MEREKA DI SEKITAR KITA

MEREKA DI SEKITAR KITA
PART 12 MISTERI PEREMPUAN BERPAYUNG HITAM


__ADS_3

Sudah sepuluh tahun Suwarni berada di perantauan negeri orang untuk mengais rezeki demi keluarganya di kampung.


Rasanya sudah lama Suwarni meninggalkan kampung halaman. Dan meninggalkan tanah air Indonesia.


Sudah sepuluh kali melanjutkan kontrak dan sekarang ia berencana untuk kembali ke kampung kelahirannya tepatnya di desa Pulubala yang berada di daerah Gorontalo.


Ia kembali dengan mencoba membuka hidup yang baru, setelah ia merasakan tabungannya sudah cukup untuk dijadikan modal di kampungnya itu.


Dengan modal yang sudah cukup banyak yang ia kumpulkan untuk berwirausaha kecil-kecilan untuk melanjutkan hidup, siapa tahu menjadi berhasil berawal dari kemauan. Apalagi usianya juga mulai beranjak tua,


“Kalau tidak mulai sekarang mencoba bekerja di tanah air sendiri mau kapan lagi? Karena batas umurku terlampau jauh dan sudah mulai tua untuk ikut bekerja dengan orang lain di luar negeri. Lebih enak lagi aku kembali lagi ke kampungku biar bisa berwirausaha sendiri. Biar lebih bebas lagi dalam membuat aturan sendiri walaupun risiko kutanggung sendiri,” ucap Suwarni dalam batinnya.


Saat ini Suwarni masih berada di dalam pesawat yang sama bersama temannya. Suriyati bekerja sebagai TKW yang sudah habis masa kontraknya dan bermaksud pulang kembali ke tanah air Indonesia.


Pesawat dari Jakarta yang membawa mereka dan transitnya ke Makasar terus ke Gorontalo.


“Beneran nih kamu enggak mau lagi kerja di luar negeri?” tanya Suriyati seperti tidak percaya.


“Iya! Karena aku pingin buka usaha sendiri di tempat kelahiranku yang berada di desa Pulubala.”Jawab Suwarni dengan singkat.


“Weleh-weleh kamu bisa aja, ya. Di kampung mah kesempatan buka usaha sangatlah terbatas,” ucap Suriyati dengan singkat.


Memang Suwarni mengakuinya membuka usaha di dalam negeri susahnya setengah mati, kalau rezeki tentunya Suwarni enggak sampai keluar negeri.


Seperti pepatah bilang, hujan emas di negeri orang lebih bermakna hujan batu di negeri sendiri. Kalau bisa mendapatkan rezeki di tanah airnya tentu Suwarni lebih memilih kerja di kampungnya itu.


“Aku mau berwiraswasta kecil-kecilan di kampungku. Mohon doanya, ya,” ucap Suwarni dengan senyum.


“Mau wirausaha apa nih rencananya kamu Suwarni?” tanya Suriyati penasaran.


Suwarni tahu bahwa Suriyati tidak percaya dengan pilihannya untuk mencoba peruntungan dengan usahanya sendiri, mungkin ia mengira Suriyati akan mencari kerja di kota Gorontalo.


“Aku belum tahu, sih. Lihat dulu sikon kampung bagaimana. Apa yang sekiranya bisa dicari celahnya untuk kegiatan ekonomi?” jawab Suwarni ragu-ragu.


Memang Suwarni belum menemukan ide yang meyakinkan untuk berwirausaha, mencoba nanti dan melihat sikonnya.


“Yahh ....” Serunya dengan agak kecewa.


“Bukan apa-apa, Mbak. Mesti hati-hati saja. Karena kalau enggak bagus prospeknya. Bisa-bisa modalmu habis terus. Nah, kalau sudah gitu, nau makan apa coba? Kan malu harus numoang sama orang tua terus.” Ucap Suriyati.


Suriyati menceritakan panjang lebar. Tetapi memang benar dengan ucapanya. Suwarni mesti mempersiapkan dengan cermat.


Agar usahanya bisa berjalan lancar kalau perlu bisa berkembang. Sebab kalau tidak tabungannya bisa habis untuk menambal usaha.


“Aku sudah memperhitungkan kok. Makanya aku tidak memasukan semua tabungan ke usaha yang belum tentu berhasil. Seperti kata pepatah. Jangan menaruh telur di dalam satu keranjang,” ucap Suriyati.


