MEREKA DI SEKITAR KITA

MEREKA DI SEKITAR KITA
PART 11 MISTERI GADIS DI TEPI JALAN


__ADS_3

Setiap hari Sabtu sore para kaum pemuda dan pemudi berencana untuk keluar. Karena sudah menjadi tradisi malam minggu itu adalah di mana para pemuda dan pemudi.


Dengan cara menghibur diri mereka mengadakan nongkrong bersama-sama guna untuk menghibur diri dari stress.


Seperti biasanya setiap malam minggu Dede dan beberapa temannya selalu nongkrong di warung Upnormal yang berada di dekat perempatan lampu merah hingga dini hari.


Saat malam telah terjadi dimana sepasang kekasih tertabrak motor ketika sedang nyebrang di perempatan jalan lampu merah.


Mereka barusan membeli makanan dan ketika mau pulang saat nyebrang. Tiba-tiba ada mobil sedan dengan kecepatan tinggi langsung menabrak pasangan itu.


Dengan spontan semua pengunjung warung Upnormal termasuk Dede berhamburan keluar untuk menyaksikan kejadian tersebut.


Si pengemudi mobil sedan melarikan diri. Dan sang pria pacar gadis hanya luka-luka di bagian kepalanya dan kakinya patah tulang.


Sementara gadis remaja yang ditabrak langsung tewas di TKP karena kepalanya luka parah dan yang prianya juga luka parah.


Sehingga tak sadarkan diri dan langsung di larikan ke rumah sakit. Selang beberapa hari setelah kejadian itu.


Pada saat malam minggu seperti biasa, Dede dan teman-temannya ngumpul di warung Upnormal dan dilanjutkan nongkrong di bawah pohon mangga sambil main gitar dan nyanyi-nyanyi bersama.


Di sela-sela mereka main gitar, tiba-tiba Joni menceritakan tentang sepasang kekasih yang mengalami kecelakaan tempo hari.


“Wah kasihan sekali nasib orang yang ketabrak kemarin itu, ya. Hingga saat ini juga si pria tersebut belum sadarkan diri,” ucap Joni sambil menceritakan dengan ekspresinya yang serius.


“Lho kok kamu tahu. Emangnya kamu kenal orang itu, ya?” tanya Abu.


“Iya aku kenal dong. Orang kampung sebelah itu ternyata sekantoran dengan kakakku. Namanya Salam, tadi siang aku dimintai tolong kakakku untuk menemaninya membesuk di rumah sakit. Lebih sedih lagi ternyata ia baru saja melangsungkan pernikahannya tiga hari sebelum terjadi tragedy kecelakaan itu.” Jawab Joni.


“Hmhm .... Kasihan juga ya nasib mereka, ya,” ycap Dede.


Lalu mereka melanjutkan bermain gitar hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 12 malam. Tiba-tiba saja hujan gerimis.


Sehingga banyak pedagang yang memutuskan untuk memberesi dagangannya dan pulang.


Padahal biasanya mereka berjualan hingga dini hari menjelang Subuh.


Seketika itu tinggal mereka berempat, Dede, Joni, Abu, dan Rinto yang masih nongkrong di bawah pohon mangga itu.


Hujan gerimis pun kian berubah menjadi semakin deras. Akhirnya mereka bertiga berteduh sambil main gitar di depan warung Upnormal di pinggir jalan dekat lampu merah.


“Wah kayaknya hujannya lama, nih,” seru Joni.


“Iya nih. Mana udah malam lagi! Jadi tambah dingin deh!” sahut Abu.


“Hmhm ..., bagaimana kalau kita pulang sekarang boncengan sama Abu secara bergantian gimana, Abu?” tanya Rinto sambil melirik Dede.

__ADS_1


Saat itu Dede membawa motor, karena sebelum nongkrong di warung Upnormal.


Dede diminta Ibunya mengantarkan di rumah Bule Parmi.


“Ya ayo, siapa duluan nih?” tanya Dede.


“Bagaimana kalau Joni dan Abu, aku antar duluan. Kamu tunggu di sini Dulu ya, Rinto.” Usul Dede.


“Benar nih, Rinto. Kamu enggak takut sendirian nunggu di sini?” tanya Abu.


Mereka meninggalkan Rinto sendirian sambil menyebrang menuju ke tempat Joni. Begitu Dede tiba di tempat Abu, pada saat yang bersamaan muncul laki-laki dengan mengendarai motor menuju tempat mereka.


Ternyata laki-laki itu adalah kakaknya Joni yang baru pulang shift malam.


“Wah kebetulan, nih. Aku boncengan sama kakakku aja, Dede,” ucap Joni.


“Lho lalu bagaimana dengan ...?” tanya Dede.


Belum selesai Dede berbicara, Joni sudah memotongnya.


“Yuk, kita pulang sekarang, Kak. Dah dingin berat, nih ....” Teriak Joni sambil menyuruh kakaknya segera melaju.


Setiba di tempat Rinto, ternyata Rinto sudah tidak berada di tempat itu lagi. Tinggallah Dede dengan sendiri yang masih duduk di atas motornya.


Ingin pulang sekarang tapi Dede tak tega melihat cewek itu sendiri di situ. Ia melihat cewek yang dari tadi bersama Rinto.


“Payah nih, Rinto. Ada gadis malam-malam kok dibiarkan dan ditinggalnya sendirian begitu saja. Lagian disuruh tunggu biar nanti aku yang ngantar ke rumahnya kok tiba-tiba pergi begitu aja. Benar-benar manusia aneh dan tidak punya perasaan aja deh.” Gumam Dede dalam batinnya.


