MEREKA DI SEKITAR KITA

MEREKA DI SEKITAR KITA
PART 16 MISTERI RUMAH PAK SUKARJO


__ADS_3

Pemandangan di sekitar begitu indah. Banyak tumbuhan yang hidup di sekitar tempat yang indah.


Hari mulai sore dan matahari menyisakan cahayanya yang kuning keemasan ke ufuk Barat.


Suara sayap burung merpati beranjak pulang ke sarangnya memecah kesunyian yang senja.


Burung-burung itu tampak kelihatan berjejer rapi di sarang mereka. Memberikan pemandangan alam yang penuh sensasi.


Rahmat baru saja menyelesaikan tugas pekerjaannya membersihkan sampah yang ada di pekarangan rumah majikanya itu.


Menyiangi tanaman hias yang sudah menguning serta menyapu seluruh sudut pekarangan dari daun-daun pohon yang berguguran itu.


Di samping kiri terdapat kolam ikan yang begitu jernih dan banyak ikan yang berada di dalam kolam tersebut. Ikan; Emas, nila, dan lele.


Seseorang baru selesai membersihkan pekarangan dan memberikan makanan pada ikan di kolam.


Sosok itulah bernama Rahmat. Ia baru beristrahat sejenak sambil duduk di bangku panjang di pekarangan belakangan.


Ia menikmati pemandangan yang dikelilingi oleh tumbuhan yang berwarna hijau tumbuh subur.


Rahmat merasa kagum atas pekerjaannya sebagai seorang tukang kebun. Sehingga membuatnya terkagum dengan keindahan yang begitu asri ketika ia sedang duduk.


Terbukti setiap detail taman yang berada di pekarangan itu tertata begitu bagus dan sekaligus anggun.


Terkena angin sepoi-sepoi di matanya menjadikan Rahmat ngantuk.


Kemudian Rahmat menyandarkan punggung dan bahunya ke sandaran bangku serta mengendorkan otot yang begitu pegal di rasakannya itu.


Beberapa detik kemudian Rahmat sudah terlelap dengan posisi tubuh setengah rebah.


Entah sudah berapa lama Rahmat tertidur, tiba-tiba saja ia merasakan ada benda lembut yang menjilati jempol kaki kirinya.


Lembut dan dingin seperti anak kucing menjilat kulit. Dengan spontan Rahmat akhirnya kaget dan langsung bangun.


Darahnya tiba-tiba berdesir pelan.


Di depannya telah berdiri bocah laki-laki berusia sekitar 3 tahun.


Dengan pandangan yang masih buram dan cahaya matahari yang mulai tergelincir, maka matanya tidak dapat melihat dengan jelas wajahnya.


Rahmat hanya bisa melihat belakangnya saja karena dihalangi sinar matahari di depannya.


Bocah itu kepalanya botak. Badannya yang sedikit pendek hanya berbalut dengan celana dalam boxer dari zaman dahulu.


“Anak siapakah dia ini, ya?” tanyanya dalam batin.


“Hei kamu siapa?” tanya Rahmat dengan kaget.


Bocah kecil botak itu hanya diam. Tangannya hanya bersedekap di dada dan kepalanya di telengkan ke sebelah kanan.


“Kamu siapa?” tanya Rahmat kembali.


“Aku?” tanya bocah botak itu kembali dengan suaranya yang sengau.


“Ya. Kamu?” tanya Rahmat kembali.


“Aku Dade.”Jawab Dade bocah botak.


“Dade?” tanya Rahmat dengan penasaran.


Bocah itu hanya diam tak menganggukan untuk mengiyakan.


Posisinya sama seperti barusan.Tangan yang bersedekap di dada dengan kepala yang di telengkan ke sebelah kanan. Gayanya benar-benar menyebalkan.


“Kamu di sini sama siapa, sih?” tanya Rahmat kembali.


Kemudian Rahmat melihat sekeliling pekarangan, ia berpikir bocah itu nakal.


Mungkin datang bersama orang tuanya. Sengaja menyelinap ke sini dan mengganggunya.


Namun, tak ada siapa-siapa. Ketika kepala Rahmat kembali ke posisi semula, ia hanya menangkap bayangan tubuh Dade yang sudah melesat menjauhinya.


amenghilang begitu cepat di balik tembok rumah yang menjulang tinggi. Sebelum benar-benar menghilang dari pandangan.


Sayup-sayup Rahmat mendengar sosok yang sedang tertawa yang terpantul itu. Ia langsung merasakan merinding.


