
Kami memintanya menyerah. Mika berteriak meminta tolong setelah aku berteriak kepadanya, "panggil yang lain! Cepat Mika!" Dan kami menemukan semua hal yang menjadi pertanyaan semua orang selama ini. Ini adalah sebab kenapa empat belas murid perempuan cantik dari berbagai angkatan di sekolahku, menderita sakit yang parah. Tidak ada dokter yang berhasil menangani mereka, setidaknya belum. Tanda yang paling umum ditemui dari semuanya adalah demam. Disertai juga memuntahkan paku-paku berkarat seukuran telunjuk dan darah dari perut mereka.
Kami berhasil. Sebulan ini memang membuat kami berkeringat dingin. Tidak peduli siapa atau apa, tapi kami sangat peduli soal target selanjutnya. Ini seperti russian roullete. Pelakunya hanya punya satu peluru untuk ditembakkan ke ratusan murid perempuan. Walau dugaan target acak ini ditentang oleh seorang guru, Pak Simon.
"Tidak. Lihat korban ke enam. Semua sudah jelas murid-murid cantik."
"Pak, cantik itu relatif," balas Bu Susi.
"Ibu tidak paham. Bagi kami, laki-laki, cantik memiliki standar khususnya sendiri. Jadi, mulai sekarang, kita harus kumpulkan lagi latar belakang dari setiap korban. Ciri fisik, kondisi keluarga, sampai keuangan mereka. Semua harus bisa kita kumpulkan datanya dan kita olah."
"Pak, tapi..." aku mengangkat tangan, "bisa saja pelaku tiba-tiba menargetkan orang yang tidak sesuai dengan pengelompokkan data kita. Terus bagaimana?"
Pak Simo menyeringai. Aku merasa salah bertanya. "Tidak, benar, ah, aku lupa soal itu. Tindakan pencegahan saat ini adalah, tidak ada seorang pun yang tahu soal ini, ini adalah tim khusus. Andre, Saya, Bu Susi dan Pak Masiran adalah anggotanya. Rencana kita ini tidak boleh bocor. Kalau sampai terjadi, maka di antara kitalah pelakunya."
"Itu konyol Pak Simon. Terlalu dini untuk menuduh seseorang melakukan itu." Pak Masiran berkacak pinggang. Lidahnya bergerak-gerak mencari sisa makanan yang terselip di giginya. Ah, menjijikkan sekali kebiasaannya itu.
"Itu benar juga. Tapi kita tidak punya pilihan. Setiap guru dan murid pasti juga sudah punya tim seperti kita. Entah mereka menjadi jagoan atau memang merasa peduli. Tapi kita harus bergerak lebih sedikit, informasi juga tidak boleh menyebar. Semua demi semakin kuatnya fakta dari pada opini. Nah, bisa kamu urus kan, Ndre?"
"Oke, Pak. Bisa."
Dan pertemuan itu akhirnya berakhir. Aku sebagai ketua OSIS SMA Satu ini pusing bukan main. Setelah masa jabatanku berakhir, semua harunya selesai. Tidak mengira kalau ada kejadian luar biasa. Sebenarnya, aku tidak begitu percaya pada hal mistis. Aku lebih suka membaca buku dan kuketahui kalau itu bisa saja mass histeria. Tidak menutup kemungkinan salah sorang dari mereka kesurupan dan sisanya ikut-ikutan. Mengaku sakit dan kena santet.
Belum lagi ketiga korban pertama benar-benar sosok paling dikagumi di sekolah ini. Ani wakil ketua OSIS terbaru dan juga salah satu vokalis band yang sudah masuk dalam band amatir paling ditunggu-tunggu jadwal manggungnya oleh penggemar mereka di luar sekolah. Bina wakil ketua OSIS-ku. Dia merupakan perempuan paling cerdas di sekolah kami, juga memiliki rambut sebahu dan mata kebiruan. Banyak perdebatan seharusnya dia yang menjadi ketua, tapi dia mengalah hanya karena dia ingin ketuanya harus cowok. Terakhir, Yezy. Darah campuran Jepang, Korea dan Indonesia ini merupakan anak baru yang paling sering mendapatkan pernyataan cinta. Lebih banyak dari perempuan populer mana pun. Selain tampangnya yang lugu, dia juga memiliki wawasan yang luas.
