
Setiap hari menjelang malam hari tibalah seorang bapak ke rumah setelah seharian bekerja di sawah.
Dari sawah ke rumahnya itu berkisar 30 menit perjalanan untuk mencapai tujuan. Sosok itulah bernama Suyatman.
Ia masih terjaga dari tidurnya karena belum bisa memejamkan matanya. Baru satu bulan Suyatman tinggal bersama istri dan anak itu di rumahnya yang baru ini.
Padahal badannya terasa lelah karena seharian tadi bekerja di sawah demi menafkahi istri dan anaknya.
Mencari sesuap nasi dengan cara mengelola sawah mereka sendiri. Di tempat tidur Suyatman melihat anak dan istrinya sedang tidur pulas beberapa jam yang lalu.
Istrinya bernama Sutini dan anaknya masih berumur 8 tahun bernama Sunarmi yang masih duduk di kelas 3 SD.
Karena merasa bosan Suyatman kemudian keluar dari kamarnya menuju ruang tamu.
Dia kemudian duduk di sana sambil menyalakan sebatang rokok. Suyatman berharap, setelah rokoknya habis.
Matanya bisa dipejamkan hingga bisa membuatnya tidur. Namun, belum lama menghisap rokoknya.
Tiba-tiba Suyatman mendengar ada suara perempuan yang sedang bernyanyi. Jantungnya seketika itu berdegup sangat cepat.
“Siapakah sosok perempuan yang ada di pekarangan rumahku malam-malam buta begini, ya?” tanyanya.
Tiba-tiba rasa takut hinggap di hatinya. Namun, walaupun merasa takut, Suyatman tetap mencoba memberanikan dirinya untuk membukakan pintu rumahnya itu.
Rasa penasaran ternyata lebih kuat bertahan di hatinya itu. Ketika membuka pintu Suyatman seketika itu terkejut.
Di pekarangan depan rumahnya itu bertepatan di bawah pohon mangga. Tampak bayangan sosok seorang perempuan berambut panjang.
Berbaju putih sedang duduk di atas ayunan yang berada di bawah pohon mangga itu. Posisi duduknya membelakangi Suyatman.
“Siapakah perempuan yang duduk di atas ayunan itu? Apa dia tersesat dan tak tahu jalan pulang menuju rumahnya?” tanyanya dalam batinnya dengan penasaran.
Dengan agak ragu-ragu Suyatman kemudian mendekatinya. Angin malam yang berhembus perlahan sangat terasa menusuk tulang dan kulitnya itu.
“Maaf Mbak sedang apa di sini udah malam-malam kayak gini sendirian lagi?” tanya Suyatman dengan suara agak bergetar.
Mendengar sapaan Suyatman, kemudian perempuan itu seketika menghentikan senandungnya.
Namun, ia tak bereaksi. Hanya diam saja tak menjawab sekata apapun kepada Suyatman. Apa lagi menoleh ke arah Suyatman.
“Mohon maaf Mbak warga baru di sini, ya?” tanya Suyatman lagi dengan sangat penasaran.
Tak lama kemudian dengan gerakan perlahan, perempuan itu menoleh ke arah Suyatman.
Suyatman sangat terkejut melihat wajah perempuan itu sangat pucat dengan sorot matanya yang begitu tajam dan menakutkan.
Sangat menyeramkan melihat wajah perempuan itu telah berubah menjadi seorang nenek-nenek tua yang kulit keriput dan wajahnya kelihatan berusia sangat renta.
Tak lama kemudian perempuan tua itu menoleh dan tersenyum ke arah Suyatman dengan menampakan gigi taringnya yang kehitaman dan panjang.
Suyatman spontan menjerit, membangunkan warga sekitar. Sebelum para warga mendatanginya.
Suyatman sudah jatuh pingsan dan sosok perempuan tua itu pun seketika menghilang tanpa jejak.
Besoknya Suyatman tidak turun ke sawah. Badan terasa meriang dan kepala pusing.
