
Sekitar jam 9 pagi Firmansyah sedang duduk di teras rumah. Beberapa detik kemudian ia mendengarkan orang yang lagi melantunkan,
“La’illaha’illaallah ..., la’illaha’illaallah ..., la’illaha’illaallah ....” suara-suara puji-pujian.
Iringan keranda jenazah itu melewati rumah Firmansyah. Jalanan setapak yang tadinya sepi seketika ramai dipadati barisan orang-orang yang ingin mengantar almarhumah ke ruamh peristrahatan terakhirnya.
Firmansyah yang duduk santai di depan teras rumah bergegas melihat rombongan duka tersebut.
Ketika para pelayat sudah melewati rumahnya. Firmansyah langsung melesat mengambil jalan pintas yang menembus sampai ke tanah wakaf pemakaman di kampung mereka.
Bukan untuk ikut-ikutan menjadi pelayat yang mengantarkan jenazah ke tempat peristrihatan terakhirnya.
Tetapi Firmansyah punya tugas yang lebih bersifat pribadi yang harus dia kerjakan. Ia mempunyai visi dan misi yang terselubung.
“Ini harus aku lakukan sekarang, mungkin kesempatan ini tidak akan aku dapatkan lagi deh,” ucap Batin Firmansyah.
Dari balik semak-semak tak jauh dari area pemakaman Firmansyah menunggu dengan hati berdebar-debar, walaupun tubuhnya tak di sana.
Tetapi mata dan telinganya dapat mengikuti proses pamakaman yang sedang berlangsung.
“Hmhm .... Lumayan banyak juga ya para pelayatnya yang mengantarkan jenazah, karena semasa hidupnya almarhumah dikenal sebagai orang yang baik dan suka bersedekah di kampung ini. Dan suka mengobati penyakit orang-orang di kampung ini juga.” Ucap Batin Firmansyah.
Nenek Bulan namanya, seorang yang baik hati dan bisa mengobati berbagai macam penyakit itu mendapatkan ilmunya hanya melalui mimpi.
Setelah selesai membacakan doa terkahir untuk almarhumah satu per satu sanak keluarga, kerabat, teman, dan warga kampung membubarkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing.
“Sekarang saatnya aku akan bereaksi, sekaranglah waktu yang tepat untuk melakukan tindakan itu,” ucap batin Firmansyah.
Setelah memastikan keadaan sekitar pemakaman aman, Firmansyah pun mendekati kuburan yang masih baru itu.
Di atas pusara bertebaran daun pandan dan aneka bunga-bunga.
Namun, bukan itu yang menarik minat bagi Firmansyah. Matanya hanya terpaku pada satu benda.
Benda yang biasanya digunakan orang mengantarkan jenazah ke kuburan. Benda itu adalah alasan utama Firmansyah berada di 0 sini.
Benda itu harus ia ingin mencurinya sekarang. Yaitu Payung Hitam.
“Ada satu syarat lagi yang harus kamu penuhi untuk menyelesaikan ritual ini wahai anak muda,” ucap Dukun Suparno.
Dukun Suparno adalah tempat dimana Firmansyah menimba ilmu hitam itu. Dan meminta Firmansyah mengambil payung hitam di pemakaman sebagai ritual terakhirnya untuk menyempurnakan ilmu hitamnya itu.
“Apa itu, Pak Suparno?” tanya Firmansyah dengan penuh cemas.
“Jangan-jangan Pak Dukun ini menyuruhku lagi mencuri sapi seperti kemarin malam itu, ya?” ucap batin Firmansyah dengan khawatir.
“Kamu harus punya payung hitam untuk menyempurnakanmu, kalau tidak hapalan mantra-mantra itu tidak akan bekerja lagi.” Ucap Pak Dukun Suparno.
“Di mana aku harus mendapatkannya, Pak? atau mau dibeli aja di pasar, Pak?" tanya Firmansyah dengan penasaran.
