MEREKA DI SEKITAR KITA

MEREKA DI SEKITAR KITA
PART 26 MISTERI CERMIN


__ADS_3

Terlalu gesit pagi-pagi mahasiswi jurusan Pendidikan Olahraga harus masuk masih pagi-pagi sekitar jam 7 pagi.


Ketika Dini mau masuk ia terkejut ada telapak tangan yang berdarah di kursinya itu. Darah yang sudah mengering itu membentuk jari-jemari yang begitu panjang.


Segera Dini keluarkan tisu basah dari dalam tasnya dan menghapus telapak tangan itu. Dengan kesal langsung membuang ke tong sampah di sudut ruang kelas kuliah itu.


Begitu dini kembali lagi ke tempat kursinya itu tiba-tiba telapak tangan itu sudah muncul lagi. Padahal jelas-jelas Dini sendiri di kelas itu.


Dini langsung menyambar tas dan berlari ke luar ruangan kuliah itu. Kemudian ia menunggu teman-temannya untuk datang.


Saat Dini dan teman-temannya ramai memasuki ruang kelas kuliah, telapak tangan itu sudah menghilang.


Dini menarik napas panjang walau dalam otaknya tetap terbesit pertanyaan yang ia tahu jawabannya itu.


Mahluk itu sudah mau menjemput salah satu dari mereka. Dan kemungkinan besar adalah dirinya sendiri.


Jam mata kuliah pertama adalah mata kuliah praktek olahraga. Maka mereka meninggalkan baju putih di ruang kuliah, setelah berpakaian olahraga.


Dini tak bisa berkosentrasi dengan mata kuliahnya itu. Beberapa kali ia tidak bisa menangkis serangan lawannya.


Sering membuat kesalahan sendiri dalam permainan Badminton itu. Padahal ia seorang atlit Badminton.


Saat mengambil pakaian kuliahnya untuk ganti baju, Dini mendadak gemetar di bajunya ada telapak tangan itu lagi.


“Ada apa dengan kamu, Dini?” tanya Isna melihat Dini tertegun.


Namun, Dini tak menjawab apa-apa dan langsung menuju tempat ganti pakaian. Ia merasa tangan itu terus mengikutinya bahkan sampai ke kamar mandi.


Entah kenapa ia merasa tangan itu menempel di lehernya. Tetapi ketika disentuh olehnya tak ada apa-apa.


Siang itu mereka mengadakan rapat dalam kelas untuk membicarakan perayaan hari ulang tahun kampus dan jurusan mereka.


Waktu itu sampai pada pembahasan penggalangan dana dari alumni Pendidikan Olahraga. Ketika tiba-tiba pintu terbuka dan Dini merasakan aura yang asing.


“Tolong dong pintunya di tutup!” pinta Dini kepada temannya yang duduk dekat pintu itu.


Ada tangan yang tiba-tiba muncul dari sana. Tangan itu adalah tangannya Lia. Dia datang dengan setumpuk boks yang berisi makanan.


“Kita dapat kiriman makan dari senior-senior kita! Nasi ayam dan bubur ayam!” ucap Lia kepada teman-teman.


Dini melihat langsung makanan itu langsung mual karena seperti sesajen.


“Ada alumni senior kita yang lagi buat hajatan pesta ulang tahun anaknya pas aku nelepon ngomongin anggaran tadi! Aku bilang kita lagi mengadakan rapat! Dan mereka kirimkan kita makanan! Lumayan kan nggak susah-susah keluarin anggaran buat snack rapat!” ucap Lia lagi.


Teman-teman riuh dan merasa bersyukur karena mendapatkan kiriman dari senior mereka yang telah menjadi alumni.


Mereka langsung bersepakat untuk menunda rapat dan dialihkan ke makan siang dulu. Ada sepiring berdua agar nasinya cukup.


Dini berdiam diri di kursinya. Tak ada seleranya pada makanan di depannya itu. Padahal dari pagi ia belum sarapan roti sepotong pun.


“Kamu mau makan nasi ayam apa makan bubur ayam, Dini?” tanya Hermila melihat Dini diam.