Di rumah dia sendirian, sementara Sunarmi anaknya belum pulang dari sekolah. Sedangkan istrinya pergi ke pasar.
Sekitar jam setengah 12 siang, Suyatman bangun dari tidur. Perutnya terasa sangat lapar.
Dia ingat kalau dari pagi tadi belum makan apa-apa. Suyatman kemudian beranjak ke dapur.
Namun, dia tertegun di depan meja makan. Makanan yang sudah disiapkan Sutini istrinya semua menjadi basi, padahal makanan itu dimasak oleh istrinya tadi pagi.
__ADS_1
Belum hilang ketertegunnya, Suyatman kemudian mendengar suara-suara tawa yang berasal dari belakang rumah.
Seperti suara bocah kecil yang sedang bermain. Kemudian Suyatman segera bergegas melangkahkan kakinya ke pintu dapur.
Dia ternyata sangat penasaran, ketika pintu terbuka. Suyatman terkesiap. Dua anak lelaki berusia sekitar delapan tahun sedang berlari kesana kemari.
Mengintari pohon belimbing itu. Kedua bocah itu hanya menggunakan celana boxer pendek warna hitam tanpa menggunakan baju di badan mereka.
Suyatman tak pernah melihat anak-anak itu sebelumnya di sini.
“Hei ..., Apa kalian tidak sekolah, ya?” tegur Suyatman sambil teriak.
Kedua bocah laki-laki kecil itu seketika berhenti, menatap balik ke arah Suyatman. Suyatman bergidik, wajah mereka seperti kakek-kakek berusia sembilan puluh lima tahun.
Kedua bocah itu kemudian mendekatinya, sambil mengulurkan tangan mereka seperti ingin mengajaknya bermain bersama dengan mereka.
Ketika melihat tangan itu, jantung Suyatman seperti mau copot. Tangan mereka hanya berupa tulang belulang seperti tangan tengkorak.
Suyatman ingin menjerit tetapi suaranya tercekat di kerongkongan. Ketika mereka menyeringai kemudian Suyatman jatuh pingsan.
Semakin hari penyakit Suyatman kian bertambah parah. Badannya tak hanya panas dan meriang.Tetapi dia juga sering mengigau dalam tidur.
Suyatman juga sering melamun dan tiba-tiba dia menjerit tanpa sebab. Sutini melihat tingkah suaminya menjadi sangat cemas dengan keadaan suami terus menerus menjadi seperti itu.
Malam ini Sutini kembali terjaga dari tidurnya. Suyatman yang tadi tidur nyenyak. Tiba-tiba terbangung dan berteriak seperti orang kesurupan.
Untung saja anak mereka sama sekali tidak ikut-ikutan bangun. Sejak Suyatman sakit, Sunarmi tidur di kamar sendiri yang berada di sebelah.
“Ada apa Mas Suyatman dengan, Sampean? Apa yang terjadi dengan sampean, Mas?” tanya Sutini dengan cemas bercampur takut.
Suyatman hanya diam. Napasnya terdengar memburu. Beberapa menit kemudian Suyatman menoleh ke arah Sutini.
Matanya sangat merah, tajam, dan marah. Sutini melihatnya langsung saja bergidik. Tak pernah Sutini melihat ekspresi wajah suami seperti itu sebelumnya.
Suyatman tetap membisu. Tiba-tiba tangannya mencengkram leher Sutini. Mencekiknya dengan sekuat tenaga. Sutini sontak tergeragap dan tak bisa bernapas.
“Kembalikan benda itu” Suyatman mengerang seperti orang kerasukan.
Sutini terkesiap.
“Apa maksud, Mas Suyatman? Lagian suara itu bukan suara suamiku. Suara itu seperti nenek-nenek. Serak dan terdengar menyeramkan,” tanya batin Sutini sambil dengan penasaran dan takut.
“Kembalikan benda itu.” Pintanya lagi
Cengkramannya begitu kuat terasa erat.
Sutini semakin kehabisan napas. Namun, di dalam ketakutan Sutini masih bisa berpikir untuk menyelamatkan diri dengan cara menendang perut suaminya.