Kemudian mereka sudah mendengar kalimat bijak itu dan memang benar adanya. Kita mesti berinvestasi di banyak bidang yang berbeda.


Jadi, bila ada satu atau dua yang gagal kita masih bisa mengandalkan yang lain.


“Eh ..., nanti sesampai bandara Djalaludin Gorontalo mau mau naik apa untuk sampai ke rumahmu? Desa Luwoo, ya?” tanya Suwarni mengalihkan topik pembicaraan.


“Aku mau pakai taksi saja. Biar sekali jalan.” Jawab Suriyati tenang dan yakin.


“Wow nggak kemahalan ya, Mbak Suriyati?” tanya Suwarni.


Suriyati mencoba mengingatkan seberapa banyak uang yang mesti dia keluarkan bila mau naik taksi dari bandara sampai rumahnnya.


“Yaa ..., Mbak sekali-kali memanjakan diri, kenapa? Buat apa kerja kalau bukan diri kita sendiri? Apalagi kita masih single. Hehe ....” Ucap Suriyati sambil membela diri.


“Aku pikir ada benarnya juga kata-katanya, Mbak Suriyati.” ucap Batin Suwarni.


“Apalagi barang bawaanku banyak nih, Mbak. Kalau mesti gantian transportasi bisa jadi repot deh jadinya,” ucap Suriyati lagi dengan serius.


“Tetapi Mbak nggak bawa uang tunai banyak-banyak berbahaya nanti. Aku udah transfer di rekeningku kok, Mbak. Hanya sebagian saja yang aku bawa asal cukup untuk biaya perjalanan dan biaya hidup sementara.” Ucap Suriyati sambil menjelaskan kepada Suwarni.


“Kalau Mbak sendiri gimana?”tanya Suriyati.


“Aku naik angkutan aja kok, Mbak. Tidak banyak barang yang aku bawa kok. Hanya tas ini.” Ucap Suwarni sambil menunjukan tas yang ia dudukan di atas pangkuannya itu.


“Masak Mbak tidak bawa barang-barang lainnya, ya?” tanya Suriyati dengan penasaran.


“Sudah aku kirimkan jauh hari sebelumnya. Aku memang sudah merencanakan demikian. Dari bandara kuakan berjalan sebentar menuju jalan utama, lalu aku akan panggil angkutan umum menuju kampungku di desa Pulubala. Ohk iya angkutan umumnya Bentor(Becak motor) biar dapat melihat, bagaimana pemandangan-pemandangan alam menuju kampungku di desa Pulubala?” ucap Suwarni.


Kemudian Suriyati hanya manggut-manggut saja tanda sudah mengerti apa yang dijelaskan oleh Suwarni.


“Rumahmu tidak jauh juga kan, Mbak? Kalau punyaku jauh dari jalan masuk pedalaman makanya aku Mbak cari taksi biar ngantar langsung sampai depan rumahku, Mbak,” ucap Suriyati.


“Ohh ..., gitu ya, Mbak. Insya Allah kita bisa ketemu lagi, ya. Lagian Pulubala sama Luwoo masih satu Kabupaten juga, kan. Kabarin aku ya Mbak nanti.” Ucap Suwarni.


Percakapan mereka terhenti ketika pramugari membagikan makanan dan minuman, mereka menikmati sajian itu.


Sambil makan Suwarni menerawang ke masa dulu saat ia masih tinggal di kampungnya itu. Suwarni adalah anak pertama dari enam bersaudara.


Orang tuanya cuma sebagai petani kecil dengan lahan persawahan yang tidak begitu luas. Bisa sekolah sampai lulus SMU saja, Suwarni sangat bersyukur.


Awalnya Suwarni berharap mendapat pekerjaan dengan ijazah sekolahnya itu. Tetapi pada kenyataan persaingan kerja yang begitu ketat membuatnya kesulitan mendapatkan pekerjaannya yang menurutnya layak.


Namun, akhirnya Suwarni memberanikan diri untuk bekerja di luar negeri sebagai TKW.


Sebenarnya was-was juga, khawatir terjadi sesuatu yang tidak diharapkan seperti yang terlihat di berita-berita penganiyaan TKw yang ia dengar selama ini.


Tetapi ia bersyukur selama ini ia bekerja dengan tenang dan mendapatkan majikan yang begitu baik sehingga membuatnya betah untuk kerja.


Bahkan bisa mengirimkan sejumlah uang gajinya kepada orang tua dan adik-adiknya juga. Agar mereka bisa bersekolah. Rahman adik kedunya sudah berhasil masuk Akademi militer selepas SMU.


