
Seminggu telah berlalu ketika siswa-siswa SMA Limboto yang begitu cemas dan tidak sabaran lagi menunggu informasi pengumuman kelulusan mereka.
Setiap siswa yang telah mengikuti ujian sekolah itu sambil menunggu pengumuman. Mereka ada yang sudah mengikuti seleksi ke perguruan tinggi yang ternama.
Winda teringat kembali kejadian yang telah berlalu. Seseorang yang menggantungkan dirinya terayun-ayun di depan pohon yang berada tak jauh dari sekolah mereka itu.
Dengan mata yang melotot, leher yang patah, dan air seni bercucuran. Sosok sahabat yang begitu cerdas. Terkenal dengan predikat bintang kelas dan sekolah itu bunuh diri setahun yang lalu.
Sehari setelah pengumuman kelulusan UN. Sosok sahabat itu yang bernama Sri. Sri telah gagal akhirnya ia memilih bunuh diri dengan cara gantung dirinya di atas pohon.
Pagi itu Winda bersemangat sekali pergi ke sekolah. Ia sudah menerima kabar bahwa hanya satu orang siswa di sekolah mereka yang tak lulus.
Winda belum tahu siapa orang yang tak lulus itu. Tetapi ia yakin bukan anggota kelasnya, karena Winda berada di kelas unggulan.
Dengan semangat yang begitu membara tak henti-hentinya bernyanyi sambil memakan roti coklat di atas piring. Kemudian ia berlari keluar rumah.
“Makan nasi gorengnya dulu, Nak. Entar kelaparan nanti kalau kamu enggak makan," ucap Ibunya dengan sopan.
“Udah kok, Bu. Aku udah makan nasi goreng barusan, Bu. Ini aku mau makan roti cokelat juga. Makasih ya, Bu. Aku mau pamit dulu Bu mau ke sekolah.” Ucap Winda sambil mencium tangan ibunya.
Winda melambai-lambaikan tangannya dan berlari seperti kijang. Ia menjemput Sri di rumahnya, bareng-bareng melihat pengumuman.
Rumahnya Sri memang tak jauh dari rumah Winda, hanya beda dengan beberapa bangunan rumah tetangganya itu. Rumah Sri sudah sepi saat Winda membuka pintu pagar itu.
Winda sudah sering ke rumah Sri jadi ia tidak malu-malu lagi. Mobil sudah tak ada di garasi. Ayah Sri sudah berangkat kerja.
Sri hanya tinggal berdua dengan ayahnya. Ibunya pergi meninggalkan mereka di saat Sri masih kecil. Wajar kalau ia sangat ingin membahagiakan ayahnya itu. Kemarin saja Sri baru lulus bebas tes masuk ke perguruan tinggi ternama.
Winda tidak masuk lewat teras depan. Ia bermaksud mengagetkan Sri dari pintu dapur. Pasti lucu deh ngeliat Sri kaget. Baru saja hendak masuk, Winda dikejutkan oleh ayam-ayam Sri yang berlarian riuh di belakang rumah.
Rimbunan daun nangka di pekarangan Sri bergoyang-goyang liar. Ada sesuatu yang terjadi di sana. Terlindung dari sinar matahari pagi yang sedang hangat.
Awalnya seperti digoncang angin, lalu semakin pelan dan lama-lama berhenti.
“Astagfirullah halajim, Ya Allah ....” Teriak Winda melihat sesuatu dari pohon nangka itu.
Winda hampir saja pingsan. Perutnya bergoncang hebat. Kemudian ia mual mendadak. Saat ia menoleh sesuatu yang tak ia sangka.
Bukan nangka yang dibungkusi dengan karung tetapi melainkan sepasang kaki yang memakai sepatu berwarna hitam.
Makin melihat ke atas Winda semakin ketakutan. Sepasang kaki yang begitu putih lalu rok abu-abu, seragamnya putih dan memakai dasi.
__ADS_1
“Sriiiiiiiiiii ....” Teriak Winda dengan keras dan terkejut.