Untung saja bermodalkan pencak silat yang pernah dia ikuti sejak kecil. Sambil membacakan Allahu Huakbar … dengan sekuat tenaga Sutini akhirnya terlepas dari cekikan tangan Suyatman dari lehernya.
Dan terpaksa Sutini tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia segera keluar dari kamar dan memanggil tetangganya.
Tak lama para tetangga mulai ramai berdatangan. Dan Suyatman pun bisa ditenangkan kembali.
Semakin lama penyakit Suyatman kian semakin parah. Perilakunya sangat aneh, tidak hanya membuat heran. Tetapi juga menimbulkan ketakutan pada Sutini dan anaknya Sunarmi.
Akhirnya sesuai saran para tetangga Sutini mendatangkan ustaz. Ustaz tersebut bernama Hamdi.
“Ustaz sebenarnya suami saya sakit apa?” tanya Sutini dengan nada cemas.
“Suaminya Ibu sepertinya diganggu sama makhluk halus.” Jawab Ustad Hamdi dengan tegas.
“Rumah yang kalian tempati sekarang ini banyak penunggunya,” ucap Ustaz Hamdi menjelaskan.
__ADS_1
“Iya, tetapi rumah ini baru, Ustaz. Sangat mustahil ada penunggunya, Ustaz!” timpal Sutini dengan nada menyangkal.
“Bukan rumah yang baru, Bu. Masalahnya lahan yang kalian ini sebenarnya tanah larangan yang tak boleh ada satu pun bangunan yang berdiri di sini, Bu.” Ucap Ustaz Hamdi mencoba menjelaskan kepada Sutini.
Mendengar penjelasan Ustaz Hamdi, Sutini langsung merinding.
Sebelum mengobati Ustaz mengambil air wudu dan mencoba duduk bersila sambil menutup mata.
Ustaz mencoba menerawang kejadian yang sebenarnya mengapa Suyatman mengalami kejadian hal yang aneh itu.
Dan akhirnya atas izin Allah Ustaz kemudian berhasil menerawang kejadian tersebut.
“Sebelum membeli tanah untuk rumahnya ini, Suyatman telah diperingatkan oleh orang-orang sekampung. Mereka mengatakan banyak jin dan dedemit yang bersemayam di sini. Di tanah kosong itu sering terjadi hal-hal yang ganjil. Kerap terlihat bayangan seorang nenek yang sedang mencabuti ilalang. Dan malam-malam tertentu selalu tercium aroma menyan yang sangat menyengat. Dan masih banyak kejadian aneh lainnya. Namun, Suyatman tak perduli. Itu takhayul menurut Suyatman. Yang penting harga tanah ini sangat murah. Tanpa sepengetahuan siapa pun, ketika para tukang bangunan menggali tanah untuk membuat pondasi rumahnya Suyatman menemukan sebuah benda kecil dan panjang berbentuk ular sepanjang 20 cm berwarna hitam, Suyatman tidak tahu, ternyata benda itu adalah keris pusaka yang tak boleh diambil oleh orang lain. Kemudian malamnya Suyatman bermimpi, ia bertemu dengan sosok seorang nenek tua. Nenek itu bilang, kalau keris pusaka itu harus segera dikembalikan di tempat asalnya, kalau tidak Suyatman akan mendapatkan celaka. Namun, Suyatman tidak mengindahkan mimpi itu. Dia malah menyembunyikan benda pusaka itu di tempat yang sangat rahasia. Dia bertekad untuk menyimpannya.” Cerita Ustad Hamdi kepada Sutini.
“Hingga kini penyakit suami saya tak kunjung sembuh, Ustaz. Gimana cara menanggulanginya, Ustaz?” tanya Sutini kepada Ustaz.
“Saya akan mencoba berkomunikasi dengan nenek itu dan mencari solusi biar suaminya Ibu cepat sembuh.” ucap Ustaz Hamdi.
