
Tempat tinggal Ismail dan Lestari dulu termasuk dalam kawasan yang sepi, terutama pada malam hari. Memang tidak begitu jauh dari keramaian desa Lupoyo.
Desa Lupoyo merupakan salah satu desa yang berada di Kabupaten Gorontalo. Konon katanya orang-orang bilang desa Lupoyo adalah tempat yang angker.
Namun, enggak ada sedikit pun Ismail memercayai perihal tempat angker dalam cerita-cerita orang.
Untuk mencapai rumah mereka berdua yang berada di Desa Lupoyo tersebut masih harus menggunakan jasa tukang bentor (becak motor)
Atau naik motor sendiri, karena belum ada angkot yang melewati sampai ke desa mereka tinggal.
Jarak dari Trans Jalan raya Telaga ke dalam memang masih jauh sekitar sepuluh kilometer.
Bila akan naik motor, maka akan dengan leluasa melihat keindahan di sepanjang jalan, melewati pohon-pohon kelapa dan lahan yang kosong.
Di bawah pohon kelapa ketiga inilah tempat Ismail dan anak istri bernaung beberapa tahun lamanya.
Rumah dengan kiri kanan kesunyian. Sebelah kanan hamparan sawah yang belum digunakan sebagai tempat tinggal mereka bertiga, sehingga digarap oleh penduduk sekitar.
Lengkap dengan sungai bila dilihat seksama lebih menyerupai danau, apalagi bila malam, tampak hitam pekat.
Di sisi depan dan kiri tempat sepasang suami istri yaitu Ismail dan Lestari terdapat sebuah tanah kosong.
Persis di kiri penuh belukar yang semula digunakan sebagai lapangan bulu tangkis yang akhirnya dibiarkan mati begitu saja menjadi rimbunan rumput ilalang.
Bila malam hari akan melewati jalanan di depan rumah mereka, pasti akan tergerak untuk melihat kesunyian yang mendirikan bulu roma. Hanya terdengar desau angin dan gesekan rumput ilalang.
Tepat di rumah mereka ini, jangan harap akan mendapatkan penerangan jalan dari rumah Ismail dan Lestari.
Meskipun ada beberapa stop kontak dan bekas lampu penerang di depan rumah.Tetapi tidak pernah lagi mereka suami istri nyalakan.
Mungkin orang akan menuduh betapa pelitnya mereka berdua sampai lampu jalan atau minimal lampu depan rumah saja enggak dinyalakan.
Itu mungkin pendapat orang yang baru lewat mungkin. Tetapi bagi penduduk sekitar kampung kami tentunya tidak asing lagi dengan hal gelapnya depan rumah mereka berdua.
Sengaja mereka berdua tidak menyalakan lampu depan rumah. Karena mereka sudah merasa bosan untuk menyalakannya.
Kenapa Bosan? Kelak agan akan mengetahui dengan sendirinya nanti. Rumah yang mereka bertiga tinggali sejak beberapa tahun yang lalu.
Ismail bangga menempati rumah dengan desain yang dibuat oleh arsitek dan terletak di dataran tanah yang cukup tinggi. Dibanding tanah sekitar, sehingga jika dilihat dari bawah tanjakan. Akan nampak seperti vila di atas bukit.
Rumah ini mereka beli dari seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil yang pindah karena sesuatu hal. Dengan harga yang murah.
Hari pertama Ismail dan istrinya menempati rumah ini seperti lazimnya orang pindahan. Mereka melakukan selamatan dengan mengundang beberapa tetangga.
Malamnya sepasang suami istri lewatkan dengan tidur yang pulas karena suasana sekitar rumah memang asri dengan hawa dingin menyejukkan dibawa oleh angin dari sekitar lahan sawah.
Beberapa hari lamanya tinggal di sini tak ada kejadian yang aneh, sampai pada suatu pagi Ismail mendapati rokok surya yang baru saja dibeli, hilang secara misterius.
Sebungkus rokok itu baru Ismail hisap satu batang, lainnya masih utuh. Itulah awal mula keanehan yang mereka dapatkan.
Kalau hilangnya bukan di depan mata Ismail sendiri, mungkin Ismail enggak peduli.
“Toh, hanya sebungkus rokok, apa artinya sebungkus rokok yang hilang itu!” ucap Batin Ismail.
Tetapi yang membuat Ismail penasaran adalah bahwa rokok itu hilang di depan matanya sendiri, dimana enggak ada seorang pun yang lewat atau pernah bergabung beberapa waktu sebelumnya di sini.
Ismail anggap hilang begitu saja dan melupakan kejadian itu. Dua hari kemudian ia dikejutkan dengan kemunculan kembali rokoknya yang hilang tepat di tempat semula.
Rokok itu masih utuh, tepat kurang satu batang karena sudah Ismail hisap sebelumnya.
Ia sempat tanya pembantunya, apakah dia yang sengaja berbuat begitu untuk mengerjai atau menakuti Ismail? Nyatanya bukan dan pembantu ini juga merasa takjub bercampur ketakutan.
Lagi-lagi Ismail anggap bahwa kejadian yang dia alami ini hanyalah kebetulan atau matanya Ismail yang salah lihat.
Ismail punya anak kecil, laki-laki yang berusia dua tahun. Waktu mereka berdua baru menempati rumah ini.
Enggak ada lain dan bukan, yang dikerjakan anaknya Ismail ini hanyalah menangis tiap hari.
Bagi Ismail mendengar tangis bayi terus-menerus adalah hal yang biasa.Tetapi kalau tangis itu berkepanjangan dan tak henti-hentinya, tentulah jadi masalah juga bagi mereka sepasang suami istri.
Ismail dan Lestari sengaja memberikan pengasuh khusus pada bayi mereka berdua ini, seorang ibu paruh baya yang cukup rajin dalam mengerjakan sesuatu.
Ibu ini sangat tanggap pada apa yang harus dia kerjakan tanpa mereka menyuruhnya. Dia mulai bekerja setelah pembantu yang pertama pulang tanpa sebab musabab yang jelas.
Kehadiran ibu ini di tengah-tengah mereka adalah hal yang istimewa, dimana mereka menganggap dia sebagai ibunya mereka sendiri.
Di saat-saat mereka mulai dicekam rasa penasaran dan ketakutan dengan kejadian demi kejadian aneh.
Keberadaan seseorang yang lebih tua dari usia mereka adalah anugerah, minimal mereka merasa nyaman. Terutama dari hal-hal yang aneh.
Si kecil pun mulai berkurang tangisannya. Mereka dilalui hari-hari dengan tenang dan menyenangkan sampai pada suatu saat mereka kedatangan orang tua mereka.
Tanpa mereka sangka-sangka, si Ibu pengasuh bayi ini secara tiba-tiba mengajukan berhenti dari pekerjaannya dengan mendadak.
Enggak ada rayuan atau apapun yang dapat mencegah keinginannya untuk berhenti dari kerja di rumah ini.
Mereka pun tidak dapat berbuat apa-apa, selain dari mengikhlaskan kepergian pembantu mereka yang bijak ini.
Walaupun dengan kecamuk pertanyaan yang tidak terpecahkan saat itu. Baru bertahun-tahun kemudian pertanyaan itu terjawab kenapa si Ibu pembantu ini minta berhenti mendadak.