Dia hanya mencoba ikut test penerimaan Akademi militer, syukur Rahman dinyatakan lulus. Dari cerita ibunya, Rahman ditugaskan di Papua.


Sedangkan adiknya yang ketiga sekarang kuliah di Jogyakarta dan kost di sana. Karena Gorontalo dan Jogyakarta cukup dibilang jauh.


Jadi, sekarang di rumah tinggal bapak, Ibu, dan adiknya yang masih SMP kelas 2 yaitu Nadia.

__ADS_1


Namun, Suwarni juga mesti memikirkan masa depannya itu, tidak mungkinlah ia terus-terusan bekerja.


Manusia pasti akan beranjak tua dan kesempatan kerja semakin tipis. Ia sendiri tidak mau menghabiskan seluruh hidupnya dengan bekerja ikut orang.


Pinginnya bila sudah berkeluarga, ia akan menjadi ibu rumah tangga yang fokus dengan suami dan anak-anaknya. Kalau pun bekerja itu karena kewajiban utama.


“Syukur alhamdulillah, akhirnya sampai juga, ya,” ucap Suwarni dalam batinya.


Suwarni masih dalam keadaan memakai sabuk seperti yang diarahkan oleh pramugari tadi. Pesawat sebentar lagi akan mendarat.


Kemudian Suwarni melihat Suriyati juga bersiap memasangnya kembali. Beberapa detik kemudian pesawat mendarat, mereka keluar menuju pengambilan bagasi barang.


“Terima kasih ya, Mbak kamu sudah menemaniku mengantri bagasiku, ya,” ucap Suriyati sambil tersenyuman.


“Sama-sama, Mbak, Yuk kita keluar bareng dari sini.” Pinta Suwarni.


“Kita berpisah di sini, ya. Salam buat keluarganya, Mbak. Insya Allah kita berdua bisa ketemu secara langsung dan saling silaturahim di rumah ya, Mbak.” Ucap Suwarni menjabat tangan saling berpelukan cium pipi kiri dan pipi kanan.


Selanjutnya mereka berpisah. Sementara Suriyati sudah mencari taksi menuju desa Luwoo dan Suwarni sendiri mencari bentor (becak motor)


Banyak yang nawarin jasa angkutan kepadanya. Namun, Suwarni hanya memilih bentor. Bukannya dia pelit.


Tetapi hanya pingin naik bentor saja kepingin melihat pemandangan alam biar agak sedikit santai saja.


Semain hari semakin berubah perputaran ekonomi di Gorontalo. Kendati waktu dulu Suwarni belum pergi bekerja jadi TKW bentornya masih bisa dihitung.


Namun, sekarang bentornya sudah banyak yang lalu lalang di jalan. Sangat senang hatinya Suwarni ketika melihat pemandangan alam di sepanjang perjalanannya menuju kampung kelahirannya itu.


Hanya membutuhkan 25 menit untuk sampai menuju ke kampungnya itu. Akhirnya pas di dekat pertigaan Suwarni langsung menghentikan bentor.


“Om turun sini aja, ya,” pinta Suwarni.


Suwarni membayar biaya bentor itu. Bentor pun langsung kembali lagi ke bandara. Suwarni melihat situasi ke kiri atau ke kanan.


“Kok setahuku di sini tempat ojek dulu sebelum ada bentor ini. Kok sekarang malah tak satu pun bentor ini kelihatan, ya,” ucap Suwarni dalam batinnya.


Seketika Suwarni melihat sepeda motor yang sedang melintasi jalan itu. Ia menghampiri kedua orang yang saling berboncengan di atas motor mereka itu.


“Mohon maaf, Pak Kok tidak ada bentor di sini, ya?” tanya Suwarni dengan sopan kepada Bapak itu.


Kemudian bapak dan anaknya menoleh ke arah Suwarni.


“Wah sudah pindah lokasi, Mbak. Lokasinya sudah pindah di dekat toko itu. Kalau dari sini tidak kelihatan, Mbak. Mungkin sekitar dua kilometer. Memangnya Mbak mau ke mana, ini?” tanya Bapak.


“Mau ke dusun Pulubala, Pak.” Jawab Suwarni dengan singkat.


“Dusun Pulubala itu tidak jauh dari sini, Mbak,” ucap Bapak itu.


“Terima kasih, Pak.” Ucap Suwarni sambil meminta pamit dengan berjalan kaki menuju kampungnya itu.