“Tidak terima kasih! Aku belum lapar, nih! Nggak tahu kenapa malas sarapan hari ini!” ucap Dini kepada Hermila.


“Nggak boleh gitu dong! Kebersamaan! Ayolah Dini berdua makan bersama aku, yuk!” ajak Hermila untuk makan bersama-sama.


Dini hanya menggangguk-ngangguk saja dan suitan panjang menggema di ruangan rapat.


Tak disangka ia makan dengan lahap nasi itu. Kuah yang kuning dan sambal yang begitu mengundang selera pedas itu, terasa nikmat di mulutnya Dini.


Ia malu sendiri pada Hermila. Untung dia enggak mengejek Dini.


“Dini, kamu nggak mau cicipi bubur ayam ini nggak, nih?” tanya Hermila.


Tiba-tiba tubuhnya merasa merinding lagi mendengar kata bubur ayam itu. Ada aroma asing yang serasa melingkupinya.


Dini goyangkan tangannya dan mengatakan ia sudah terlalu kenyang. Kemudian rapat selanjutnya Dini berusaha positif bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Selesai rapat Dini dan Hermila pulang belakangan untuk membicarakan detail-detailnya.


“Ehmhm ..., Pak Ketum dan Sekretaris kami pamit duluan, ya,” ucap Dini dan Hermila.


Suitan panjang kembali membahana saat mereka mempersilahkan teman-teman pulang duluan.

__ADS_1


Kemudian Dini menceritakan masalah tangan yang menempel di bajunya itu kepada Hermila.


Dan tangan-tangan sebelumnya yang selalu makan korban. Hermila bukan orang yang sembarangan percaya sama yang namanya tahayul.


Jadi, ia hanya menganggap Dini mengada-ngada saat ia mengatakan kalau Dini adalah korban selanjutnya.


“Semua kecelakaan kemarin itu yang terjadi kepada Retno itu hanya kebetulan aja, Dini! Itu mungkin adalah ajalnya!” ucap Hermila.


Dini pun sambil mengusap tangannya.


“Tetapi kenapa telapak tangan itu selalu muncul, ya?” tanya Dini.


“Percayalah, Dini! Insya Allah enggak akan ada apa-apa kok! Lebih baik kita pikirkan konsep acara dan ***** bengek perayaan nantinya! Ini tahun terakhir kita berada di kampus lho sebentar lagi kita akan mengikuti ujian skripsi! Masak kita enggak mau ngasih yang terbaik di jurusannya kita ini sih, Dini!” ucap Hermila sambil menatap Dini dengan serius.


Dini merasakan kepalanya nyut-nyutan. Sebuah lorong yang gelap. Cahaya di tangannya berasal dari lampu teplok.


Dini tahu tempat apa ini. Tetapi ia terus berjalan. Di ujung lorong ia menemukan sebuah ruangan tamu.


Ada banyak orang yang sedang berkumpul di sana. Semuanya menggunakan pakaian seragam kampus.


Seorang gadis manis putih dan tinggi itu serta rambutnya yang begitu panjang duduk membelakangi Dini dan memainkan lagu daerah Gorontalo.


Lagu yang sangat merdu dan dimainkan dengan bagus. Sepertinya Dini tahu siapa yang memainkan lagu itu.


Di kursi sofa juga duduk beberapa orang. Seperti sedang belajar. Dini ingin mendekat. Tetapi tiba-tiba tubuhnya mendadak kaku.


Mereka semua tidak bergerak sama sekali. Mereka seperti boneka. Putih pucat. Dengan perasaan takut Dini mendekat.


Kemudian dengan tiba-tiba lampu teplok yang dipegang oleh Dini jatuh. Lampunya pecah dan padam.


Penerangan satu-satunya tinggal lilin di mejanya kini. Makhluk itu tiba-tiba senyum melihat Dini.


Makhluk-makhluk itu menjadi beku kembali. Kemudian Dini mencoba memberanikan dirinya mendekati para makhluk itu yang lagi sedang duduk di kursi.