“Kamu terlalu bodoh, ya ...?” Bentakan Pak Dukun Suparno.
Seketika itu Firmansyah langsung kaget mendengar bentakan yang begitu keras sehingga membuat Firmansyah merasa kaget.
“Payung hitam itu tidak boleh dibeli di pasar ****** ..., payung hitam itu kamu harus curi di kuburan orang mati yang baru saja ditanam. Kamu harus segera mengambilnya.” Ucap Pak Dukun Suparno.
Firmansyah bergidik ketakutan. Seketika itu tubuhnya menggigil setelah mendengar penjelasan Pak Dukun Suparno itu.
“Apa tidak bisa diganti dengan barang yang lain ya, Pak?” tanya Firmansyah sambil menawar.
“Goblok .... Itu tidak bisa ditawar, tidak bisa ..., syaratnya memang harus seperti itu. Itu kalau kamu mau ilmu yang aku ajarkan berjalan dengan sempurna dan membuat kamu sakti mandraguna kelak nanti. Ingat! Harus payung hitam dari orang yang baru meninggal. Ingat! Kamu harus mengambil pada selesai salat Isa.” Ucap Pak Dukun Suparno.
Pesan dari pak dukun itu membuat Firmansyah tersadar ada persyaratan terakhir yang paling berat apalagi melakukannya harus pada malam hari.
Yang harus dilakukan oleh Firmansyah sendiri sebelum meraih impiannya itu. Cinta itu memang bisa membuat manusia menjadi gila dan buta hati.
Karena cinta manusia rela melakukan hal-hal yang luar nalarnya sendiri. Seperti Firmansyah.
Dari dulu dia memang mengagumi sosok gadis cantik jelita yang tak lain adalah Aulia. Sejak Firmansyah mendapatkan mimpi puber pertama di usianya 18 tahun.
Menurutnya Aulia gadis cantik jelita di desanya itu. Usia mereka berdua sebaya. Melihat wajahnya saja membuat Firmansyah merasa sangat senang sekali.
Firmansyah sadar tak pernah bermuka manis ketika berhadapan dengan Aulia. Namun, tetap saja Firmansyah memujanya. Itulah cinta yang dinamakan cinta buta.
Tak ada yang bisa mengukur kedalamannya. Barangkali terlalu cepat untuk merasakan betapa besar hati untuk merasakan cinta yang dari dalam lubuk hati yang paling dalam.
Karena itulah Firmansyah sudah menginjak di usianya yang ke-20 tahun, yang menurut Ibunya belum pantas mengenal asmara ke lawan jenis karena belum mempunyai pekerjaan tetap.
Namun, Firmansyah tak perduli, cinta ini bersarang di dalam hatinya. Karena tak tahan menahan sakit cintanya yang sudah lama terpendam dalam hatinya.
Lewat perantara Nanang sahabatnya, Firmansyah menitipkan salam cintanya kepada Aulia.
Celakanya, cinta yang ditawarkan pada Aulia bertepuk sebelah kanan. Pupus sudah harapan Firmansyah untuk mendapatkan cinta dari Aulia.
Jangankan menyambut uluran cintanya Firmansyah, Aulia malah menghina dengan perkataan yang begitu kasar yang tidak bisa diterima oleh Firmansyah begitu saja.
“Bilang sama Firmansyah ya ..., Nanang. Jangan mimpi menjadi pacarku. Pacarin saja sama Nyi Roro Kidul sana ....” ketus Aulia.
Sakit hati Firmansyah semakin menjadi-jadi ketika mendengar kaa-kata Aulia yang disampaikan melalui Nanang sahabatnya itu.
“Aku tahu Nyi Roro Kidul yang dimaksudkan Aulia itu ... karena bapakku seorang yang miskin dan bekerja sebagai nelayan."
“Aulia boleh menolakku .... Namun, dia tak berhak menghinaku, Nanang.” Geram Firmansyah dengan sedikit tekanan marah.
