MEREKA DI SEKITAR KITA

MEREKA DI SEKITAR KITA
PART 25 PENGHUNI KOS PENINGGALAN BELANDA


__ADS_3

Ini malam pertama Anita menempati kamar kosnya yang hanya berukuran 4 x 5 M. Rumah kos itu termasuk dalam kategori rumah lama.


Terlihat dari bentuk bangunan dan gerbang yang digunakan. Sepertinya rumah ini adalah bangunan asrama zaman Belanda.


Harga yang ditawarkan pun tidak terlalu mahal. Jumlah kamar yang disewakan kurang lebih 100 ruangan. Di setiap kamar para penyewa diberi fasilitas tempat tidur besi yang dialasi dengan kasur kapuk, lemari kayu berukuran sedang, dan sebuah meja rias kayu jati dengan ukiran daun di seluruh sisinya.


Jendela kamar Anita menghadap ke arah belakang rumah. Beberapa pohon besar terlihat jelas jika jendela tersebut dibuka.


Anita sempat mendengar bahwa bangunan ini angker. Namun, Anita tidak peduli karena sejak kecil Anita sudah menyukai segala sesuatu yang berbau horor, baik itu buku, film, atau kisah-kisah nyata yang merujuk pada dunia gaib.


Walaupun hingga detik ini Anita tak pernah melihat makhluk astral yang seringkali digambarkan berwajah menakutkan. Namun, ia percaya mereka memang ada.


Malam pertama dilaluinya dengan lancar, bahkan ia tak sempat bermimpi. Mungkin karena ia terlalu lelah membereskan kamar maka ia pun tidur dengan lelapnya.


Pagi-pagi sekali Anita berangkat ke kampus. Di gerbang luar ia berpapasan dengan Ibu Alda pemilik bangunan tua itu.


“Selamat pagi, Ibu Alda,” sapa Anita.


“Hai Anita, selamat pagi. Bagaimana semalam? Apa kamu tidur dengan nyenyak?” tanya Ibu Alda.


“Iya, Ibu Alda. Sangat nyenyak, gangguan nyamuk pun tak berhasil membangunkan saya. Saya berangkat kuliah dulu, ada ujian hari ini. Permisi Ibu Alda.” Ucap Anita.


Ibu Anita mengangguk sembari menyunggingkan sebuah senyuman. Wanita itu nampak aneh. Ia menggunakan baju panjang warna hitam dan berkerudung.


Hampir seluruh tubuhnya terselimuti pakaian. Hanya wajahnya saja yang tidak. Namun, ia selalu menunduk Anita melangkah cepat.


Jarak antara kampus dan kos tak terlalu jauh. Cukup naik angkutan umum lima menit saja, maka ia sudah sampai di kampusnya.


Suasana kampus sudah cukup ramai. Beberapa rekan sekelasnya nampak sibuk dengan buku catatan di tangan mereka, dengan bibir komat-kamit seakan menghapalkan bahan ujian.


Anita duduk di baris paling belakang. Tubuhnya masih lelah karena hari kemarin.


“Hei ..., Nit, ngapain di sana? Sini deket aku.” Pinta Rani yang duduk dua baris di depan Anita.


“Di sini aja, Ran. Takut ketahuan kalau aku ngantuk nanti.” Jawab Anita sambil mengeluarkan alat tulis dari dalam tasnya.


Rani mengalah, justru ia yang pindah posisi mendekati Anita.


“Maaf ya, Nit, kemarin aku enggak bisa bantu kamu. Mama masih sakit,” ucap Rani.


“It’s okay my friend (Enggak masalah kok temanku). Aku bisa selesaikan sendiri. Sudah biasa aku pindah-pindah kos sendirian.” Ucap Anita.


“Bagaimana suasananya? Pemilik kos? Teman-teman kos?” tanya Rani.


“Pemilik kos itu namanya Ibu Alda. Teman-teman kos? Hemmm aku belum berkenalan. Waktu aku berangkat tadi pagi suasana kos sangat sepi. Entah mereka semua masih tidur atau aku yang lebih lambat bangun dari mereka.” Ucap Anita.


“Selamat pagi anak-anak! Apakah kalian sudah siap dengan ujian hari ini?” tanya Pak Guru.


Sebuah suara agak serak milik Pak Ronal mengejutkan seisi kelas. Termasuk Anita dan Rani.


“Nanti disambung lagi ceritanya, si monster sudah datang!” ucap Rani.


Anita hanya tersenyum simpul. Ia paham betapa Rani begitu membenci Pak Ronal hingga akhirnya Pak Ronal mendapat anugerah sebagai The Monster.


