MEREKA DI SEKITAR KITA

MEREKA DI SEKITAR KITA
PART 28 MISTERI BILIK 4


__ADS_3

Sangat sulit bagi yang pengangguran, di mana-mana butuh uang. Zaman sekarang tidak ada yang gratis di dunia ini.


Oleh karena itu, solusi utama agar dapat uang yaitu berusaha mencari pekerjaan yang halal.


Bagi yang mendapatkan pekerjaan itu sangat bersyukur walaupun pekerjaannya hanya sebagai operator komputer warnet.


Hari itu Fardan mendapatkan pekerjaan setelah sekian lama ia tidak mendapatkan pekerjaan yang selama ini ia cari itu.


Walaupun hanya sebagai penjaga warnet yang kerjanya tidak full. Tetapi hasilnya cukup lumayan buat nambah-nambah uang saku. Mencari uang dengan pekerjaan yang halal.


Pekerjaan ini memang cocok di tangan bagi yang menyandang mahasiswa akhir, karena tinggal mengerjakan skripsi saja sehingga banyak waktu luang.


Apalagi sambil menjaga warnet, Fardan bisa mengerjakan skripsinya dengan browsing literature yang mendukung atau sekedar mengetik beberapa alinia dan nambah-nambah referensi skripsi. Sambil menyelam minum air.


Sudah empat hari ini Fardan menjalani profesi barunya sebagai operator warnet. Dan hari itu ia mendapatkan jatah shift malam.


Warnet tempat ia bekerja terletak di kompleks pasar dimana kanan kirinya masih terhampar perkebunan yang begitu luas dan sebahagiannya masih kosong.


Dan tak jauh dari kompleks pasar terdapat pemakaman umum mungkin sekitar tiga kilometer dari warnet. Sehingga kalau malam hari suasanannya agak sepi dan terasa dingin.


Malam ini adalah pertama Fardan mendapat jatah shift malam. Ia berangkat dari rumah sekitar jam 18.30. Jarak rumahnya hanya berkisar 25 menit bila ditempuh dengan sepeda atau motor.


Ia memang masih begitu semangatnya bekerja, maklum ini pertama kali ia bekerja sehingga sejak jam 19.00 sebenarnya dia sudah siap bekerja.


Tepat pukul 19.15 mulai mengendarai motornya menuju warnet. Keluar dari rumahnya jalan masih agak ramai kenderaan lalu lalang.


Meskipun kanan dan kiri berupa perkebunan. Setelah melewati beberapa meter perkebunan, kini melewati sebuah kuburan.


Tak berapa lama lagi ia akan sampai ke kompleks warnet tempatnya bekerja. Pada saat ia melewati kuburan itu ia mencium bau aroma bunga setaman dan aroma kemenyan.


Serta bunga kamboja. Segera saja Fardan melajukan motornya itu.


“Ah ..., mungkin ini karena jenazah yang dikubur sore tadi,” ucap Fardan dalam batinnya.


Memang tadi siang ada pelayat di kampung sebelah Fardan dan kabar dimakamkan di pekuburan umum itu.

__ADS_1


Waktu Fardan melewati pekuburan itu tidak begitu merasa aneh ataupun memang tidak begitu merasa ada perasaan takut.


Fardan terus melajukan motor sambil membaca doa untuk menghilangkan rasa sepinya itu. Dan tak berapa lama kemudian sampailah Fardan ke warnet.


“Assalamualaikum warah matulahhi wabarakatu Khairul,” ucap Fardan memberikan salam kepada Khairul.


“Ramai ya malam ini! Banyak juga kenderaan parker di luar,” ucap Fardan lagi.


“Waalaikum salam warah matulahi wabarakatu, iya nih. Tumben tidak seperti malam-malam sebelumnya. Hari ini sangat ramai pengunjungnya. Bahkan tadi sempat ada beberapa yang kembali pulang karena sudah penuh,” Khairul menjawab salam kemudian melanjutkan pembicaraannya.


Setelah serah terima tugas, beberapa saat kemudian Khairul pamit pulang.


“Fardan aku pulang sekarang, ya. Oh iya tadi Pak Purnomo telepon kalau malam ini kemungkinan tidak dapat datang karena anaknya demam. Entar kalau anaknya dah turun demamnya, mungkin ia akan datang,” pamit Khairul sambil menyampaikan pesan dari Pak Purnomo.


Pak purnomo adalah penjaga malam warnet ini. Rumahnya tidak terlalu jauh dari kompleks pasar ini.