Kemudian Ustaz Hamid segera mencoba komunikasi dengan nenek itu di alam gaib. Akhirnya nenek itu meminta agar kerisnya segera di kembalikan ke asalnya.
“Bu, keris itu segera dikembalikan ke asal semula dimana suaminya Ibu menemukan keris itu.” Saran Ustaz Hamid.
“Ustaz, tolong suami saya diberikan kesembuhan agar bisa sehat dan jauh dari gangguan-gangguan makhluk halus.” Pinta Sutini.
Ustaz Hamid kemudian membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an di depan gelas air putih kemudian di air tersebut diusapkan ke wajah, tangan, kaki, kepala, dan anggota tubuh lainnya.
Akhirnya Suyatman sadar dan segera mengembalikan keris pusaka itu ke tempat asalnya.
Tak hanya itu juga ketika malam telah tiba Suyatman dan Sutini tidak bisa memejamkan mata, suara wanita yang sedang bersenandung dan tawa bocah yang bermain di pekarangan belakang terdengar gaduh di telinga mereka berdua.
Sampai pagi mereka berdua tidak tidur.
Keesokan hari Suyatman dan Sutini mendatangi rumah Ustaz Hamdi dan mengajak Ustaz Hamdi untuk datang ke rumah mereka.
Mereka berdua menceritakan kejadian-kejadian aneh kepada Ustaz Hamdi. Ustad Hamdi kemudian mencoba menghubungi beberapa temannya untuk mencoba mengusir penunggu-penunggu yang ada di rumah Suyatman tersebut.
Kebetulan itu malam Jumat, malam Jumat terkenal dengan nama dimana makhluk-makhluk halus bertebaran.
Atas saran Ustad Hamdi dan beberapa teman agar Suyatman, Sutini, dan Anak mereka untuk mengambil air wudu kemudian salat dan mengaji bersama-sama.
Tak lupa para tetangga mereka juga ikut membacakan surat-surat Al-Qur'an.
Tiba-tiba sosok nenek-nenek tua dan kedua bocah tersebut muncul di hadapan para Ustaz.
“Kenapa kalian mengganggu kami di sini? Jangan usir kami di sini, ini tempat kami.” Suara itu sangat menyeramkan dengan nada kesal dan marah.
“Kalian harus pergi dari sini ini bukan tempat kalian lagi. Jadi, tolong keluarlah dari sini. Karena orang-orang sini tidak bermaksud mengganggu kalian,” ucap Ustaz Hamdi kepada makhluk-makhluk halus itu dengan sopan.
“Kami tidak akan keluar dari sini, biar bagaimana pun tempat ini telah lama kami tempati sebelum mereka berada di sini ******* ....” Ucap makhluk-makhluk halus dengan nada marah.
“Kalau kalian tidak keluar dari sini maka kalian semua akan terbakar dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an ini. Oleh karena itu, kami meminta segeralah kalian pindah dari sini cari tempat lain untuk kalian tempati,” pinta Ustaz Hamdi kepada makhluk-makhluk halus itu.
“Bangsat ..., kalian dasar manusia serakah. Kami tidak akan pindah dari sini ******* ....” Ucap Makhluk-makhluk itu dengan sangat marah.
Kemudian Ustaz Hamid mulai membacakan ayat-ayat Quran.
“Ahhhhhkkkk ..., panas ..., panas .... Jangan baca ayat-ayat itu lagi, kami akan pindah ke tempat lain.” Ucap Makhluk-makhluk itu kepada para ustaz.
Akhirnya mahkluk-makhluk halus tersebut menghilang dan mencari tempat di hutan belantara dan tidak lagi datang mengganggu di rumah Suyatman.
Sesudah kejadian itu Suyatman dan Sutini mulai melaksanakan salat bersama-sama dan membaca Al-Qur"an setiap hari selepas salat dan sebelum menjelang tidur.
Hidup tentram dan aman sampai Sunarmi tumbuh dewasa dan lulus di Sekolah Menengah Atas (SMA). Dan tidak ada lagi kejadian-kejadian aneh dan tidak ada gangguan lagi.
__ADS_1