Ternyata mereka telah dikelabui oleh kekuatan jahat yang akan Ismail dan Lestari ceritakan lagi nanti, pada bagian akhir kisah ini.
Akhirnya Ismail mendapatkan lagi pembantu, yang masih muda belia, namanya Santi. Berusia sekitar 20 tahunan.
Terlalu muda untuk ukuran pembantu yang diharapkan dan dapat mengerjakan segala sesuatunya.
Bila pembantu yang lama mereka dapat lebih tenang karena faktor usia yang cukup. Tetapi dengan pembantu mereka yang baru ini, tidak begitu mengharapkan perubahan yang berarti. Yang penting Lestari enggak terlalu repot lagi.
Walaupun masih muda, lama-lama Santi dapat menyesuaikan juga dengan keadaan di rumah mereka. Tetapi itu tidak berlangsung lama. Baru sepuluh hari kerja, Santi sudah meminta berhenti.
“Saya mau berhenti saja, Pak, orang tua saya menyuruh pulang!” ucap Santi.
Demikian kalimat yang diucapkan Santi saat meminta izin berhenti dari mereka, dengan sorot mata yang ketakutan.
“Bukankah Mbak Santi sudah berjanji akan bekerja di tempat kami minimal dua bulan biar kami dapat mencari penggantinya dulu?” tanya Ismail.
Sambil mengingatkan akan janji Santi pada saat mereka terima kerja dulu. Ia pun tidak bisa mengelak, dia surut juga.
Memang mereka dulu membuat kesepakatan dengan Santi, bahwa minimal kerja di rumah mereka selama dua bulan.
Jika mau berhenti harus memberi tahu paling tidak satu bulan sebelumnya agar mereka dapat mencari penggantinya sesegera mungkin.
Hal sepasang suami istri itu dengan melakukan, karena belajar dari pengalaman pertama dengan pembantu mereka yang dulu.
Perihal alasan Santi untuk pulang kampung pun Ismail pikir hanya akal-akalan saja. Ia dan Lestari lega dan menganggap sudah selesai wacana Santi untuk pulang kampung.
Hari-hari berikutnya setelah Santi meminta berhenti itu jadi terasa kaku, dia lebih banyak diam.
Istrinya Ismail sering ke kamar Santi untuk sekedar menghibur ia agar kerasan. Kamarnya pun mereka pasangi TV sendiri agar betah.
Kamar Santi adalah kamar yang dulu ditempati pembantu mereka yang pertama. Letaknya agak jauh dari kamar mereka berdua.
Kamar utama yang ukurannya lebih besar, terletak paling belakang di bagian rumah.
Dari kamar mereka ini, dapat melihat langsung ke pemandangan belakang rumah. Yang banyak ditumbuhi pohon pisang dan bunga-bunga melalui jendela kamar.
Dari slot jendela yang sudah berkarat, pertanda bahwa jendela ini sangat jarang dibuka. Baru setelah mereka tempati, jendela ini difungsikan lagi.
Hari itu hari Minggu, hari libur untuk Ismail setelah seminggu bekerja. Ia bolak-balik dari rumah ke tempat kerja di Kota Gorontalo.
Kebetulan super sibuk sehingga hari libur pun. Terkadang tidak lagi menjadi hari libur. Ismail tetap harus mengerjakan tugas-tugas di luar rumah.
Karena hari Minggu ini enggak ada tugas yang mengharuskan Ismail keluar rumah. Ia bersama istri dan anaknya yang sudah berusia 2 tahun, menyempatkan jalan-jalan ke Mall yang ada di Gorontalo.
Sambil menikmati kebersamaan. Memang mereka jarang mendapatkan suasana begini. Petangnya, mereka kembali ke rumah.
Sampai di rumah pas Magrib. Keadaan rumah sepi, lampu-lampu dalam rumah belum dinyalakan.
“Santi ... Santi ....” Teriak Lestari.
Kalau ketiduran enggak ada sahutan dari dalam rumah. Ismail pun mengetuk-ngetuk rumah.
Tetap enggak ada reaksi, padahal biasanya enggak begini. Biasanya Santi akan langsung membukakan pintu saat mereka baru sampai rumah.
Lama pintu tidak dibukakan, juga enggak ada tanda-tanda kalau Santi masih melek.
Mungkin Santi memang tertidur di kamarnya. Tetapi kamarnya kan dekat dari ruang tamu. Bahkan terletak persis garis lurus dari pintu utama.
Jadi, mustahil jika dengan panggilan segitu kerasnya Santi tetap tidak bangun-bangun juga.
Ismail ngecek pintu, ternyata enggak dikunci, hanya ditutup dengan pengait slot yang sebenarnya bisa dibuka dari luar.
Dengan cara menariknya dari lubang jendela samping pintu. Ismail menjulurkan lengan dan berusaha meraih slot yang menahan pintu agar dapat dibuka.
Alhamdulillah pintu dapat terbuka dengan sendirinya. Mereka pun masuk dengan menahan gondok dan kesal.
Mereka memasuki rumah. Kamar Santi kelihatan gelap, lampunya enggak dinyalakan. Ismail melihat sosok tubuh Santi yang diam kaku, sama sekali enggak terusik dengan kehadiran kami.
“Sakitkah dia?” tanya batin Ismail.
Tetap dengan keadaannya yang diam kaku, pintu yang sedikit menganga dibuka lebar.
“Kenapa kamu diam saja? Dari tadi kami panggil-panggil, kamu kenapa diam saja?” Tidak ada respon!” tanya Lestari.
Santi tetap diam dengan sebagian rambut panjangnya menutupi mukanya. Mukanyw nyaris tidak kelihatan.
Hanya dagunya saja yang kelihatan sangat pucat. Dia bangkit dan terduduk dengan memeluk sebelah kakinya di atas Ranjang.
Anak mereka hanya menangis tiba-tiba. Mungkin karena kesal merasa dicueki.
“Kamu kenapa diam saja? Apa yang kamu lakukan?” tanya Lestari dengan nada kesal.
Santi tetap diam. Namun, tiba-tiba dia menangis dengan suara lantang, lebih menyerupai jeritan.
“Hiks … grawwwww ..., saya enggak mau tahu urusanmu …! saya mau bebas ...” Suara itu terdengar sangat keras melengking, memecah kesunyian petang.
“Saya tidak peduli! Hihi ... Hihi ....” Suara lantang Santi itu berubah menjadi suara tawa.
Ya, suara tertawa yang sangat mengerikan. Bulu kuduk Ismail langsung berdiri, merinding. Lestari diam saja, mungkin schok dengan jawaban yang baru saja ia terima.
Tetapi Ismail menangkap hal yang aneh. Dari pertama kedatangan mereka bertiga dan suara tangis yang tiba-tiba berubah menjadi suara tertawa melengking yang menakutkan.
Ismail kemudian menarik tubuh istrinya untuk menjauhi tubuh Santi. Suara tertawa masih melengking, berpadu dengan tangis anaknya mereka yang makin keras.
“Ma, tunggu di sini sebentar. Saya mau keluar!” ucap Ismail langsung berlari menuruni tanjakan.