Pukul enam sore Anita dalam perjalanan pulang ke kos. Ia ingin segera sampai di kamarnya, melanjutkan tidurnya yang ia rasa masih jauh dari kata cukup.


Sampai di depan gerbang kos. Anita tak langsung masuk, ia memandangi arsitektur bangunan rumah itu dengan lebih saksama.


Memang terkesan angker jika diperhatikan dari luar. Ditambah lagi suasana juga amat sepi.


“Ah ..., mungkin penghuni lain belum pulang!” batin Anita.


Anita membuka gerbang perlahan. Walau catnya sudah mengelupas. Namun, gerbang ini terlihat masih sangat kokoh.


Anita berjalan melewati taman depan kos. Di sana terdapat sebuah ayunan yang nampaknya sudah berkarat.


Dua buah lampu taman terlihat sangat berdebu belum dinyalakan, karena ini masih sore. Anita berjalan namun pandangannya tak bisa lepas dari taman itu.


”Brakk ....” Suara tabrakan.


“Duh! Maaf, Bu Alda!” pinta Anita.


“Tak apa, Anita!” ucap Ibu Alda.


Anita menabrak Ibu Alda tepat di depan tangga menuju kamarnya. Beberapa detik memandang wajah Ibu Alda.


Kemudian Anita menunduk dan melanjutkan langkahnya menuju kamar. Sampai di kamar, jantung Anita berdegup sangat kencang.


Ia sempat melihat wajah Nyonya Ram Ibu Alda sesaat insiden tadi. Wajah itu begitu dingin walaupun Ibu Alda menunduk. Anita membaringkan tubuhnya di kasur kapuk itu.


Tanpa sadar ia tertidur. Beberapa jam kemudian …


“Anita ...! Anita...!” Sebuah suara yang begitu halus membangunkan Anita dalam tidurnya.


Anita membuka matanya. Seorang gadis cantik dengan rambut ikal berwarna keemasan dengan gaun khas Noni Belanda sudah ada di depannya.


Sepertinya mereka seumuran. Anita terdiam. Ia yakin bahwa gadis ini bukan manusia.


“Tak usah takut, aku penghuni kamar sebelah. Kau anak baru, kan? Tadi kau lupa menutup pintu kamarmu. Maaf jika aku lancang masuk tanpa izin. Aku hanya ingin berkenalan dengan kamu!” Pinta gadis cantik itu.


Anita memandangi gadis itu dengan sangat teliti. Kakinya menempel di lantai, kulitnya putih bersih bukan putih pucat.


“Sepertinya memang dia manusia!” ucap Batin Anita.


“Hai, iya tak apa. Siapa namamu?” tanya Anita dengan nada hambar karena ia masih terkejut.


“Aku Sania!” jawabnya singkat.


Setelah kejadian itu keduanya nampak terlihat sangat akrab. Setiap Anita pulang dari kampus, Sania selalu menemani Anita dalam kamarnya.

__ADS_1


Mereka berbincang-bincang. Sania sangat memahami sejarah. Terutama saat Indonesia ada di zaman Belanda. Hingga tahunnya pun Sania hapal diluar kepala.


Wajar saja, Sania keturunan Belanda. Ayahnya adalah seorang Belanda yang bekerja di Indonesia, ibunya suku pribumi. Wajahnya bisa dibilang sempurna. Cantik luar dan dalam.


Beberapa minggu berlalu, Anita mulai merasakan ada yang aneh di rumah kos ini. ia merasa seakan-akan hanya dirinya, Ibu Alda, dan Sania yang tinggal di sana.


Karena ia selalu menemukan kos dalam keadaan sepi. Tak ada suara riuh khas kos perempuan. Sampai pada suatu malam saat ia dan Sania tengah asik menikmati green tea di kamar Anita.


“San! Apa kamu kenal dengan penghuni yang lain?” tanya Anita.


“Hah ..., oh kenal ... tetapi aku jarang berinteraksi dengan mereka. Kenapa Nita?” tanya Sania dengan penasaran.


“Tidak apa, hanya heran aja, sejak awal datang aku hanya melihatmu dan Ibu Alda!” jawab Anita.


“Kamu harus terbiasa dengan kondisi sepi. Seperti aku!” seru Sania.


Anita diam, ia masih penasaran mengapa kos ini nampaknya amat sangat hening. Ia berniat besok saat libur kuliah ia akan menyambangi kamar penghuni lainnya untuk berkenalan.


Hari yang ditunggu tiba, Anita mengetuk setiap pintu. Namun, baru saja ia sampai di pintu ketiga, Ibu Alda mendekatinya tiba-tiba.


