
Sudah dua hari aku terkunci di luar. Tidur di ruang tamu. Tidak bisa memasuki kamarku sendiri.
"Mana sih kunciku!" umpatku dalam hati.
Kucari kunciku ke seluruh rumah. Kutanya ibu, dia tidak menjawab. Kutanya ayah, dia mengabaikanku. Adik-adikku sibuk sendiri dua hari ini. Adik pertamaku sibuk mempersiapkan acara berkemah sekolahnya. Adikku yang paling kecil selalu sibuk menonton televisi.
"Kenapa sih mereka ini?"
Aku terus mencari. Kubongkar setiap laci, terutama di kotak plastik tempat biasanya ibu menaruh kunci. Ibu memang selalu marah kalau soal kunci. Terlebih kalau ayah selalu bertanya tentang kunci mobilnya sebelum berangkat ke kantor.
"Makanya, pakai mata!" nasihatnya. Kami sudah mendengarnya bertahun-tahun. Nada suaranya tidak berubah. Ibu akan menggebrak meja jika kami terus memaksa meminta jawaban padanya. Dia juga tidak tahu kunci di mana. Dia lebih tidak peduli. Jadi kotak plasti di laci itu adalah solusinya. Setiap kunci yang dia temukan di rumah, akan dia taruh di situ.
"Tapi gak ada di sini, terus di mana sih?"
Aku merasa hilang harapan. Seluruh ruang, seluruh sudut, tidak juga menemukan kunci. Mereka juga selalu sibuk. Kupanggil berkali-kali tidak satu pun menyahut.
"Bu, kunciku mana? Tahu gak? Kunci kamar." Ibu tidak menggubris. Sibuk membuatkan sarapan.
Aku ikut duduk di meja. Siapa tahu ayah bisa membantuku.
"Yah, kunci kamarku mana?" tanyaku. Ayah sibuk membaca berita pagi dari portal online di hapenya. Kacamatanya sampai turun ke pangkal hidung.
Ibu menyiapkan nasi telur pagi ini. Perutku sudah demo. Minta segera diisi. Aku ingat hanya makan seadanya dari kulkas. Aku tidak pandai memasak. Jadi kumakan apa saja yang ada.
"Duh, mana sih es krimku? Kakak ambil ya?" protes adikku yang paling kecil. Wajahnya kecewa membuka kulkas. Tidak menemukan cemilannya satu pun di sana.
"Mau bagaimana lagi. Aku kelaparan."
__ADS_1
"Kakak... Tanggung jawab dong!" teriaknya. Padahal aku duduk di tidak jauh darinya.
"Iya, jangan teriak-teriak. Masih pagi. Nanti ibu marah. Kakak ganti nanti. Adek tahu kunci kamar kakak gak di mana?"
Dia juga tidak menjawab. Aku mendengus kesal.
"Bu, bajuku sudah komplit. Oia, kenapa kakak belum turun ya?" Adik keduaku datang dan langsung mencomot telur dadar yang baru jadi. Ibu menjewernya. Menyuruhnya menyiapkan piring, sendok dan garpu.
"Hei, hei, tidak lucu. Aku di sini!" ucapku.
Piring tersaji, gelas, garpu dan sendok siap dipakai. Tapi kenapa piringku tidak?
"Dek, jangan iseng dong. Ambilin piringku juga."
"Bu, aku panggil kakak di atas ya?" Adikku yang kecil seketika berlari tanpa komando. Aku mulai bingung dengan situasi ini.
"Kalian kenapa sih? Kalau mau nge-prank, jangan pagi-pagi gini! Lagi suntuk nih! Yah, adek itu loh..." Aku lantas menggebrak meja. Semua peralatan dapur di atas meja bergoyang. Semua orang menatap meja keheranan. "Tuh, kan, mulai deh. Aku yang gebrak meja. Apaan sih ini?!" teriakku. Ayah mulai menoleh pada ibu.
"Kenapa?" tanya ibu.
"Kekunci," ucap adikku.
Ayah mulai menggedor pintu. "Bay, Bayu! Kamu kabur dari rumah? Apa gimana? Buka pintunya Bay!"
"Ayah, apaan sih! Aku di sini! Aku dari tadi juga nyariin kunci pintu kamarku. Gimana sih!"