Tak terasa begitu cepat Rahmat bekerja dan sudah memasuki hari ke tujuh bekerja sebagai tukang kebun di rumah Pak Sudarmono.


Tugasnya bisa dibilang sangat ringan. Hanya bekerja di pagi hari sebelum ke sekolah dan sore hari setelah pulang sekolah.


Gaji yang ditawarkan pun terbilang tinggi. Rahmat dibayar oleh Pak Sudarmono lima ratus ribu rupiah per minggu.

__ADS_1


Sebuah angka fantastis untuk upah seorang tukang kebun. Selain untuk membayar SPP-nya.


Sebagian gajinya disisihkan untuk membantu ibu untuk keperluan sehari-hari dan kedua adiknya itu.


Sebelum adanya Rahmat, rumah besar itu hanya dihuni Pak Sudarmono bersama Pak Sukarno dan Ibu Rostini, suami istri yang telah bekerja dengan Pak Sudarmono.


Dari Bu Rostini Rahmat mendapatkan pekerjaan itu. Bu Rostini waktu itu mendatangi rumahnya.


Menawari pekerjaan sebagai tukang kebun di rumah Pak Sudarmono, menggantikan Mas Asep yang mendadak pulang ke kampungnya dengan alasan tak jelas.


Ibunya sering sakit-sakit sepeninggalan bapaknya, memang tak sanggup lagi bekerja menjadi buruh cuci pakaian.


Akhirnya Rahmat langsung menerima tawaran Ibu Rostini. Awalnya ia menolak. Namun, karena pekerjaan ini tidak mengganggu sekolahnya, lalu ia setuju.


Selain bekerja di situ, Rahmat juga diminta tinggal di rumah Pak Sudarmono. Tinggal di rumah yang mewah.


Pak Sudarmono adalah pengusaha sukses di kota ini yang berasal dari Jawa langsung. Rahmat sendiri tak tahu pasti apa jenis usaha yang di jalaninya.


Orang-orang kampung mereka juga tak ada yang tahu pasti pekerjaan apa yang sedang di geluti Pak Sudarmono hingga bisa meraih sukses seperti itu.


Rumah mewah dan kenderaannya begitu banyak telah dia miliki apalagi Pak Sudarmono memang jarang berada di rumah karena bisnisnya sendiri berada di pusat kota.


Sayangnya, ketika dia merintis usahanya, Pak Sudarmono ditinggal mati oleh istrinya beberapa tahun lalu karena penyakit yang aneh yang sukar disembuhkan itu.


Pak Sudarmono juga tidak memiliki anak, anak simata wayangnya juga ikutan meninggal saat dia sudah berhasil meraih kesuksesan.


Tepatnya tiga tahun setelah meninggalnya sang istri. Waktu pertama kali Rahmat menginjakkan kakinya di rumahnya Pak Sudarmono, Pak Sudarmono tidak memiliki apa-apa.


Namun, seiring dengan waktu yang telah berjalan, kehidupan Pak Sudarmono perlahan-lahan berubah.


Roda kehidupan ekonominya meningkat dengan sangat cepat.


Sekarang Pak Sudarmono tidak hanya hidup berkecukupan tapi sudah berlebihan. Di kampung mereka sosok Pak Sudarmono cukup disegani karena kedermawanannya itu.


Pak Sudarmono tidak segan-segan untuk mengubah kampung yang lusuh menjadi lebih yang cerah.


Jalan kampung yang tadinya hanya jalan setapak yang masih becek jika kena turun hujan akan menjadi becek.


Kini sudah mulai diaspal dan diberikan lampu penerangan jalan malam hari juga tidak gelap lagi berkat pertolongan Pak Sudarmono.


Pak Sudarmono juga tak segan-segan menolong warga yang sedang sakit atau tertimpa musibah atau kesusahan.


Tetapi yang punya kepekaan sosial yang menonjol memang hanyalah Pak Sudarmono.


Menjelang sore Rahmat kembali mengerjakkan tugasnya menyapu daun-daun kering, memotong, serta merapikan dahan, memberikan makanan ikan di kolam, dan ranting yang sudah mulai rimbun.


Kemudian Rahmat memilih untuk duduk di bangku taman menikmati angin sore yang sepoi-sepoi setelah ia selesaikan pekerjaannya itu.


Namun, kali ini ia tidak bisa berlama-lama duduk santai karena awan semakin mendung dan menjadi gelap di langit itu. Sebentar lagi hujan bakalan turun.


Beberapa menit kemudian hujan mulai turun walaupun hanya rintik-rintik dan menjadi hujan yang begitu derasnya.


