
Perkemahan pertama dan terakhirku adalah saat usia kelas lima SD. Teman-teman sekelasku mengusirku sendiri dari dalam perkemahanku. Ibu akhirnya membelaku dan memarahi semua temanku yang tidak mengizinkanku tidur di kemah yang kubeli sendiri. Mereka mampu sebenarnya, tapi orangtua mereka pelit. Mungkin juga uang untuk itu sudah mereka habiskan sendiri. Antara picik dan serakah, entah mana yang benar. Tapi kuputuskan tidak ikut pusing.
Malam itu akhirnya aku tidur di tendaku sendiri. Berjejalan empat orang. Jujur aku takut terhadap mereka, tubuh mereka lebih besar dariku, dan entah kenapa, aku bisa sekelas dengan berandalan. Apakah aku punya dosa masa lalu? Kupikir ada. Mungkin ya. Sehingga tidak jarang mereka selalu bisa merebut apa yang tidak mereka miliki.
"Kamu tuh ya tukang lapor!" ucap seorang temanku, Acak.
Kupunggungi mereka. Kupaksakan dengan tidur bersama bisik-bisik menjengkelkan itu. Apa mereka tidak sadar kesalahan mereka sendiri? Seharusnya mereka paham, merekalah yang salah. Aku mengumpat, di usia yang masih muda, dengan umpatan nama-nama hewan, dan kusebut-sebut nama orangtua mereka. Kuimajinasikan dalam ingatanku, agar mimpi malam itu semakin kuat terbentuk, aku ingin mengolok-olok mereka di mimpi. Lebih aman, lebih baik memang begitu.
Pagi menjemput, dan semalam aku tidak ingat apa pun. Bicara soal mengumpat, mungkin pikiranku lelah membayangkan mereka semua di dalam mimpi. Aku berbalik, untuk sholat shubuh. Sedikit terlambat, tidak masalah, di perkemahan sekolah, tidak semua menuruti arahan para guru. Dan, ternyata teman-temanku sudah tidak ada.
Aku keluar tenda untuk berwudhu, dan kudapati juga tenda yang lain kosong. Menyisakan beberapa anak lainnya dan kutanya pada mereka. Mungkin aku terlewat jadwal penting.
"Acak, Adit, Awan, mereka, temanmu yang ada di kemahmu, itu," kusela dia sebelum meneruskan ucapannya.
"Kenapa sih? Kayak sesuatu yang heboh gitu."
"Iya, dodol! Emang. Temanmu itu gak ada semua. Udah dicari-cari ke mana-mana."
__ADS_1
"Hilang? Duh, kamu kayak gak tahu mereka aja. Paling kabur ke mana gitu."
Dan semua dugaanku salah. Aku masih menunggu mereka di dalam tenda, tidak ada acara yang berlanjut di siang harinya. Selain makan dan makan lagi. Beberapa orangtua sudah menjemput anak mereka untuk pulang, sepertinya memang ada yang aneh. Akhirnya keputusan sekolah memulangkan semua anak-anak di sore harinya. Padahal masih ada sisa satu hari menyelesaikan acara perkemahan ini. Aku sudah antusias untuk acara terakhir, bagi-bagi doorprice.
Kurapikan tenda sendirian, bapak dan ibu juga sudah datang. Kutanyakan apakah benar kabar menghilangnya mereka bertiga, mereka mengangguk. Orangtua mereka bertiga juga datang mengambil barang mereka ada yang menangis. Sisanya berusaha tegar. Pihak polisi tidak bisa memastikannya karena belum genap satu kali 24 jam. Sehingga belum bisa dinyatakan hilang. Tapi mereka mulai menyisir hutan belantara yang jaraknya cuma seratus meter dari lokasi perkemahan.
Aku juga harus melakukan sesi interogasi polisi. Aneh, pertama kalinya dan aku merasa tegang.
"Benar-benar tidak tahu?"
"Saya kesiangan, Pak. Sudah tidak ada mereka."
***
Suasana kelas menjadi ramai, seorang temanku berteriak memberi kabar. Antara dia gila, mabuk atau mungkin menang judi murah berhadiah, entah yang mana, semua temanku mulai antusias. Apalagi setelah dia menyebutkan kata, 'trio kasih'.