__ADS_1
Ya, tidak mengherankan setelah ketiga korban itu, sisanya seperti mengikuti alur. Walau memang tidak kalah cantik, tapi kalau menurut arahan dari Pak Simon, jelas ini cukup aneh. Apa yang harus kucari untuk bisa menemukan petunjuk?
"Harusnya sih malam ini, masih mau nungguin?" Mika berada di belakangku persis. Kami mengintip gerak-gerik aneh dari seseorang yang datang ke sekolah hari ini. Kami mulai mengendap bergerak dan kupikir tidak ada waktu lagi. Sudah mendekati sebulan sejak kejadian, korban terus bertambah.
"Andre, jawab... Dong..." bisik Mika.
"Kamu siap lari ya?"
"Hah?"
"Minta pertolongan, aku aja yang nyergap. Oke?"
"Duh, jangan deh, jangan jadi sok jagoan," pintanya.
"Kapan lagi. Ya, gak? Bentar lagi juga lulus. Lumayan masuk koran. Bisa nambah-nambahan di CV nanti pas mau kuliah."
"Hei, kamu ketahuan, lebih baik menyerah sekarang!" teriakku. Mika terkejut dan berusaha menarikku. Tapi terlambat. Memang itu tujuanku semula. Aku berhasil mengacaukan ritualnya. Aku pun langsung menyergapnya.
Mika berteriak-teriak hebat. Kami bergumul hebat. Ya, aku menyuruh Mika untuk segera mencari bantuan.
"Sudah, menyerah saja. Penjahat ulung sepertimu memang tidak pantas ada di bumi!" Tanganku memegangi tangannya. Dia meronta-ronta. Berusaha memukulku. Bahkan kakinya menendang perutku. Aku berguling menghindarinya dan menyeret pantatku ke belakang. Sedikit menjaga jarak. Topeng itu masih dipakainya.
"Dasar pengecut! Jangan sembunyi di balik topeng dong!" teriakku. Dia tertawa hebat.
__ADS_1
"Oke, jangan kaget ya," ucapnya. Saat dia membukanya, aku terperanjat. Orang yang kukenal baik. Sangat. Tapi, kenapa?
"Bina?!"
"Kenapa? Kaget ya?"
"Tapi suaramu itu..."
"Ini? Alat pengubah suara. Ya, buat jaga-jaga aja. Sudah ketebak cewek dari bentuk badannya, tapi suaranya cowok. Bukankah pengalihan yang sempurna?" Dia tertawa lagi.
"Jangan bercanda! Maksudmu apa? Kamu juga korban, kan?"
"Ya, bisa dibilang aku menyakiti diriku sendiri untuk semua yang bisa kulakukan sampai sejauh ini. Tapi, aku mulai menyadari kalau sikapmu berubah dan itu menjadi tanda sepertinya semua tindakanku akan terbongkar."
Bina meraih pisau yang tergeletak di lantai. Mengeluarkannya dari sarung pengamannya. Dia mengacungkannya padaku.
"Hei, itu berbahaya. Sudah, hentikan ini Bina!"
"Tahu gak Ndre? Ternyata, ya, ternyata, semua yang kulakukan itu... Kamu tahu... Hihihi, tahu gak, mereka tergila-gila padamu dan aku benci itu! AKU BENCI ITU ANDRE!"
Aku mulai berlari dan Bina mengejarku. Tangannya erat memegangi pisau. Berusaha memotong-motong udara. Di gelapnya malam ini harusnya aku tidak boleh terjatuh, tidak. Aku harus berlari terus.
Tapi, semua itu percuma. Bina berlari lebih cepat dariku. Entah dari mana kekuatannya yang besar itu. Aku terjatuh, tentu. Dan dia sudah melompat ke arahku. Duduk tepat di atas perutku.
__ADS_1
"Lebih baik kumiliki dirimu sendiri saja ya, Ndre... Dari pada menyantet mereka atau menyantetmu, ada cara yang lebih menarik..."
"Tolong... Mika... Tolong..." Aku berteriak sekuat mungkin. Sial. Mimpi buruk yang tidak pernah kuinginkan sekarang hadir tepat di depanku.