Ismail langsung menuju ke tempat pemancingan di sana. Ada satu ruangan yang memang digunakan sebagai tempat istirahat.
Pegawai pemancingan sekaligus tempat biasanya Ismail nongkrong. Ada enam orang bergerombol membentuk lingkaran. Mereka sedang main domino.
Kaget melihat kedatangan Ismail yang mendadak.
“Ada apa ya, Pak?” tanya Pak Yanto yang lagi main domino.
Pak Yanto ini sehari-hari sebagai pegawai pemancingan yang cukup akrab dengan Ismail.
Karena sebelum kami menempati rumah ini pun Ismail sudah mengenalnya. Setelah ia jelaskan hal kejadian yang baru saja mereka alami.
Semua orang yang ada di pemancingan langsung berlari menghambur ke rumah Ismail. Istrinya masih ketakutan.
Tetapi berusaha menenangkan diri, memeluk si kecil. Orang-orang terkejut melihat pemandangan di hadapannya.
Santi dengan rambut yang masih acak-acakan menutupi mukanya. Berputar-putar di atas ranjang, tidak menempel kasur.
Ya, Santi seakan melayang-layang dengan suara tangis dan tawa yang bergantian, memekikkan telinga.
Salah satu orang dari kerumunan langsung berinisiatif memanggil orang pintar, agak jauh dari rumah.
Sementara mereka tercengang dengan kejadian melayang-layangnya Santi, tanpa pikir panjang Ismail dengan Pak Yanto dan Mulis lalu memegang tubuh Santi dan menempelkannya ke ranjang.
Ismail membaca doa-doa dengan suara keras dan Santi kelihatan agak melunak. Dua orang memegangi kaki Santi.
“Saya tidak mau anak ini tinggal di sini ....” Teriakan panjang kembali terucap dari bibir Santi.
Ismail yakin itu bukan suara Santi yang biasanya.
“Siapa kamu ...?” tanya Ismail sambil berteriak tak kalah kencang.
“Saya Kuntilanak ....” Teriak bibir Santi yang sudah berubah putih pucat.
Ismail tercengang bergidik. Kaki dan tangan terasa dingin banget. Ismail lepaskan pegangan pada tubuh Santi, sambil membaca ayat Al-Fatihah.
Dengan tatapan nanar Santi memandang ke arah Ismail dan berucap.
“Haha ..., haha ..., baca aja terus ...!” ucap Santi dengan tertawa.
Ismail terdiam. Istrinya sudah mulai tenang, mungkin sudah menyadari apa yang sudah terjadi di hadapannya.
Dia membaca ayat kursi, kemudian orang-orang juga ikut membaca ayat kursi. Tetapi Santi semakin lantang tertawa.
"Jangan baca ayat kursi dan baca Surat Yasin ....” Ucap Santi.
Lestari pun langsung membaca Surat Yasin. Namun, belum selesai Lestari membaca Surat Yasin. Santi langsung berubah kembali menjadi kuntilanak dan berteriak.
“Jangan begitu bacanya ..., kamu salah! ambil Al-Qur an, bacakan Yasin secara benar ....” Ucap Santi.
Bersamaan dengan itu Ustaz yang dipanggil Mulis datang. Ustaz langsung melakukan Sallat di ruang tamu dan Lestari pun mengambil Al-Qur'an.
Membacanya dengan terburu-buru karena mulut Santi tetap meracau tidak karuan.
Ustaz melakukan salat berulang-ulang hingga akhirnya Santi bisa kembali sadar.
Malam itu mereka tidak berani tidur. Sepanjang malam Ismail jagain pintu kamar karena Lestari ketakutan.
Paginya Pak Riyon, nama Ustaz itu, datang dan menjelaskan pada mereka bahwa si Santi harus dipulangkan hari itu juga karena ternyata ia termasuk gadis Nou Monu.
Konon gadis Nou Monu akan selalu dirasuki setan atau arwah penasaran.Terutama jika tinggal di tempat angker.
Sebenarnya Ismail dan Lestari sudah tidak kuat berlama-lama tinggal di rumah ini. Apalagi kondisi si kecil yang selalu nangis terus tanpa sebab yang jelas.
Tetapi apa mau dikata, Ismail bukan orang kaya yang bisa pindah-pindah rumah kapan pun dia mau.
Mereka tetap bertahan. Kejadian demi kejadian kecil terus mereka alami, termasuk sumur pompa yang selalu mati.
Sudah berpuluh kali didatangkan ahli sumur, tetap saja begitu dan hanya bisa mengalir normal setelah mereka sediakan sajen nasi kuning dan telur atas, saran sesorang yang kami anggap mengerti dengan hal-hal yang gaib.
__ADS_1
Hari berganti hari, sepasang suami istri seolah melupakan kengerian yang sering mereka bertiga alami.
Karena saking terbiasanya mereka bertiga menjadi kebal akan gangguan para penghuni rumah(hantu) dan sadar bahwa memang ada hantu di rumah mereka.
mereka tidak heran bila orang lain atau tamu datang berkunjung ke rumah mereka. Meskipun siang hari, tiba-tiba lari terbirit.
Karena melihat sesuatu hal yang gaib. Kebanyakan sih bentuk kuntilanak dan pocong yang selalu berdiri di atas tangga untuk ke lantai atas.
Pernah suatu ketika Ismail menonton siaran TV di malam hari. Padahal kondisinya sedang mengantuk.
Tetapi Ismail tidak mau tidur karena takut mimpi buruk. Memang posisi TV di ruang tengah, sedangkan anak dan istrinya tidur di kamar.
Jadi, Ismail seorang diri menonton TV. Mungkin saking lelahnya dia tertidur dan tidak ingat apa-apa.
Ismail terbangun dan di hadapannya sudah berdiri pucat sosok pocong yang tergantung di bawah tangga. Persis di depannya yang sedang dia tonton di TV.
Pada bulan kesebelas Ismail dan Lestari menempati rumah itu, tepatnya seminggu pada bulan ramadan.
Ismail kemudian browsing di depan monitor sambil menunggu waktu Sahur tiba. Seperti ada kekuatan yang menarik lehernya untuk membalikkan tubuh menengok ke belakang.
Ismail pun terperanjat, hampir tidak percaya dengan apa yang dilihat. Lemari cermin di depan kamarnya bergerak-gerak membentuk gelombang.
Seolah ada sesuatu yang hendak keluar dari bawah lantai lemari cermin. Dengan memberanikan diri, ia datangi lemari cermin yang masih bergerak-gerak itu.
Lalu Ismail sambil menepuk dengan kedua telapak tangan dan terhenti. Siangnya Ismail langsung cerita ke tetangga.
Dan atas saran tetangganya didatangkanlah seorang Ustaz yang biasa dipanggil Pak Madun. Pak Madun salat di dekat lemari cermin yang semalam bergerak-gerak sendiri.
Dengan khusyuk Pak Madun duduk bersila seolah menerawang sesuatu. Terungakaplah suatu rahasia yang mungkin selama ini ditutup rapat oleh penjual tanah tempat rumah ini berdiri.
Bahwa di bawah rumah ini adalah kuburan. Ada tiga mayat yang dikubur di sini, tepat di depan kamar utama kamar Ismail dan istrinya.
