MEREKA DI SEKITAR KITA

MEREKA DI SEKITAR KITA
PART 22 MISTERI KAMAR KOS


__ADS_3

Di sekitar kos Aryo memandang luar pintu kosnya itu. Sejak teman sekamar keluar kota. Teman itu bernama Heri.


Sering dia dihantui rasa takut yang berlebihan. Mungkin Aryo tak bisa melihat sosok itu.


Penampakan atau sejenisnya. Tetapi dia dapat merasakan bahwa mereka benar-benar ada di tempat kos itu.


Kebetulan kamar mandi di tempat kos berada tepat di bawah kamar. Jadi, tak heran jika ada orang yang mandi, selalu terdengar di kamar kosnya.


Namun, kali ini dia mendengarkan suara orang mandi pada tengah malam. Berikutnya adalah suara gemercik air yang datang dan menghilang. Tetapi berkali-kali Aryo berusaha menepis rasa takut itu.


“Ah ..., enggak masalah kok, toh aku enggak bisa lihat mereka juga.” Ucap batinnya sendiri.


Diakui atau tidak, perasaan takut itu sangat meresahkan. Siang begitu cerah dan terik di luar sana.


Hawa panas dirasakan oleh Aryo di dalam kamarnya. Hingga memaksa dia keluar dan duduk di kursi rotan depan kamarnya Mas Dul, tetangga sebelah kamarnya.


Saat itu Mas Amar juga sedang tak ada di kosan, dia sedang libur ke Manado. Dari tempat duduk dia melihat Andi.


Penghuni kamar paling ujung utara yang baru pulang kuliah. Ketika itu memang hanya ada Aryo dan Andi saja di kos itu.


“Andi ....” Aryo menyapa Andi dengan senyumnya yang ramah.


Kemudian Andi menghentikan langkah kaki pemuda itu yang hendak masuk ke dalam kamarnya.


“Iya ....” Jawab Andi dengan singkat.


“Enggak kerja ya, Mas Aryo?” tanya Andi.


“Aku kesiangan gara-gara enggak bisa tidur semalaman.” Jawab Aryo sambil nyengir.


“Lho ..., kok bisa kayak gitu ya, Mas Aryo?” tanya Andi dengan polos.


Aryo menoleh pada Andi yang lagi duduk di sebelahnya.


“Ya, semalam aku terganggu oleh suara gemercik air dari dalam kamar mandi,” jawab Aryo dengan serius.


Mendengar pengkuan Aryo, Andi tertawa terkekeh-kekeh.


“Wah, ternyata Mas Aryo ini orangnya penakut juga, ya.” Ucap Andi sambil memukul pelan lengannya ke arah bahu Aryo.


“Enggak sesuai banget sama bodinya sampean, Mas Aryo. Badan segede ini takut juga, ya,” ucap Andi.


“Ya, coba deh sekali-kali kita tukeran kamar, kamu mau mencoba tempati kamar aku, entar kamu rasakan sendiri,” ucap Aryo.


Andi malah tertawa.


“Sama aja Mas, aku malah pernah ketemu dan melihat secara langsung anak kecil dan perempuan, Mas. Hanya saja anak kecil dan perempuan itu tubuhnya transparan, tembus pandang dan wajahnya mereka sangat pucat.” Ucap Andi.


Aryo tercengung mendengar ucapan Andi.


“Wah seram juga, ya. Kalau dilihatin yang seperti itu,” ucap Aryo.


“Bukan itu aja, Mas. Pernah satu malam aku tidur sendirian dan aku biarkan pintu terbuka. Aku merasa ada orang yang ngeliatin tidurku, ya seperti anak kecil dan perempuan gitu.” Seru Andi.


Aryo mendengar ucapan Andi langsung merinding.


“Ya Allah, semoga saja aku enggak akan pernah mengalami kejadian kayak gitu,” ucap batin Aryo.