Tiba-tiba semua menatap Dini dengan tajam. Dini mengenal mereka, Lusiana, Nina, Ismail, Sunarti, dan Yuyun.


Mereka itulah sudah meninggal. Semuanya menatap Dini dalam bentuk wajah yang kaku dan pucat. Ia berusaha tersenyum.


Tetapi tak ada yang balas. Ia menepuk bahu seseorang yang diyakini itu adalah Siska.


Wajah itu berbalik. Dalam rupanya yang begitu hancur. Hitam, melepuh, dan keluar percikan api di wajahnya.


Dini berlari sekuat tenaga. Semua gelap-gelapan karena lampunya sudah rusak. Ia berlari terus. Lama-kelamaan mama memanggil-manggil namanya itu.


“Dini ..., dengar mama, Sayang! Ikuti suara Mama, ya!” pinta Mama Dini.


Sementara di belakang makhluk-makhluk itu terus mengejarnya. Tetapi suara mama Dini juga tetap menggema di ujung lorong.


“Sayang ..., ikuti suara Mama, Nak! Dimana pun kamu tolong ikutin suara Mama, Nak! Pulang Sayang!” ucap suara Mamanya Dini memberi petunjuk.


Dini melihat ujung jari-jari mamanya yang lembut, sementara ujung gaunnya yang lain dipegangi oleh tangan-tangan berwajah mengerikan.


Bau busuk dan tangan mereka yang berkuku panjang dan kotor kehitaman. Dengan segenap kekuatan Dini dapat meraih tangan mamanya.


“Alhamdulillah akhirnya kamu bangun juga, Nak!” ucap Mamanya berucap syukur anaknya sadar.


Kemudian Dini melihat wajah papanya, adiknya, dan orang lain yang enggak ia kenal.


“Dini kenapa, Ma?” tanya Dini.


“Enggak apa-apa, Sayang. kamu hanya berjalan terlalu jauh!” jawab Mamanya itu.


“Ya! Ma tadi aku melihat teman-teman yang udah meninggal, Lusiana, Sunarti, Ismail, Nina dan Yuyun.” Ucap Dini sambil menangis memeluk mamanya itu.


“Itu hanya kecelakaan, Sayang! Kamu jangan kepikiran gitu ahhh ....“ Ucap Mamanya lagi.


“Mereka siapa, Ma?” tanya Dini menyadari ada orang asing di kamarnya.


“Hehe ..., kamu pasti kecapean! Cuma kita berempat di ruangan ini, Sayang!” jawab Mamanya.


Mendengar penjelasan Mama Dini sontak memeluk mama dan papanya kuat. Saat terbangun ia masih mendapati mama dan papanya di samping kasur.


Kedua makhluk yang lain itu sudah tidak ada. Rasanya himpitan di dadanya Dini sedikit berkurang.

__ADS_1


“Mama ....” Ucap Dini sambil menyentuh pelan pundak mamanya itu.


Mamanya hanya tersenyum menyiratkan kelelahan yang luar biasa. Entah sudah berapa lama ia tertidur.


Melihat lingkaran hitam di mata mamanya, tampaknya Dini tidur lebih dari seminggu.


“Laparrr ....” Ucap Dini merajuk.


Mamanya sumringah dan secepat bergegas kilat menuju dapur. Papanya masih tertidur lelap.


Dini tak tega membangunkannya. Perlahan ia turunkan kaki dari kasur dan bergegas menuju ke lemari.


Rasa baju lengket sekali. Mandi air hangat mungkin bisa memberi ketenangan.


Cukup lama Dini berendam di bath up, saat mendengar teriakan mamanya.


“Sayang ..., kamu jangan kelamaan mandinya ya, Nak! Nanti kamu masuk angin, Nak!” seru Mamanya itu.


Kemudian Dini segera keluar dengan kimono di tubuhnya itu.


“Kamu mau makan di luar atau di kamar tidur, Sayang?” tanya Mamanya lagi.


“Di luar aja, Ma! Bosan nih di dalam kamar terus.” Jawab Dini dengan senyum.


