
Di sebuah desa Mutiara terdapat beberapa rumah yang sangat pas untuk sebuah keluarga.
Rumah itu ditinggali oleh keluarga yang hidupnya pas-pasan saja. Mereka berdua memiliki anak dua orang, si sulung dan si bungsu.
Si sulung bernama Irma dan si bungsu bernama Arafik. Sementara sang suami bernama Herman dan Istrinya bernama Sulastri.
Herman sebagai kepala keluarga pekerjaannya di sebuah perusahaan, sementara Sulastri hanya mengurus rumah tangga.
Kehidupan mereka hanya pas-pasan saja, untuk kebutuhan sehari-hari hanya berharap gaji dari sang suami.
Pagi-pagi buta Sulastri sudah emosi tingkat tinggi, ada-ada saja yang membuat ia menjadi emosi. Dari membentak si sulung Irma yang susah dibangunkan masih terlalu pagi.
Memarahi si kecil bungsu yang menumpahkan susu. Sampai memarahi Herman suaminya sendiri, karena lupa mematikan kran air yang terputar.
“Mas kamu pikir air Pam itu nggak mahal, ya? Seenaknya kamu mencurah-curahkan Air Pam, Mas. Kita harus hemat, Mas ...,” ketus Sulastri dengan nada marah-marah.
“Maaf sayang aku lupa mematikan kran air Pam, Sayang!” ucap Herman sambil meminta maaf kepada istrinya itu.
Sebenarnya bukan hanyalah air kran yang lupa dimatikan, bukan itu masalahnya.Tetapi karena tetangga sebelah sudah membeli kulkas baru dan TV layar datar 42 inci.
Itu yang membuat Sulastri menjadi cemburu sosial dan mendesak agar suaminya untuk segera membeli barang-barang itu juga.
Kalau perlu suaminya harus kredit. Tetangganya mereka bernama Ibu Dian.
“Kamu kan tahu, gajiku hanya cukup untuk keperluan kita sehari-hari, Sayang,” ucap Herman sambil mengeluh kepada isrinya.
“Makanya kamu harus rajin bawa Bentor(Becak Mesin) di luar sana, Mas. Jangan hanya mengharapkan gaji bulanan aja, Mas.” Ketus Sulastri dengan nada kesal.
Herman hanya diam saja, tanpa satu kata pun yang dia keluarkan.
“Boro-boro membeli barang-barang lain, motor aja masih kreditan,” ucap Herman dalam batinnya.
Sulastri melihat reaksi suaminya itu hanya diam sambil memikirkan, bagaimana caranya agar bisa mengubah kehidupan ekonomi mereka menjadi lebih layak?
Keesokan paginya setelah semuanya berangkat, Sulastri bergegas pergi ke rumah Ibu Maryam, Ibu Maryam seorang janda kaya tanpa anak.
Dia punya rumah megah dan beberapa kenderaan mewah. Tak jelas pekerjaannya apa. Yang jelas wanita itu bergelimangan harta.
Kemarin, ketika mendengar curhat Sulastri, hati Bu Maryam tersentuh dan menjadi iba. Dia berjanji membantu wanita tiga puluh lima tahun itu supaya bisa memperbaiki keadaan ekonominya.
Hari ini rencananya mereka mau pergi ke suatu tempat, yang diyakini bakal megnubah nasib ekonomi keluarga Sulastri.
Dengan berbekal sisa uang belanja dan tabungan ala kadarnya, Sulastri pun bergegas ikut meninggalkan rumah.
Malam itu adalah malam Jumat sekitar pukul setengah dua belas malam, Herman terjaga dari tidurnya.
Ketika dia menoleh ke samping ranjang tak didapati istrinya di sana. Karena kegerahan, Herman pun keluar ketika pergi ke dapur mata Herman terbelalak.
Di sana terlihat wadah anyaman bamboo berisi bunga tujuh rupa dan beberapa batang rokok Surya.
Herman pun terkejut ketika tiba-tiba ada aroma asing menerpa hidungnya itu, baunya kemenyan yang sedang dibakar.
“Siapa yang melakukannya, ya?” tanya Herman dalam batinnya itu.
Ketika mau kembali ke kamar, telinga Herman mendengar suara Sulastri sedang berbicara di sebuah kamar kosong yang tak pernah mereka tempati itu.
Herman kemudian menajamkan telinganya itu. Namun, suara Sulastri yang seperti sedang merapalkan mantra itu tak terdengar jelas.
“Apa yang kamu lakukan semalam, Sayang?” tanya Herman keesokan harinya.
__ADS_1
“Oh Bu Maryam minta tolong sama aku, Mas.” Jawab Sulastri dengan santai.