“Sedang apa, Anita?” tanya Ibu Alda.


“Hmmh ..., ini ... anu eh saya ingin berkenalan dengan mereka, Ibu Alda!” jawab Anita terbata.


“Mereka semua sedang dalam masa liburan. Beberapa ada yang pulang ke rumah, sebagian lagi ada yang pergi menginap di luar kota!” ucap Ibu Alda.


“Oh begitu, sudah berapa lama, Ibu Alda?” tanya Anita dengan penasaran.


“Sudah dua bulan. Apa kau merasa kesepian?” tanya Ibu Alda.


“Tidak juga, hanya saja saya merasa asing dengan lingkungan yang sepi.” Ucap Anita dengan serius.


“Hanya belum terbiasa. Lama-lama kamu juga akan menikmati betapa indahnya kesunyian!” ucap Ibu Alda.


Anita pun mengangguk. Ia berjalan kembali ke dalam kamar. Wajah Ibu Alda jauh dari kata bersahabat.


Begitu kaku. Di dalam kamar Anita mulai membuka beberapa buku koleksinya yang rata-rata berbasis horor.


Sampai akhirnya ada sebuah buku yang sama sekali tak ia kenali. Ia merasa sangat asing dengan covernya. Sebuah tangan besar mencengkram tubuh manusia berukuran kecil.


“Buku siapa ini? Rasanya aku tak pernah membeli ini!” ucap batin Anita.


Anita mulai membuka halaman demi halaman. Anita menikmati tiap kalimatnya. Ia terus membaca, sampai di halaman tengah ada sebuah mantra.


Mantra tersebut menuliskan bagaimana agar kita bisa merasakan bagaimana menikmati hidup dalam kegelapan seperti hantu-hantu yang bergentayangan.


Intinya mantra itu bisa membuat kita merasakan bagaimana menjadi makhluk Ghaib. Di situ dituliskan bahwa si pembaca mantra harus ikhlas. Tak boleh menyimpan dendam dan penyesalan.


Anita mulai tertarik dengan mantra tersebut, dan ia ingin mencobanya. Anita duduk bermeditasi. Ia sedang mengosongkan hati dan pikirannya. Kemudian ia mulai membaca mantra tersebut.


Perlahan dengan hitungan yang pasti ia membaca dengan hati-hati. Sampai kalimat terakhir. Anita mulai merasakan kepalanya berat. Pandangannya mulai kabur. Sampai kemudian, “jlebb ...,” ia pun tertidur.


Anita turun dari pembaringannya. Ia mencoba mencari-cari keberadaan buku tersebut. Namun, tak jua ditemukannya benda itu.


Anita beranjak keluar dari kamar. Mencoba mencari Sania. Otaknya langsung mengarah pada gadis itu karena selama ini yang bisa keluar dan masuk kamarnya hanyalah Sania.


Namun, baru saja tangan mungilnya ingin membuka pintu ia menghentikan langkahnya. Anita baru ingat bahwa selama ini Sania tak pernah memberitahukan dimana kamarnya. Apa mungkin ia harus mengetuk ke-49 kamar yang ada?


Gagang pintu ditarik, beberapa langkah keluar dari kamar ia begitu terkejut. Bangunan ini tak lagi sepi.


Gadis-gadis berpakaian mirip Sania nampak asik berbincang bincang di depan kamar, ada pula yang asik membaca buku.


Mereka semua berwajah Indo. Anita melongok ke lantai bawah. Di taman ia bisa melihat beberapa gadis asik bermain ayunan, walaupun hari sudah gelap.


Namun, wajah mereka masih terlihat jelas lewat bantuan lampu taman yang sudah dinyalakan.


“Mungkin mereka sudah kembali dari liburannya. Aku tanyakan saja pada mereka di mana kamar, Sania!” ucap batin Anita.


Anita mulai menyapa salah seorang gadis, ia nampak lebih cantik dari Sania. Bulu matanya lentik, warna matanya hijau, kulit sedikit berbintik, bibirnya merah merona, rambut yang keriting dibiarkan terurai, dan tersemat jepitan bunga kecil di kepala bagian kanan atas.


“Hai ..., aku Anita. Boleh berkenalan?” tanya Anita sambil memperkenalkan dirinya.


“Hai, Amanda namaku. Kamu nampak kebingungan?” tanya Amanda.


“Ah ..., iya aku mencari seseorang!” ucap Anita lagi.


“Siapa? Bolehkah aku tahu?” tanya Amanda.


“Sania ....” Jawab Anita.