__ADS_1
Nanang hanya menepuk-nepuk pundak Firmansyah sambil memberikan motivasi dan mencari jalan solusi bagaimana Firmansyah mendapatkan apa yang dia mau.
Nanang pun menemukan solusi yang bisa ditempuh untuk mendapatkan cinta Aulia. Tanpa banyak protes Firmansyah langsung menyetujui usul Nanang.
Mereka kemudian mendatangi Pak Suparno, dukun sakti yang dapat membelokkan perasaan orang dari benci menjadi cinta.
Penolakan Aulia yang sombong membuat Firmansyah segera menaklukkan hatinya Aulia melalui Pak Suparno.
“Aku tak akan perduli seberapa besar harga yang harus aku bayar kepada Pak Suparno, aku akan melakukan segala seribu macam cara mendapatkan cinta Aulia. Karena aku merasa dendam yang kini aku rasakan,” ucap batin Firmansyah.
“Kata-kata Aulia yang begitu tajam dan menusuk hatiku hingga membuatku dendam dan sangat marah, aku akan menyadarkan Aulia agar tak semenah-menah menghina dan terlalu sombong kepada orang lain. Serendah apa pun kasta orang itu di mata manusia,” ucap batin Firmansyah lagi dengan dendam.
“Namun, perjuanganku tidaklah ringan dan begitu mudah. Banyak rintangan dan persyaratan yang harus kulakukan adalah mencuri payung hitam dari kuburan orang yang baru meninggal dan mengambilnya setelah Isa. Dan sekarang payung hitam itu ada di dalam kamarku.” Ucap batin Firmansyah lagi.
Firmansyah menatap dalam-dalam, bentuknya yang lebih panjang dan lebar dari payung biasa memberikan kesan mistis.
Warna hitam yang melingkupi keseluruhan payung menghadirkan aura yang begitu sangat mistis.
Payung yang sudah ada sejak abad 15 itu terbuat dari kayu dan bambu. Tudungnya terbuat dari plastik dengan lukisan bunga-bunga melati kecil yang indah.
Payung hitam yang selalu menemani para jenazah dan mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir ini sekarang berada dalam kamarnya. Firmansyah hanya terdiam membisu.
Tanpa sadar senyuman puas dengan hasil kerjanya lengkap sudah persyaratan yang diminta oleh Pak Dukun Suparno.
Dan Firmansyah bisa segera menyempurnakan ritual itu. Bayangan wajah cantik Aulia menari-nari di pelupuk matanya.
Sebentar lagi cewek judes dan jutek itu akan bertekuk lutut pada Firmansyah.
Segera Aulia akan segera tahu bahwa kelebihan yang diberikan Tuhan padanya bukan untuk merendahkan martabat sesamanya.
Matahari sore sepertinya enggan bersinar. Di kampung mereka, sore memang lebih cepat datang dari waktu semestinya, karena ranting-ranting pohon besar yang bernaung menghalangi pancaran sinar matahari.
Mendung menggeluti langit yang membentang kelabu. Gerimis pun turut mewarnai. Angin yang berhembus pelan menerobos masuk lewat jendela kamarnya Firmansyah membuatnya terbuai ke alam mimpinya.
Tak lama Firmansyah pun tertidur pulas di tengah gerimis yang mulai menderas.
“Tok .. Tok ... Tok ....” Suara ketukan pintu.
Belum lama rasanya Firmansyah terlelap, sayup-sayup Firmansyah mendengar ketukan di depan pintu.
Mulanya Firmansyah enggan beranjak bangun tetapi ketukan itu tak mau berhenti.
Setengah ngantuk Firmansyah keluar kamar untuk melihat siapa yang datang.
“Siapa sih yang datang pada sore-sore kayak gini? Ibu dan adikku sedang keliling kampung berjualan kue! Mungkinkah sekarang mereka terjebak hujan. Dan ayah pun sedang melaut. Beliau dengan perahu mesin sedang berperang melawan gelombang ombak yang begitu besar demi menafkahi keluarga termasuk aku,” ucap batin Firmansyah sambil bertanya-tanya.
