
Lingkungan dan pemandangan di desa yang begitu indah. Menambah pesona dikelilingi sawah yang begitu tumbuh subur.
Dan tak lama lagi penduduk desa itu akan segera memanen padi yang sudah mulai menguning itu.
Bedug Magrib pun mulai berbunyi sekitar sepuluh menit yang lalu, itu tandanya malam sudah semakin larut dan begitu sepi.
Tidak seperti malam-malam sebelumnya, begitu mencekam dan sepi. Kampung itu bak yang tak bertuah lagi. Sunyi senyap hanya terdengar suara-suara jangkrik.
Biasanya walau terbilang sepi, setidaknya masih saja ada satu atau dua orang yang lalu lalang di jalan karena sesuatu keperluan.
Namun, malam itu sejak peristiwa yang mengerikan itu terjadi, warga kampung termasuk keluarga Ari tak ada yang berani keluar rumah selepas Magrib. Itupun karena ada keperluan mendadak.
Seperti biasanya warga kampung merasa nyaman berada di rumah masing-masing. Dan itu sudah terjadi selama tiga malam berturut-turut termasuk malam itu.
Ya, sejak peristiwa itu kampung mereka seperti tak bernyawa di malam hari. Denyut jantung Ari terhenti sejenak seiring dengan kejadian yang tidak pernah ia duga dan belum pernah terjadi sebelumnya di kampung mereka.
Ari baru saja mengerjakan salat Magrib. Ketika mendengar suara kasak-kusuk dan berisik dari ruang TV. Suara ayahnya yang baru saja pulang dari melihat padi di sawah mereka sendiri dan ibunya sedang mempersiapkan makanan.
Walaupun berbisik-bisik tetapi masih terdengar dengan jelas dari dalam kamar percakapan antara ayah dan ibunya Ari.
“Ari ke mana, Bu?” tanya Ayahnya dengan nada cemas.
“Emangnya ada apa sih, Ayah?”
“Ayah, khawatir aja kalau Ari belum pulang ke rumah, Bu!”
“Namanya aja sekolah siang, Ayah. Masak udah Magrib begini belum pulang ke rumah,”
Kemudian Ayah dan Ibunya Ari sama-sama diam sejenak.
“Ibu mungkin sudah mendengar kabar yang beredar akhir-kahir ini di kampung kita, ya?”
“Ya Ayah, setiap hari selalu aja ada orang yang ngerumpi tentang kejadian itu, Ah ..., entah benar apa tidak cerita-cerita mereka itu, ya?
Hening sejenak. Ayahnya Ari seolah sedang mengumpulkan tenaga untuk mengatakan sesuatu.
“Itu benar, Bu! Benar apa yang dikatakan orang-orang. Dia kembali lagi, Bu!” seru Ayahnya Ari lagi.
“Ayah ...,” suara Ibunya Ari tercekat.
“Ya .... Kali ini Sumarlin sendiri yang mengalaminya, Bu. Ketika pulang dari menunai padi di sawah menjelang Magrib kemarin, tak sengaja ia melihat ada sosok bayangan seorang anak gadis yang sedang bermain di sela-sela batang padi yang sudah di panen itu. Awalnya sih Pak Sumarlin mengira anak itu sedang bermain petak umpet di sawah beliau menyuruh anak itu pulang karena sudah hampir malam.” Ucap Ayahnya Ari sambil cerita kepada istrinya itu.
"Masya Allah, Ayah ... Lalu?” Ibunya Ari sambil memotong, suaranya tercekat mendengar cerita suaminya itu.
“Kemudian Pak Sumarlin dengan sangat penasarannya segera mendekati gadis itu. Namun, setelah didekati, gadis kecil itu tiba-tiba menghilang dan meninggalkannya dengan bau daging hangus dan bau amis yang menyayat. Setelah itu Pak Sumarlin sadar dan langsung mengambil langkah seribu yaitu lari terbirit-birit dan meninggalkan sawah dan lupa membawa gabah padi yang di pikulnya tadi.” Ucap cerita Ayahnya Ari.
Tiba-tiba saja bulu kuduknya Ari langsung merinding ketika mendengar percakapan antara ayah dan ibunya.