“Sania? Sania Van Wirgh? Dia ada di kamar 45!” ucap Amanda.


Setelah mengucapkan terima kasih, Anita langsung pergi meninggalkan Amanda dan beberapa temannya.


Ia berusaha mencari kamar yang dimaksud. Sesampainya disana Anita melihat sebuah pintu kayu bernomor 45.


“Ini dia!” ucap Anita.


Anita mengetuknya. Tak ada jawaban sama sekali. Berkali-kali diketuk masih juga tak ada jawaban.


Anita pun memberanikan diri membuka pintu kamar itu sendiri lalu menutupnya kembali, sangat hati-hati hingga tidak menimbulkan suara sedikitpun.


Lampu kamar ini sangat redup. Dan ada yang berbeda dari ruangan ini, Tempat tidurnya dibatasi sebuah sekat dan itu tak dimiliki Anita dikamarnya.


Jadi, saat masuk ke kamar, orang akan melihat meja kecil dan dua kursi kayu terlebih dahulu.


Sebuah meja kecil berbentuk persegi nampak penuh dengan foto-foto Sania. Semua fotonya berwarna hitam putih. Sania berpose macam-macam.


Ada yang sendiri, ada pula yang bersama kedua orang tuanya. Sebuah lemari besi berkarat mirip yang ada di kamarnya nampak terbuka.

__ADS_1


Kaki Anita berjalan mendekati lemari. Matanya ingin sekali melihat isi di dalamnya.


Ia melihat sejumlah baju ala Noni Belanda tergantung di sana.


Namun, warnanya sangat lusuh, bahkan kecoklatan. Anita mencoba menyentuhnya. Ia terkejut, ini seperti baju-baju puluhan tahun lalu yang sudah tak layak pakai.


Begitu rapuh. Di beberapa bagian sudah bolong, mungkin dimakan tikus. Di bagian bawah lemari sudah banyak rayap.


“Mana mungkin Sania membiarkan lemarinya seperti ini?” pikir Anita.


Jantung Anita berdegub kencang. Namun, kakinya terus ingin berjalan mengarah ke ranjang di balik sekat.


Ia yakin Sania tengah tertidur disana. Anita berjalan perlahan.


“Sa .... Sania.” Ucap Batin Anita.


Anita hampir pingsan. Ia melihat sebuah tubuh seperti nenek renta terbaring dengan sebuah kalung salib di lehernya.


Rambutnya yang berwarna keemasan memutih. Awalnya Anita tak yakin bahwa itu Sania.


Namun, ketika ia melihat sebuah tanda lahir di punggung tangan orang dalam pembaringan itu ia yakin bahwa itu adalah Sania.


Ditambah lagi wajah cantik Sania benar- benar terbias di wajah itu.


“Apa ini mamanya? Atau neneknya? Oh Tuhan ada apa ini?” tanya Anita.


Anita berharap ini semua hanya mimpi. Namun, ia tak ingin mengakhiri ini, ia masih menikmati permainan jantungnya.


Perasaan ini yang tak pernah ia temukan saat ia membaca buku-buku horor yang sama sekali tak memacu adrenalin.


Anita mengelus tangan orang yang terbaring itu. Ia merasakan tubuh itu begitu dingin. Ia mengelus kedua pipi yang hanya terbalut kulit keriput itu.


Tanpa disangka kedua mata perempuan itu terbuka. Anita tak mampu berkata-kata. Mulutnya bungkam.


Wanita itu bangun dari tidurnya. Suara sendi seperti orang sedang meregangkan otot terdengar jelas.


Perempuan itu membuka mulutnya. Jelas terlihat bibir keriputnya sudah mengelupas. Jejeran giginya menghitam. Namun, ia masih terlihat cantik.


“Anita ...?” sapa wanita tua itu.


“Sa ... Sania? Apa kamu Sania ...?” tanya Anita dengan penasaran.


“Siapa yang membawamu ke sini?” tanya Wanita tua itu.


“Seseorang mengatakan padaku bahwa ini kamarmu!” jawab Anita.


“Siapa? Apakah Ibu Alda?” tanya wanita tua itu.


“Bukan ..., bukan dia. Tetapi seorang gadis. Kalau tidak salah ingat namanya, Amanda!” jawab Anita agak gugup.


Sania menunduk. Ia seperti ingin menangis. Anita kasihan melihatnya.


“Anita, maafkan aku. Harusnya kamu tak sampai di sini. Kamu pasti sudah melihat mereka, bukan?” tanya wanita tua itu.


“Mereka? Mereka siapa?” tanya Anita balik.