Saat pemakaman Sri, Winda baru tahu kalau ia bunuh diri. Pembunuh itu bernama Ujian Akhir Nasional (UAN). Sri termasuk siswi yang paling cerdas di sekolahnya.
Bahkan kemarin Sri sempat cerita kalau dia lolos tes masuk di Sastra Jerman di UI dan Sastra Inggris di UGM.
Bukan itu saja Sri lolos masuk di perguruan Harvard University di Amerika, karena Sri juga terkenal dengan bahasa Inggrisnya yang luar biasa jika berbicara seperti orang barat beneran.
Tetapi apa boleh buat Sri rupanya gagal UN. Dan telah membuat semua mimpinya terpental. Sehingga ia nekat mengakhiri hidup dengan menggantungkan dirinya di pohon nangka itu.
Di dalam kamar Winda memandangi fotonya bersama Sri yang berada di komputer itu. Baru dua hari yang lalu mereka berdua pergi ke toko sepatu.
Sri membeli sepatu dengan model yang unik dan feminim. Sepatu kain berwarna hitam dengan corak bentuk bunga yang ada di pinggir sepatu hitam itu.
Tampak sepatu itu sangat indah dan harganya pun lumayan mahal. Sri berniat menghadiakan diri atas usahanya bebas tes dan belajar dengan giat selama itu.
Sri juga mengatakan kepada Winda kalau sepatu itu akan dia pakai sewaktu melihat pengumuman di sekolah.
Tak terasa air mata Winda mengalir menetes di pipinya ketika mengingat kebersamaan mereka berdua bersama-sama.
Mereka tak pernah berantem dan sangat akrab. Winda mengingat kejadian bunuh diri itu lagi. Dengan tubuh yang menggantung diri di pohon nangka belakang rumah sahabatnya itu.
Sepatu itu terlepas dari kakinya dan terjatuh tak jauh. Winda yang mengambilnya saat dia dibopong ke mobil ambulans.
Wajah seputih kapas. Bibirnya membiru dan tubuhnya pun keras membatu. Winda hampir tertidur ketika mendengar suara ketukan di pintu. Ia tersentak kaget.
“Siapa yang mengetuk pintu malam-malam seperti ini, ya? Ibu sama ayah kan sudah tidur, ” tanyanya dalam batin.
Segera Winda bergegas membukakan pintu walau dalam keadaan malas. Setelah Winda membuka pintu itu ternyata tak ada seorang pun.
“Ahk ..., mungkin hanya perasaanku saja barusan itu,” ucapnya lagi.
Kemudian Winda merebahkan kembali tubuhnya di kasur. Kepalanya berusaha menoleh ke arah lemari besar di samping meja belajar.
Komputernya masih menyala dengan suara musik. Winda memang sedang tidak ingin sepi malam itu. Ia memandangi komputernya itu dengan perasaan kosong. Mereka sering mengerjakan tugas di komputer itu.
“Ehh tunggu ada sesuatu yang aneh pada komputerku ini. Tetapi apa, ya? Astaga wallpaper fotoku dan Sri saat belanja di toko sepatu itu! Padahal tadi seingatku wallpapernya adalah foto Frans pacarku. Kapan aku menggantinya, ya? Ah mungkin aku tak sadar aja kerena kelelahan. Lalu aku putuskan untuk tidur setelah mengeraskan bunyi musik di MP3. Kemudian aku tadi menutup dengan selimut.” Ucap Winda dengan penuh kebingungan sambil duduk tegak dan memandangi poto itu.
Kemudian dengan sendirinya Winda tertidur kembali. Saat terbangun, ia mendapatkan sebuah nangka besar di atas meja ketika ia menuju dapur. Matanya melotot ngeri.
“Pagi-pagi diantar Ayah Sri. Katanya ia mau menebang habis pohon itu dan buahnya mau dibagikan kepada tetangga-tetangga seperti biasa dilakukan oleh Sri. Yah, mungkin itu nangka terakhir.” Ucap Ibunya kepada Winda.