Dari jalan dimana ia melangkahkan kaki ia melihat pemandangan alam sekelilingnya, tidak banyak perubahan. Di sepanjang jalan ia lewati tumbuh pohon-pohon besar di sisi kiri dan kanan jalan.


Di sebelahnya terhampar lahan sawah. Sungguh pemandangan alam yang sangat cantik yang sudah sepuluh tahun tidak ia lihat.


Udaranya juga sangat berbeda. Maklumlah yang namanya juga kota besar yang ada di dunia.


Beda dengan di sini sangat alami dan hawanya masih segar. Apalagi saat sudah mulai masuk musim penghujan.


Sehingga tidak terlalu panas karena matahari tidak menampakkan diri, angin berhembus dengan begitu kencang menerbangkan daun-daun, awan hitam yang begitu gelap memayungi langkah perjalanannya.


Tetapi Suwarni tidak perlu khawatir, ia sudah mempersiapkan sebuah payung lipat kecil di dalam tasnya. Jadi, bila nanti sewaktu hujan turun ia tinggal mengambil dan membuka payung itu.


“Aneh jalan kok sepi, ya? Biasanya sangat ramai sekali! Apa mungkin karena sudah petang dan hampir turun hujan ya sehingga orang-orang malas keluar rumah? Ini jam udah menunjukkan pukul setengah enam sore lebih. Paling setengah jam lagi aku akan nyampai rumah,” ucap Suwarni dalam batin.


Meski mendung menggelayut di langit dan hawa dingin mulai terasa karena angin berhembus dengan lebih kencang lagi.


Suwarni tetap berjalan pelan dan santai. Ia benar-benar menikmati perjalanan itu. Namun, ketika rintik hujan mulai jatuh menetes, ia segera bergegas lari di bawah pohon besar di pinggir jalan.


Kemudian Suwarni mengambil payung dan membukanya. Di bawah lindungan payung itu ia kembali melangkahkan kaki menuju perjalanan pulang.


Beberapa detik kemudian hujan turun dengan cepat dari yang tadi rintik-rintik begitu saja berlanjut dengan deras. Payung yang ia pakai memang bisa melindungi dari arah atas.


Tetapi dari arah samping depan dan belakang, tidak mampu lagi karena angin kencang meniup dari segala arah. Tetes air hujan pun dengan leluasa membasahi kaki dan pakaiannya. Tetapi sudah lama ia terkena tetesan air hujan.


Tiba-tiba Suwarni merasa ada seseorang di belakangnya. Ia kemudian berhenti melangkahkan kakinya lalu menengok ke belakang, tepat sekali, ia melihat seorang perempuan berjalan di belakannya itu.


Dia juga menggunakan payung hitam sperti dirinya. Tetapi payungnya lumayan besar sehingga Suwarni tidak begitu jelas melihat wajahnya.


Selain karena payung yang begitu melengkung itu, suasana yang cukup gelap karena tidak ada penerangan di sepanjang jalan itu membuat Suwarni sangat sulit mengenalinya.


Tetapi Suwarni tidak begitu peduli dengan semua itu, toh mereka tidak saling mengenal. Ia kemudian melanjutkan perjalanan.


Entah mengapa Suwarni merasa ada yang tidak beres. Bulu kuduknya merinding, karena kedinginan disebabkan hujan deras atau karena hal yang lain.


Hatinya pun menangkap sesuatu yang ganjil meski ia tidak bisa menyebutkan itu apa. Kemudian ia melambatkan langkahnya agar ia dan perempuan itu bisa berjalan seiring.


Siapa tahu mereka bisa mengobrol bersama sehingga bila ada teman akan terasa tidak menjenuhkan.


“Mau ke dusun Pulubala juga ya, Mbak?” tanya Suwarni.


Suwarni membuka percakapan dengan perempuan itu yang sudah berjajar dengannya itu. Perempuan itu berhenti sejenak. Kemudian menengok ke arahnya.


Dia lalu menaikkan payungnya sedikit. Dia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Suwarni melihat wajahnya pucat mungkin dia agak sakit.


Suwarni yakin dia bukan warga asli dusun Pulubala. Kalau dari kecil tinggal di sini pastilah hapal wajah orang-orangnya itu. Apalagi bila mereka sebaya.


Kalaupun ada perubahan paling tidak ukuran badan saja kalau tidak gemuk ya kurus. Biasanya banyak perubahan, mereka pasti saling mengenali. Mungkin saja perempuan itu pendatang.