Sebelum membuka pintu, Firmansyah mendengar pintu diketuk kembali, kali ini suaranya terdengar lebih keras.
Ketika membukakan pintu, aroma daun pandan, kayu cendana, dan wangi kembang aneka rupa menerobos masuk menerpa indra penciumannya Firmansyah.
Di hadapannya telah berdiri nenek tua dengan wajah yang tertutup jilbab.
Kepalanya tertunduk ke lantai rumah membuat Firmansyah tak bisa memandang wajah nenek tua itu dengan jelas.
“Apa dia peminta-minta? Atau orang yang ingin numpang berteduh di sini?” tanya Firmansyah dalam batinnya.
Firmansyah hanya bisa terdiam melihatnya. Orang itu pun hanya terpaku di muka pintu tanpa mengucapkan sepatah kata untuk mengutarakan maksud kedatangannya ke sini.
Mata Firmansyah kemudian tertuju pada sepasang kakinya yang begitu kotor. Tanah merah yang masih basah melumuri kaki keriputnya yang lebar membuat Firmansyah merinding. Dan itu sangat aneh.
“Ada perlu apa, Nek?” tanya Firmansyah dengan penuh khawatir.
Firmansyah mencoba bersuara. Tetapi pertanyaan itu tidak bisa keluar dari bibirnya hanya bergaung dalam hatinya. Kerongkongannya mendadak kering. Tercekat.
“Kembalikan barang yang kamu ambil itu ...” Nenek itu bersuara meminta barangnya untuk dikembalikan.
Seperti bisa mendengar pertanyaan yang bergema di hatinya dia bereaksi. Suaranya terdengar bergetar dan bersengau sekaligus dingin seperti angin sore. Firmansyah terkesiap mendengarnya.
“Kembalikan Barang itu ... kembalikan barang yang kamu ambil dari tempatku.” Pinta nenek itu kembali mengulang katanya itu.
Kepala nenek itu perlahan-lahan mendongakkan di hadapannya Firmansyah memperlihatkan wajahnya yang begitu jelas.
“Ya Allah ..., wajah itu membuatku merinding. Kulit wajahnya sangat pucat tak berdarah. Mata, mulut, dan telinganya ditutupi dengan kapas seperti mayat yang mau dikafankan. Siapakah nenek tua itu?” tanya Firmansyah dalam batinnya.
“Kembalikan payung hitamku. Kembalikan payung hitamku ke tempatku.” Pinta Nenek tua itu dengan marah.
Firmansyah akhirnya sadar siapa yang sebenarnya itu sekarang. Ternyata arwah nenek tua itu adalah Nenek Bulan.
Kemudian Firmansyah jatuh pingsan di depan pintu. Setelah peristiwa itu, Firmansyah seperti orang hilang ingatan.
Ibu dan adik perempuannya yang pulang menjelang Magrib menemukannya terbaring di muka pintu.
Mereka terkejut melihat keadaannya. Setelah dibangunkan, Firmansyah malah kelihatan bingung.
Matanya rabun melihat ruangan seperti orang yang ketakutan akan terjadi sesuatu. Tanpa menghiraukan pertanyaan Ibu dan adik perempuannya dan mengabaikan segelas air putih yang diberikan Aminah adik perempuan, Firmansyah malah meringkuk di sudut ruangan sambil memeluk lututnya.
Aminah menangis melihat keadaan jiwa kakaknya yang sangat memperihatinkan. Ibunya segera sadar ada sesuatu yang tidak beres denganya lantas memanggil seorang ustaz di dekat rumah.
Setelah dibacakan beberapa doa dari ayat-ayat suci Al-Qur'an dalam segelas air putih dan menyuruh Firmansyah untuk segera meminumnya, barulah Firmansyah bisa tenang.
Setelah itu Firmansyah mulai dapat berpikir dan mengkronologiskan kejadian yang telah menimpanya.