“Apa benar yang diceritakan Pak Sumarlin pada Ayah itu benar, ya? Atau hanya cerita omong kosong belaka, ya? Kalau itu benar-benar terjadi, bagaimana? Apa iya sih orang sudah meninggal bisa hidup kembali lagi dan menampakkan wujudnya kembali, ya? Ah ..., Aku sekarang lagi pusing terjebak dalam suasana pikiran halusinasiku sendiri, antara percaya dan tidak dengan kabar yang terdengar aneh belakangan ini,” gumam Ari dalam batinnya.
Guntur mulai terdengar bersahut-sahutan di langit pertanda mau turun hujan. Awan menjadi hitam menggumpal di sana dan mulai bergerak menghiasi langit malam yang mengintip dari sela-sela jendela kaca kamarnya Ari.
“Sepertinya hujan akan kembali melandai kampung mereka. Mudah-mudahan tidak ada petir yang turut menghiasi lagi. Membuat aku menjadi takut ini.” Ucap Batin Ari.
Angin yang bertiup begitu kencang dan membuat tubuh Ari merasakan ngilu yang menusuk tulangnya itu.
Menambah suasana malam menjadi semakin mencekam. Di antara rasa penasaran dan rasa takut itu, hatinya Ari malah sibuk bertanya-tanya dan memikirkan sesuatu yang pernah terjadi.
“Apakah benar dia itu kembali lagi, ya? Arwah Naning ...,” tanya Ari dalam batinnya.
Ari mengingat kejadian seminggu yang telah berlalu itu. Tepat di hari Minggu sewaktu warga pulang termasuk Ari beramai-ramai memanen padi di sawah.
Ari diizinkan ayahnya ikut membantu karena libur sekolah, selain Ari teman sebayanya; Aldi, Husin, Alan, Tina, Aulia, dan Naning juga ikut membantu orang tua mereka masing-masing.
Dan Naning lah yang menjadi topik utama dari cerita yang menjadi buah bibir warga kampung mereka akhir-akhir itu.
Menurut Ibu Surep, ibunya Naning, selama itu Naning tak pernah mau turun ke sawah walau hanya untuk mengantarkan makanan untuk Pak Indra bapaknya.
Namun, entah kenapa hari itu juga dia bersikeras ingin membantu memanen padi di petak sawah mereka.
__ADS_1
Mungkin Naning bosan di rumah dan ingin merasakan kegembiraannya karena padi mereka mau dipanen.
Dengan panen kali ini terbilang berhasil. Padi-padi yang gemuk dan kuning memang mengundang tangan-tangan untuk memetik.
Mungkin juga Aminah pergi ke sawah menemui ajalnya di sana. Panen padi beramai-ramai lelahnya pun memang tidak dapat terasa.
Menunai padi dan sesekali ditimpali dengan senda gurau memang telah menjadi kebiasaan di kampungnya Ari, ada-ada saja tawa mereka semua dengan cerita yang mengundang tawa.
Jangan heran lagi kalau dari pagi hingga menjelang petang, mereka terus asyik dengan pekerjaan dengan menggunakan sabit untuk memotong padi yang sudah mulai menguning itu.
Kemudian Ari istrahat sejenak untuk makan siang dengan makanan yang mereka bawa dari rumah dan menyantapnya dengan nikmat di pondok-pondok yang terdapat di pinggiran sawah, mereka pun setelah makan kembali lagi bekerja.
Sepertinya tidak ada kata lelah untuk hari itu juga. Kecerian di sawah juga dilengkapi dengan suara anak-anak kecil yang bersorak riak.
Tak kala berhasil merangkap beberapa ekor burung pipit dengan jebakan sangkar mereka, sembari bermain layang-layang dan berkejaran sepanjang jalan di pinggir sawah. Semua anak kecil itu benar-benar hari itu juga sangat ceria.
Namun, keceriaan mereka tidak berlangsung lama, sekitar pukul satu siang, tiba-tiba awan menggumpal di atas langit dengan mendung hitam mengelayung dari atasnya.
Seperti hujan terus saja menuai padi di sela-sela gerimis yang sudah mulai membias. Ketika sedang asyik memanen.
Tiba-tiba saja terdengar suara petir yang sangat keras, kilatan hitam cahaya yang sangat menyilaukan, dan menyerupai lidah ular muncul sesaat di tengah-tengah Ari.
Cahayanya sejenak turun ke bumi dengan begitu cepat dan menghantam sawah yang sedang mereka panen.
Melihat itu mereka semua menyelamatkan diri dan tiarap di antara ilalang padi. Semenit setelah peristiwa alam itu berlalu.