Liburan semester baru saja dimulai, saat itu hampir tiba semua penghuni kos yang notabenenya mahasiswa meninggalkan kos-kosan.


Satu-satunya yang bukan mahasiswa adalah Aryo sendiri. Maka jauh-jauh hari sebelum hari itu terjadi, ia sudah menghubungi teman-teman.


Berharap salah satu dari mereka sudi menemaninya tinggal di kos. Minimal sampai liburan semesteran itu berakhir, atau maksimal sampai teman sekamarnya kembali ke kosan.


Pucuk dicinta, ulam pun tiba.


Secara kebetulan Angga yang tengah ditinggal keluarganya keluar daerah berniat liburan ke Gorontalo.


Saat itu dia membutuhkan tumpangan, dengan senang hati Aryo menawarkan kamar kosnya.


“Wow ..., Arya, kos-kosanmu kelihatan seram, ya?” komentar Angga ketika pertama kali mengajak kaki ke halaman tempat kosnya itu.


“Ya begitulah, kata beberapa orang yang tinggal di sini, pernah diliatin penampakan anak kecil dan perempuan.” Ucap Aryo.


Angga mendengarkan cerita teman itu dengan seksama sembari menebarkan pandangan keliling ke tempat kos itu.


“Tetapi untunglah, aku enggak pernah dikasih penampakan yang aneh-aneh,” lanjut Arya.


Angga masih mengedarkan pandangannya, sembari menaiki anak tangga menuju lantai dua tempat kamar Aryo.


“Hati-hati Aryo, kalau sendirian di kos ini, ya.” Ucap Angga sambil memperingati.


Aryo hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Seminggu telah berlalu.


Hari itu, seharian Aryo mengajak Angga untuk jalan-jalan ke Pensort tempat pemandian yang terkenal di daerah Gorontalo hingga malamnya dia tampak begitu kelelahan malam bertepatan dengan malam Jumat.


“Aryo, malam ini kamu keluar, enggak?” tanya Angga.


“Iya, nanti malam aku mau ke Taman Menara Keagungan Limboto. Ya, tapi nanti malam-malam aja, biasanya kalau sudah malam wifi yang ada di sana koneksinya lebih cepat,” ucap Aryo.


Angga menggaruk rambutnya, mencoba memejamkan matanya yang mulai ngantuk.


“Aryo, malam ini kok aku ngerasa hati ini nggak enak, ya,” ucap Angga sambil menggaruk-garuk kepalanya.


“Emang kenapa?” tanya Aryo beranjak mendekat ke hadapan Angga.


“Ah enggak ..., aku ngantuk sekali, nih! Kalau nanti kamu mau ke Taman Menara Keagungan Limboto, tolong bangunin aku, ya! Aku ingin ikut dengan kamu.” Pinta Angga sambil menguap panjang.


Aryo hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengiyakan. Tak lama Angga sudah tertidur pulas.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Aryo bersiap hendak ke Taman Menara Keagungan Limboto.


Tak lupa dengan pesan Angga, Aryo bergegas membangunkan Angga.


“Angga ..., Angga ..., Yuk. Katanya mau ikut aku ke Taman Menara Keagungan Limboto?" tanya Aryo ketika membangunkan Angga.


“Ayo Angga udah malam, nih.” Ucap Aryo.


Aryo sambil menggoyang-goyangkan tubuh Angga.


“Susah juga membangungkan Angga ini, berkali-kali aku bangunkan enggak bangun-bangun juga! Ya sudahlah ....” Ucap Aryo menyerah dengan nada kesal.


Aryo berpikir temannya itu sedang kecapean.

__ADS_1


Akhirnya Aryo memutuskan berangkat sendiri ke Taman Menara Keagungan Limboto.


Meski dengan perasaan tidak enak karena meninggalkan Angga sendirian di kamar kosnya.