“Minta tolong apa, Sayang?” tanya Herman dengan penasaran.
“Bu Maryam membuka usaha biro jodoh. Karena berkembang, dia mengajakku untuk membantunya, menjadi asistennya. Tugasku menjadi perantara di antara dua orang yang ingin mencari pasangan.” Ucap Sulastri dengan memberikan penjelasan dengan wajahnya berbinar cerah.
“Lantas, untuk apa aneka kembang, rokok Surya dan asap menyan itu?” tanya Herman dengan penasaran.
“Itu hanya media agar kedua hati mereka segera klop dan akhirnya berjodoh.” Jelas Sulastri.
“Aneh sih. Pekerjaan apa itu?” tanya Herman lagi.
“Sudahlah ..., Mas. Yang jelas aku mau bantu kamu cari uang. Bosan aku hidup melarat terus.” Jawab Sulastri dengan tegas dengan memotong pertanyaan Herman.
Akhirnya Herman pun bungkam tak kuasa berdebat. Malam semakin larut tapi Arafik masih terjaga.
Tetapi ketika mau buang air kecil, dia melihat ada anak kecil masuk ke kamar yang ada di dekat dapur. Kamar yang biasa digunakan ibunya untuk menyimpan barang.
“Siapa sih dia? Tubuhnya mungil, kepalanya kok botak, ya? Dan dia tidak mengenakan baju, hanya secarik kain melilit di pinggannya seumpama celana.” Tanya Arafik dalam batin.
Arafik mau masuk ke dalam kamar itu juga. Tetapi ketika dia mendengar suara ibunya sedang bercakap-cakap di dalam, Arafik tidak jadi masuk di dalam kamar itu.
Kini Arafik tak menyadari kalau dia tak sendirian di kamarnya. Ada bocah yang tadi dilihatnya di dapur sedang memandangnya tajam.
Arafik baru sadar ketika anak itu bersuara. Suaranya mirip dengan cicitan ayam. Tak jelas terdengar seram. Melihat kehadiran bocah itu Arafik menjadi ketakutan.
Hatinya berdebar kencang rasa takut kini menghampirinya. Melihat bocah cilik yang botak itu mendekat ke arahnya, Arafik spontan menjerit ketakutan.
“Kenapa Arafik?” tanya Herman yang tahu-tahu sudah berada di kamar mereka.
“A-ada ..., setan bocah cilik yang kepalanya botak, Pak.” Ucap Arafik sembari terisak.
“Setan bocah cilik kepalanya botak? tanya Herman dengan heran.
“Itu kan tanda-tanda tuyul.” Ucap Herman dengan tercekat.
Belum genap tiga bulan bekerja, Sulastri sudah mampu membeli kulkas, mesin cuci, TV layar datar, dan DVD player beserta sound systemnya.
Kredit motor Herman juga sudah dilunasi bahkan Sulastri dapat membeli motor matik baru seperti tetangganya itu.
Menu makanan pun berubah-ubah. Kalau dulu makanan mereka ikan asin dan sayur bening, kadang tahu dan tempe, kini aneka hidangan lezat selalu tersaji di meja makan.
Penampilan Sulastri pun berubah. Gaun-gaun mahal dan aneka perhiasan selalu dikenakannya.
Dandanannya selau rapi dan wangi. Anak-anaknya dilimpahi uang jajan dan selalu dibelikan makanan dan mainan yang selama ini tak pernah mereka rasakan.
Herman juga dibelikan pakaian dan keperluan sandang bermerek dan mahal. Anehnya setiap pagi Sulastri selalu tak ada di rumah. Kalau ditanya Herman, alasannya selalu lari pagi.
Malam hari kelakuan Sulastri juga semakin aneh. Tiap malam Jumat dia selalu menyendiri di kamar kecil dan gelap.
Sesekali suaranya terdengar bicara dan tertawa sendiri. Namun, kini Herman sudah tak mau ambil pusing. Yang penting hidup mereka sudah menjadi makmur.
Setelah kejadian malam itu, Arafik kerap dilanda ketakutan khususnya pada malam Jumat, pasalnya bocah cilik berwajah menyeramkan itu selalu datang menghampirinya di kamar.
Melihat sosok itu Arafik selalu menjerit histeris, hingga Herman cemas dengan keadaan anak mereka itu.
“Mengapa setan kecil itu selalu mengganggu Arafik, ya?” tanya Herman dalam batinnya.
Namun, ketika Herman mau membicarakan hal itu dengan Sulastri istrinya itu malah terkesan cuek dan tak mau menanggapinya.