Sadarlah mereka kalau petir itu meminta tumbal. Mereka semua lantas terkesiap dengan pemandangan yang ada di depan mata mereka.
Di sana sekitar 25 meter dari posisi merunduk, Naning sudah terkapar di tanah dengan tubuh yang menghitam dan hangus terbakar.
Keadaannya sangat mengenaskan. Petir yang menyambar tubuhnya telah merusak sirkulasi darah, sistem saraf, dan pernapasannya.
Mereka lupa kalau petir memang senang mencari tanah yang luas seperti sawah untuk melepaskan energinya yang begitu menyeramkan.
Tak heran jika tubuh Naning hangus seperti itu bak ikan dipanggang di atas bara. Karena udara dalam petir sangatlah panas 28.000 derajat celcius.
Mulutnya terlihat komat-kamit dengan suara tak jelas, mungkin dia ingin minta tolong atau sementara mengucapkan kalimat dua sahadat atau minta maaf.
Dan beberapa detik kemudian Naning menghembuskan napas terakhirnya itu. Pak Indra langsung saja shock.
Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut beliau. Hanya air mata yang mengalir ke dua pipi mewakili kesedihan hatinya bersama Ibu Surep yang tak percaya kalau anaknya akan pergi selama-lamanya.
Naning sebaya dengan Ari. Mereka sama-sama duduk di kelas tiga SMP. Satu sekolah bahkan sekelas, dia adalah anak sulung Pak Indra dan mempunyai tiga orang adik yang masih duduk di bangku SD.
Di antaranya anak perempuan di kampung itu, Naning memang yang paling dekat dengannya.
Mungkin karena Ari sering meminta bantuan agar diajarkan Matematika padanya. Naning memang anak yang begitu cerdas.
Naning memang bintang kelas juga, bukan hanya satu bidang pelajaran saja yang dia kuasai tapi semua mata pelajaran.
Darinya lah Ari kerap meminta bantuan bikin PR dan mengajaknya bersama-sama belajar di rumah Darsono teman sekelas mereka yang tinggal di kampung sebelah.
Biasanya kalau ada PR Matematika pasti Ari mengajak Naning ke rumahnya Darsono untuk mengerjakan bersama-sama.
Dan dia tidak pernah menolak. Mereka biasanya motor ke rumahnya Darsono. Naning duduk manis boncengan di belakang dari Ari.
Teman-teman mereka sangat usil dan iseng bahkan mereka berdua pernah digosipkan berpacaran baik terang-terangan maupun dari belakang mereka berdua itu.
Teman-teman mereka mengatakan mereka berdua adalah pasangan yang lagi pacaran.
Namun, ledekan itu hanya mereka berdua anggap dengan senyuman dan tidak di ambil pusing oleh mereka berdua.
Untung saja hal itu tidak membuat persahabatan dengan Naning tidak menjadi renggang begitu saja.
Hanya karena isu murahan itu. Di antara Ari dan Naning sudah mengadakan perjanjian tidak tertulis, bahwa hubungan mereka benar-benar murni sekedar persahabatan biasa-biasa saja.
Lagian siapa juga yang mau pacaran masih anak kecil. Sekarang Naning telah tiada.
Tak ada lagi anak gadis yang duduk dengan manis di boncengan motornya Ari. Kejadian kemarin benar-benar membuat Ari menjadi terpukul.
__ADS_1
Kepergian Naning yang begitu mendadak dan sangat tragis telah mengurai kesedihannya yang terdalam.
Semakin hari semakin aneh saja kabar yang dibawa oleh warga kampung tersebut. Cerita tentang arwah Naning yang bergentayangan sebagai bekas sahabat Ari semasa hidupnya itu.
Ari tidak yakin kalau arwah Naning kembali lagi. Naning yang baik takdirlah yang membuatnya seperti itu.
Disambar petir bukan berarti Naning terkena kutukan. Orang-orang saja yang sudah mulai tidak terkendali atau kelebihan nonton film horor sehingga perasaan takut mereka sendiri.
Namun, Ari tak bisa membantah apa yang dikatakan oleh mereka. Ari hanya bisa diam membisu dan prihatin dengan keluarganya yang ditinggalkannya itu.
Kasak-kusuk memang sering terjadi di mana-mana, apalagi kalau cerita itu berasal dari kejadian yang tak wajar itu, pastilah akan menjadi buah bibir yang panjang.
