks perumahan dan perkampungan ada jalan tembus.


Kalau melalui jalan yang biasanya Pak Margono mesti jalan melingkar. Tetapi kalau melewati jalan tembus itu bisa hanya seperempat saja jaraknya.


Dulu Pak Margono pernah melewatinya sih. Tetapi saat pembangunan kompleks perumahan ini, jalan tembus itu tertutup untuk sementara waktu.


Sebetulnya itu bukanlah jalan umu. Tetapi lahan kosong yang sering dilalui karena memperpendek jarak.


Konon kabarnya lahan itu milik seorang pengusaha kaya, meski dibangun sebuah kompleks perumahan. Dia menyisakan sedikit untuk jalan tembus. Makanya kadang-kadang menyebutnya dengan jalan belakang perumahan.


Pak Margono perlahan menyusuri pagar tembok perumahan yang tinggi, jalan ini cukup sepi karena sebelahnya terhampar kebun yang kosong yang berdekatan dengan sungai.


Di pertengahan jalan ini ada jembatan kecil yang membentang di atas sungai yang menjorok itu.


Jembatan itu sederhana saja, terbuat dari batang-batang kayu yang disusun berjajar dengan tali sebagai pegangan tangan.


Jembatan itu juga hanya muat untuk dua orang dewasa yang berjajar, saat Pak Margono melewatinya dulu. Lebarnya cukup pas untuk gerobak saja.


Jembatan itulah jalan alternative agar cepat sampai pada tujuan. Dulu saat pertama kali Pak Margono itu belum selarut ini masih banyak orang yang berlalu lalang.


Sebagian besar para pekerja yang baru pulang dari kerja, mungkin lembur atau mendapat jatah shift kerja.


Entah mengapa malam ini suasana sekitar Pak Margono berjalan sepi. Sejak meninggalkan ujung tembok kompleks ini aku tidak bertemu seorang pun mungkin karena sudah menjelang dini hari apa yang orang-orang pasti sudah tidur lelap.


“Mas! Bakso Mas!” ucap Sosok seorang wanita itu.


Pak Margono mendengar memanggilnya. Pelan saja sampai ia nyaris tidak terlalu mendengar.


Tetapi karena malam yang sepi suara itu cukup nyampai di telinganya. Kemudian Pak Margono menoleh ke arah suara sosok wanita itu.


Pak Margono melihat seorang perempuan muda berdiri beberapa meter dibelakangnya. Dia sendirian saja.


“Apa mungkin dia perempuan nakal yang sering mangkal itu, ya? Tetapi aku tidak bisa berprasangka buruk deh! Walau bagaimana pun dia adalah pembeli yang mau membeli baksoku ini! Aku harus melayani pembeli ini biar daganganku laris manis,” ucap Batin Pak Margono, lalu mendekati perempuan itu.


“Dari habis pulang pameran ya, Mbak?” tanya Pak Margono.


Dia hanya tersenyum saja tidak menjawabnya, lalu dia mengacungkan jarinya sebagai tanda dia memesan satu mangkok bakso.


“Dibungkus atau makan sini, Mbak?” tanya Pak Margono.


“Makan sini saja, Mas!” jawab perempuan itu.


Pak Margono melayaninya dan menyerahkan baki berisi semangkok bakso dan perlengkapannya semacam sambal, saus, dan kecap.


Dia menerima baki itu dan membawanya ke tembok perumahan, dia lalu berdiri bersandar sambil makan bakso itu.


Pak Margono mengamati perempuan yang lagi makan bakso, dia memakai celana panjang dan kaos yang tertutup jaket.


Rambutnya tergerai melayang-layang tertiup oleh angin. Parasnya cukup manis dengan bibir tipis menghiasi bulat telor mukanya.


Hanya saja Pak Margono tidak bisa menangkap matanya, dia selalu saja menunduk. Bahkan saat mengembalikan mangkok dan membayarnya dia tetap saj menunduk.


“Hati-hati sudah malam, Mbak!” ucap Pak Margono kepada perempuan itu.


Dia mengangguk-ngangguk kepalanya saja lalu berjalan arah meninggalkan Pak Margono.


Pak Margono lalu berjalan berganti arah menuju jembatan. Sesampai di ujung jembatan sempat menengok ke arah dia yang mungkin masih berjalan, tetapi sosok perempuan itu tidak terlihat,


“Aneh masak secepat itu dia meninggalkan jalan setapak ini, ya?” tanya Batin Pak Margono.


Tetapi Pak Margono tak perduli yang dia inginkan sekarang adalah segera sampai kos dan tidur.


Pak Margono terbangun ketika suara gaduh hinggap di telinganya. Ternyata Dino sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja. Jam dinding yang ada di hadapannya menunjukkan pukul tujuh lebih beberapa menit.


“Berangkat dulu, Pak Margono!” ucap Dino.


“Hmhm .... Ya! Ya!” Jawab Pak Margono yang masih ngantuk.


Sesaat Pak Margono diam tiduran di atas tempat tidur, setelah itu dia bangun dan berjalan ke arah kamar mandi untuk cuci muka.


Selanjutnya dia kembali ke kamar untuk menghitung hasil jualannya semalam. Kemudian Pak Margono menutup pintu kamar itu dan mengunci dari dalam.


Pak Margono tidak mau penghuni kamar kos yang lain melihatnya menghitung uang, bukan apa-apa, cuma karena dia malas kalau ada yang mau meminjam uang. Kalau mau enggak dipinjamin nyatanya dia juga butuh duit.


“Kalau aku meminjami duit kepada orang-orang aku juga yang akan repot menagihnya nanti. Kadang mereka setelah di tagih malah cueknya minta ampun. Kalau enggak di tagih nggak bayar juga.” Ucap Batin Pak Margono.


Dibukanya kasur tempat tidur Pak Margono, kemudian mengambil kantong kain yang dia simpan di bawah tikar alas kasur. Pak Margono biasanya menyimpan dan memasukan semua hasil bergadang, di dalam kantong itu lalu menyembunyikan di bawah kasur lagi.


Keesokan harinya saat Dino berangkat kerja barulah dia membongkar dan menghitungnya, setelah dikurangi pangkal modal untuk membeli bahan-bahan pembuat bakso.


Sisanya di simpan di dompet dan ditaruh di dalam lemari pakaian. Sebagian uang yang terkumpul nantinya dikirim ke keluarga di kampungnya, sebagian lagi untuk keperluan sehari-hari.


Lembar demi lembar, koin demi koin Pak Margono mulai menghitung. Tetapi tiba-tiba matanya tertahan pada pemandangan yang tidak biasanya.


Dia melihat dua lembar daun di antara uang-uang itu. Dan kemudian Pak Margono mengamati uang demi uang. Tetapi yang dua lembar tersebut bukan uang melainkan daun-daun.


“Perasaan aku tidak pernah menaruh apapun di dalam kantong ini kecuali uang hasil aku berdagang? Kok ada daun, ya?” batin Pak Margono sambil bingung.


Selanjutnya Pak Margono kembali mengingat peristiwa semalam saat Pak Margono menerima pembayaran dari perempuan semalam itu.


Dia menyerahkan dua lembar uang kertas dan saat Pak Margono menerima uang itu dan melihatnya kembali itu benar-benar uang kertas. Pak Margono tertegun tidak mengerti dengan semua ini.

__ADS_1


“Kalaupun aku nanti cerita ke, Dino! Mungkinkah dia percaya ceritaku ini lagi?” tanya Batin Pak Margono.


__ADS_2