__ADS_1
“Mungkin hanya mimpinya Arafik setelah menonton film horor,” ucap Sulastri dengan nada acuh tak acuh itu.
“Enggak mungkin lah, Sayang! Arafik enggak mungkin mengada-ngada.” Bantah Herman.
Kekhawatiran Herman kemudian terbukti. Karena sering didatangi bocah cilik kepalanya botak itu, kesehatan Arafik kian menurun.
Setelah kerap menjerit seperti orang kesurupan, anak itu kemudian jatuh sakit. Arafik menjadi demam tinggi.
Melihat itu Sulastri dan Herman segera bergegas membawa anaknya ke dokter praktik yang paling mahal tapi penyakit Arafik tak juga kunjung sembuh.
Seminggu setelah mengalami demam panas tinggi, Arafik kemudian menghembuskan napasnya yang terakhir.
Anehnya, paska kematian anak si bungsu, kehidupan ekonomi mereka semakin makmur. Kelakuan Sulastri semakin aneh.
Masih suka ngomong sendiri di kamar kosong itu dan kerap membakar menyan. Melihat itu Herman tak bisa lagi diam.
Herman bertekad untuk mencari tahu apa yang sebenarnya yang dikerjakan oleh Sulastri.
Sore itu ketika Sulastri pergi berbelanja dengan si sulung mereka, Herman nekad masuk kamar kosong itu.
Kali ini pintunya tidak terkunci. Ketika masuk mata Herman terbelalak. Di kamar itu ada tempat tidur kecil berkelambu.
Mobil-mobilan dan beberapa alat mainnya yang ternuat dari kayu, ada peralatan makanan bayi.
Malamnya, ketika Sulastri diam-diam masuk ke kamar khususnya, Herman pura-pura tidur. Setengah jam kemudian Herman pun menyusul istrinya menuju ke kamar itu.
Ketika Herman masuk dia terkejut.
Dilihatnya Sulastri sedang menyusui seorang anak. Bocah cilik hitam kepalanya botak dengan bentuk wajahnya yang sangat menyeramkan.
Melihat Herman masuk, Sulastri terkejut, bocah yang dipangkuannya tadi sontak menghilang.
“Apa yang kamu lakukan, Sayang?” tanya Herman dengan nada emosinya yang mulai membludak itu.
“A-Aku … A .. Aku ....” Jawab Sulastri dengan gagap saat menjawab pertanyaan suaminya itu.
Akhirnya setelah didesak Herman, Sulastri pun mengaku.
"Selama ini ternyata kamu memelihara tuyul, ya? Semua harta yang kamu miliki ini adalah jasa tuyul, bahkan kematian Arafik adalah sebagai tumbal perjanjian kamu dengan sekutu iblis lainnya? Biadab kamu ....” Ucap Herman dengan sangat marah, kecewa, dan sedih.
Kian hari tubuh Sulastri perlahan menyusut menjadi kurus kering. Matanya cekung. Herman berulang kali menasehatinya agar meninggalkan persunggihan tersebut.
Namun, Sulastri tidak mau mendengarkan nasihatnya Herman. Bahkan dia berani mengusir Herman dari rumah.
Akhirnya Herman mengalah. Laki-laki itu masih memikirkan anak perempuannya.
Malam itu Sulastri merasa tubuhnya semakin lemah. Pikirannya kacau. Namun, tugasnya belum selesai.
Dia belum memberi tuyul peliharaannya itu makan. Ada rasa takut menyelinapi hatinya.
Dia merasa tak sanggup lagi memelihara tuyul itu. Namun, mengembalikannya dia harus menyerahkan nyawa anaknya sebagai tumbal.
Tiba-tiba di samping Sulastri berbaring, tuyul peliharaannya itu menghampirinya. Matanya menyorot garang, lapar, dan tanpa menunggu, tuyul itu langsung mencaplok payudara Sulastri dan ******* dengan rakusnya.
Sulastri berteriak, darahnya seperti tersedot habis. Tak lama kemudian Sulastri kehabisan darah.
Tubuhnya terbaring, kemudian dia meregang nyawanya dengan kondisi tubuh menggenaskan. Hanya tinggal tulang belulang dan kulit.
Anaknya si sulung sempat diselamatkan oleh Herman. Herman sangat sedih karena istrinya telah melakukan dosa besar dan berani memelihara tuyul karena ekonomi mereka dengan hidup pas-pasan.
__ADS_1
Anak bungsunya menjadi salah satu korban tuyul itu. Kemudian rumah dijual oleh Herman dan pindah dari rumah itu.
Tuyul itu menghilang entah kemana perginya karena majikannya telah mati meregang nyawa.