Tiba di Taman Menara Keagungan Limboto. Perasaan Aryo tidak tenang. Satu jam telah berlalu, setelah selesai dengan apa yang dicarinya, dia langsung pulang ke kos.


Di perjalanan dia sempatkan mampir ke Agung Supermarket di kompeks Taman Menara Keagungan Limboto dan membeli makanan untuk di kosan.


Sampai di kos, Aryo langsung masuk kamar. Ketika dia membuka pintu kamar yang dari tadi sengaja tidak dikunci, tiba-tiba Angga langsung kaget.


“Astaghfirullah halajim ....” Teriak spontan Angga karena saking kagetnya.


Pintu terbuka pelan dan Aryo masuk ke kamarnya, agak terkejut juga.


“Aryo ..., kamu ini ngagetin aja. Aku kira kamu perempuan tadi,” ucap Angga setengah marah.


“Kamu itu ya, kan sudah aku minta bangunin, malah aku ditinggal sendirian di kosan sendirian lagi.” Ketus Angga dengan marah.


“Iya, maaf habisnya kamu enggak bangun-bangun, sih. Ketika aku udah bangunin kamu tadi,” ucap Aryo.


“Maksud kamu bilang ada perempuan tadi itu apa, sih?” tanya Aryo dengan penasaran dan bingung.


“Tadi itu waktu kamu pergi Taman Menara Keagungan Limboto, ada seorang perempuan datang ke sini,” ungkap Angga.


Aryo mengerutkan alisnya. Cerita yang sama juga pernah dia dengar dari Andi, seperti tentang anak kecil dan perempuan itu.


“Perempuan itu membuka pintu kamar yang tidak terkunci. Waktu aku lagi sadar dan aku melihat sosok perempuan yang ada di depan pintu kamar menatapku. Karena aku ketakutan langsung saja muka aku tutupi sama bantal. Untung saja perempuan itu tidak mendekat, hanya berdiri lalu pergi lagi dan pintu kembali tertutup.” Lanjut Angga dengan ketakutan.


“Bentar-bentar! Kayaknya aku juga pernah dengar cerita serupa dari Andi,” ucap Aryo dengan menerawang sambil mengingat-ingat sesuatu.


“Andi siapa?” tanya Angga penasaran.


“Salah satu penghuni kosan ini, kamarnya di sebelah ujung utara lantai dua ini juga,” jelas Aryo.


Angga menghela napas panjangnya mendengar ucapan Aryo.


“Yaa .... Kurang dari lima menit setelah perempuan itu pergi, kamu datang. Makanya, aku sangat kaget ketika kamu membukakan pintu.” Ungkap Angga kepada Aryo.


“Maaf ya,” ucap Aryo.


“Eh Aryo tolong tutup pintunya.” Pinta Angga.


Tiba-tiba dengan nada sedikit membentak.


Aryo menurut saja, bergegas dia menutup pintu.


“Kenapa Angga?” tanya Aryo dengan heran.


“Kamu barusan pulang dari warnet sama siapa?” tanya Angga.


“Maksudmu? Aku kan tadi berangkat sendirian, pulang pun sendirian,” jawab Aryo dengan mengerutkan keningnya.


“Di atas gedung asrama putri itu, yang berhadapan langsung dengan kamar ini. Ada sosok perempuan berbaju putih dan berambut panjang berdiri di atas genteng itu. Sejak kamu datang tadi, aku melihat sosok itu terus berdiri dan mengawasimu.” Ucap Angga.


Membuat Aryo spontan merapatkan dirinya ke Angga.


“Kamu tuh bikin aku takut saja. Kamu sengaja mau nakut-nakutin aku, ya?” tanya Aryo serius.


“Aku serius lho, Aryo.” Jawab Angga dengan serius.


Tak sanggup mendengar lagi, Aryo menyembunyikan kepalanya dalam bantal dan berusaha tidur.