Akhirnya hari itu juga lemari cermin digali lantainya dan ternyata memang masih ada jenazah-jenazah hancur yang sudah menjadi tanah dan mereka pindahkan ke pemakaman umum kampung.
Persis selayaknya menguburkan jenazah. Di akhir kisah ini nanti, terkuak lagi kebenaran cerita bahwa ternyata tidak hanya 3 jenazah yang dikubur di tanah sebelum dibangunnya rumah ini.
Melainkan ada sepuluh jenazah. Mungkin Anda bertanya-tanya, kenapa dulunya sudah tahu ada kuburannya kok dibikin rumah?
Ternyata orang yang membangun rumah ini, yaitu pemilik pertama, tidak dikasih tahu penjual tanah bahwa tanah tersebut bekas kuburan.
Akibatnya kuburan-kuburan itu jadi terpendam tepat di bawah pondasi rumah, dalam kamar dan di depan kamar.
Jika Anda mendengar cerita ada tukang bentor (becak motor) yang membawa penumpang lalu penumpang itu turun di depan rumah Ismail.
Jangan heran karena seringkali itu adalah arwah penasaran yang berulangkali mengerjai para tukang bentor tersebut. Bahkan ada yang sampai pingsan di pinggir jalan.
Sebenarnya jauh sebelum banyak kejadian para tukang bentor yang memberitahu bahwa rumah yang Ismail tempati itu berhantu, tetapi waktu itu Ismail tidak percaya.
Proses pemindahan jasad-jasad yang sudah menjadi tanah itu dilakukan oleh beberapa orang. Hadir pula Pak Dusun yang akhirnya mengiyakan dan tak bisa lagi menutupi misteri sebenarnya akan rumah berhantu ini.
Selesai pemindahan kuburan malamnya mereka melakukan tahlilan dengan mengundang hampir seluruh warga di lingkungan dusun.
Tahlil dilakukan selama tiga malam, lega sudah hatinya Ismail dan Lestari. Seolah lepas dari batu besar yang menghimpit dada mereka.
Ismail berharap bahwa teror-teror hantu yang melingkari mereka selama ini akan berhenti.
Setelah mereka perlakukan mereka seperti saudara mereka sendiri dengan prosesi selayaknya pemindahan kuburan.
Selama beberapa waktu lamanya tak lagi terjadi hal-hal di luar nalar. Mertua Ismail sengaja datang dari Jogyakarta untuk menemani mereka.
Ismail berpikir bahwa keadaan sudah kondusif dan terlepas dari pengaruh setan.
Tetapi hari kelima mertuanya Ismail, tiba-tiba ibu separuh baya pengasuh bayi mereka memohon untuk berhenti dari kerja.
Serasa sesak dada Ismail dan Lestari saat si ibu paruh baya mengutarakan niatnya.
Kemudian Ismail dan Lestari diam saja, dan melihat wajah si Ibu. Nampak pucat dengan mata karena seperti habis menangis.
“Ibu, habis menangis?” tanya Ismail dengan penasaran.
“T-tidak, Pak. Saya memang sudah tidak betah!” Si Ibu mengangguk-angguk pelan.
“Saya tidak enak sama mertua, Bapak!” kata Ibu paruh baya lagi.
Akhirnya mereka pun merelakan si ibu paruh baya itu berhenti kerja. Otomatis si kecil lebih sering bersama dengan Ibu mertuanya.
Karena istrinya siangnya harus kuliah di Kampus swasta yang berada di Gorontalo. Memang istri Ismail masih usia 21 tahun ketika itu.
Ismail tidak terlalu mempersoalkan dengan berhentinya Ibu paruh baya. Namun, yang menjadi masalah adalah ibu mertuanya tidak bisa lama-lama menemani mereka.
Hanya satu bulan saja beliau pulang. Mau tidak mau Ismail dalam kebingungan. Ia kemudian datangi lagi Ibu paruh baya untuk bekerja di rumah mereka kembali.
Tetapi menolak secara halus. Ismail desak tetap tidak mau, si ibu malah cerita bahwa sebenarnya ia berhenti karena pernah dipelototi oleh ibu mertuanya.
Dan diusir mentah-mentah, kejadiannya di dalam kamar. Ismail telepon mertuanya, beliau bersumpah atas nama Tuhan bahwa tak pernah satu kalipun ke kamar ibu itu, apalagi sambil melotot.
Ismail merasa tidak enak, mulai terasa ada keganjilan yang bikin merinding. Tetapi Ismail pendam begitu saja karena takut istri semakin panik.
Beberapa hari kemudian mereka mendapatkan pembantu baru. Namun, dia tidak bisa nginap di rumah mereka.
Pembantu baru mereka ini bernama Rosita, asli Gorontalo dan ia tinggal tidak jauh dari rumah mereka mungkin sekitar dua kilo.
Dia memiliki seorang anak usia 6 tahun. Tetapi sanggup bersih-bersih rumah seadanya dan tugas utama mengasuh anak Ismail dan Lestari.
Daripada kosong tanpa pembantu, mereka terima saja. Pada hari kedua dia bekerja, si anak ikut dibawa karena neneknya lagi ada keperluan.
Jam delapan pagi Rosita datang bersama anaknya yang masih kecil itu. Ia langsung bersih-bersih rumah sedangkan si anak bermain sendiri di bawah tangga.
Belum ada setengah jam Rosita bekerja, anaknya menjerit dan memaksa untuk pulang.
“Pak, saya pulang dulu, nanti saya datang lagi.” Pamit Rosita.
Ismail hanya mengiyakan, tidak bisa memaksa mereka untuk tetap tinggal. Lama Rosita pergi mengantar anaknya, ditunggu-tunggu tidak datang juga.
Ketika Ismail bersama Lestari menjemput ke rumahnya, Rosita meminta untuk berhenti bekerja, lebih tepatnya membatalkan kerja pada mereka.
“Apa yang telah terjadi?” tanya Ismail setelah mendesak.
Rosita mengaku bahwa anaknya tadi cerita, melihat pocong yang loncat-loncat di atas tangga rumah Ismail.
Kondisi anak Rosita bahkan masih panas. Hari-hari selanjutnya Ismail dan Lestari lalui hanya bertiga, yaitu Ismail, Lestari, dan anak kesayangan mereka bernama Supriadi.
Mereka menjalani hari-hari seperti biasa, berusaha melupakan segala yang terjadi biar pun pada kenyataannya tetap saja tegang.
Hampir tiap malam bulu kuduk mereka meremang-remang, ditambah hawa lembab yang dibawa oleh angin dari sawah.
Semakin membuat mereka larut dalam ketakutan. Tetapi sekali lagi, Ismail harus dapat menguatkan diri, apalagi di depan istrinya.
Karena kalau dia sudah menunjukkan rasa takut maka istrinya tentu lebih takut lagi dan merasa tidak ada yang melindungi.
Apabila petang menjelang, pasti akan terdengar suara orang mengaji dari MP3 yang sengaja Ismail setel agak kencang.
Lumayan, sedikit menurunkan tensi ketegangan mereka. Dari teman-teman di kantor tempat dia bekerja, sebuah institusi negeri, didatangkan 3 orang paranormal.
