
Asrama sekolah sangatlah asyik buat para santri yang sedang sekolah di pondok pesantren yang berada di Gorontalo.
Sekolah pondok pesantren itu adalah satu-satunya sekolah Islam bertaraf internasional yang berada di Gorontalo.
Sekolah yang memiliki asrama lebih mampu mendidik santri dan santriwati. Seperti setiap asrama lain, sekolah itu pun menyimpan banyak cerita yang ganjil.
Ini adalah pengalaman Ratna sewaktu di asramanya itu. Ketika Ratna sedang tidak ikut salat berjamaah karena sedang bertugas menjaga klinik sekolah.
Karena tidak ada siapa-siapa. Jadi, asyik saja di depan TV. Jarang-jarang bisa nonton di tengah jadwal asrama yang begitu padat.
Belajar bahasa Arab, Al-Qur'an, pidato, bahasa Inggris, pramuka, jadwal olahraga, dan ekskul semuanya menyita waktu hingga pukul 9 malam.
Mereka diizinkan nonton TV hanya hari Sabtu dan Minggu, itu pun acaranya telah dipilih oleh santri.
Tidak ada sinetron, gosip, acara musik yang aneh-aneh. Semuanya telah disaring.
Jadi, moment menjaga klinik adalah satu moment yang ditunggu setiap anak-anak asrama. Moment yang ditunggu setiap anak-anak asrama.
Moment dimana untuk beberapa saat menonton TV sepuasnya. Kalau pintar bisa dapat saluran yang menyuguhkan film-film remaja yang lagi salur.
Walaupun minus nilai moralnya. Maka malam ini adalah perayaan besar-besaran buat Ratna.
Tak sedikit pun matanya berkedip dari acara yang sedang diputarn itu. Sedang asik menonton, tiba-tiba perutnya keroncongan dan lapar.
Ratna memutuskan untuk meminta makanan pada Bibi Tini. Ia sering membantu mencucikan piring kalau ada waktu luang.
Jadi, ia juga tak segan-segan memberikan sedikit makanan, asal Ratna pintar menjaga rahasia hingga tidak ketahuan oleh para santri lainnya.
Ia pun bergegas memutuskan untuk menutup pintu klinik, dengan TV yang masih menyala lalu di matikan.
Biar enggak ketahuan kalau enggak ada orang. Ratna menusuri lorong panjang ke arah dapur.
Suasana agak gelap. Ratna mempercepat langkah tanpa menoleh ke belakang lagi.
Ratna harus segera mungkin kembali ke klinik kalau tidak mau kena hukuman. Ketika hampir sampai di samping dapur, ia melihat seseorang berjalan di depan itu.
“Wait moment please! (Tunggu sebentar)!” Ucap Ratna sedikit berteriak ke dalam bahasa Inggris.
Bahasa Arab dan bahasa Inggris adalah bahasa resmi pondok mereka. Tak sedikit pun seseorang itu menoleh.
“Sombong sekali dia! Awas aja kalau dia juniorku! Bakalan kena hukuman nantinya,” ucap Ratna dalam batinnya.
Ratna meneruskan mengikuti dia sampai ke dapur. Ketika sampai di belokan ia tak melihat lagi tubuhnya itu.
Ratna berpikir kalau sosok tadi pergi ke kamar mandi. Ia jadi fokus kembali ke tujuan semula. Ia mau minta makan ke mbak-mbak dapur.
Ratna pun ketemu dengan Mbak Mariani yang sedang mencuci piring.
“Mbak Mariani! Tolong bagiin makanannya dong! Aku dah lapar lho, Mbak Mariani!” ucap Ratna.
Mbak Mariani tidak menoleh sama sekali, rasa penasaran Ratna sempat heran orang yang diajak berbicara tidak menoleh sama sekali.
Ratna mencoba menepuk lagi. Tiba-tiba dia berbalik badannya. Ternyata wajahnya hancur darah berlelehan, dengan perasaan yang sudah takut, kemudian Ratna mundur ke belakang.
“Kenapa, Ratna?” tanya Umi Syifah yang tiba-tiba muncul.
“Itu ....” Jawab Ratna sambil menunjuk makhluk di depannya itu sudah menghilang.
“Umi .... Ayamnya habis. Diganti ikan bandeng ya buat besok?” tanya Mariani yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
__ADS_1
“Lho terus yang tadi siapa, ya?” tanya Ratna dalam batinnya.
“Mungkin aku kebanyakan terlalu banyak membaca buku horor.” Ucap Ratna dalam Batinnya.
Kemudian Ratna dikasih Bakwan oleh Mariani yang diletakan di atas meja. Ia mengunyah bakwan di atas meja.
Setelah mengunyah lagi beberapa bakwan Ratna pamit ke klinik. Bahaya kalau terus-terusan di dapur.
Ratna meliwati kembali lorong itu. Makin gelap saja. Saat ia mempercepat langkahnya, ia mendengar suara.
“Hihi ....” Suara seseorang tertawa.
Ratna mempercepat langkahnya karena saking takutnya, saat ia menoleh melihat ada sosok bayangan perempuna berambut panjang dan bajunya putih yang sudah lusuh.
“Mak ..., ada kuntilanakkkkkkkk ....” Ratna menjerit ketakutan dan berlari.
Wajah putih itu cuma beberapa inci dari hidungnya Ratna. Wajah itu sangat menakutkan pucat, berambut panjang, kukunya sangat panjang, dan hitam bisa di lihat secara jelas.
Ratna berteriak sepanjang lorong menuju ruangannya. Cepat-cepat Ratna membukakan pintu klinik dan dikunci dari dalam. Untung TV masih menyala sehingga ketakutannya berkurang.
Ratna menarik napasnya panjang-panjang dan tersengal dan berdoa semoga salat berjamaah dipercepat.
Kemudian Ratna melompat ke sofa dan enggak berani kemana-mana lagi. Untunglah beberapa menit setelah itu para santriwati pun pada datang dan ia enggak sendirian lagi.
“Kenapa muka kamu kok pucat gitu, ya? Kayak habis ketemu kuntilanak, ya?” tanya Rani sahabatnya itu.
Ratna bergidik. Membayangkan wajah yang begitu pucat, rambutnya yang begitu panjang, kukunya hitam kotor, dan menakutkan itu.
“Enggak apa kok! Yuk tidur! Aku capek nih seharian!” Jawab Ratna kepada Rani.
Ratna kemudian menggangguk-nganggukan kepala dan mengikuti gank masuk ke kamar. Sekolah Ratna masih tergolong sekolah yang lumayan sudah lama berada di Gorontalo.
Ratna sudah termasuk angkatan ke 13, namanya Gen, artinya darah. Almanar itu sampai tahun 2017. Ini punya angkatan ke 13. Ratna merasakan tubuhnya terguncang sesuatu. Padalah ia baru tidur sebentar.
Ratna dan Rani bangun untuk mencari nasi goreng di warung Mas Joko. Kalau lagi galau mereka bertiga secara diam-diam ke warung Mas Joko.
Tengah malam buta mereka sering pergi diam-diam keluar. Makan nasi goreng di depan asrama.
Selama itu belum pernah ketahuan senior santri dan mudah-mudahan jangan sampai ketahuan.
Maka malam itu para geng; Ratna, Rani, dan Diva. Mereka sudah bersengkokol di depan asrama.
Tanpa menggunakan atribut jilbab sama sekali. Mas Joko asli orang Surabaya kok jualan nasi gorieng. Mereka tertawa bersama-sama.
“Terus aku harus jualan kue gitu ya, Mbak-Mbak?” Ucap Mas Joko dengan logatnya yang Jawa itu.
Sehingga mereka tertawa bersama-sama lagi.
“Membuat kue-kue Mbak sangat susah, Mbak! Karena bahan-bahannya agak susah didapatkan! Oleh karena itu, saya memilih jualan nasi goreng, Mbak! Makanya untungnya sedikit lumayan, Mbak!” ucap Mas Joko lagi.
Seperti malam itu Mas Joko menyambut kedatangan mereka bertiga dengan sumringah.
Perutnya yang gendut itu berguncang-guncang ketika melihat tingkah kedatangan Ratna, Rani, dan Diva yang suka membuat lelucon itu.
Mereka tertawa dan langsung duduk di bangku panjang. Lalu mengalirlah cerita kelelahan mereka hal itu di situ.
Tetapi tak bisa dipungkiri terkadang terasa lelah, rasanya ingin kabur dan pulang ke rumah.
Saat anak-anak lain asik jalan-jalan atau nonton di mall, mereka harus menghapal pidato untuk Kamis sore.
__ADS_1
Saat anak-anak lain asik punya pacar, mereka harus menonton suju dengan sembunyi-sembunyi.
Untung saja mereka punya OsamaGo yang keren banget. Jadi, bisa bahagia di tengah-tengah kepadatan tugas.