“Kebetulan aku juga mau ke dusun Pulubala, Mbak. Jalan sama-sama saja ya, Mbak.” Pinta Suwarni dengan sopan.


Kemudian perempuan itu tak menjawab sepatah kata pun, dia hanya diam saja sambil mengangguk-angguk. Hanya saja dia memang berjalan perlahan mengikuti langkahnya Suwarni.

__ADS_1


Yang anehnya Suwarni mencium perempuan itu bau bunga melati yang sangat tajam.


“Mungkinkah dia memakai pewangian aroma melati?" tanya Suwarni dalam batinnya.


Suwarni mencoba mengajaknya berbicara. Tetapi dia hanya diam saja, akhirnya Suwarni memilih diam. Terpaksalah selama perjalanan itu mereka saling diam diri.


Tetapi Suwarni cukup senang karena ada teman. Di perjalanan dengan pesawat ia bertemu Suriyati yang menemaninya dari Jakarta ke Makasar terus ke Gorontalo.


“Eh di sini aku juga ada teman seperjalanan, meski aku tidak tahu pasti siapa perempuan ini. Mungkinkah dia ini adalah seorang bisu?” tanya Suwarni dalam batinnya dengan bingung dan penasaran.


Sampailah di depan pintu gerbang menuju kampungnya Suwarni dan menghentikan langkahnya.


“Aku sudah sampai, Mbak. Aku tinggal di lorong dekat pasar, Mbak. Jadi, aku mau belok ke kanan atau mau belok ke kiri?” tanya Suwarni lagi.


Namun, perempuan itu sama sekali tetap diam dan tidak menjawab satu kata pun.


Di depan pintu gerbang itu memang mempunyai dua arah jalan, yang menuju belokan ke arah kiri dan yang menuju belokan sebelah kanan. Perempuan itu juga ikutan berhenti.


“Mbak, mau belok ke kiri apa ke kanan?" tanya Suwarni.


Namun, kali ini perempuan itu masih saja diam.


“Ya sudah Mbak aku duluan, ya. Silahkan kalau mau belok ke kanan,” ucap Suwarni dengan perasan sedikit aneh.


“Kok diam aja, ya. Sudah dari tadi aku bertanya enggak satu pun dijawabnya. Kan aneh gitu ...,” gerutu Suwarni dalam batinnya.


Suwarni berjalan ke arah kiri. Namun, hidungnya tetap mencium bau bunga melati itu. Ia menengok ke belakang. Tetapi perempuan itu sudah tidak ada lagi.


“Mungkinkah dia sudah berbelok ke arah kanan dan baunya masih menempel di diriku. Karena tadi kita berdua sempat berjalan berdampingan.” Ucap Suwarni dalam batinnya.


Beberapa detik lagi akhirnya Suwarni tiba di depan teras rumahnya itu. Ia melihat rumahnya berwarna biru muda itu, sekarang tampak kokoh berdiri dan lumayan bagus tidak kalah dengan rumah tetangga di sebelahnya.


Mendadak matanya melihat pemandangan berbeda di rumah tetangganya. Ada banyak orang di situ, sepertinya ada yang meninggal. Kemudian ia bergegas masuk ke dalam rumahnya.


“Assalamualaiku warah matulahhi wabarakatuh ...,” ucapan salam Suwarni ketika masuk dalam rumah.


“Waalaikum salam warahmatulahi wabarakatuh ....” Balas salam sosok perempuan tua itu.


“Bu ini Suwarni, Bu. Saya pulang, Bu,” ucap Suwarni sambil membuka pintu depan.


Kemudian Suwarni melepaskan sepatunya lalu berjalan masuk ke dalam.


“Suwarni ini kamu, Nak?” tanya Ibunya dengan riang sambil berpelukan.


Mereka berpelukan tak terasa air mata meleleh di pipi, karena sudah lama mereka tidak saling bertemu, hanya melalui suara lewat telepon saja.


“Kamu sehat-sehat, Nak? Kenapa kamu tidak ngasih tahu biar di jemput, Nak! Lihat sampai rumah hampir malam begini, Nak. Mana kamu sudah kehujanan di jalan lagi.” Ucap Ibunya dengan suaranya yang begitu lembut.


Sudah lama Suwarni merindukan Ibu dan bapaknya bersama adiknya itu.


“Enggak apa-apa, Bu! Hanya ingin melihat pemandangan saja kok, Bu! Bapak dan adek ke mana, Bu?” tanya Suwarni.