Kemudian Rahmat bergegas masuk ke rumah. Di dalam rumah keadaannya sangat sepi.


Sementara itu Pak Sudarmono sedang berada di kota dan pulang menjelang selesai Isa nanti.


Pak Sukarno sedang tidur di kamarnya. Ibu Rostini sepertinya sedang sibuk di dapur menyiapakan makanan malam.


Sebelum pergi mandi, Rahmat mengambil Koran yang terbit hari ini. Membolak-balikkan isinya sambil duduk santai di sofa yang panjang.


Namun, karena di luar sedang hujan deras dan ruangan besar itu menjadi gelap. Rahmat beranjak menyalakan lampu.


Ternyata lampu mati. Niatnya semula ingin membaca diurungkannya. Kemudian Rahmat mencoba merebahkan tubuhnya di atas sofa, sambil tiduran di sana.


Di luar hujan kian semakin deras. Angin yang berhasil menembus ventilasi. Membuat kain gorden yang menutupi jendela kaca menari-nari terbawa oleh cuaca, yang begitu dingin sehingga menusuk kulit.


Lalu Rahmat tertidur dengan nyaman seperti seekor kucing yang kekenyangan.


Belum lama rasa matanya terlelap.


Tiba-tiba saja Rahmat merasakan perih menjalar di seputar jempol kaki kirinya. Rasanya begitu menyengat. Reflex ditariknya dan beranjak bangun.


“Apakah tadi ada serangga tanaman yang sedang menggigit kakiku, ya? Terasa sangat begitu perih,” tanya Rahmat dalam batinnya itu.


Cahaya senja yang tak seberapa menjadi penerangnya untuk memeriksa jari kakinya. Kemudian Rahmat sangat terkejut.


“Ya Allah! Jempol kakiku kok terluka, ya? Kok ada darah segar yang mengalir di jari kakiku?” tanya Rahmat dengan penuh kebingungan.


Segera Rahmat menurunkan tungkai kakinya agar darahnya tidak mengotori sofa dan segera mengalasnya dengan Koran bekas.


Kemudian Rahmat berpikir sejenak dan memeriksa kakinya dengan teliti. Walau hanya samar-samar.

__ADS_1


Tetapi dia bisa melihatnya. Ada satu titik luka di ujung jempolnya. Dari titik luka kecil itulah darah segar mengalir.


“Apakah ketika menyiangi ranting dan dahan bunga mawar tadi kakiku menginjak duri, ya?” tanya Rahmat dalam batinnya itu.


Kemudian Rahmat segera mencari betadine dan terkejut ketika melihat sosok tubuh bocah kecil yang sedang berlari dengan kecepatan di atas rata-rata.


Tubuh mungil kecil itu kemudian hilang di dalam salah satu kamar yang ada di lantai atas. Kemudian Rahmat teringat dengan Dade, bocah yang mengganggunya di taman belakang.


“Apakah dia adalah Dade bocah kecil botak itu, ya?” tanya Rahmat dalam batinnya dengan penasaran dan bingung.


Dengan rasa penasarannya Rahmat kemudian naik ke atas menyusuri balkon menuju salah satu kamar yang dimasuki bocah tadi.


Dengan sedikit ragu-ragu, ia membuka pintu kamar dan melangkahkan kakinya di lantai atas ini.


Bu Rostini pernah melarang Rahmat untuk membukakan pintu tersebut.


Namun, kali ini Rahmat sangat nekat. Di dalam kamar itu terdapat sebuah tempat tidur seukuran box bayi lengkap dengan topinya, di sudut ruangan berbagai mainan anak-anak seperti dakocan.


Dan mobil-mobilan yang berserakan. Dan cermin berbagai ukuran juga berjejer rapi di dinding.


Di sudut lain ada meja setinggi lutut orang dewasa yang di atasnya terdapat sajen dan bakul nasi serta sebuah bubur yang sudah kotor. Tak sadar keningnya Rahmat berkerut heran.


“Siapakah sebenarnya anak itu, ya? Selama bekerja di sini aku tak pernah melihatnya berkeliaran di rumah ini? Apakah dia anak adopsi Pak Sudarmono? Namun, itu hal yang mustahil bagiku!” tanya Rahmat dalam batinnya itu.


Kemudian Rahmat melangkah mendekat ke tempat tidur dan terkesiap ketika pandangannya tertuju pada ranjang box yang sisinya terlihat tadi.


Bocah itu kelihatannya meringkul di sana dan sembunyi. Rahmat sangat terkejut melihatnya, kemudian ia memberanikan dirinya untuk lebih dekat lagi.


