
Demi keluarga harus berjuang agar bisa menafkahi. Apapun kita harus kerjakan. Untuk mencari nafkah rezeki yang halal.
Hari sudah menjelang sore menunjukkan pukul 3.00 sore. Sore yang membosankan. Jaga pos berdua seperti ini.
Yah, begitulah pekerjaan seorang satpam setiap hari demi mencari sesuap nasi untuk menghidupi istri dan anaknya.
Pak Satpam itu bernama Idris. Idris sangat bersyukur dengan pekerjaannya itu walau sebagai satpam penjaga kampus.
Pada sore hari saat kampus sedang sepinya seperti itu biasanya Idris merasa bosan. Tetapi apa boleh buat demi menghidupi istri dan kedua buah hatinya di rumah.
Kalau bukan dia, siapa lagi yang bisa menghidupi keluarganya sendiri? Tidak terasa sebulan dia bekerja sebagai satpam di kampus.
Kampus pascasarjana yang terkenal di Gorontalo. Letaknya sangat strategis. Gorontalo sebenarnya sangat nyaman. Rindang dan taman-tamannya tertata rapi.
Arsitektur bangunan pun juga agak unik. Sebagian bangunan seperti bangunan kuno, sedangkan sebagian lagi bergaya modern zaman now.
“Kenapa melamun, Idris?” tanya suara Santoso memecah keheningan.
“Bosan, Santoso.” Jawab Idris.
“Yah, namanya juga jadi satpam, beginilah. Harus disyukuri dong,” seru Santoso.
“Iya nih! Tetapi kadang-kadang aku juga pingin ngalamin hal-hal aneh. Enggak datar aja kayak ini.” Ucap Idris.
“Kebanyakan nonton film horor kamu, tuh,” Ucap Santoso sambil memukulkan koran di kepalanya Idris.
“Sudalah ..., ruang-ruangan kelas sudah kamu kunci semuanya, ya?” tanya Santoso lagi.
Idris hanya mengangguk-anggukan kepalanya dengan pelan.
“Kamu jaga pos dulu, ya. Aku mau kunci gerbang belakang, sambil nunggu kamu baca koran dulu. Biar kepala kamu itu isinya realita, bukan cuma khayalan kayak di film-film horor aja.” Ucap Santoso sambil memberikan koran.
Idris hanya tersenyum cengengesan di bilang seperti itu. Santoso pun melangkah meninggalkan Idris sendirian di pos itu.
Kemudian Idris membaca Koran yang diberikan oleh Santoso.
“Ah tidak menarik, beritanya hanya itu-itu saja! Kalau bukan korupsi, kerusuhan, pembunuhan, dan wajah-wajah politikus yang sedang berbuat baik karena menjelang pemilu. Ini sangat membosankan bagiku.” Ucap batin Idris dengan nada sedikit bosan.
Tiba-tiba ada seseorang wanita muda dengan setengah berlari menghampiri pos satpam, ia kelihatan sangat keburu-buru.
“Pak, barang saya ada yang ketinggalan di ruangan,” ucap Wanita itu.
“Di ruangan mana, Mbak? Soalnya seluruh ruangan sudah terkunci.” Tanya Idris.
“Ruangan yang paling ujung, Pak,” jawab wanita muda itu.
Kemudian Idris mengambil kunci ruangan yang dimaksud. Lalu menemani wanita muda itu berjalan ke ruangan tempat barangnya tertinggal.
Walaupun wanita itu lebih pendek dari Idris. Tetapi langkahnya cepat. Idris jadi ikut setengah berlari mengikuti langkahnya cepat, Indris jadi ikut setengah berlari mengikuti langkahnya.
“Barang apaan sih yang tertinggal sampai dia keburu-buru begitu, ya?” tanya batin Idris dengan penasaran.
__ADS_1
Sampailah mereka di ruangan itu dan segeralah Idris membukakan pintu dengan kunci.
Kemudian Idris mempersilahkan wanita itu untuk masuk dan mengikutinya dari belakang.
Ternyata yang ditinggalkan wanita itu adalah tasnya. Tas kerja lebih tepatnya. Dia lalu mengeluarkan isi tasnya untuk mengecek kelengkapanya, stetoskop, beberapa jarum suntik dan beberapa obat-obatan dan masker.
Saat ia sudah memastikan tidak ada yang hilang, ia pun memasukan lagi barang-barang itu ke dalam tasnya. Saking buru-burunya ada yang terjatuh.
Kemudian Idris pun jongkok mengambilkan jarum suntik yang jatuh itu. Tetapi setelah itu, Idris langsung sadar dan bingung.
Bahwa di kampus tidak ada yang namanya program kedokteran, apalagi program spesialis dokter punya gedung sendiri yang terpisah dan letaknya jauh dari sini.
“Kenapa wanita ini membawa alat-alat kedokteran, ya?” tanya batin Idris dengan bingung.
Kemudian Idris hendak berdiri dia melihat kaki wanita itu tidak nampak, ia melayang.
Seketika itu seluruh tubuh Idris merinding, di luar sana cahaya matahari semakin redup pertanda malam akan segera datang.
Wanita yang tadi tampak muda perlahan-lahan mulai berubah. Kulit di tangan dan wajahnya perlahan mulai keriput, aura kehidupan seperti tersedot keluar dari tubuhnya.
Tubuhnya mengkerut hingga tertinggal kulit keriput yang melapisi tulang. Lalu dia memberikan senyuman kepada Idris.
Idris mencoba mengeluarkan suara dan berteriak. Tetapi hal itu tidak bisa dia lakukan, segera diambilnya langkah seribu, berlari meninggalkan ruangan dan wanita itu.