Esok paginya, Aryo bangun dengan beban berat di pikirannya. Cerita-cerita seram di tempat kos membuatnya was-was dan khawatir.


“Angga, yang kamu certain semalem itu benar, ya?” tanya Aryo lagi.


“Aku nggak mungkin bohong sama kamu soal beginian, lagian buat apa juga toh aku bohongi kamu.” Ucap Angga.


“Sebenarnya, aku sangat bersyukur karena aku tak pernah dilihatin secara langsung oleh makhluk halus. Tetapi setelah tahu keberadaan mereka di sini aku jadi takut juga. Aku jadi kepikiran pindah kos,” ujar Aryo.


“Pindah kos? Alaah ..., Aryo di mana-mana tempat sama, ada penunggunya. Yang penting kalau mereka enggak ganggu ya sudah, enggak jadi masalah.” Ucap Angga.


“Berati anak kecil dan perempuan itu?” tanya Aryo dengan bingung dan sedikit ragu.


“Ya, anak kecil dan perempuan penunggu kosan ini. Kalau kuntilanak yang semalam ngikutin kamu dari Taman Menara Keagungan Limboto itu pendatang dari tempat lain,” ujar Angga.


“Pendatang?” tanya Aryo dengan serius.


“Ya, bisa jadi sekarang jadi ikut.” Ujar Angga.


Aryo jadi merinding dan merasa ngeri.


“Tetapi gimana bisa kok jadi seperti itu? Kamu serius? Enggak nakut-nakutin aku, kan?” Ttnya Aryo dengan serius sambil merinding.


“Aryo, sejak kecil aku ini sudah bisa melihat makhluk halus, kata orang aku ini adalah infigo,” jelas Angga.


“Alhamdulillah! Syukurlah! Aku enggak bisa lihat-lihat yang begituan,” ucap Aryo sambil menghela napas panjangnya itu.


“Tetapi, kalau kamu sampai diganggu bagaimana?" tanya Angga.


“Sampai saat ini enggak ada gangguan berarti selain suara gemercik air di kamar mandi bawah. Lama-lama aku jadi terbiasa.” Ucap Aryo.


Ia sambil menoleh pada Angga dan menatapnya tajam.


“Tetapi sekarang kuntilanak yang mengikutimu semalam juga ada di kos ini, dia datang dan pergi!” seru Angga.


“Haa ....” Aryo tampak terkejut dan semakin ketakutan.


“Lalu aku harus gimana?” tanya Aryo dengan cemas.


“Kamu harus bisa kalahkan rasa takutmu itu.” Saran Angga dengan santai menanggapinya.


“Caranya gimana?” tanya Aryo dengan penasaran.


“Sering-sering berdoa, memohon perlindungan sama Tuhan!” saran Angga.


Benar saja apa yang dikatakan Angga. Tiga hari berlalu sejak kejadian malam itu dan sepertinya, setelah hari itu dia kerap mengalami gangguan.


Lewat tengah malam ketika terbangun dari tidurnya, Aryo sering mendapati suara pintu kamarnya diketuk orang.


Karena sudah mengetahui itu gangguan dari makhluk halus, Aryo mengabaikannya.


Suatu malam ketika Aryo hendak buang air besar di kamar mandi bawah, perasaannya begitu risau, was-was, dan tidak nyaman.


Dia dibayang-bayangi oleh rasa takutnya sendiri.

__ADS_1


“Angga temanin aku ke kamar mandi ya, Please.” Ucap Aryo sambil menggoyangkan tubuh Angga yang tidur di sampingnya.


“Aaahhh .... Kamu kayak cewek aja, deh! Ke kamar mandi aja pake dianterin.” Ujar Angga dengan nada sebel.


“Kamu pikir cuma kamu aja yang bisa jadi pemberani, ya,” ungkap Aryo dengan memberanikan diri dan sambil buang gengsi.