“Gadis-gadis yang ada di bangunan ini!” jawab wanita tua itu.


“Iya, tetapi tunggu! Kamu harus menjawab dulu pertanyaanku. Apakah kamu Sania? Mengapa kamu amat berbeda dari kamu yang kemarin?” tanya Anita lagi dengan penasaran.


“Aku menemuimu dengan penampilanku ratusan tahun lalu. Saat aku masih cantik. Saat aku belum mengetahui bahwa bangunan ini akan membelengguku!” jawab wanita tua itu.


“Apa maksudmu?” tanya Anita dengan penasaran.


“Puluhan tahun lalu aku dan beberapa rekanku yang notabene keturunan Belanda secara serempak dimasukkan ke dalam asrama ini. Pemilik asrama ini adalah Pak Randi. Ia terkenal memiliki ilmu hitam. Ia memiliki sebuah mantra dimana mantra tersebut bisa membuat orang mati tanpa merasakan sakit dan membiarkan arwah orang tersebut bergentayangan tanpa ada batasan waktu. Awalnya semua nampak normal saja. Namun, setelah satu tahun berlalu, satu per satu para gadis menghilang. Sampai yang terakhir sahabatku Lusiana. Sebelum menghilang, ia sempat menuliskan surat padaku. Ia menceritakan tentang siapa Pak Randi dan Ibu Alda yang sebenarnya. Lalu ia memberikan padaku kalung salib ini. Ternyata Pak Randi mengetahui surat yang diberikan Lusiana kepadaku. Maka dengan ilmu hitamnya, ia mengurungku di sini. Sampai akhirnya.” Ucap Sania dengan sedih dengan ceritanya yang pilu.


Sania menggantungkan kalimatnya. Ada bulir airmata yang keluar dari pelupuk matanya.


“San, lanjutkan ceritamu. Mungkin aku bisa menolong!” pinta Anita dengan serius.


“Aku tak bertahan lama dalam ruangan ini. mereka sama sekali tak memberiku makan. Aku pun mengidap asma. Hingga di bulan ke-6 aku menghembuskan napas terakhirku!” Seru Wanita tua itu.


Anita menjauhkan posisi duduknya dari Sania. Ia tak menyangka kini ia benar-benar bertemu hantu. Ada sedikit ketakutan membanjiri dirinya. Ia setengah bergidik. Ia takut tiba-tiba Sania mencekiknya hingga mati.


“Kamu tak perlu takut, Nita, kita sama. Hanya saja aku mati dengan jasad sementara kau tidak!” ucap Wanita tua itu.


“Apa maksudmu?”tanya Anita penasaran.


“Tak ada satupun yang manusia bisa melihat banyak orang di sini, kecuali mereka sudah sama-sama mati dengan membaca mantra itu. Jika kamu sudah bertemu Amanda, itu sama halnya kamu sudah seperti dia dan lainnya. Aku dan Ibu Alda mati karena takdir Tuhan. Namun, tetap kami belum bisa tenang karena jasad kami tak pernah ditemukan.” Jawab wanita tua itu.


Anita gemetar. Tubuhnya dibanjiri keringat. Ia tak percaya bahwa dirinya sudah mati.


“Pembohong! Kamu ingin membohongiku San. Aku sudah menganggapmu sebagai sahabat. Namun, kamu tega membohongiku!” ucap Anita.


“Cobalah kamu keluar kamar. Ini pukul delapan pagi. Silahkan kamu nikmati mataharimu!” pinta wanita tua itu.


Anita berlari keluar kamar. Meninggalkan Sania di dalam kamarnya.


“Arrghh .... Sakitt!” teriak Anita.


Anita berteriak, ia kesakitan. Tubuhnya seperti terbakar. Ia kembali masuk ke dalam kamar Sania.


“Sudah percaya? Kamu takkan lagi bisa menikmati pagi, siang, dan soremu. Kamu hanya bisa menikmati malammu. Apakah kamu tak menyadari bahwa aku selalu menemanimu di malam hari? Apakah kamu tak menyadari Ibu Alda selalu mengenakan pakaian yang menutupi tubuhnya? Ini takdir kita!” ucap wanita tua itu


Anita menangis sesenggukan. ia menyesal membaca mantra itu. ia merasa bodoh. Ia tak menyangka bahwa kini ia adalah hantu.


“Apakah ada cara lain, Sania?” tanya Anita.


“Tak ada, takkan pernah ada. Kamu, aku, juga mereka akan jadi penghuni asrama tua ini selamanya. Selamat datang Anita. Selamat datang di asrama kita!” jawab wanita tua itu.

__ADS_1


__ADS_2