Tetapi saat Idris mau keluar, lorong di gedung sudah ramai. Kontras sekali dengan kondisi saat Idris mengantarkan wanita tadi.
Tetapi orang-orang yang dilihat oleh Idris itu sangat aneh, mereka memakai baju putih-putih dengan wajah yang sangat pucat mayat.
Di atas ranjang itu ada seorang lelaki paruh baya yang ditusuk tangannya dengan berbagai jarum infus.
Laki-laki itu tak berbaju dan Idris melihat bagian dadanya, ada puluhan bekas jahitan. Ia batuk-batuk kemudian memuntahkan darah.
Idris terus berlari. Ingin keluar segera dari keramaian yang mencekam itu. Tetapi kemudian dia mendengar suara teriakan.
“Aaaaahhhhh ....” Suara kesakitan.
Suara teriakan itu menyiratkan kesakitan yang sangat. Idris yakin asal suaranya dari ruangan di depannya.
Kemudian Idris berusaha mencoba berlari ke sana. Ada beberapa orang di dalam sana.
Idris melihat seseorang sedang terbaring dengan dikerumuni beberapa orang lainnya. Seseorang yang bermasker mengambil pisau dan membelah dada lelaki yang terbaring itu.
“Aaaahhhh ....” Teriakan suara lelaki itu.
Darah begitu banyak dari dadanya keluar deras. Tetapi si pelaku meneruskan kegiatannya, memotong tanpa ampun.
Tak hanya itu juga, ia lalu memasukan kedua tangannya ke dalam dada lelaki yang menjerit itu.
Kemudian mengeluarkan organ-organ yang ada di dalamnya. Sepertinya itu paru-paru.
Masih kembang kempis. Namun, bentuknya tak sempurna lagi. Paru-paru itu hitam dan berkoreng di mana-mana.
__ADS_1
Si pelaku yang bermasker lalu menusukan pisaunya di paru-paru berkoreng itu. Si lelaki mengerang sebentar, lalu terkulai. Paru-paru itu diam.
Keringatnya Idris bercucuran melihat kejadian itu, si pelaku membuka maskernya. Wanita itu kemudian menoleh kepada Idris sambil tersenyum.
Wajahnya sangat mengerikan dan menyeramkan. Kemudian perempuan itu tertawa dengan sangat lantang.
Idris hanya diam dan siap-siap untuk melarikan diri. Berlari sekencang mungkin yang dia bisa.
Menuju pos satpam di gerbang depan. Tetapi entah kenapa rasanya jauh sekali. Rasanya sudah lama dia berlari, tetap saja tak kunjung-kunjung sampai juga ke tujuan.
Sementara keramaian yang dilewati itu tersenyum dengan wajah pucat mereka, senyuman yang dingin mengerikan.
Idris tersengal dan napasnya satu-satu. Tetapi Idris tetap berlari. Paru-parunya rasanya seakan terbakar dan dia tetap berusaha lari.
Santoso yang selesai mengunci pintu pagar gerbang belakang bingung mendapati pos satpam dalam keadaan kosong.
Dia berkeliling mencoba berusaha mencari temannya itu. Setelah itu ia melihat Idris berlari kencang dengan wajah ketakutan.
Ia menyadari ada sesuatu yang salah dengan Idris karena ternyata berlari berputar-putar. Berkali Santoso memanggil Idris.
Tetapi Idris tak dapat mendengar Santoso memanggilnya itu.
Entah dari mana ide yang didapatkan itu. Tetapi Santoso mengambil seember air menyirami tubuh Idris dan membuat tubuh Idris basah kuyup.
Barulah Idris terhenti larinya. Idris mendapatkan kesadarannya lagi. Begitulah cerita Santoso pada Idris.
Kalau dalam kondisi normal, mungkin Idris marah sekali ketika diguyur air seperti itu.
Tetapi kali ini Idris justru sangat berterima kasih pada Santoso karena dia telah ditolongnya.
Sehari setelah kejadian itu Santoso memberi tahu pada Idris, bahwa memang bangunan itu dulunya adalah bekas rumah sakit.
Sebelum difungsikan sebagai kampus pascasarjana, gedung utamanya merupakan bekas rumah sakit paru-paru.
Setelah dipakai sebagai kampus, bangunan-bangunan lain seperti perpustakaan pun dibangun. Makanya ada bagian gedung yang terlihat kuno dan yang lainnya modern.
Idris mengingat lagi kejadian yang telah dia alami pada waktu itu. Banyak hantu penunggu rumah sakit paru-paru itu.
Idris meneguk air liurnya setiap kali ia mengingatnya kembali tentang kejadian yang pernah ia alami itu. Dan itu sangat mengerikan sekali.
“Makanya jadi orang jangan sok bosan, pakai nantang mau ngalamin hal-hal aneh kayak gitu, didatangi hantu di sini baru tahu rasa kamu,” ucap Santoso.
“Hufff ..., iya juga sih. Kalau aku tahu kayak gini jadinya, lebih baik aku enggak usah sajalah. Jadi ribetlah caranya kayak gini.” Ujar Idris.
Kemudian Idris mengambil koran itu dan membacanya. Sementara Santoso mengambil rokok dan mulai menghisap asapnya.
Idris melihat sosok wanita memakai masker itu berdiri di belakang Santoso yang lagi sedang merokok.
Menunjukkan paru-paru hitam penuh korengan yang ada di tangannya. Wanita itu pun tersenyum ke arah Santoso.
Idris mengucak matanya seakan-akan dia tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya itu. Kemudian beberapa menit tersebut wanita yang memakai masker itu menghilang.
__ADS_1