Tetapi tetap tidak ada perubahan yang berarti. Suatu hari, anak mereka mengalami panas demam. Obat dari dokter sudah diminumkan.
Tetapi suhu badan tetap naik turun tidak stabil. Ismail pusing memikirkannya. Hari itu mereka bergantian mengompres si kecil dengan air hangat.
Menjaga agar tidak sampai terjadi step. Mereka bikin semacam jadwal piket. Satu jam Ismail yang ngompres, satu jam lagi gantian istrinya. Begitu seterusnya.
“Pa! Suhu badan Supardi tinggi lagi! Aku jadi takut, Pa!” ucap Lestari.
Kemudian segeralah Ismail bangun dari tidurnya. Ketakutan yang menyenangkan dalam hidup adalah manakala kita sudah bisa menikmati rasa takut itu.
Menikmati karena keterpaksaan maupun sengaja pasrah pada bahaya sebab memang tidak ada pilihan lain.
Meski rasa takut itu sering menyerang sedikit keberanian dalam diri kita semua. Tetapi kembali lagi kepasrahan akan situasi yang sangat sulitlah yang membuat bahaya tak lagi terpikirkan.
Rumah ini bagaikan penjara yang nyata bagi Ismail bersama istri dan anaknya.
Adanya tiga kuburan di depan kamar utama mereka saja sudah cukup mengintimidasi nyali istrinya.
Tetapi toh tetap Ismail kuatkan dengan segala cerita indah dan kekuasaan Tuhan yang tidak akan mungkin bisa dikalahkan oleh setan.
Meski sebenarnya menolak, banyak keganjilan yang sengaja Ismail sembunyikan dari istrinya.
Semata demi mempertahankan keberanian dirinya. Meski Ismail juga harus membohongi dirinya sendiri.
Ruangan paling aman dalam rumah mereka adalah kamar utama. Rasanya begitu nyaman bila mereka duduk di ruang tamu ataupun ruang tengah.
Kecuali ketika ada orang lain atau tamu yang kebetulan singgah ke rumah mereka. Saat ini, dua kamar dengan ukuran besar-besar praktis kosong.
Kamar depan sedianya mereka khususkan buat kamar tamu dan kamar tengah untuk pembantu.
Tetapi sejak mereka tak memiliki pembantu lagi, kamar itu mereka biarkan kosong.
Sedangkan kamar tamu lebih mirip sebagai gudang dengan berbagai macam barang yang ditaruh di sana.
Keduanya sama-sama gelap. Ismail malas mencari pembantu lagi. Karena malas melihat intrik yang akan terjadi dengan mereka.
Praktis dua kamar kosong ini semakin tidak terjamah oleh mereka. Dua kamar ini sebenarnya bersebelahan.
Tetapi terpisah oleh kamar mandi. Sebuah kamar mandi yang agak luas menurut Ismail. Karena dalam kurun waktu yang tidak begitu lama.
Satu tahun semenjak Ismail bersama Lestari dan anaknya rehab keseluruhan rumah, ubinnya sudah runtuh tanpa sebab apa-apa.
Lebih luas lagi, ubin yang terbuat dari keramik pucat itu menyembul terangkat. Lambat laun keramik ini terkelupas dengan sendirinya.
Keadaan sudah sangat senyap ketika Ismail mulai berkemas. Pekerjaan memaksanya untuk berangkat malam-malam.
Ismail kemudian menengok istri dan anaknya, sudah tertidur hampir dua jam yang lalu. Ia tak tega membangunkan mereka. Ia kaget ketika terdengar suara.
“Byuuurr … byurr ....” Suara air yang jatuh.
Seperti seseorang sedang mandi, berasal dari arah kamar mandi tamu. Ismail ke kamar mandi depan.
“Tetapi tidak ada siapa-siapa! Sudah jelas!” Ucap Batin Ismail bergumam sendiri.
Sebenarnya Ismail bingung banget dengan kondisi kamar mandi tamu yang selalu gelap dan ia bosan mengganti lampunya.
“Tiap minggu maunya diganti terus lampu itu, atau memang tidak mau terang,” ucap dalwm batin Ismail.
Lagi-lagi Ismail harus melewati kondisi gelap di teras rumah. Seperti halnya kamar mandi, lampu di teras ini juga tak pernah berumur lama.
Dia hanya mampu bertahan seminggu atau paling lama dua minggu, sampai Ismail bosan menggantinya terus.
Hawa dingin berdesir mengusap lehernya. Ketika keluarkan motor melewati pagar rumahnya.
Sunyi sekali terasa lampu teras rumah sudah lama mati membuat gelap yang ada semakin pekat. Diiringi desau angin, Ismail berangkat.
Ismail pun kemudian memacu motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Tetapi seolah motornya terasa berat.
Setengah perjalanan menuju Telaga, melewati lampu merah Mongolato. Jalanan terasa sepi, hanya tampak aspal yang mengkilap bermandi gerimis.
Satu dua angkot yang nampak kelelahan menembus malam, ketika tiba-tiba di depannya Ismail tiba-tiba muncullah seekor kucing besar menyebrang jalan.
Ismail tak lagi bisa menghindarinya, tak bisa lagi mengendalikan motornya untuk tidak menggilasnya.
“Braakkkkk ....” Tabrakan seekor kucing.
Terasa sekali tubuh kucing yang besar itu tergilas ban motornya Ismail. Ismail langsung injak rem. Ismail turun dari motor.
Beberapa tukang bentor yang mangkal di seberang menghampirinya. Ismail terus mencari kucing itu, kucing yang Ismail tabrak barusan.
“Kucing itu tidak ada, Pak! Tadi lihatkan kucing besar menyebrang jalan?” tanya Ismail pada salah satu tukang bentor di dekatnya.
“Ya Pak, ada tadi!” jawab tukang bentor.
“Terasa banget tadi kena ban motor saya! Tetapi kok tidak ada bangkainya, ya?” tanya Ismail.
“Gimana ya, Pak? tanya Ismail lagi,
Tetapi tukang-tukang bentor itu juga tidak bisa menjelaskannya.
Ismail melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya membuang uang kertas lima ribuan ke tengah jalan, dengan maksud sebagai tolak bala atas kejadian tadi.
Baru beberapa saat motornya bergerak, di depan sebuah mobil sedan yang berhenti dengan beberapa penumpang menyetop Ismail sambil bertanya.
“Pak, tadi nabrak kucing juga?” tanya sopir sedan itu.
“Kok Bapak tahu?” tanya Ismail lagi.
“Iya, Pak! Karena kami juga menabrak kucing besar!” jawab sopir itu sambil memperhatikan kepada Ismail.
“Tadi sudah saya cari, Pak. Tetapi tidak ada.” Ucap Ismail.
“Tidak ada?” tanya sopir sedan itu.
“Ya, sama sekali tidak ada!” jawab Ismail lagi.
Ismail tidak mengerti dengan semua yang dia alami ini. Apa kesalahan Ismail dan keluarganya sampai-sampai harus terjebak dalam kemelut yang tak ada ujung dan pangkalnya? Terjebak di rumah hantu.
Kata-kata dari Ustaz beberapa waktu yang lalu membuat Ismail bergidik. Segitunya parahkah rumah itu, sampai-sampai penghuni gaibnya ikut campur dalam urusan ia di luar rumah.