Namun, keberaniannya tiba-tiba luntur ketika melihat bocah itu menoleh ke arahanya. Dan menatap dan matanya sangat merah menyala dengan sangat marah dan memperlihatkan dua gigi taringnya itu.


Seperti harimau yang siap menerkam mangsanya itu.


“Dade! Wajahnya sangat menakutkan. Makhluk sejenis apakah dia? Apakah dia adalah makhluk astral atau alien, ya?” Rahmat penuh tanda tanya dan bingung.


Dengan spontan Rahmat memutar badannya untuk siap-siap lari menuju pintu keluar dan turun di tangga. Saking takutnya, dua anak tangga dilangkahinya sekaligus.


Tepat pukul 10 Rahmat terjaga. Namun, ia merasa tubuhnya seperti tak bertulang, lemah tak berdaya. Ia juga merasakan perih di seputar jempol kaki kirinya.


Dengan sisa tenaga yang ia punya, Rahmat berusaha bangun untuk mengobati lukanya dengan betadine yang dia dapatkan dari kotak obat tadi.


Namun, ketika menyibak selimut. Rahmat sangat terkejut ada sosok makhluk kecil meringkuk di ujung ranjang sedang ngemut jempolnya, dengan rakus seperti anak kucing yang ******* sama induknya.


“Dade ...,” ucap Batin Rahmat.


Kemudian dengan spontan Rahmat langsung menendang wajahnya dengan kaki kanannya. Tubuh Dade terlempar, berguling seperti bola takraw.


Dia kemudian bangkit dan wajahnya sangat begitu marah. Sekarang Rahmat menghadapi liluput penghisap darah ini kalau tidak ingin mati konyol.


Sebelum Rahmat berhasil meraih pentungan yang biasa disimpan di bawah tempat tidur, Dade sudah melesat keluar dengan kecepatan yang sulit tertangkap oleh mata.


Darah masih terus mengucur dari jempol kirinya. Bukan tidak mungkin tubuhnya seonggok tulang berbalut kulit jika Rahmat tak segera bangun dan mendapatinya menjarah berliter-liter darah dalam tubuhnya Rahmat.


Kemudian Rahmat ingat pesan ibunya agar selalu berdoa dan membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an dalam keadaan terdesak ketika dalam bahaya mengancamnya.


Tiba-tiba sosok bayangan Dade pun muncul di hadapannya Rahmat. Kemudian Rahmat sambil membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


Seketika itu Sosok bocah kecil botak itu merasakan panas dan hampir nyaris terbakar ketika Rahmat membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


Kemudian sosok bocah kecil itu tiba-tiba menghilang dari hadapannya Rahmat.


Keesokan harinya Rahmat pergi ke sekolah dan membawakan pakaiannya sebagian karena ia sudah tidak mau lagi kerja di Rumahnya Pak Sudarmono.


Ketika Rahmat sudah mengetahui ada tuyul yang tinggal di rumahnya Pak Sudarmono. Dan Ibu Rostini menyusul di rumahnya.


Rahmat untuk membujuk agar bisa kerja kembali di rumahnya Pak Sudarmono kembali. Dengan gaji ditambah dua kali lipat dari itu.


Satu juta per minggu, Rahmat berbagai alasannya menolak secara halus dengan tidak mau kerja lagi di rumah itu.


Rahmat menutup dirinya ia bersikap biasa saja tanpa mengeluarkan kata-kata. Padahal dia sudah mengetahui kejadian yang sesungguhnya di rumah Pak Sudarmono itu.


Sebulan kemudian Pak Sudarmono mendapatkan pekerja kebun yang baru hanya berkisar 3 minggu akhirnya meninggal tanpa sebab.


Rahmat mendengar cerita itu langsung saja merasa bersyukur kalau dirinya selamat dari ancaman yang membahayakan jiwanya sendiri.


Selamat dari ancaman tuyul yang mau menghisap jari kaki jempolnya itu.


Lima bulan kemudian Rahmat mendapat kabar Pak Sukarno meninggal dengan tidak wajar dan istrinya Pak Sukarno juga sakit-sakitan tanpa sebab.


Mungkin pengaruh tuyul yang sudah tidak dirawat baik-baik akhirnya korbannya adalah pembantunya Pak Sudarmono sendiri.


Pak Sudarmono makin menambah kejayaannya dengan hasil jerih payahnya melalui bocah cilik yang botak tak lain itu adalah sosok tuyul.

__ADS_1


__ADS_2