Kemudian Aryo segera bergegas beranjak dari tempat tidurnya untuk membuka pintu kamar, bergegas berjalan dengan pelan menuju kamar mandi.


Dan tiba-tiba saja, ketika Aryo baru menjejakan kakinya ke anak tangga, dia dikejutkan oleh suara hentakan pintu yang sangat keras dari kamar mandi.


Aryo terkejut, tubuhnya bergetar, spontan saja dia segera menghentikan langkahnya.


“Ini pasti angin, ya? Hanya ulah angin yang sangat keras.” Ucap batin Aryo.


Ia melanjutkan perjalanan menuju kamar mandi. Setibanya di sana, dia mengucap doa masuk kamar mandi lantas masuk dan menutup pintu. Aryo langsung menunaikan hajatnya.


Beberapa menit kemudian, usai membuang hajatnya, Aryo bergegas naik kembali menuju ke kamarnya.


Napasnya terengah-engah ketika sampai dalam kamar, sekaligus lega. Semua masih baik-baik saja, tak ada sesuatu yang tak berarti mengganggunya.


Satu bulan berlalu. Satu per satu penghuni kosan telah kembali dari liburan semester.


Aryo sangat senang sekali ketika mendengar Angga masih akan tinggal di kosannya satu bulan lagi, itu berarti dia masih punya teman sekamar selama Mas Amir masih berada di daerah Manado.


Hari berganti hari. Andi bercerita, malam itu dia diberi penampakan oleh sekelabat bayangan putih yang melintas di depan kamarnya.


Begitu juga dengan Mas Dul. Dia mengeluhkan tengah mendengar suara tawa melengking seorang wanita saat hendak ke kamar mandi.


Malam itu juga, usai mengobrol dengan beberapa penghuni kos yang lain, Aryo bergegas menghampiri Angga.


“Angga, sepertinya apa yang kamu bilang itu benar.” Seru Aryo ketika Angga tengah asik membaca buku-buku novel di kamarnya itu.


“Apaaa ...?” tanya Angga bingung.


“Itu soal kuntilanak yang ngikutin aku pulang dari warnet kapan hari, ternyata benar ada di kosan ini. Beberapa anak kos juga sudah di takut-takutin sama itu setan.” Seru Aryo dengan serius.


Kemudian Angga terdiam sejenak.


“Kamu bisa bantu aku dan teman-temanku, Angga? Karena kamu punya kelebihan. Tolong usir dia.” Pinta Aryo.


Aryo memohon dengan sangat kepada Angga.


“Aryo, bukannya aku enggak mau nolong kamu ama teman-temanmu. Tettapi aku enggak punya kemampuan untuk itu. Aku hanya bisa melihat mereka.” Ujar Angga.


Angga terdiam sejenak.


“Kalau anak kecil dan perempuan itu memang penunggu kos ini, mereka tidak mengganggu, hanya saja sesekali mereka menampakkan diri. Tetapi kalau kuntilanak itu .…” Ucap Angga dengan agak ragu-ragu.


Angga tak melanjutkan kalimatnya, berpikir bagaimana dia bisa menolong teman-teman kosan Aryo? Tiga hari telah berlalu, mereka belum juga menemukan solusinya.


Sampai akhirnya, seorang rekan kerja Aryo memiliki kenalan ustaz yang memang punya keahlihan mengusir makhluk-makhluk halus.


Begitu Aryo mendapatkan alamatnya. Kemudian mereka bergegas mencari alamat rumah ustaz itu.


Akhirnya mereka berdua menemukan alamat rumah ustaz tepatnya di Limboto dan memberikan salam.


“Ustaz saya minta tolong sekali! Akhir-akhir ini, di kosan saya ada kuntilanak yang sering menganggu saya dan teman-teman kosan. Saya minta tolong agar ustad bersedia mengusirnya,” ucap Aryo.


“Kuntilanak ...?” tanya Ustad dengan kaget.