Pantas saja orang-orang sebelum Ismail tidak bertahan lama tinggal di sini, paling lama dari mereka hanya satu setengah tahun.
“Saya harus menyalahkan siapa? Penjual rumah yang telah saya beli?” tanya batin Ismail.
Menurut Ismail dia tidak bersalah karena dia juga merupakan korban dari ketidaktahuan. Kondisinya ketika meninggalkan rumah itu juga sudah cukup menggambarkan.
Betapa menderitanya selama hidup dan tinggal di rumah itu, meski ditutup-tutupi. Dan Ismail memang minat dengan rumah itu.
Jujur saja, Ismail sangat suka dengan model rumah itu. Suka dengan bentuknya, suka dengan keasrian dan lingkungan pemandangan alamnya.
Memang pertama kali Ismail datang bersama perantara yang menawarkan rumah itu, saat melihat keadaan rumah waktu itu ketika malam.
Ismail sempat merinding, entah oleh sebab apa. Tetapi Ismail buang jauh-jauh perasaan itu. Akhirnya rumah itu dibeli Ismail dengan harga yang sangat murah bila dibanding dengan apa yang dia dapatkan.
Harusnya ini jadi lampu merah atau tanda tanya buat Ismail untuk tidak melanjutkan pembelian, setidaknya curiga.
Karena rasanya tidak wajar. Selain mendapatkan rumah ini, dia juga mendapatkan seluruh isinya. Si pemilik pergi hanya dengan membawa pakaiannya saja.
Seandainya Ismail tidak membawa barang apapun dari tempat tinggalnya yang lama, peninggalan dari si penjual rumah itu saja sudah sangat cukup untuk memenuhi sekedar keperluan rumah tangga kecil.
Televisi, Kulkas, tiga set tempat tidur lengkap dengan bantal-bantalnya, dua Lemari, tiga set meja kayu jati antik, dan lain-lain.
__ADS_1
Ismail tidak sempat berpikir bahwa barang-barang ini juga telah menjadi media bagi para setan dalam melaksanakan pestanya di kegelapan sepanjang malam, di kelak kemudian hari.
Ada yang Ismail suka dari barang-barang itu, terutama satu set meja di ruang tamu. Memiliki bentuk yang dapat menarik orang yang melihatnya.
Dia seakan mengandung magnet-magnet untuk seseorang memilikinya. Bentuknya antik, mirip dengan kursi-kursi tua pada bangsawan-bangsawan kuno.
Dengan ornamen ukiran pada lengan dan badan kursi itu. Di kursi inilah kemudian sering terlihat seorang nenek kebaya merah dan sanggul besar di kepalanya sedang duduk termangu seolah ada seseorang yang ia tunggu.
Semilir angin dari arah pemaparan sawah menyejukkan membawa nyanyian alam. Derunya terasa dingin lembab menyentuh kulit tubuhnya Ismail.
Sangat melenakan, membuat lamunan terasa nikmat di siang itu. Fragmen-fragmen dari perjalanan Ismail ke sini, silih berganti berebut tempat di kepalanya.
Membuat ia untuk pejamkan matanya dan tertidur walaupun hanya sekejap.
Galaunya Ismail semakin bertumpuk dengan bertubi-tubinya masalah demi masalah yang dia hadapi.
Entah ada hubungannya dengan rumah itu atau hanya kebetulan saja, yang jelas Ismail merasakan kemunduran semenjak Ismail tinggal di rumah itu.
Ismail tidak bisa menyalahkan orang yang menjual rumah kepadanya, karena dia memang bertindak demi keselamatannya sendiri, dan tentunya wajar bila dia menutupi semuanya.
Kembali pikiran Ismail melayang ke mana-mana, sebelum akhirnya Ismail mencium bau wangi yang menyergap kesadaranya.
Rasa kantuk yang muncul secara tiba-tiba, telah membuat lunglai persendiannya.
Ismail paksakan menuju kamarnya, lalu dia baringkan tubuh di kasur dan istirahat.
Seketika kelambu tempat tidur Ismail berubah menjadi putih dan bergerak-gerak lalu menutup dengan sendirinya.
Nampak sebuah wajah cantik putih dengan rambut panjang putih berkilauan. Lengannya terbuka di antara kain berwarna perak ditubuhnya.
Dia mendekatkan telapak tangannya dan meraih dibahunya Ismail. Terlihat ikat kepala di atas keningnya, lebih mirip mahkota berwarna perak.
kuku-kukunya panjang dan juga berwarna putih perak menyentuh kulit Ismail.
Ismail seakan terlena dan terbuai, atau memang ia sudah dalam pengaruh rasa kantuk yang berlebihan.
Perempuan di depan Ismail mendekap lalu menindih tubuh Ismail. Tetapi kemudian kesadaran Ismail kembali pulih.
Entah dari mana tiba-tiba muncul kekuatan yang mengarahkan Ismail untuk mendorong tubuh perempuan itu menjauh darinya. Wajah perempuan itu berubah marah. Seolah wajah itu tersayat dari dalam dagingnya. Nampak kulit wajahnya retak-retak oleh semacam luka.
Dari luka-lukanya mengeluarkan darah yang membasahi hampir seluruh wajahnya. Ismail pun kemudian pejamkan mata dan berharap untuk segera sadar bila ini hanya mimpi.
Tetapi tetap tidak bisa, pemandangan itu tetap terpampang di depannya. Bahkan leher ini seperti kaku tidak bisa bergerak.
Ismail teriak-teriak dengan melafalkan ayat-ayat suci yang biasa dia bacakan. Ketika kepulangan Ibu mertuanya ke Jogyakarta cukup membuat istrinya agak terguncang.
Baru saja sedikit lega bisa menikmati hidup dalam kenyamanan bersama Ibu, kini harus kehilangan lagi, meski hanya untuk sementara saja.
Tetapi Ismail tahu, hal itu sangat berpengaruh pada ketegaran istrinya. Tak terasa dua tahun lebih lamanya, anak dari Ismail dan Lestari tumbuh menjadi anak yang sehat dengan kulit putih dan sorot mata tajam.
Supriadi memiliki daya penglihatan lebih. Ia sering mengerti apa yang sedang terjadi di hadapannya.
Mungkin karena terbiasa melihat kerumunan hantu, si kecil jagoan menjadi peka pada barang-barang yang kasat mata.
Tempo hari Lestari sempat bercerita, dia bersama anak mereka, menyetrika pakaian di kamar pembantu.
Pada saat Lestari asyik menyetrika, anaknya mereka jalan-jalan sendiri keluar masuk kamar, kadang jalan, kadang dia berlari-lari kecil.
Mungkin sudah capek, anak mereka masuk lagi menemani ibunya.
“Capek ya, Ma ...?” tanya si kecil.
“Iya, Nak!” Lestari menjawab dengan ramah.
Lalu anak Ismail nyeletuk dengan berkata
“Ma ... Mama ... kenapa enggak minta bantu Mbak itu saja?” tanya Supriadi.
Begitu celoteh si kecil dengan suara cadelnya, sambil tangannya menggelayut ke tubuh ibunya.