Namun, Firmansyah belum bisa menceritakan kronologisnya kepada Ibu dan Adik perempuannya Aminah.
__ADS_1
Hal itu hanya Firmansyah, Nanang, dan Pak Dukun Suparno yang tahu.
Malamnya ketika Nanang berkunjung dan menjenguk Firmansyah.
Kemudian dia menceritakan semua kejadian yang dia alami kepada Nanang sahabatnya itu. Dari Firmansyah mencuri payung hitam hingga didatangi arwah nenek Bulan. Nanang terkejut mendengarnya.
“Sebaiknya kamu ke kuburan keinginanmu menggaet Aulia, Fir,” ucap Nanang mencoba membujuk Firmansyah.
“Gila kamu, Nanang. Sudah kepalang tanggung sekarang, Bro.” Bantah Firmansyah.
“Kamu yang gila, Fir. Apa peristiwa tadi belum cukup membuatmu sadar bahwa jalan yang kamu tempuh berisiko tinggi? Kamu bisa gila bahkan mati, Fir," ucap Nanang.
“Terlambat kamu, Nanang, perjalananku hampir selesai.” Ucap Firmansyah.
“Walau mempertaruhkan jiwamu sekalipun? Jangan-jangan setelah ilmumu sempurna, kamu malah tidak bisa menggunakan karena dihantui arwah, nenek Bulan,” tanya Nanang dengan serius.
“Aku tidak bisa, Nanang,” ucap Firmansyah.
“Terserah kamulah! Ingat ..., pikirkan keluargamu, ayah, ibu, dan adikmu perempuan, Aminah.” Ketus Nanang dengan nada kesal.
Kemudian Nanang pulang dengan jengkel karena sahabatnya tidak bisa dinasihati dan keras kepala.
Firmansyah memang keras kepala. Keesokan malamnya tepat di malam Jumat Kliwon, sesuai dengan perintah Pak Dukun Suparno.
Firmansyah membawa persyaratan terakhir. payung hitam. Bulan purnama yang belum sempurna menjadi penerang jalannya ke sana.
Rumah Pak Dukun Suparno agak jauh dari perkampungan kehidupan sosial masyarakat yang sedikit sinting membuatnya memilih untuk mengucilkan diri di tengah-tengah hutan yang masih terbilang lebat.
Di rumahnya, Pak Dukun Suparno banyak memelihara anjing, kucing, burung, dan Merpati. Istri dan anaknya entah ke mana, tak ada yang tahu. Menurut warga kampung, Pak Dukun Suparno tak pernah bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat.
Kerjanya hanya menyendiri, mungkin bertapa atau apalah-apalah gitu yang tak pasti.
Yang jelas Pak Dukun Suparno selalu membuka tangannya lebar ketika ada orang-orang yang membutuhkan ilmu hitamnya.
Seperti dirinya sendiri. Setelah menempuh perjalanan selama 25 menit, Firmansyah pun sampai rumah Pak Dukun Suparno.
Setelah menginjakkan kaki ke anak tangga yang terakhir langsung saja Firmansyah mengucapkan salam.
“Masuk ....” Suara tegas khas Pak Dukun Suparno terdengar dari dalam.
Ketika masuk bulu kuduk mendadak berdiri. Ini tidak seperti biasanya. Walaupun perawakan Pak Dukun Suparno menyeramkan. Tetapi Firmansyah tak pernah merinding kalau berkunjung ke rumahnya Pak Dukun Suparno.
Apa karena malam ini Firmansyah terlalu berdebar-debar menantikan hingga membuat saraf-saraf pekaknya bekerja dengan sempurna.
Firmansyah menepis semua rasa itu dan bergegas masuk ke bilik praktek Pak Dukun Suparno. Ketika masuk Pak Dukun Suparno membelakangi tubuhnya Firmansyah.
“Ini persyaratan terakhir yang Pak minta.” Ucap Firmansyah sambil menyodorkan payung hitam berbungkus kain putih kecil di depannya Pak Dukun Suparno.