__ADS_1
Ibu mengecoh tanpa Winda meminta. Ia menarik napas panjang. Rasanya buah nangka itu berada di bahunya Winda.
“Hati-hati Lho, Yah. Jangan-jangan ....” Seru Andi adik Winda kepada ayahnya.
“Jangan-jangan ada rambut sama gigi di dalamnya, Ayah.” Seru Andi lagi kepada ayahnya sambil membelah nangka itu.
“Ibu, pernah dengar cerita tentang ketela rambat yang ditanam di bekas kuburan. Ketika dikupas ada rambut dan gigi manusia,” ucap Ibu Winda ikut-ikutan bergurau.
“Heh ..., nangka itu sudah besar waktu Sri meninggal bunuh diri!” ucap Winda dengan sewot sambil menambahkan senda guraunya itu.
“Sebentar lagi pas dibuka pasti nangkanya berwarna kuning keemasan dan yang dibelah nanti malam didatangi oleh, Sri ....” Ketus Winda sambil masuk ke kamarnya.
Mungkin mereka bercanda untuk mencairkan ketegangan. Tetapi ini bukan waktu yang tepat. Setelah kematian Sri, Winda banyak mengalami kejadian aneh di sekolah.
Di hari-hari terakhirnya mengurus berkas di sekolah seperti melihat bayangan Sri yang berdiri di depan papan pengumuman dengan mata sedih.
Winda mengabaikan bayangan itu walau ia tahu arwah Sri selalu melirik padanya dengan tatapan matanya yang heran.
“Dunia kita udah berbeda, Sri,” ucap Winda dalam batinnya.
Kemudian arwah Sri menghilang begitu saja setelah diucapkan kata-kata oleh Winda. Setelah peristiwa itu teman-teman terjatuh di tangga sekolah.
Mereka selalu bilang seperti melihat sepasang kaki sepatu hitam yang mengikuti kaki mereka ketika turun. Pernah suatu kali seorang guru pingsan karena kertas ulangan yang belum sempat diperiksannya berceceran darah.
Di atas darah itu tercetak bekas sepatu. Dari bentuknya sepatu gadis karena kecil dan ramping.
Pernah seketika anak-anak cowok membuka sepatu karena mau bermain sepakbola tiba-tiba saat pulang, ada satu sepatu yang bertambah dan tidak ada yang mengakui sebagai miliknya.
Lagian semua pemain adalah cowok sedangkan itu adalah sepatu cewek. Ada isu tentang sepatu itu. Kemudian sepatu itu diletakan di kantor guru, keesokan harinya sepatu itu menghilang tanpa bekas.
Saat Winda hendak mengambil tas di laci, tangannya terkejut bukan main.
Sepasang sepatu berwarna hitam dengan corak bentuk bunga yang ada di pinggir sepatu hitam itu.
Winda ingin menangis tetapi ketakutan. Mungkin Sri mau Winda memakai sepatunya itu. Ia mencoba mengenakan sepatu itu di kakinya.
Ternyata sepatu berwarna hitam itu pas dengan ukuran kakinya, karena ukuran kaki Winda dengan Sri sama.
“Sri, aku telah memakai sepatumu. Aku mohon kamu jangan muncul-muncul lagi, ya. Aku akan menjaga sepatumu dengan baik, sama seperti aku menjaga persahabatan kita berdua. Bahkan insya Allah sepatu ini kuakan pakai kuliah nanti,” Ucap Winda kepada arwah Sri.
Setelah ucapan itu seketika itu ruangan menjadi dingin dan arwah Sri menghilang. Sementara keringat Winda masih menempel di tubuhnya.
__ADS_1
Akhirnya Winda kuliah di kampus UGM dimana Sri bebas tes yaitu sastra Inggris. Entah sampai sekarang apa arwah Sri masih ada apa tidak karena Winda sudah kuliah di UGM.