
Cerita bermula di saat kakak perempuan Intan meninggal dunia tiga hari sebelum hari raya Idul Fitri 2013 lalu. Dimana di saat itu Intan tidak bisa melihat jenazah karena tiket pesawat di hari itu sudah habis.
Intan tidak bisa untuk pulang ke kampung halamannya apalagi untuk melihat jenazah kakaknya untuk yang terakhir kali.
Yang pasti rasa sedih yang sangat luar biasa Intan rasakan karena memikirkan keponakan yaitu anak dari kakak yang masih kecil dan harus kehilangan ibunya.
Namun, Intan sadar bahwa semua ciptaan Allah pasti akan kembali kepada-Nya.
Dan alhamdulillah sesuai dengan tiket pesawat yang sudah Intan belikan sebelumnya yaitu tepat di hari raya Idul Fitri.
Akhirnya Intan bisa kembali ke kampung halaman di Gorontalo dan menikmati kebersamaan bersama keluarga besarnya.
Merayakan hari kemenangan yaitu hari raya Idul Fitri walaupun masih dalam suasana berduka. Tetapi Intan sedikit lega karena pada saat itu ia sudah berkumpul dengan keluarga.
Tetapi jujur walaupun Intan seorang cewek, rasa sedih atas meninggal kakak di saat itu masih membekas di dalam hatinya.
Tetapi Intan hanya bisa memendam semua rasa itu, agar keluarga yang lain juga bisa menjadi tegar dan almarhumah kakaknya juga bisa tenang.
Di hari itu, Intan beserta keluarga juga seperti hal yang biasa dilakukan oleh yang lain yaitu berziara ke makam ibu. Makam kakaknya kebetulan berbeda letak lokasi dengan makam almarhumah ibu.
Di hari ketiga selama Intan berada di kampung halamannya. Dia mulai drop. Badannya menjadi demam sehingga ibu tiri tidak mengizinkan untuk kembali ke Surabaya.
Sehingga kondisinya menjadi lebih baik. Tetapi karena Intan punya tanggung jawab untuk pekerjaan. Ia meyakinkan keluarganya bahwa ia baik baik saja dan akhirnya dia putuskan untuk kembali ke Surabaya.
Hari pertama Intan tiba di Surabaya kondisi kesehatannya baik-baik saja. Namun, di hari ke-2 dia berada di Surabaya, di hari itu dia sudah mulai beraktifitas seperti biasa.
Akhirnya Intan demam lagi bisa dikategorikan demam (panas) tinggi. Hari berikutnya ia sudah tidak beraktifitas lagi karena kondisinya saat itu sudah mulai lemah.
Intan memutuskan untuk izin istirahat dari pekerjaannya karena demam yang dia alami. Hari berganti hari sakitnya tak kunjung sembuh sehingga selera makannya juga mulai berkurang.
Berat badan pun mulai turun, karena sudah tidak adanya selera makannya saat itu.
Akhirnya sahabat pun menawarkan Intan untuk tinggal di rumahnya.
Supaya dia tidak sendirian dan juga sesama perantau mereka saling memperhatika di saat keluarga menghubungi Intan.
Ia selalu berpesan kepada sahabat tentang kondisi yang dia alami saat itu untuk dirahasiakan, karena Intan tidak mau keluarga menjadi khawatir akan keadaannya.
Hari berganti hari dan saat itu satu Minggu telah berlalu, di situlah Intan mulai merasakan keanehannya.
Intan merasakan badan berat, mata rasa ingin selalu dia pejam dan berat rasanya untuk membuka. Ia selalu merasakan hadirnya orang-orang yang sudah meninggal.
__ADS_1
Yang selalu hadir dan ada di sekeliling termasuk temannya yang sebulan baru meninggal di saat itu.
Karena kondisinya semakin memprihatinkan, akhirnya sahabatnya memutuskan untuk membawa ke sebuah rumah sakit di Surabaya untuk melakukan pemeriksaan.
Namun, dari beberapa kali pemeriksaan itu selalu tidak membuahkan hasil. Pada saat itu Intan sudah mulai yakin dengan apa yang dia rasakan.
Saat itu mungkin sebenarnya ini bukan penyakit dokter. Tetapi Intan hanya bisa memendam apa yang ada di benaknya itu.
Karena tidak mau teman-temannya menganggap dia sebagai orang yang aneh karena mengkait-kaitkan segala sesuatu dengan hal gaib.
Namun, tiga hari setelah itu, dia mencoba memberanikan diri untuk meminta bantuan kepada sahabatnya agar mencari infromasi tentang rukiyah yang ada di Surabaya.
Karena dia bisa merasakan keanehan-keanehan yang ada dalam dirinya sendiri. Dan yang sering ia lihat dari setiap pandangan matanya.
Dua hari berselang setelah itu, akhirnya atasan dan satu orang teman yang satu pekerjaan dengannya mengunjungi dan sekaligus menawarkan dia untuk dibawa di tempat rukiyah di Surabaya saat itu.
Betapa lega dan senangnya Intan karena apa yang dia butuhkan saat itu akhirnya tercapai. Namun, semuanya tak seperti yang ia bayangkan.
Karena seorang ibu dan anak yang merukiyahnya tidak membacakan ayat-ayat yang biasa dibacakan untuk merukiyahnya.
Sehingga Intan tidak bisa merasakan reaksi apapun dalam dirinya. Lebih mengecewakan lagi segala bentuk pengobatan dipasang tarif hingga jutaan rupiah.