Dini makan dengan sangat lahap sekali. Tiga piring nasi goreng telur mata sapi, susu, roti, dan pisang bakar keju cokelat. Mama dan papanya hanya memandang sambil tersenyum.


“Ihh ...., Mama dan Papa lihatnya gitu ama sih sama, Dini! Emangnya Dini tidur berapa lama Ma, Pa?” tanya Dini.


“Enggak penting! Yang penting sekarang kamu sudah pulang dari jauh, Nak!” jawab Mamanya dan Papanya itu.


Dua hari setelah kejadian itu Dini kembali masuk ke kampus. Hermila yang pertama kali menyambutnya di depan pintu ruangan kuliah.


Disusul dengan anak-anak yang lain, hatinya sumringah, sambil sesekali bertanya,


“Sudah berapa lama sih aku nggak masuk kampus?” tanya Dini kepada Hermila.


“Ehhh .... Di punggung kamu gambar apaan, Dini?” tanya teman-temannya itu memandangnya bergidik.


Sesuatu yang tak enak menerpa kuduknya. Dini langsung berlari ke toilet dan melarang teman-teman mengikuti.


Dini tak mau mereka berpikir aneh padanya. Kemudian ia melepaskan seragamnya itu. Dengan hanya mengenangkan tanktop ia membersihkan kotoran itu di bajunya.


“Hah ..., bekas tangan lagi, ya!” tanya Dini dengan penasaran.


Saat membersihkan bajunya di wastafel, ia menangkap sosok bayangan di cermin. Jantungnya berdesir. Tetapi ia tatap dengan tajam bayangan itu. Dini sudah terlalu lelak untuk terus menghindar.


“Mbak, mau apa sih?” tanya Dini ke bayangan yang tiba-tiba muncul.


Bayangan di cermin yang serupa wajahnya itu menangis. Meminta dikasihani. Tetapi Dini kali ini harus tegas.


“Kecelakaan itu enggak sengaja, Mbak! Enggak ada yang sengaja menjatuhkan lampu panggung di kepalanya, Mbak! Apa Mbak mau nyawa ade juga, ya?” tanya Dini sambil bertanya kepada Sosok makhluk itu.


Kalau ada anak lain yang masuk, pasti mereka berpikir Dini sudah gila. Berbicara pada bayangannya di depan cermin.


Tetapi bayangan di depannya bukan Dini, ia makhluk dari dunia lain. makhluk itu menangis makin keras.


“Mbak, mau aku dibilang adiknya pembunuhhhh ....” Ucap Dini lagi.


“Iya, Dek ngerti tetapi dunia kita sudah berbeda, Mbak!” ucap Dini lagi.


Entah berapa lama Dini berbicara dengan bayangan itu, hingga Dini merasa kalau ia di sana tinggal bayangan saja.


Tak ada lagi Mbak Sumini, Dini berjalan perlahan ke kelas. Hermila dan teman-temannya menyambutnya khawatir. Dini hanya tersenyum dan memeluk Hermila sesaat.


Beberapa pasang mata melirik geli.


“Ah ..., biarlah Mbak Sumini dan semoga Mbak Sumini benar-benar pergi kali ini!” ucap Dini dalam batinnya itu.


Minggu pagi itu mereka pergi ke makam Mbak Sumini. Dan Dini melihat dia berdiri di samping makam dengan baju putih bersih.


Di sampingnya ada dua makhluk tak dikenal saat Dini baru terbangun di kamar.


“Ah ..., senyum mereka begitu lembut! Mungkin orang tua angkatnya, Mbak Sumini. Ketika kuliah di Jawa sana! Semoga Mbak Sumini tenang di alam sana ya, Mbak.” Ucap Dini dalam batinnya.

__ADS_1


Setelah itu mereka membacakan surat Al-Fateha tiba-tiba makhluk itu menghilang. Dan Dini pun akhirnya selamat dari gangguan dan selamat dari kecelakaan itu walau sudah berapa minggu itu ia tidak sadarkan diri.


__ADS_2