MEREKA DI SEKITAR KITA

MEREKA DI SEKITAR KITA
Bab 4: Catur Tunggal


__ADS_3

Dalam setiap sekolah, selalu ada legenda di dalamnya. Entah benar atau tidak, semasa sekolah, setiap murid boleh mempercayainya. Boleh juga tidak. Tidak jarang, legenda dibuat dengan sendirinya dari kabar angin setelah tragedi mengejutkan terjadi. Entah kecelakaan besar, entah pembunuhan, entah apa pun itu yang menimbulkan berjuta tanya. Aku bersekolah di tempat yang tidak kumengerti ada atau tidaknya legenda itu. Sampai dua hari lalu, legenda itu terbentuk cepat tanpa di sadari semua orang.


"Papan caturnya masih begitu?"


"Iya."


"Sudah, dibongkar saja."


"Gak bisa Bu. Seperti memang ada yang mau menantang main di sana."


Obrolan Bu Nanik dan seorang temanku, Siska. Kami melihat di perpustakaan, sebuah papan catur dengan bidaknya, bergerak sendiri tanpa disentuh siapa pun. Pak Pram sakit sejak dua hari lalu menemukan catur itu di gudang sekolah. Karena bosan dan sudah tidak ada lagi buku yang tidak dia baca di perpustakaan, dia mencari hiburan. Tidak ada yang tahu kalau papan catur itu bukan papan catur biasa.


Kepala sekolahku, Bu Endang, juga tidak tahu kalau papan catur itu ada di gudang sekolah. Mau tidak mau hari ini diadakan sidak khusus. Semua penghuni sekolah ditanyai satu-satu. Ada tim khusus dari para guru untuk mewawancarai para penjual di kantin dan juga pihak cleaning service. Pihak keamanan juga tidak memberikan jawaban memuaskan.


"Bu, bukankah harus ditelusuri lebih jauh lagi?" tanya Bu Nanik. Mereka sedang panik. Aktifitas belajar mengajar tidak lancar. Para guru berkumpul di ruang guru, ada yang berdiri serius, ada yang menanggapi dengan santai.

__ADS_1


"Saya rasa, Bu, kita turuti saja. Toh, banyak yang jagain. Kalau ada apa-apa, ya pasti ada jalan." Pak Mur menanggapi santai.


Mereka setuju. Dan permainan pun dimulai. Aku yang menyaksikan perdebatan para guru ini pun bergidik. Hanya karen papan catur dan seluruh sekolah bisa runyam.


Pak Mur akhirnya menjadi lawan main catur itu. Bidak yang tersedia adalah hitam. Sebelumnya, catur itu bergerak sesuka hatinya. Setelah Pak Mur duduk di bagian bidak hitam, catur itu berhenti bergerak. Dia berusaha mengangkat papannya dari meja. Tidak berhasil. Semua guru mulai menyaksikannya. Murid-murid mulai berdesakan di belakang. Jam pelajaran kosong malah membuatnya keadaan di depan perpustakaan semakin sesak.


Bidak putih memulai langkahnya. Pion kecil itu maju. Aku menyaksikannya langkah demi langkah sudah terjadi. Pak Mur mulai berkeringat. Wajahnya serius itu mulai gelisah. Bidaknya terlalu banyak yang mati. Menyisakan bagian-bagian penting. Pak Mur memang cerdas, salah satu guru matematika kami yang terbaik. Tapi mungkin lawannya, entah papan catur itu sendiri atau ada hantu yang duduk di depannya, terlihat lebih kuat darinya.


Pak Mur memegangi lututnya yang mulai gemetar. Ia menjatuhkan rajanya sendiri. Pak Mur menyerah secara sadar, kalau dia sudah tidak bisa lagi melangkah. Pertarungan itu sengit. Kami diam menahan nafas berkali-kali. Sampai akhirnya pertandingan itu usai, Pak Mur bangkit dari duduknya. Seketika tubuhnya mengejang, mulutnya berbusa. Kami panik, ramai pecah dan saling tabrak. Ada yang ketakutan dan memilih pergi. Sisanya membantu Pak Mur untuk membawanya ke UKS.


Hari itu, untuk pertama kali kami sadar akan akibat dari kekalahan bermain catur. Pak Mur sakit selama seminggu penuh. Badannya kurus. Bahkan harus dirawat intensif di rumah sakit. Pak Pram menyarankan untuk menutup perpustakaan dan memindahkan semua koleksi bukunya dari sana. Setelah berunding panjang, Bu Endang akhirnya mengumumkan keputusannya. Menyegel perpustakaan sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.


"Akan dibuka lagi dan diumumkan ke masyarakat. Siapa tahu ada yang pintar main catur. Kalau menang, ya, kita belum tahu juga hasilnya, kan?"


Waktu berlalu. Aku pun tidak lagi di kelas sepuluh. Kami tetap tidak membuka perpustakaan itu sama sekali untuk umum. Kayu-kayu pipih besar menjadi segel baru setelah segel rantai besi ditakutkan tidak kuat menghalangi siapa pun yang masuk ke sana. Rumor berhasil berhembus keluar. Beberapa orang memaksa Bu Endang membuka segelnya. Ia menolak. Katanya, tunggu sampai dia pensiun atau turun jabatan dari kepala sekolah.

__ADS_1


Kami masih mendengarnya. Suara bidak-bidak catur itu bergerak menghantam papannya. Legenda sekolahku kubawa sampai kuliah. Kuceritakan pada semua temanku, organisasi, dan mereka mulai sangsi.


"Sekarang bagaimana?" tanya seorang teman kuliahku.


"Sekarang, gedung perpustakaannya diruntuhkan dan dibangun ulang," jawabku.


"Bukankah lebih baik sejak awal begitu ya?" tanya temanku yang lain.


"Tidak dong. Kan, kegiatan belajar mengajar masih ada. Ya, persisnya mungkin para guru ingin mencari solusi paling aman dan murah. Sayangnya..." semuanya mulai diam memperhatikanku, "menurut kabar yang kudengar terakhir, papan catur itu tetap di sana. Utuh bahkan, tidak lecet sedikit pun. Padahal Bu Endang sudah meminta diruntuhkan langsung biar cepat. Ya, entahlah. Aku belum balik juga ke sana."


"Cari tahu dong, tanggung amat cerita lu!" protes temanku. Aku tertawa.


"Aku takut sebenarnya."


"Karena bisa jadi hantunya pindah ya?"

__ADS_1


"Bukan, aku takut reuni." Suara riuh kekecewaan mereka lontarkan. Aku tersenyum puas. Walau sebenarnya, biarlah ini jadi rahasia sekolahku. Dan juga masa laluku. Hanya satu hal yang bisa kukaitkan legenda itu dengan sekolahku.


Sekolahku buruk. Murid yang suka mem-bully, guru yang menghajar muridnya, korupsi, ya mungkin papan catur itu ada sudah karena takdir. Agar kami tidak lagi fokus pada kejahatan-kejahatan yang ada dan fokus pada keanehan tiada duanya. Terbukti berhasil. Guru-guru mulai melunak. Korupsi sudah tidak terpikirkan lagi. Dan acara orientasi murid baru sudah tidak sekejam dulu lagi. Entahlah. Mungkin kengerian itu perlu untuk menghentikan kengerian lainnya.


__ADS_2