Ia memang sangat terkenal rajin, meskipun ada halangan pasti ia sempatkan menengok warnet meskipun hanya beberapa saat sebagai rasa tanggung jawabnya.


“Okelah enggak masalah kok. Hati-hati di jalan, ya,” ucap Fardan sambil melambaikan tangannya.


Chating atau hanya sekedar browsing. Dan Fardan pun asyik mengetik skripsinya yang tadi sudah ia siapkan dari rumah. Lumayan lah kalau semalam dapat ketikan setengah atau satu bab.


Tepat pukul 2.30 warnet mulai sepi, sisa pengunjung warnet satu per satu mulai pulang hingga tersisa Fardan sendirian di dalam warnet itu.


Namun, ia masih asyik juga mengetik skripsinya dan untuk mengusir rasa sepi ia sengaja menyalakan musik DJ.


Beberapa saat kemudian datanglah seorang perempuan pengunjung warnet. Begitu terkejutnya ia, karena perempuan tersebut begitu tergesa-gesa.


Langsung masuk bilik nomor empat seolah-olah buru-buru mau mengerjakan tugas. Memang sih penampilannya seperti seorang mahasiswi.


“Wah malam-malam gini berani benar cewek ini. Mungkin karena ada tugas yang harus dikumpulin besok pagi. Kok sampai di bela-belain datang ke warnet dini hari begini. Mungkin juga cewek itu di antar oleh bapaknya atau saudaranya sendiri,” ucap Fardan dalam batinnya.


Kemudian Fardan melihat tampak sepi. Ia pun mulai ngecek billing cewek itu.


“Lho kok nggak muncul, ya. Kok bilingnya tidak nyala di komputer operator, ya?” tanya dalam batinnya Fardan dengan penasaran.

__ADS_1


Fardan pun lalu pergi ke bilik komputer di mana perempuan tadi masuk untuk mengeceknya. Ia melihat perempuan tersebut asyik membolak balikkan buku dan sepertinya sedang menyiapkan diri menyalakan komputernya.


“Ada masalah dengan komputernya, Mbak?” tanya Fardan.


Namun, tak ada satu kata pun jawaban yang keluar dari mulutnya itu. Dan Fardan melihat perempuan tadi mulai menyalakan komputernya itu.


“Mungkin tadi lagi mempersiapkan segalanya,” ucap Fardan dalam batinnya itu.


Dan beberapa saat kemudian Fardan ngecek lagi billingnya perempuan itu.


“Lho kok billingnya ndak nyala juga, ya?” tanyanya dalam batinnya.


Kemudian Fardan mengecek ke bilik komputer perempuan itu. Tiba-tiba perempuan itu menghilang.


“Lho mana cewek yang tadi, ya? Perasaan dia masuk di sini. Ndak mungkin dia keluar karena cuma satu pintu dan dekat itu dekat tempat operator.” tanya Fardan dengan sangat penasaran.


Kemudian Fardan mempunyai perasaan bercampur aduk antara cemas dan takut. Lalu ia kembali ke meja operator.


Tetapi aneh sekali ada bau bunga yang begitu menyengat, Perasaannya jadi makin tidak tenang dan tidak karuan.


Bulu kuduknya seketika itu mulai berdiri. Sambil ketakutan Fardan membaca doa-doa yang dia bisa. Lalu tiba-tiba terdengar suara dari bilik nomor empat di tempat perempuan tadi.


“Suara apa itu, ya? Sebaikanya aku lihat dulu deh! Kok enggak ada apa-apa di sini,” ucap Fardan dalam batinnya dengan penasaran.


Baru melangkahkan kakinya tiga langkah suara itu muncul lagi tiba-tiba.


“Gubrak ....” Bunyi suara dari bilik empat.


Kemudian Fardan mengecek lagi bunyi yang ada di bilik nomor empat. Ia melihat sosok perempuan itu di bilik itu dengan rambut putih dan panjang.


Wajahnya hancur, berdarah, kuku hitam panjang, serta pakaiannya serba putih yang dihiasi bercak-bercak noda darah. Serasa mati tubuhnya tidak bisa bergerak.


Fardan kemudian membacakan doa-doanya tetapi suaranya tak bisa keluar. Sekitar beberapa menit Fardan menatap wajahnya dengan makhluk itu dan seakan tubuh Fardan kehilangan fungsinya dan akhirnya ia terjatuh tak sadarkan diri.


Saat Fardan sadar, ia melihat Pak Purnomo bersama dengan pemilik warnet. Saat itu juga Fardan pula minta izin untuk mengundurkan diri karena dia takut.

__ADS_1


__ADS_2