“Iya Ustaz, teman saya ini sering melihat keberadaannya. Sejak kecil dia memang bisa melihat makhluk-makhluk halus.” Ujar Aryo.


“Indigo, ya?” tanya Ustad.


Angga hanya tersenyum.


“Ya. Mungkin seperti itu, Ustaz!” seru Angga sambil tersenyum.


“Kalau begitu baiklah, insya Allah besok saya akan ke tempat kos adik-adik ini. Di mana alamatnya?” tanya Ustaz.


Aryo mengambil secarik kertas dari dompetnya, mencatat cepat alamat kosnya lantas memberikannya pada ustaz.


“Ini alamat kosnya kami, Ustaz.” Jawab Aryo sambil menyerahkan secarik kertas itu.


Usai menyampaikan keperluannya, Aryo dan Angga pun mohon diri dari rumah sang ustaz itu.


Malam itu malam Jumat Kliwon. Angga sengaja tidak tidur malam itu, sengaja untuk membantu ustaz mengusir kuntilanak dari kos.


“Angga, aku enggak bisa ikutan, ya! Aku mau tidur di kamar saja,” ucap Aryo yang belum-belum sudah merasa ketakutan.


“Ah ..., kamu ini udah kebiasaan banget.” Seru Angga.


“Ya, tetapi aku kan memang enggak bisa melihat hal-hal seram seperti itu. Biar saja aku tak pernah melihatnya,” sahut Aryo.


“Oke deh kalau begitu, aku enggak akan memaksa kamu untuk ikut. Santai aja.” Ucap Angga.


Aryo hanya menganggukan kepala dan bernapas dengan lega. Dia membenamkan kepalanya di bawah bantal, bergegas tidur.


Lewat tengah malam, ketika para penghuni kos yang lain tengah mengunci diri di kamarnya masing-masing dan sebagian dari mereka sudah terlelap.


Angga dan Ustaz sengaja menunggu kemunculan hantu wanita itu. Mereka duduk di depan kamar Amar.


Salah satu penghuni kos, sembari menebarkan pandangan di sekeliling.


Tak lama kemudian mereka merasakan hawa dingin menusuk tulang diikuti embusan angin sesaat yang sangat kencang.


Sosok seorang wanita berambut panjang melesat dari atap lantai dua kosan itu.


Dengan sekuat tenaga Angga melawan rasa takutnya, pandangannya tak lepas dari makhluk menyeramkan itu.


“Itu Ustaz!” Seru Angga ketika melihat penampakan makhluk menyeramkan di hadapannya.


Ustaz itu perlahan memejamkan mata, bibirnya berkomat-kamit membaca doa sambil menyisir butiran tasbih yang digenggam di tangan kanannya itu.


Angga tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu sang ustaz selain berdoa dalam hati dengan bahasa yang dia bisa.


Lama kelamaan dia bisa melihat setan wanita itu memperhatikan dan memandang tajam ke arahnya. Namun, tak lama kemudian sosoknya menghilang bersamaan dengan hawa dingin seperti sebelumnya.


Usai malam itu, tak lagi terdengar kabar aneh-aneh lagi di kosan, selain hanya Aryo yang kadang masih mendengar suara orang mandi lewat tengah malam.


Dia ingat kata Angga kemarin lusa, sebelum dia mengantarkan pulang dan menuju terminal Andalas.


“Ustaz hanya mengusir kuntilanak itu saja dan membiarkan tinggal hantu anak kecil dan perempuan itu. Lagi pula mereka adalah penunggu kosan ini, enggak terlalu menakutkan juga, kan,” ucap batin Aryo.


“Okelah kalau begitu enggak masalah ... siapa takut,” ucap Batin Aryo lagi.

__ADS_1


Hari terus berganti dan berlalu, hingga akhirnya Aryo menjadi terbiasa dengan suara orang mandi dan suara air bergemericik di malam hari.


__ADS_2