“Mohon maaf, Pak! Apa kita bisa mulai malam ini?” tanya Firmansyah yang tidak sabar lagi.
Melihat reaksinya yang dingin dan cemas menggeluti hati Firmansyah dan berpikir jangan sampai Pak Dukun Suparno tidak berkenan.
“Pak Suparno! Ini aku, Firmansyah. Apa ritual ini bisa kita mulai malam ini?” tanya Firmansyah dengan nada cemas dan tidak sabar.
“Kembalikan payung hitam itu ke tempatku.” Pinta suara itu datang lagi.
Jantung Firmansyah semakin kencang dan merasa takut.
“Lho itu bukannya suaranya Nenek Bulan, ya? Itu bukan suara, Pak Dukun Suparno.” Ucap Firmansyah dalam batinnya. Firmansyah tercekat.
“Siapakah sosok yang membelakangiku ini sebenarnya? Siapakah dia? Ke mana Pak Dukun Suparno sekarang? Perasaan enak langsung menyergapku.” tanya Firmansyah dalam batinnya yang penuh misteri itu.
“Dorrrrrrr ....” Suara sesuatu.
Tiba-tiba Pak Dukun Suparno memutar badanya menghadap ke arah Firmansyah. Matanya seketika melotot menatapnya. Mulut Firmansyah menganga lebar, dan sangat terkejut.
“Dia ... Dia ... Dia .... Wajahnya pucar berdarah. Mata, hidung, dan telinganya ditutupi dengan orang yang mau dikafankan.” Ucap batin Firmansyah dan merinding seketika itu.
Tiba-tiba selarik angin berhembusan menerpa wajahnya. Aroma daun pandan, kayu cendana, dan wangi kembang aneka rupa memenuhi penciuman Firmansyah.
Di hadapannya telah duduk arwah Nenek Bulan. Sosok kaku itu bergegas mendekati Firmansyah.
Tubuhnya seketika membeku sebelum tangan keriput itu menggapai lehernya Firmansyah dan seketika itu penglihatan menjadi gelap dan pingsan.
Keesokan harinya Nanang mencari sahabatnya itu untunglah dia mempunyai firasat buruk tentang kejadian yang menimpa sahabatnya itu.
Kemudian Nanang mengajak Ustaz untuk menemukan Firmansyah di gubuk Pak Dukun Suparno yang letaknya di tengah-tengah hutan.
Dan ada beberapa masyarakat termasuk ayah dan ibu Firmansyah datang juga. Karena Nanang telah menceritakan kejadian sesungguhnya kepada kedua orang tua dan adiknya Aminah juga sudah tahu.
Setibanya mereka di tempat Pak Dukun Suparno mereka semua kaget melihat Pak Suparno tewas.
Sementara Firmansyah pingsan, Ustaz mencoba membacakan ayat-ayat Suci Al-Qur'an dibacakan di depan gelas air putih kemudian diusapkan ke wajah Firmansyah bersama anggota tubuhnya itu.
Beberapa menit kemudian Firmansyah sadar dan merasa ketakutan. Kedua orang tuanya menangis setelah tahu kejadian yang menimpa anak mereka tersebut.
Sementara masyarakat setempat membawa mayat yang telah dibersihkan dan dimandikan oleh masyarakat yang dipimpin oleh Ustaz itu.
Kemudian mereka membawa mayat tersebut dan bersama payung hitam untuk dikembalikan lagi ke tempat asalnya itu.
Semenjak setelah kejadian itu Firmansyah memohon ampun kepada Allah dan bertobat dan dia menyesali perbuatannya itu. Dengan dibimbing oleh Ustaz.
Akhirnya Firmansyah kembali ke jalan yang benar. Kemudian ia mendapatkan jodoh yang cantik jelita anak dari Ustaz.
__ADS_1
Dan anaknya Ustaz menerima lamaran dari Firmansyah. Akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia.