MEREKA DI SEKITAR KITA

MEREKA DI SEKITAR KITA
PART 13 MISTERI KANTOR


__ADS_3

Bulan Desember kantor-kantor sangat sibuk dengan laporan-laporan. Mereka harus tuntas menyelesaikan pekerjaan dengan cara lembur dan bergantian untuk lembur.


Hari itu Kadir berencana lembur di kantor untuk menyelesaikan tugas-tugas yang belum sempat terselesaikan itu.


Ini pertama kali Kadir lembur di kantor karena banyak tugas laporan yang harus ia selesaikan.


Biasanya sih pekerjaan yang belum diselesaikan di bawah ke rumahnya. Itupun kalau ia tidak malas untuk mengerjakannya, atau pas tidak dapat teguran dari kepala dinasnya.


Saat itu di ruangannya begitu banyak temannya yang lembur. Hingga akhirnya waktu menunjukkan hampir pukul 10.00 malam.


Satu per satu teman-temannya Kadir mulai berkemas dan pulang. Tinggallah Kadir dan Arif saja dalam ruangan itu.


Beberapa saat kemudian Arif pun berkemas dan mau pulang ke rumahnya.


“Dir kamu nggak pulang, nih!” tanya Arif.


“Ntar lagi aku pulang ke rumahku, Rif! Lagi nyelesaikan dulu ketikan laporan, nih! Masih tanggung pas masih seru-seruannya.” Jawab Kadir tanpa menoleh ke arah Arif karena serius ngetik laporannya.


“Aku pulang duluan, ya,” Arif sambil pamit pulang.


“Yoi. Hati-hati di jalan, ya ...,” Kadir tanpa menoleh ke arah sahabatnya itu.


“Oke Sip.” Ucap Arif kepada Kadir sambil menuruni anak tangga.


Kini tinggallah Kadir sendirian di ruangannya. Selang beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki menaiki tangga dan berjalan menuju arah meja Arif.


Karena saking asyiknya ngetik laporan di depan laptop, Kadir pun tidak menoleh ke arah suara langkah kaki tersebut. Kadir mengira Arif datang lagi.


“Balik lagi ya, Rif? Ada yang ketinggalan, ya?” tanya Kadir sambil serius ngetik laporan.


“Iya, ada yang ketinggalan.” Jawabnya datar dan dingin.


“Oooh ...,” Kadir tanpa menoleh suara itu.


Kemudian terdengar suara langkah kaki dari meja Arif menuju arah kamar mandi. Kadir tak menghiraukanya.


Karena Kadir pikir Arif mau pergi ke toilet. Bersamaan itu pula terdengar suara langkah kaki menaiki anak tangga.


Kadir sempat lirik siapa gerangan yang datang.Ternyata Satpol PP yang bertugas di kantor.


“Masih lembur nih, Mas Kadir?” tanya Satpol PP.

__ADS_1


“Engggak kok! Bentar lagi juga mau pulang ini.” Jawab Kadir dengan singkat.


“Mas berani ya sendirian?” tanya Satpol PP itu lagi.


“Kan ada Arif kok, Pak!” jawab Kadir tanpa menoleh ke arahnya Satpol PP itu.


“Lho tadi saya keliling kok sudah tidak ada orangnya, Mas.”


Satpol PP sambil mendekati Kadir dan melihatnya sambil ngetik.


“Kayaknya lagi ke toilet, Pak!” jawab Kadir sesingkat mungkin.


“Ooooh ..., begitu ya! Ya udah Mas saya lanjut keliling dulu di luar Mas Kadir, ya.” Ucap Satpol PP berlalu sambil menepuk pundaknya.


“Oh iya, Pak! Silahkan aja. Saya mau lanjutin dulu pengetikan laporan dulu Pak, ya.” Jawab Kadir dengan singkat sambil mengetik laporan.


Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki dari arah toilet dan berjalan menuju ke meja Arif.


Kadir melanjutkan pekerjaannya karena ia pikir itu adalah Sofyan. Sofyan memang gemar membaca buku-buku novel horor kepunyaan Arif.


Hal itu karena di meja Arif memang banyak buku novel horor kesukaan Arif.


Namun, tidak ada jawaban dari Sofyan, Kadir berpikir bahwa Sofyan lagi keasyikan membaca buku novel horor kepunyaannya Arif.


Tiba-tiba terdengar suara telepon suara berdering dari meja Rangga. Meja temannya Kadir yang berada di pojokkan tepat bersebelahan dengan meja Sofyan.