"Serius, mereka balik. Kaget aku. Ada di rumah mereka. Mereka bertiga balik." Aku membelalakkan mata.
__ADS_1
Terkejut semua tatapan mereka memandangku iba. Kubuang muka karena berita seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Ya, walau hanya pakaian mereka saja yang ditemukan di hutan. Toh, jika mereka kembali, aku juga ingin menghilangkan mereka lagi. Kali ini giliranku. Lebih baik masuk penjara dari pada hidup di luar. Rasanya sama saja kukira.
Pembicara mereka bertiga memonopoli seluruh obrolan di sekolah. Aku duduk di belakang menguping, menikmatinya tanpa perlu bicara. Memang aku tidak punya teman, jadi biarlah.
Obrolan itu menjadi rencana kunjungan. Aku tentu tidak diajak. Untuk apa, tapi mungkin aku bisa mengendap-endap. Sepulang sekolah hampir seluruh siswa ingin berangkat ke rumah tiga orang teman lama mereka yang sudah tidak lagi menjadi legenda. Para guru sibuk mengurus dan mengobrol. Banyak telpon berdering, sepertinya menarik. Tapi sekali lagi, aku tidak diikutkan serta. Aku memilih pulang. Lebih baik begitu. Rencanaku mengendap-endap juga percuma rasanya. Rombongan puluhan sepeda motor itu memenuhi jalan seperti pawai.
Sesampainya di rumah, ibu menangis. Ia mengucap syukur berkali-kali. Aku merasa jijik. Mereka menghancurkan hidup kita dari awal, Bu. Ingin kukatakan seperti itu. Tapi aku tidak ingin membangkitkan kemarahan bapak. Mereka akhirnya mengobrol, berusaha menanyakan situasi di sekolah. Kujelaskan sebisanya, tidak banyak tentu, semua tahu itu. Ibu ingin tahu, tapi pertemanannya dengan para tetangga kompleks perumahan sudah tidak seharmonis dulu. Jadi kusarankan pada ibu untuk membacanya saja di koran atau TV lokal akan memberitakannya.
"Saudara, saudara, ini aneh, kami mendengar suara erangan dari dalam rumah korban beberapa tahun lalu yang hilang di hutan perkemahan."
Kami melihat dengan seksama, lingkungan perumahan itu, jalannya, pohonnya, aspalnya, ada kenangan menyeruak yang membuat ibu terkesima. Kami bertiga menontonnya patuh. Seperti menonton acara upacara pembukaan suatu acara berskala internasional.
"Saudara-saudara, bisa Anda lihat, saya bersama dengan masyarakat lainnya menanti salah satu dari ketiga anak yang pernah hilang itu, Acak, untuk keluar menemui kami. Setidaknya, kami bisa melihat wajahnya. Ya, saya sedang berada di depan rumah keluarga Acak."
Suara erangan itu terdengar dan terekam melalui kamera. Walau siarannya buruk, kami tetap tegang. Sampai-sampai orang-orang yang berada di dekat pintu masuk rumah berhamburan dan berlarian keluar. Mereka berteriak ngeri, takut dan ada yang langsung pulang menaiki kendaraan sepeda motor mereka. Suara erangan itu semakin keras dan kasar. Kami melihatnya, sosok tubuh Acak yang tinggi dan besar. Berbeda dari yang dulu. Seharusnya dia tambun. Ah, lupa. Dia tersesat di hutan begitu lama.
Erangan itu berubah menjadi ketakutan, jejak kainya darah, dia meninju dan memukul, lalu menggigit beberapa orang yang berusaha menghentikannya. Keluarganya menangis hebat, mereka berteriak-teriak memanggil namanya.
__ADS_1
Mataku tertuju padanya, dari layar kaca. Setelah kupandangi seserius yang kubisa, ternyata matanya memerah. Bola mata itu tidak lagi hitam. Ibu bergidik ngeri dan pergi tidak melanjutkan menontonnya. Bapak langsung menelpon teman-teman kerjanya. Memastikan semua ini benar. Tapi ada hal lain yang membuatku semakin penasaran.
Mereka yang kena gigitan itu, juga mulai menggigiti lainnya? Darahku mendidih. Mereka zombie. Ya, haha, akhirnya aku punya alasan untuk menuntaskan dendamku sekian lama. Tunggu kalian, aku akan mulai berburu.