Pada saat itu dalam keadaan lemah. Badan dan putus harapan Intan urungkan untuk melanjutkan berobat di situ. Karena beda dengan tempat rukiyah di kampungnya.
Akhirnya Intan menyerah dan ia memutuskan untuk kembali ke kampung halaman di Gorontalo. Karena Intan merasa tidak ingin terlalu membebani sahabat dan juga kondisi kesehatannya saat itu semakin menurun.
Apa yang dia rahasiakan selama ini tentang kesehatan mau tidak mau keluarganya jadi tahu. Intan harus kembali ke kampung halamannya dengan dibantu sebuah kursi roda untuk menuju ke dalam pesawat.
Dia sendiri harus melewati rasa sengsara sendiri. Di saat dalam kondisi yang lemah, harus melewati penerbangan selama kurang lebih hampir dua jam.
Harus transit terlebih dahulu di sebuah bandara sebelum dia melanjutkan lagi penerbangan ke kampung halamannya.
Belum lagi setiap orang yang berada di ruang tunggu bandara pasti menatapnya. Karena Intan menggunakan kursi roda dan dia menutup wajahnya dengan sebuah masker.
Agar setiap orang tidak mudah untuk mengenali wajahnya. Dan alhamdulillah tiba di bandara di kampung halamannya.
Dengan dibantu pihak dari bandara yang membantu mendorong kursi rodanya hingga tiba di tempat penjemputan.
Masya Allah apa segitu kurusnya Intan sehingga keluarga yang menjemputnya saja sudah tidak begitu mengenalnya.
Sehingga dia harus melambaikan tangannya kepada mereka, di situ air mata juga sudah tidak bisa terbendung karena dengan kondisinya saat itu.
__ADS_1
Dan juga dengan rasa berduka keluarga yang baru kehilangan kakaknya yang meninggal sebulan lalu.
Nah, di sinilah awal cerita keanehan yang Intan alami semakin menjadi, dia bisa melihat setiap orang yang sudah meninggal yang duduk di sampingnya.
Tetapi tidak pernah menatap dia dan alhamdulillah wajah mereka yang Intan lihat layaknya wajah di saat mereka masih hidup di dunia ini.
Di saat hari ketiga Intan berada di kampung halamannya, alhamdulillah ada seorang Ustaz yang dipanggil oleh ibu tiri untuk merukiyah Intan datang.
Di setiap Ustaz tersebut membacakan ayat -ayat suci Al-Qur'an, ia selalu tidak sadarkan diri. Intan selalu bisa menyadari apa yang baru saja terjadi.
Setelah dia sadarkan diri ibu tiri atau kakak yang menanyakan dia dan menceritakan kepada Intan perihal apa yang terjadi.
Tahukah apa yang terjadi ? Ternyata Intan kesurupan. Setiap yang masuk ke dalam tubuhnya adalah roh yang ia lihat sebelum diobati oleh ustaz tersebut.
Di saat itu baru sadar bahwa yang Intan lihat selama ini yaitu roh dari keluarga dan juga teman yang ada di sekeliling adalah nyata.
Karena kondisi tubuhnya yang saat itu masih sangat kurus. Ustaz tersebut memutuskan untuk merukiyah Intan setelah tiga hari berikutnya.
Intan selalu merasakan keanehan-keanehan dalam dirinya. Bisa melihat arwah kakaknya yang baru meninggal sebulan lalu.
Persis ada di sebelah dan kondisi layaknya jenazah yang baru dimandikan dan dikafankan.
Sejak saat itu Intan sudah tidak berani untuk sendiri. Ibu tiri yang selalu menenangkan hingga ia pun tertidur.
Terkadang tidak merasa sepi kemudian Intan menyalakan TV. Tiga hari setelah itu, seperti janji Ustaz.
Ustadz tersebut datang kembali untuk merukiyah Intan dan itu dilakukannya di malam hari.
Setiap doa dibacakan Intan selalu tidak sadarkan diri. Seperti biasa di saat setelah Intan sadar, ibu tiri atau kakak selalu menanyakan dan menceritakan kepada Intan perihal apa yang sudah terjadi.
Kali ini berbeda dari hari sebelumnya. Ternyata Intan kesurupan teman yang baru meninggal sebelum kakaknya meninggal.
Keesokan malam Intan di rukiyah kembali, di situ Intan mulai tidak sadarkan diri lagi. Di saat doa dibacakan. Ternyata lebih dari sepuluh roh yang merasuki dan ternyata selama itu ikut bersamanya.
Tetapi alhamdulillah setelah itu semua selesai, keadaannya semakin membaik. Namun, Intan selalu merasakan hal-hal aneh dalam kesehariannya.
Bisa melihat orang yang sudah meninggal yang ada di antaranya setan penghuni rumah yang ada di rumah sahabat yang selama ini merawatnya di Surabaya.
Selama ini dia hanya mendengarkan cerita kehadiran setan itu di rumahnya. Hingga Intan bisa melihat dan merasakan kehadirannya.
Inilah adalah sebuah cerita Intan kali ini. Bahwa kehidupan gaib itu ada, hanya saja kita jangan mengganggunya.
__ADS_1
Jangan meremahkan dan juga tidak harus mengagungkannya. Karena keagungan itu hanya milik Allah Swt.
Jangan lupa untuk selalu Istiqfar, berzikir, memohon perlindungan dari Allah, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah.