
Suara tangis selalu kudengar di malam hari. Terisak-isak di satu hari, menjerit di hari lainnya. Terjadwal setidaknya setiap hari senin dan kamis. Aku pernah mengomel soal itu. Ibu menegurku untuk tidak meributkannya.
"Kenapa?"
"Kamu bakal tahu sendiri. Mending sering-sering main dan ngobrol sama tetangga lainnya."
Ibu selalu begitu. Aku merasa Ibu bukan tidak peduli tapi takut. Kutanya pada ayah soal tangisan itu. Bukan cuma aku yang mendengarnya. Ayah malah bilang,
"Sudah ditegur dek beberapa kali. Tapi Pak Jo memang begitu. Didikannya keras. Mau tidak mau ya kita harus memaklumi."
"Tapi, Yah. Itu sudah masuk kekerasan loh. Masak anaknya sendiri sampai nangis kayak gitu."
"Oh, ya? Kamu yakin dia mengalami kekerasan?"
"Amanda? Duh, Yah. Dari tangisnya saja bikin sakit telinga. Antara gak tega sama terganggu. Dia seumuranku Yah."
"Udah pernah ketemu? Udah pernah lihat bekas-bekas dia mengalami kekerasan dari Pak Jo?"
Aku tidak bisa menjawab itu. Aku juga tidak pernah melihat Amanda secara langsung. Anak perempuan dari Pak Jo itu hanya kukenal dari tetangga lainnya. Pak Jo punya anak perempuan. Kabarnya anak haram. Sedangkan yang sering kami lihat, Pak Jo hanya punya anak laki-laki. Usianya tiga tahun lebih tua dariku. Pernah juga kutanyakan pada anak laki-lakinya, Mas Anang. Dia mengelak. Dan aku yakin ada yang tidak beres di rumah mereka.
"Kamu itu jangan suka ikut campur urusan keluarga orang!" ancamnya. Saat itu aku beranikan diri mencegatnya saat dia pulang kuliah.
"Mas, harusnya kamu dan keluargamu itu tahu juga soal toleransi. Apa kamu itu gak mikir kami juga terganggu dengan tangisan-tangisan di malam hari itu."
Mas Anang memegang kedua pundakku. Mencengkramnya erat. Aku meronta berusaha melepaskan diri.
"Oke, kalau kamu mau tahu, sini ikut ke dalam!" Aku diseretnya masuk ke dalam rumah. Aku menolak, memukulnya berkali-kali. Tenaga perempuanku tidak mampu mengalahkan tenaganya. Aku mulai pasrah. Menyeret kakiku masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Rumah Pak Jo mewah. Lebih mewah dari rumah kami. Lukisan-lukisan abstrak, patung-patung setengah badan, lampu-lampu menyala temaram di siang hari. Aku mulai merinding. Kuusap lenganku berkali-kali. Rumah mereka dingin.
"Kalau yang kamu maksud tangisan itu... Ini!"
Mas Anang menunjuk pada televisi. Ia lalu berjongkok dan memencet tombol pada pemutar DVD. Televisi itu dia nyalakan. Beberapa menit setelahnya, kulihat tayangan seorang perempuan. Berbaju putih, menangis dan persis seperti yang kudengar pada malam-malam tertentu. Ia mulai menaikkan tingkat suaranya.
"Bagaimana?"
"Tapi, mereka bilang..."
"Mereka? Hahaha, kamu tahu betapa mereka selalu ingin menjatuhkan bapak? Mereka bisa memfitnah yang aneh-aneh. Itu sudah kesukaan mereka sejak dulu."
"Tapi... Maksudku, untuk apa suara-suara itu? Tidak bisakah kamu dan keluargamu tidak melakukannya?"
Mas Anang membiarkan tayangan video aneh itu menyala. Dia menarikku lagi, kini naik ke lantai dua. Setiap langkahku seperti memaksa jantung untuk melompat. Kami sampai di depan sebuah pintu. Gagangnya berkarat. Kunci terpasang di sana. Kayu pintunya lembab.
Kupegangi dadaku. Benar-benar ingin pulang sekarang. Tapi rasa penasaranku juga yang membuatku bertahan. Mas Anang memutar kunci itu. Ia menekan gagang pintunya dan mendorongnya maju. Pintu terbuka lebar. Terbuka sepenuhnya.
Aku jatuh terduduk. Mulutku mengaga lebar. Kulihat di dalam, seorang perempuan berbaju putih seperti di video itu. Rambutnya, wajahnya yang sendu, dan menangis. Tubuhnya basah. Air menetes dari seluruh sudut tubuhnya.
"Di... Dia..."
"Ya, di hantu Amanda. Semua orang bisa melihatnya. Kami selalu mencari cara agar hantunya tidak menakuti warga sekitar. Bapak sudah bertahun-tahun mencoba berbagai cara. Salah satunya yang berhasil adalah dengan suara tangisan di setiap hari senin dan kamis malam."
Aku melihatnya. Pertama kali melihat hantu. Tubuhnya sedikit transparan. Cahaya mahatari sedikit menerobos kamar gelap itu membuatku yakin kalau Amanda bukan manusia. Kakiku gemetar. Mas Anang mengulurkan tangannya padaku.
"Ayo berdiri." Kuraih tangannya dan kupalingkan mataku dari Amanda.
__ADS_1
"Dia akan begitu terus? Gak bakal keluar kamar, kan?" Aku melirik. Tatapanku melihat kakinya yang ternyata tidak ada. Lebih tepatnya, telapak kakinya tidak bisa kulihat. Seperti terputus begitu saja. Dia duduk di samping ranjangnya.
"Tidak. Makanya, kami memutar suara tangisan miliknya sendiri. Dan berhasil membuatnya tetap bertahan di kamarnya."
Kutarik kali ini tangan Mas Anang menjauh dari depan pintu. Kakiku masih terasa lunglai.
"Kenapa? Kenapa dia bisa di sini?"
"Jangan berburuk sangka. Amanda sudah ada sejak sebelum keluargaku ada di sini. Ya, dua tahun tepatnya setelah keluargamu ada di sini. Mungkin kamu tidak ingat. Rumah ini berhantu sejak lama. Tidak laku. Tidak ada yang mau. Rumah sebelah juga begitu, kan? Tapi Amanda yang paling agresif."
"Ya, karena apa? Maksudku, maaf, apa ayahmu tahu alasannya?"
"Entahlah. Dia tidak pernah bilang." Mas Anang kembali untuk menutup pintu kamar itu. Sebelum ia menguncinya, aku sudah berlari menuruni tangga.
Pandangan mataku berbayang. Kepalaku mulai pusing. Aku sudah di depan pintu rumah dan kutarik. Terasa berat, kupaksakan sekuat tenaga. Aku terjatuh, telungkup, menyeret tubuhku dan kurasakan air mataku menangis.
"Kenapa mau cepat, cepat pulang? Setelah tahu semuanya, kamu ingin cepat pulang? Enak saja."
Langkah kaki Mas Anang kudengar semakin mendekat. Ia menuruni tangga dan aku menoleh melihatnya. Bayangannya semakin jelas. Aku berteriak sekuatku.
"Tidak bisa bergerak ya? Wajar saja. Memang itu tujuannya."
Aku mulai berpikir. Apa yang kumakan? Apa yang kuminum? Aku mencium aroma wangi yang semakin pekat. Mungkin aroma ini... Obat bius? Aku mulai terpejam dan sosok Amanda muncul di depanku. Ia berbisik padaku.
"Larilah."
Ototku mengeras. Aku ingin pulang. Tuhan, tolong aku.
__ADS_1