Sudah teramat sering Ari mendengar orang-orang kampung mereka membicarakan arwah Naning yang konon katanya gentayangan, seolah-olah mereka sendirilah yang mengalaminya.
Kabarnya sejak kematian Naning, anak-anak tak pernah lagi mengadakan pengajian selepas Isya setelah mendengar cerita Ardi.
Menurut Ardi ketika pulang mengaji di surau bada Isa dia melihat sosok Naning di bawah gardu listrik dengan pakaian compang-camping.
Saat itu hujan turun dengan lebatnya. Melihat itu Ardi langsung lari terbirit-birit sambil teriak memanggil ibunya.
Masih untung dia tak pingsan di tempat itu. Cerita Kahar lainya. Teman sebayanya Ari itu pernah melihat sosok arwah Naning tengah merangka-rangka di sekitar tempat kejadian, di sawah tempat mereka memanen padi.
Kejadiannya menjelang Magrib di antara hujan yang turun dengan lebatnya. Awalnya Kahar mengira itu adalah kambingnya yang tersesat.
Namun, setelah didekati ternyata itu adalah sosok gadis kecil yang berpakaian compang-camping dengan tubuh yang terbakar hangus tengah merangka dengan gerakan memutar.
Ada juga cerita yang datangnya dari Bu Min, pemilik warung kopi di ujung kampung mereka. Ketika menjelang Magrib, warung Bu Min didatangi seorang gadis kecil yang ingin berbelanja.
Hujan dan Guntur yang bersahut-sahutan membuat kosentrasi Bu Min terpecah begitu saja.
Namun, Bu Min setelah mengamati dengan jelasnya, betapa terkejutnya Bu Min, karena yang berdiri mematung di pojok warungnya adalah sosok gadis cilik dengan wajah yang hangus terbakar.
Aroma amis dan hangus terbakar yang berhembus membuat napas Bu Min sesak. Kemudian Bu Min pingsan seketika.
Begitulah beberapa kabar yang didengar di kampung warga termasuk Ari. Sebenarnya masih banyak lagi cerita-cerita yang lainnya.
Yang justru menurut Ari patut di pertanyakan kebenarannya itu.
“Apa benar arwah Naning menghantui kampung ini. Jujur di lubuk hatiku yang paling dalam dan terpendam ini, aku tak percaya dengan semua cerita mereka tentang almarhumah Naning.” tanya Ari dalam batinnya.
Uniknya lagi arwah Naning selalu muncul di saat hujan turun dengan lebatnya. Jam sudah menunjukan pukul setengah enam sore ketika Ari pulang dari mengerjakan PR di rumah Darsono.
Dengan perasaa yang Ari sendiri tidak memaknainya itu. Ari membawa motornya dengan sangat pelan.
Ari kemudian pulang sekolah, tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya, sebentar lagi mau malam akan menjelma.
Kemudian Ari berteduh sebentar dengan motornya itu. Jalan sangat sepi sekali.
Langit tiba-tiba terang menyala seperti sebuah lampu dengan kekuatan 25.000 ampere dan kemudian disusul dengan suara halilintar yang menggelegar.
Cahayanya yang lebih terang dari 11 juta bola lampu pijar 120 watt itu sekilas menerangi jalan kampung yang sudah mulai gelap.
Tiba-tiba Ari merasakan ada yang membebani motornya hingga jalannya terasa ada yang berbonceng.
Untuk menghindar dari terpaan air hujan yang terasa menusuk wajah, Ari lantas melajukan motornya sambil merunduk.
Namun, ketika pandangannya membentur ke kaca spion motornya Ari sangat terkejut bukan main.
Ari melihat ada sepasang kaki hitam terbakar sedang berjuntai di sana.
“Ya Allah siapakah yang berada di belakangku ini yang sedang berboncengan denganku ini?” tanya Ari dalam batinnya.
“Apakah dia ...?” tanya Ari kembali dengan perasaan takut.
Napasnya seolah terhenti. Kehabisan oksigen, ketika bau daging hangus dan amis darah menerpa penciumannya, kemudian Ari merasa takut dan merinding.
Hampir saja dia jatuh dari motornya, kemudian ia membacakan Ayat-ayat suci Al-Qur'an, seketika sosok bayangan itu menghilang seketika.
Dan Ari melaju dengan motornya itu karena takut. Kemudian tibalah Ari ke rumahnya dengan selamat.
__ADS_1