"Udah dobrak aja, Yah." Adik pertamaku menyahut dari belakang. Saat aku menoleh, ia melewatiku. Ia menembus tubuhku.
__ADS_1
Ini bukan mimpi, kan? Ini bohong, kan? Aku mulai mencubit diriku sendiri. Mulai menampar pipiku bergantian. Aku juga mencoba meraih pundak ibu. Ia menoleh. Tapi tatapannya tidak tertuju padaku. Aku terserang panik. Kalau begitu, aku... Ah, bullshit! Ini pasti mimpi.
Aku kembali ke ruang tamu. Mencoba tidur lagi. Ya, ini mimpi. Aku tidur lagi saja dan saat terbangun, semua sudah seperti sebelumnya. Normal dan tidak ada apa-apa. Ini terlalu nyata untuk sebuah mimpi. Aku mencoba tidur. Mencoba bermimpi yang indah.
Tanganku menyenggol sesuatu. Kubuka mata perlahan. Kurasakan baru lima menit berhasil memejamkan mata. Tapi setelah kulihat jam, sudah lima jam aku tertidur sejak pagi. Lantas kudengar suara tangis. Ini suara ibu. Bukan. Ini bukan cuma suara tangisan ibu.
Aku bangkit dan langsung berlari ke atas. Tangga yang kunaiki menjadi terasa panjang. Jantungku berdebar cepat. Kejutan di depan membuatku sulit menebak apa pun. Dan pintu kamarku sudah terbuka. Aku berhenti dan berdiri di depan kamar. Engsel pintunya hancur. Daun pintunya tercongkel.
Prasangka burukku muncul cepat. Lalu Kulihat ibu sudah bersimpuh menutupi wajahnya. Terisak-isak di samping tubuhku.
"Aku mati?"
Kulihat mulutku berbusa. Aku tidak mengingatnya. Aku berjalan pelan mendekati ibu. Ikut bersimpuh di sampingnya. Kulihat tubuhku mulai membiru. Kutelan ludah berkali-kali. Aku pun ikut menangis. Di samping ibu, aku menangis sekencang yang aku mampu.
"Dia masih di sini. Ibu harap tenang. Kita coba untuk mengembalikkannya ke tubuhnya." Suara itu memecah tangis ibu menjadi rengekan. Aku mendengarnya ragu. Jantungku ingin melompat. Setelah kucoba pulih dari serangan panik, aku menoleh ke sumber suara itu.
Seorang pria dewasa memakai penutup kepala dan pakaian serba hitam.
"Hah? Dukun?" Aku tidak ingin protes kali ini. Semoga ucapannya benar. Ia mulai masuk ke kamar dan merapal mantra. Botol air mineral yang dipegangnya, ia buka. Airnya ia minum dan menyemburkannya pada tubuhku.
Entah bagaimana, aku juga merasakan basah. Lebih tepatnya mulai panas. Mulai perih dan menggigit. Aku mengerang kesakitan. Kulihat isi botol air mineral itu, ada berbagai macam bunga di dalamnya.
"Bu, anak ibu bisa kembali, tapi ada yang jaga. Saya harap dia bisa dengar untuk bertarung melawan makhluk itu."
"Apa? Makhluk? Apaan lagi ini?" protesku. Aku berteriak tidak terbendung. Aku tidak memperhatikan ucapannya. Bertarung? Silat? Yang benar saja. Badanku gemuk begini sering menjadi sasaran bully.
Tanpa sadar, aku merasa ada yang mengawasi. Ada yang melihatku. Aku menoleh. Ke kiri lalu ke kanan. Memutar pandanganku ke seluruh kamar. Kulihat di kolong, di balik lemari, kuintip isi lemari. Tidak ada apa pun. Sampai aku menoleh ke atas. Kakiku lemas. Aku mengompol. Saat itu juga aku sadar berhadapan dengan siapa atau apa, aku tidak mengerti.
__ADS_1
Laba-laba besar merayap di langit-langi kamarku. Hanya saja, kepalanya bukan miliknya sendiri. Kepala seorang anak laki-laki, menyeringai, liurnya menetes dari taring-taring giginya dengan tubuh laba-laba raksasa. Aku menangis dan berteriak sekencangnya.
Mimpi buruk. Tidak. Lebih baik aku mati saja.