Telepon itu pun terus berbunyi karena tidak ada yang mengangkatnya.


“Sof ..., angkat dong teleponnya. Kamu kan yang lebih dekat dari situ,” teriak Kadir.


Namun, tidak ada jawaban dari Sofyan dan telepon pun terus berdering. Kemudian Kadir menengok ke arah meja Sofyan dan tidak terlihat Sofyan di situ.


Begitu juga di meja Rangga ternyata kosong. Dan telepon pun masih berdering. Akhirnya Kadir pun menghentikan pengetikan laporannya sejenak menghampiri meja Rangga dimana telepon tersebut berdering.


Begitu Kadir sampai ke meja tersebut telepon kemudian berhenti berdering.


“Aaah ..., sialan banget, sih. Siapa sih yang ngerjain ini kayak enggak punya kerjaan. Enggak tahu apa kalau aku lagi sibuk kerja.” Gerutu Kadir sambil dalam batinnya.


Saat Kadir kembali mengetik laporannya, tiba-tiba telepon kembali berdering dan kali ini masih sama di mejanya Rangga.


Kembali Kadir menghentikan sejenak pengetikan laporannya itu. Ia pun menghampirinya dan begitu ia mengangkat telepon itu.

__ADS_1


“Halo ..., dengan siapa nih ...?” tanya Kadir dengan nada agak kesal.


Tidak ada jawaban dari telepon itu, kemudian Kadir menutup teleponnya dengan agak keras sambil marah-marah.


“Siapa sih yang malam-malam gini nelepon terus nggak ada suaranya? Atau ..., jangan-jangan ini kerjaannya Arif lagi! Bikin kesal aja deh!” ucap Kadir sambil marah-marah karena kesal.


Dalam keadaan kesal pun Kadir masih tetap melanjutkan pengetikan laporannya itu lagi. Kadir merasa bulu kuduknya seketika itu merinding.


Karena ia merasa sesuatu yang aneh yang beberapa kali mencolek kakinya dan sesekali menarik-narik bahan celananya dari kolong meja kerjanya itu.


Agak kesal dan penasaran Kadir pun melongo ke kolong meja dan ia pun sangat terkejut.


Ketika Kadir melihat ada sosok gadis remaja sedang menatap ke arahnya. Gadis remaja itu kelihatan wajahnya pucat. Matanya yang tajam dan merah menyala, serta kukunnya yang panjang hitam, dan rambutnya panjang menjuntai ke lantai.


Hihi ... hihi ... hihihi ....


Hantu Kuntilanak gadis remaja itu sambil tertawa keras.


Kadir langsung mengambil langkah seribu dengan jurus kecepatannya, larinya pontang- panting keluar ruangan.


Di luar kantor Kadir pun berpapasan dengan Satpol PP yang baru kembali keliling ruangan-ruangan.


“A-Ada ..., Kuntilanakkkkkkk ..., a-ada Kuntilanaakkkkk ...." Teriak Kadir.


Satpol PP pun menatap Kadir dengan wajah heran dan bingung.


“Di mana Mas ada hantu kuntilanak, Mas?” tanya Satpol PP itu dengan penasaran.


“A-adaaaa ..., adaaaa ..., di dalam ruangan sanaaa, Pak! Tolong Pak ambilin laptop saya di dalam saya takut, Pak.” Suara Kadir sambil terbata-bata.


Kadir pun menjadi gugup dan meminta Satpol PP menemaninya mengambil Laptop yang ada di dalam ruangan kerja.


Untung saja ada temannya Satpol PP datang. Dan mereka menjadi berempat datang masuk bersama-sama mengambil laptopnya Kadir yang sempat ketinggalan di dalam ruangan akibat Kuntilanak.


Setibanya di dalam ruangan hantu kuntilanak gadis remaja itu telah menghilang. Seketika itu Kadir pulang ke rumahnya dengan keadaan takut.


Dan esok harinya Kadir sudah tidak mau lagi lembur di kantor sendirian karena takut hantu kuntilanak itu datang lagi untuk mengganggunya lagi.


Sampai saat ini kuntilanak itu masih ada dan sering mengganggu ketika ada yang lembur malam. Sehingga yang bisa melihat kasat mata pasti lari terbirit-birit.


Tidak terkecuali Pak Satpam yang tidak pernah diganggunya. Mungkin karena Pak Satpamnya tidak bisa melihat secara kasat mata.

__ADS_1


__ADS_2