“Gimana?” tanya Lestari kurang paham.
Supriadi lalu menunjuk ke tembok kamar sambil berkata,
“Itu Ma ... kenapa enggak minta gosokin Mbak itu saja?” tanya Supriadi.
Lestari memandang ke arah depan tempat yang ditunjuk oleh anak mereka. Bulu kuduknya semakin merinding. Tetapi ia tetap tabah.
Meskipun untuk hal-hal yang kasat mata ini istri Ismail kurang peka dan kadang tidak bisa merasakan kehadiran makhluk halus.
Tetapi dia termasuk pemberani untuk ukuran keberanian seorang perempuan. Kadang-kadang kalau suaminya sedang dihinggapi rasa takut yang sangat.
Justru Lestari lah yang seakan lebih menjadi berani dari suaminya itu. Ia bisa menjadi seorang hero bila teman di sampingnya berubah menjadi lemah.
Beberapa anak tetangga teman bermain anak mereka sering datang ke rumah. Usia mereka sebaya dengan usia Supriadi anaknya Ismail.
Memang menginjak usia hampir empat tahunan ini si kecil sengaja mereka ajarkan untuk bersosialisasi dengan orang lain, minimal dengan teman sebayanya.
Tetapi sayangnya setiap kali teman-teman bermain ke rumah, salah satu dari mereka pasti ada yang ketakutan dan cepat-cepat menjauh pergi.
Jawaban anak kecil itu selalu dengan menirukan gerakan loncat kecil seperti gerakan vampir dalam film China. Ach, tidak. Lebih mirip gerakan pocong yang meloncat-loncat kecil.
Akhirnya Lestari lah yang lebih sering mengantar bermain anaknya ke rumah tetangga, daripada mendapati hal kejadian yang aneh.
Suatu hari, Ismail belikan dia mainan kolam renang dari karet seperti yang banyak dijual di pinggir jalan.
Ismail bahagia sekali melihat anaknya gembira. Paling tidak, ibunya tidak lebih tegang lagi.
Pernah di suatu kesempatan anak mereka berenang sendiri di dalam kolam renang plastik itu.
Tak lama anak mereka bermain air, tiba-tiba anak mereka kelihatan sangat pucat dan suhu badannnya panas tinggi, bahkan seperti membiru.
Tiga hari anak mereka diopname di Rumah Sakit yang terkenal di Gorontalo. Hampir setiap waktu anak mereka berteriak meminta pulang, sementara obat-obat dari dokter yang diberikan tak kunjung menurunkan panas tubuhnya.
Anak mereka selalu meminta dibawa ke luar ruangan sambil memanggil-manggil namanya sendiri.
“Supriadi … Supriadi …!” Begitu selalu yang diucapkan anak mereka.
Pada hari kedua, seorang bocah pengunjung rumah sakit yang kebetulan lewat bersama ibunya di depan mereka, ketakutan dan lalu berlindung pada ibunya.
Mukanya langsung disembunyikan ke baju ibunya. Bocah ini ternyata indigo yang bisa melihat secara langsung pemandangan kasat mata di hadapannya.
“Takut, Bu. Nenek itu ... Bu …!” ucap si bocah itu kepada Ibunya.
Begitu kata si bocah. Ibunya lalu menjelaskan pada mereka perihal anaknya itu. Rupanya si bocah melihat seorang nenek-nenek dengan wajah yang sangat buruk terus memegangi tangan anak mereka.
Ismail yang sedang berusaha menenangkan anak mereka yang rewel itupun langsung membaca doa-doa. Ibu yang lain membacakan ayat-ayat suci ke dalam gelas, lalu air itu diminumkan pada anak mereka.
Anaknya Ismail sedikit tenang, tetapi selang satu jam kemudian Supriadi sangat rewel lagi sambil terus memanggil-manggil namanya sendiri.
Suaranya bergema, terdengar agak lain dengan suara anak Ismail dalam kesehariannya.
Secara logika, tidak mungkin seseorang akan memanggil-manggil namanya sendiri bila dalam kondisi yang sadar.
Ismail seperti tersadar bahwa adanya anaknya memanggil-manggil namanya sendiri adalah bukan kemauan anaknya sendiri.
Seorang pengunjung lain memanggilkan tetangganya yang biasa menangani anak yang ketempelan setan, jurig, atau hantu.
Dengan bantuan Pak Rano inilah, akhirnya anak mereka bisa sehat lagi dan panasnya normal kembali.
“Anak Bapak memang ada yang mengikuti!” Begitu penjelasan Pak Rano.
Selanjutnya Pak Rano membacakan doa-doa dengan tanpa suara, hanya mulutnya saja yang nampak komat-kamit.
Sampai menjelang Isa, Pak Rano bersama mereka. Hilangnya Pak Andi secara di luar nalar membuat Ismail penasaran.
Beberapa hari kemudian Ismail sengaja mendatangi lagi, mengurutkan dari awal sejak perjalanan dari rumah kami ke tempat Pak Andi.
Rumah Pak Andi tetap tidak dapat Ismail temukan. Tidak puas dengan pencarian di rute yang sudah ada. Ismail menyusuri lagi jalanan di depan mata. Tetapi tetap nihil.
Kemudian pencarian fakta ini Ismail lanjutkan dengan mendatangi rumah sakit tempat dulu pertama kali mereka berkonsultasi dengan Pak Andi.
“Alamatnya, ya. kami tidak menyimpannya selain alamat itu, Pak!” Kata Dokter Ridwan menjelaskan pada Ismail.
“Yang kami datangi itu tidak ada rumah lain selain rumah tua itu, Pak!” ucap Ismail.
“Menurut saya juga tidak jelas keberadaan, Pak Andi!” kembali Dokter Ridwan.
“Maksudnya bagaimana, Pak?” tanya Ismail.
“Pak Andi datang sendiri ke sini, melamar sendiri untuk bekerja di rumah sakit ini.” Ucap Dokter Ridwan.
“Oh ...,” ucap Ismail membentuk bulatan di mulut.
“Pak Andi, juga berhenti dari rumah sakit ini dengan tanpa penjelasan apa-apa!” ucap Pak Dokter Ridwan.
Kemudian Ismail terdiam mendengarkan kata-kata dokter, tak mampu mencerna lebih dalam tentang apa yang sedang mereka bicarakan.
Ismail kemudian pulang beberapa waktu kemudian. Penjelasan dari Dokter Ridwan cukup membuatnya merasa tidak perlu mencari dan melacak Pak Andi lagi.
Pak Andi berhenti dengan tanpa mengajukan berhenti. Tetapi menghilang begitu saja tanpa pamitan.
Sepanjang perjalanan pulang, terngiang terus kata-kata Dokter Ridwan. Sebuah tanda tanya yang masih belum ada penjelasan sampai sekarang.
Tetapi dua kemungkinan yang bisa Ismail simpulkan dari kejadian itu mengenai Pak Andi.
Pak Andi itu sebenarnya bukan manusia. Tetapi makhluk gaib yang mungkin saja tingkatannya di dunia pergaiban sudah tinggi, atau mungkin Pak Andi adalah makhluk gaib yang memiliki derajat tinggi.
Sehingga bisa menjelma dan memanifestasikan diri secara langsung, menampakkan dirinya di dunia nyata.