“Mbak, lagi nunggu siapa? Udah malam Mbak atau aku antar aja, ya?” tanya Dede sambil nawarin gadis.


“Nunggu ojek, Mas! Tetapi tidak ada yang lewat, Mas! Bisa tolong antar saya ke rumah sakit?” tanya Gadis.


“Oh iya Mbak, saya bisa antar silahkan naik ke belakang!” ucap Dede.


Kemudian gadis itu naik di motornya Dede, Dede kemudian menstater motornya dan menuju ke rumah sakit.


Untung saja hujan sudah mulai reda, sehingga ia tidak perlu menggunakan mantel. Di tengah perjalanan tiba-tiba tercium harum bunga melati yang biasanya buat orang pas nikah.


Tiba-tiba saja bulu kuduknya Dede terasa berdiri. Entah karena kedinginan atau ketakutan Dede tidak bisa membedakannya. Untuk menghilangkan rasa itu, Dede berusaha sok akrab dengan gadis itu.


“Siapa yang sakit, Mbak?” tanyanya.


“Suami saya, Mas.” Jawab gadis.


“Oooh ..., kenapa nggak siang-siang aja Mbak jenguk suaminya? Malam-malam begini apa diizinkan sama rumah sakit?" tanya Dede.

__ADS_1


“Nggak papa kok, Mas. Kami udah janjian mau menjemput, Mas. Petugas rumah sakit pasti maklum, Mas.” Jawab Gadis.


Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di rumah sakit. Begitulah turun gadis itu.


“Mas, minta tolong boleh nggak?”tanyanya lagi.


“Apa Mbak yang bisa aku tolong?” tanya Dede balik.


“Bisa antar saya sampai ke dalam ruangan suami saya di rawat?” tanyanya kembali.


“Oh nggak apa-apa, Mbak. Mari aku antar, Mbak.” Ucap Dede dengan singkat.


Sebelum Dede pulang, ia mengantarkan gadis itu terlebih dahulu masuk ke dalam rumah sakit. Aneh sekali suasana rumah sakit saat itu.


Sangat sepi sekali, tidak ada satpam, perawat jaga, maupun penunggu pasien yang biasa tidur di lorong-lorong rumah sakit.


“Aneh pada ke mana ya orang-orang ini? Kok sepi sekali.” tanya Dede dalam batinnya.


Beberapa menit kemudian sampailah mereka ke sebuah kamar nomor 3 di ruangan VIP. Sekilas Dede membaca identitas pasien yang terpampang di depan pintu itu.


Di situ tertulis nama pasien yaitu Salam Prasetyo. Kemudian gadis itu membuka pintu dan berkata,


“Terima kasih Mas sudah mengantar saya. Hati-hati pulangnya ya, Mas,” ucap gadis.


Kemudian gadis itu menutup pintu tanpa mempersilahkan Dede untuk masuk. Dede pun segera bergegas untuk pulang ke rumahnya karena waktu juga sudah menunjukkan pukul 2.30 dini hari.


Beberapa menit kemudian Dede tiba dengan selamat di rumahnya, kemudian bergegas ke kamar mandi membasuh mukanya dan langsung ganti baju.


Bajunya yang tadi agak basah kena hujan. Dan lanjut ke kamar untuk segera tidur karena besok harus bangun pagi karena ada gotong royong menyambut tujuh belas.


Paginya saat bergotong royong, Dede bertemu dengan Joni, Abu, dan Rinto. Sambil membersihkan selokan rame-rame.


“Rinto, ke mana aja kamu semalam? Bukannya kamu disuruh tungguin di situ. Kok aku balik dari ngantar Abu sama Joni. Tiba-tiba aku lihat kamu udah enggak berada di tempat situ. Dan kamu tuh benar-benar enggak punya perasaan masak cewek. Kamu tinggalin sendirian di situ, sih. Tidak biasanya kamu ninggalin cewek sendirian biasanya kamu embat sendiri, kan kamu orangnya play boy cap tikus hehe ...,” Dede dengan nada kesal dan sambil bercanda sedikit.


“Ohk ... aku dijemput sama ayahku semalam ketika kalian pergi berapa menit. Cewek yang mana, sih? Semalam kita nongkrong bareng di warung Upnormal terus kehujanan. Semalam aku tidak ketemu cewek, Bro. Kecuali ayahku hehe ....” Jawab Rinto sambil bercanda.


“Lalu, cewek semalam itu siapa? Di tengah-tengah nama pasiennya itu adalah Salam Prasetyo?”tanya Dede sambil menceritakan kejadian semalam yang terjadi.


Spontan Joni yang dari tidak begitu menyimak cerita Dede tiba-tiba dia berseru.


“Nah, itu dia yang aku ceritakan sama kalian semalam si Salam Prasetyo itu, haaa ...., bagaimana kabarnya? Apa Jenazahnya sudah dibawa pulang ke rumahnya?” tanya Joni dengan singkat.


Begitu Dede mendengar cerita dari Joni, Dede semakin bingung dan penasaran. Kemudian


Joni bercerita, “kalau semalam sekitar jam 2 dini hari kakakku mendapatkan kabar kalau temannya Salam yang tidak sadarkan diri setelah mengalami kecelakaan di perempatan itu akhirnya menghembuskan napas terakhirnya tadi malam tepat 1.30. Dan Istrinya sudah tewas lebih dulu sebelum suaminya dibawah ke rumah sakit itu.”

__ADS_1


“Jadi, gadis yang semalam itu sudah meninggal ..., ya?” tanya Dede dalam batinnya dengan penasaran dan merasa takut.


__ADS_2