“Bapak dan adekmu lagi berada di rumah pak Karjo tetangga kita di sebelah. Ada yang meninggal di situ. Besok kamu ikut Ibu melayat, ya? Katanya besok pagi sekitar jam sepuluh mau dimakamkan.” Ucap ibunya.


Suwarni diahak ibunya ke ruang makan.


“Makan dulu, Nak! Ini Ibu sudah membuatkan makanan kesukaanmu,” ucap Ibunya.


Suwarni pun membukakan tudung saji, ia melihat ada sayur asam kesukaannya. Komplit dengan sambil terasi dan ikan goreng sama kerupuk di dalam toples kaca.


“Syukur alhamdulillah, ya Alllah. Rezeki dan kesukaanku. Tetapi saya mau ganti baju dulu ya, Bu! Dan membasuh muka.” Ucap Suwarni.


Suwarni merasa senang dengan kesukaannya itu sambil pamit kepada ibunya untuk ganti pakaiannya.


Kemudian Suwarni menuju kamar mandi lalu menuju ke kamarnya. Membuka lemari pakaiannya, mencari pakaian yang cocok untuk ia gunakan.


Ia kembali ke depan meja makan untuk menyantap masakan ibunya yang sudah di persiapkan.


Selesai makan, ibunya menyuruh ia tidur, ikut melayat besok paginya. Malam itu ayah dan ibunya yang berkunjung ke rumah Pak Karjo.


Keesokan harinya Suwarni akhirnya ketemu dengan ayah dan adiknya sambil berpelukan dan seketika itu air mata kembali menetes.


Kemudian mereka bergegas ke rumahnya Pak Karjo.


“Ini Suwarni anakku yang baru pulang dari luar negeri,” ucap Ibunya Suwarni kepada Bu Karjo.


Kemudian Suwarni mengulurkan tangan kanannya dan menjabat tangan Bu Karjo.


“Oh Nak Suwarni, ya. Udah lama ya kamu baru pulang dari luar negeri. Silahkan duduk dulu, Nak. Terima kasih banyak ya sudah datang ke sini.” Ucap Ibu Karjo dengan suara parau karena sedang berduka.


Kemudian Suwarni, adik, dan ibunya mencari tempat duduk di rombongan perempuan. Dari pembicaraan mereka Suwarni secara jelas bahwa ternyata yang meninggal itu menantu Bu Karjo yang menikah dengan Surya anaknya pertama.


Kabarnya menantunya itu meninggal karena sakit dan stress karena kondisi ekonominya yang begitu sulit, selain itu suaminya tidak ada pekerjaan tetap, Surya itu juga sering kali ringan tangan.


Suwarni menghiraukan dengan cerita bisik-bisik mereka itu, ia masih larut dengan nostalgianya masa lalu. Ia lebih tertarik untuk melihat orang-orang di sekitarnya banyak dari mereka yang sudah ia kenal.


Pemandangan di sekitar rumah-rumah yang berdiri tidak begitu banyak perubahan.


“Kamu ingin lihat jenazahnya enggak, Nak?” tanya Ibu Suwarni mengagetkannya.


Ternyata ada pengumuman bila ada yang mau melihat jenazah diperbolehkan. Kemudian Suwarni mengangguk-anggukan kepala dan mengikuti langkah ibunya dari belakang.


Dari ruang tengah Suwarni melihat peti jenazah dari kayu berada di atas meja panjang. Peti itu masih dalam kondisi terbuka untuk memberi kesempatan bagi para pelayat untuk melihatnya.


Karena ada beberapa orang yang melihatnya Suwarni tidak bisa melihat dari dekat. Ia hanya menangkap bahwa perempuan itu mengenakan pakaian warna hijau, katanya sih itu pakaian kesayangannya saat ia masih hidup.


Untunglah akhirnya Suwarni bisa melihat dengan lebih dekat karena beberapa wanita yang tadi di depannya pergi dari kerumunan untuk kembali ke kursi masing-masing.


Namun, Suwarni terdiam begitu ia melihat wajah jenazah itu, ia ingat betul wajah itu.


“Dia yang menemaniku jalan kaki menuju desa Pulubala kemarin petang, kan,” ucap Suwarni dalam batin.

__ADS_1


Tiba-tiba kedua kakinya merasa lemas, bulir-bulir keringat bercucuran begitu deras, jantungnya berdetak keras, dan menggigil ketakutan.


__ADS_2