Kemungkinan yang kedua, Pak Andi itu memang benar-benar ada dan beliau adalah manusia biasa. Tetapi orangnya mungkin sembrono dengan pergi begitu saja. Saat bosan dengan pekerjaan, sedangkan yang mereka temui di malam itu bukan Pak Andi yang sebenarnya.
Lalu siapakah yang mereka temuai pada malam itu? Mungkin saja itu adalah jin yang memiliki misi tersendiri sehingga merasa berkepentingan dengan menampakkan dirinya kepada mereka.
Sudah suntuk dengan rutinitas kerja yang sudah memakan separuh waktu Ismail setiap harinya, ditambah dengan berbagai insting. Ismail tak mau lagi semakin memberati beban otaknya. Yang penting dia bersama anak dan istrinya juga selamat.
Supriadi sudah semakin bisa dikendalikan emosinya. Jika selama ini dia lebih sering mengusili teman-temannya, Supriadi yang sekarang sudah mudah untuk dikendalikan dan mau mengerti keinginan dari orang-orang yang menyayanginya.
Bulan berganti, tahun pun ikut berganti. Selamat pagi alam, selamat pagi kehidupan. Pagi yang jernih, Pagi yang suci. Matahari bersinar menyapu wajah sebuah Desa Lupoyo.
Udara segar yang dibawa angin pemantar sawah membuat ketegangan Ismail sedikit mengendur.
Di sebuah pondokan beratap seng sederhana, duduk empat orang dengan pakaian seadanya.
Salah satu di antara mereka mengenakan sarung, sambil terus menghisap rokok Surya di tangannya.
Hari ini hari libur Ismail bisa bebaskan sedikit beban dari rutinitas kerjanya. Setelah sekian lamanya waktu Ismail banyak tersita oleh kegalauan dengan menurunnya penghasilan, semakin lama semakin drastis.
Pak Yanto memberitahu Ismail, Pak Madun sedang di pondokan. Pondokan pemancingan Muslimin.
Itulah yang menyeret langkah Ismail ke pondokan sepagi ini. Laki-laki berkain sarung itu, namanya Madun.
Ismail lebih sering memanggilnya dengan panggilan Pak Madun. Bukan karena usianya yang sudah tua. Tetapi karena dia memiliki kelebihan yang jarang dimiliki orang lain.
Melihatnya kehadirannya ini, Ismail jadi teringat betapa dulu Pak Madun cukup tangkas dalam mengobati Santi, bekas pembantu Ismail yang saat itu kesurupan.
Kata Pak Yanto, Pak Madun baru beberapa hari ini kembali ke desa Lupoyo, setelah lama dia pulang ke Jawa Timur.
“Bagaimana kondisi rumah Bapak sekarang?” tanya Pak Madun, sambil matanya menatap Ismail.
Yang lain terdiam, asik menikmati hidangan singkong goreng dari Pak Yanto. Ismail tidak langsung menjawab. Ismail tergoda untuk menjajal sejauh mana Pak Madun menebak suatu keadaan.
“Kelihatannya bagaimana, Pak?” tanya Ismail dengan penasaran.
“Banyak lagi sekarang penghuninya, ya?” tanya Pak Madun, balik bertanya.
Akhirnya Ismail ceritakan kejadian-kejadian penting setelah kepergian Pak Madun.
Pak Madun antusias mendengarkan setiap kata demi kata yang Ismail ucapkan.
Kadang kepalanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Apa yang telah dikatakan Pak Madun sangat membuat Ismail schok dan menjadi beban pikirannya selama berhari-hari.
Selama ini tak ada keganjilan mengenai apapun yang ada hubungannya dengan apa yang telah dikatakan oleh Pak Madun.
Ketidakpercayaan Ismail ini wajar karena dia juga tidak pernah mendengar ada pernikahan yang hanya diakui secara sepihak.
Makhluk halus pula yang mengklaimnya, entah benar entah tidak ucapan Pak Madun ini.
Akhirnya Pak Madun mengatakan bahwa apa yang telah dialami tidaklah menjadi gangguan apa-apa, karena bukan keinginan dari manusianya untuk mencintai.
Ismail tidak percaya dan tak akan pernah memercayai hal itu. Ismail tak bisa mengatakan hal yang telah membuat dia murung itu pada istrinya.
Tak ada gunanya membicarakan omong kosong yang telah dikatakan oleh Pak Madun. Biarlah itu Ismail hadapi dan selesaikan sendiri omong kosong Pak Madun itu.
Namun, Ismail tetap berusaha untuk menemui Pak Madun kembali ke pondok itu dan mengundangnya kembali ke rumah.
Untuk mengusir atau menerawang kembali apa yang telah terjadi, walau sudah digali kuburan-kuburan yang ada di rumahnya itu.
Pada hari Minggu pagi Ismail mengajak Pak Madun untuk datang ke rumahnya.
Pak Madun datang ke rumahnya Ismail. Pak Madun seperti biasanya segera mengambil air wudu untuk salat biar diberikan kemudahan dalam memecahkan sebuah misteri yang telah terjadi.
Pak Madun mendapatkan petunjuk ada pocong yang sering dilihat adalah anak-anak yang sering bermain dengan Supriadi dan mereka dapat melihat keberadaan pocong di anak tangga itu.
Kemudian anak tangga itu di bongkar dan ternyata dalam anak tangga itu ada tulang belulang yang sudah hancur-hancur.
Setelah itu mereka menguburkan tulang-tulang itu secara layak, Pak Madun menggali kuburan yang ada di dekat jendela di bantu oleh masyarakat di sekitar.
Ternyata banyak sekali kuburan itu, mereka mendapatkan tulang belulang itu sekitar sepuluh orang yang telah meninggal yang tidak wajar.
Dan mereka menguburkan tulang belulang itu dengan dihadiri oleh Pak Kepala Dusun dan Kepala Desa.
Selama tiga hari tiga malam mereka mengadakan tahlilan dan membacakan ayat-ayat Al-Qur'an itu setiap hari.
Kemudian Ismail kedatangan mertunya dari Jogyakarta untuk datang ke Gorontalo dan membantu menjaga cucunya Supriadi.
Semenjak kuburan-kuburan itu dibongkar, mereka setiap malam selalu membaca Al-Qur'an. Akhirnya rumah mereka aman-aman saja dan rumah mereka kelihatan terang benderang.
Ditambah lagi mereka menanam pohon bidari yang diberikan oleh Pak Madun untuk ditanami di depan pekarangan rumah dan di belakang rumah mereka.
Karena bidari dapat dipercaya ditakuti oleh setan dan sebagai penangkal sihir.
Satu bulan kemudian ibu mertuanya kembali pulang lagi ke Jogyakarta.
Akhirnya Ismail mendapatkan pembantu baru dan orangnya sangat cekatan untuk melakukan pembersihan di dalam rumah walau tanpa di suruh oleh Lestari.
__ADS_1
Dan pembantu mereka masih berumur 27 tahun dan masih muda. Pembantu tersebut bernama Sulastri dan merasa betah sampai Supriadi berumur sepuluh tahun. Alhamdulillah rumah mereka tidak ada gangguan oleh makhluk gaib.