OsaMaGo itu nama Osis di Almanar Gorontalo. Kepanjangan Organisasi Santri Al Manar Gorontalo.
Sangat kreatif mereka selalu bikin acara seru-seruan kayak missing lyric, sing a song bahasa Inggris, AlmanarGo mencari bakat, nonton bareng, muhadoroh, muhadasah, dan banyak kegiatan seru lain.
Malam semakin larut, tak terasa mereka sudah menghabiskan nasi goreng dan perut mereka langsung kenyang. Hati mereka menjadi senang.
“Aku lihat-lihat Mbak-Mbak ini sudah enggak galau lagi, ya! Karena tadi siang baru dihukum lari keliing lapangan oleh santri senior! Makanya sekarang udah semangat lagi!” Ucap Mas Joko kepada mereka bertiga itu.
Kemudian mereka bertiga pamit pulang kepada Mas Joko, sambil menenteng sandal mereka untuk meminimalisir suara langkah kaki mereka.
“Belajar yang rajin ya, Mbak-Mbak!” pesan Mas Joko kepada mereka bertiga sebelum pamit pulang.
Mereka pun pulang sambil melambai-lambaikan tangan kepada Mas Joko dan menghilang.
Melompat tembok dan berjingkat-jingkat di lorong kamar tidur yang gelap. Beberapa meter lagi mereka akan sampai di pintu kamar tidur, ketika sekelabat bayangan lewat.
Kemudian disusul oleh pocong. Mukannya dengan masih menempel kapas di muka pocong. Sangat seram apabila dilihat.
Diva hampir saja teriak kalau enggak Ratna akan menutupi mulut rapat-rapat. Mereka berteriak histeris dalam keheningan.
Para santri tak boleh tahu kalau mereka bertiga melanggar peraturan. Dengan tubuh yang gemetaran Ratna memutar anak kunci.
Sahabat-sahabat memaksa buru-buru untuk masuk ke kamar. Hanya reaksi wajah mereka.
Sementara pocong melompat-lompat mengawasi mereka. Tangan Ratna gemetaran, sehingga kunci itu gagal masuk ke lubangnya pintu.
Kemudian Rani mengambil alih kunci itu dan segera membukakan pintu kamar.
“Ckrekk ....” Bunyi kunci dan akhirnya pintu terbuka.
Mereka langsung masuk dengan keburu-buru dan menutup pintu rapat. Berharap pocong itu segera pergi.
Mereka bertiga melompat ke tempat tidur. Tempat duduk mereka yang berisian membuat mereka bisa berpegangan tangan dalam gelap.
Ratna merasakan tangan Diva dan Rani sedingin es. Sangat menyeramkan sekali. Malam itu mereka tak tidur karena suara-suara aneh itu terus bermunculan di luar pintu.
Yang anehnya lagi tak ada satu pun teman Ratna ikut terbangun. Mereka ketiduran seperti kerbau.
Banyak bermunculan suara-suara yang membuat bulu kuduk Ratna merinding. Suara perempuan tertawa, ada juga yang menangis, terus suara kaya ibu-ibu lagi ngerumpi sambil ngakak.
Ratna mendengar suara yang memanggil-manggil nama mereka bertiga. Diva hampir saja menangis kalau tidak di pegang erat tangannya.
Sekitar jam 2 suara-suara itu mulai menghilang, karena kelelahan mereka mulai tertidur. Tetapi tengah malam Ratna terbangun mendengar pintu seperti dibuka dan ditutup.
Ratna hampir saja menangis dan ia mengintip dari balik selimutnya itu. Ia tak punya nyali lagi jika harus membuka selimut.
Dalam kegelapan Ratna melihat sosok bayangan putih membuka pintu kamar, tubuhnya menjadi bergetar di bawah selimut.
Bayangan putih itu menenteng kepalanya. mata itu bersinar di kegelapan kamar. Mengawasi seluruh ruangan lalu berhenti di depan matanya Ratna.
“Pergiiiii ....” Teriak Ratna tak tahan lagi dan seluruh kamar terbangun mendengar teriakannya.
“Mimpi buruk lagi ya, Ratna?” tanya sahabat-sahabat dengan memandangnya iba.
Sementara sahabat-sahabat menghampiri tempat tidur mendekap tubuhnya.
__ADS_1
“Makanya malam Jumat Kliwon jangan suka keluyuran,” seru salah seorang santri dari balik pintu.
Ratna benar-benar merasa jera dan ia berjanji tak akan mengulanginya lagi karena takut dan jera.