
Memenangkan persaingan itu sulit. Secara nyata begitu. Linda tidak ingin menggunakan cara yang jorok, seperti seorang Youtuber yang rela makan mi instan dicampur kotoran. Tidak. Harga dirinya masih tinggi. Standarnya tidak akan ia turunkan serendah itu. Dia bukan manusia rendah.
Walau dia tetap butuh uang. Untuk beberapa tahun ke depan. Setelah ayahnya mengalami kecelakaan kerja dan harus pensiun dini.
"Kamu yakin?"
"Iya, Mbah. Bisa, kan?"
"Duh, kamu ini aneh. Tanggung. Kenapa gak ambil paket pesugihan aja?"
"Saya takut, Mbah. Tapi ini cara yang menurut saya paling aman. Mbah bisa kan?"
"Kamu meragukan kemampuan saya?"
"Bukan begitu. Tapi dari sikap Mbah kayak gak meyakinkan gitu." Mirai membenahi duduknya. Rok jin miliknya mulai panas. Duduk di antara dua kaki yang terlipat membuatnya pegal. Sedikit kesemutan, jempol kakinya bergerak-gerak. Mencari udara bebas di balik kaus kaki putih.
"Bisa, bisa. Kalau cuma begitu, kecil. Tapi tetap ada maharnya loh."
"Berapa emang Mbah?"
"Kita cari dulu yang paling cocok buatmu. Enaknya apa? Tuyul? Kuntilanak? Atau Gederuwo?"
"Kuntilanak aja Mbah. Jadi biar lebih greget. Ada suara ketawanya, ada penampakan lewat pas nanti saya lagi siaran langsung di belakang. Gimana?"
__ADS_1
Mbah dukun itu menaikkan sebelah alisnya. Meraih gelas berisi air mineral berisi taburan bunga, meminumnya, lantas menyemburkannya pada wajah Mirai. Saking terkejutnya, Mirai tersentak ke belakang. Kakinya sakit akibat gerakan tiba-tiba. Kesemutan itu memuncak. Mirai meringis kesakitan.
"Itu sudah, sama bawa ini. Dan mana uangnya, lima juta."
"Hah? Yang bener saja dong, Mbah!" Mirai mengambil bungkus kain coklat. "Apa isinya?"
"Isinya bisa ada kalau kamu taruh setetes darah kamu di sana. Nanti sampai di rumah, kamu tusuk aja jarimu, terus teteskan di dalam kantung itu. Setelah itu, tutup sebentar. Nanti kalau ada reaksi, ada bergerak-gerak, buka dan ambil isinya."
Mirai bengong berkali-kali melihat Mbah dukun dan bungkus kain di tangannya.
"Percaya, kan? Kalau iya, mana duitnya?" Mbah dukun mengulurkan tangannya.
"Gak bisa diskon, Mbah? Diskon dong!"
***
Mirai mulai menyiapkan ponselnya. Rekaman video mengomentari tentang cerita hantu yang sedang populer di sebuah desa. Bungkus kain juga sudah dikeluarkan dari tas, menaruhnya di atas meja, dan mengatur lampu belajar agar menerangi bungkus itu. Ia mulai menusukkan jarum pentul ke telunjuknya. Dengan cepat mengurutnya agar darah terkumpul di ujung. Butuh usaha ekstra sampai setetes darah terjatuh dari ujung telunjuknya. Masuk ke dalam bungkus itu dan Mirai menutupnya.
"Semoga berhasil."
Mirai menunggu untuk sesaat. Ia melihat gerakan mendadak dari bungkus itu. Ke kanan dan ke kiri. Perlahan berguncang seakan ada seekor hewan kecil mengais-ngais dari dalam. Dengan keberanian seadanya, Mirai langsung membuka bungkus itu. Tenang. Tidak ada kehebohan seperti sebelumnya. Ia mulai membukanya lebar dan melihat sesuatu yang ganjil.
"Rambut?"
__ADS_1
Mirai mengambilnya, merabanya, sedikit kasar dan berminyak. Rambut itu baru. Seakan baru saja rontok. Punggungnya diterpa angin dingin. Mirai melemparkan sekumpulan rambut itu di atas meja.
"Si Mbah nih, ada-ada aja. Terus buat apaan rambut ini?"
Mirai memulai rekamannya. Menekan layar ponselnya, memilih kamera dan mengaturnya pada posisi video. Dudukan ponsel juga sudah dia pasang. Tepat di depannya, Mirai menegakkan punggunya. Cahaya lampu belajar itu menerangi satu sisi wajahnya saja. Satu ide tercetus begitu saja. Dia langsung berdiri dan memencet saklar lampu.
"Nah, gini aja biar lebih mistis."
Tombol merah di tengah layar sudah dia tekan dan Mirai mulai berbicara sendiri. Dia tidak begitu setuju soal cerita hantu di sebuah desa itu. Terkesan terlalu cepat dan memaksakan agar sampai pada klimaks. Padahal kalau cerita itu asli dan utuh, salah seorang tokoh utamanya punya alasan khusus berbuat dosa itu. Tidak semata-mata gairahnya muncul akibat dari pengaruh pada hantu.
Di tengah-tengah bicara, Mirai merasakan punggungnya ada yang meraba. Dia menoleh. Tidak ada apa pun. Tapi setelah dia kembali fokus, punggungnya itu tetap terasa ada yang meraba.
Ia mematikan rekamannya. Hawa dingin malah memeluknya. Beberapa kali terserang bersin membuatnya terganggu. Mirai berniat melanjutkannya esok hari.
Hihihi...
Mirai mendengar suara itu. Secepat mungkin menyalakan lampu lagi. Tangannya gesit, sedikit melompat, saklar lampu itu dia pukul. Sedikit aliran listrik menjalar di tubuhnya. Lampu menyala, dan ia mulai melihat ke seluruh penjuru ruangan. Bantal, guling, semua masih pada tempatnya. Ia membuka lemarinya, tidak ada hal yang mencurigakan. Tapi, matanya mulai terusik oleh keberadaan sekumpulan rambut itu. Mirai menaruhnya lagi di dalam bungkus berbulu.
"Duh, besok kembalikan ah. Ngeri-ngeri."
Sesaat Mirai melihat ke kolong meja, sesosok perempuan berjongkok di sana. Mirai berteriak kencang. Namun suaranya tidak keluar. Ia menerjang kasur dan menarik selimutnya erat. Dia tahu itu bukan adiknya, bukan juga kakaknya, dia tahu itu sosok lain yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Mirai mulai merinding di sekujur tubuh. Kakinya terasa ada yang memegangi. Dia menendang-nendang kencang. Tidak terasa sosok itu merayap masuk ke dalam selimut.
Mirai tidak pernah membuka matanya. Tidak dalam waktu yang lama.
__ADS_1