
Bumi itu indah jika yang tinggal di dalamnya damai dan aman. Kehidupan menjadi enak dipandang jika tidak terjadi kekacauan di mana-mana.
Sedang terjadi kekacauan antara kedua belah pihak, mahasiswa dan para aparat kepolisian. Sambil kejar dan saling melemparkan batu yang begitu besar ke arah sasaran.
Maka terjadilah bentrokan dan amarah antara kedua belah pihak. Indrawan salah satu mahasiswa yang ikutan demo tersebut.
Ia mengambil batu yang ada di kantong jaketnya berwarna hitam dan melempari ke arah barisan blockade polisi di depannya itu. Tepat kena helm polisi itu.
Dia mengambil kembali batu dan melemparnya lagi. Langsung ke arah seorang polisi. Kali ini tepat kena wajahnya yang terlindungi oleh helm.
Polisi itu langsung mengamuk. Mengejar dia kawan-kawan tidak tinggal diam begitu saja.
Mereka juga melempari polisi itu dengan batu. Polisi-polisi yang lain juga mulai tak sabar dan maju menyerang.
Namun, Indrawan dan kawan-kawannya malah semakin bersemangat melempari mereka.
Bentrokan pun tak dapat dihindari.
Kekacauan pun semakin terjadi. Rombongan mahasiswa kocar-kacir mencari tempat yang aman.
Suara teriakan marah dari polisi bercampur dengan suara mahasiswa yang tak kalah marahnya.
Mahasiswa semua mengambil batu dan melempari para polisi. Kondisi semakin panas saat suara letusan tembakan peringatan terdengar.
Indrawan sambil berlari menjauh tetap melempari polisi yang tadi dengan batu. Wajahnya kena lagi. Indrawan melihat darah mengucur.
Polisi limbung tanpa ampun semakin gencar Indrawan gencar melempari polisi tersebut. penuh geram dan amarah.
“Rasakan itu ....” Teriak Indrawan.
Namun, ternyata kawan-kawan polisi itu terlihat begitu marah. Mereka menoleh padanya. Beberapa detik kemudian asap pun mulai mengepul.
Gas air mata disemprotkan ke arah mereka. Matanya mulai perih tak begitu jelas lagi melihat. Tetapi tetap melempari batu ke arah polisi yang berdarah tadi.
“Lari ..., lari ..., lari ....” Teriak kawan-kawan Indrawan.
Namun, ternyata kawan-kawan polisi itu terlihat sangat marah. Mereka menoleh pada Indrawan. Beberapa detik kemudian asap pun mulai mengepul. Gas air mata.
Matanya Indrawan mulai perih tak begitu jelas melihat. Tetapi tetap melempari batu ke arah polisi yang berdarah tadi.
“Lari … lari .. lari ...” Teriakan kawan-kawan Indrawan menyuruh Indrawan yang lain segera berlari.
Sambil menutupi hidungnya Indrawan dengan bajunya pun berputar dan berlari sekencang mungkin. Menjauh dari kejaran polisi. Beberapa temannya di barisan mungkin sudah ditangkap.
“Doorr … Dooorrr ....” Suara tembakan bergelegar terdengar lagi disusul dengan suara erangan penuh kesakitan.
Indrawan tak begitu menghiraukannya. Dalam kondisi seperti itu berlari sejauh mungkin dan tidak tertangkap adalah prioritas yang utama, penting, dan mendesak.
Sehari setelah kejadian itu media-media elektronik dan cetak sibuk memberitakan peristiwa itu. Sebuah demonstrasi mahasiswa yang berujung rusuh.
Beberapa kawannya Indrawan tertangkap karena dianggap sebagai propokator. Sementara seorang polisi sebahagian tewas terkena lemparan batu.
Entah kenapa tadi Indrawan cukup yakin polisi itu adalah polisi yang menjadi sasaran lemparannya tanpa henti dan polisi itu layak mendapatkan ganjarannya.
Seminggu kemudian kawan-kawannya Indrawan yang ditangkap dilepaskan oleh polisi.
Namun, kondisi mereka terluka parah. Jelas sekali mereka disiksa selama di tahan.
“Ini jelas sekali adalah pernyataan perang. Dan kita akan menuntut keadilan atas perlakuan mereka pada kawan-kawan kita ini.” Ucap Indrawan dengan lantang di depan kawan-kawannya.
Seruannya disambut dengan riuh rendah tanda persetujuan dari kawan-kawannya.
__ADS_1
Oleh karena itu mereka mempersiapkan sebuah demonstrasi lagi. Indrawan pun segera menghubungi kawan-kawannya di kampus lain.
Semua anak BEM mereka juga sepakat akan turun. Atas nama kebersamaan dan Hak Asasi Manusia, mereka akan membalas perbuatan para polisi itu.
Mereka berbagi tugas, ada yang membuat spanduk-spanduk, ada juga yang membuat tulisan di karton, dll.
Sedangkan Indrawan sendiri mempersiapkan batu. Ukurannya tidak boleh terlalu besar dan tidak juga terlalu kecil. Harus pas saja digenggam.
Indrawan tidak pernah berdiri paling depan pada saat demo. Dan dia juga tidak pernah memegang toa ataupun microphone.
Tetapi pada saat mereka diacuhkan, permintaan mereka para mahasiswa tidak di dengarkan dan para polisi itu dengan angkuhnya segera hendak mengusir para mahasiswa.
Saat itulah Indrawan bereaksi. Melemparkan batu di kantong jaket pada para polisi. Apa boleh buat kalau cara halus sudah tak di dengarkan, tak ada salahnya main secara kasar. Itu prinsipnya Indrawan.
Lagi pula Indrawan sangat suka pada mereka yang berlagak setengah mati seolah-olah mereka saja yang bisa main kasar.
Mungkin karena kesombongan mereka selama inilah yang membuat Indrawan tak menyesal sama sekali atas tewasnya salah satu polisi dari mereka kemarin itu.
Keesokan harinya mereka berdemo di depan kantor polisi daerah. Menurut pertemuan dengan kapolda daerah. Menuntut pertemuan dengan pak kapolda.
Kalau tidak dipenuhi, cara kasar pun akan ditempuh. Hari sudah menjelang sore. Persiapan sudah hampir rampung.
Kawan-kawan satu per satu pulang.Tinggal Indrawan dan beberapa orang yang berada di tempat.
Menginap di sekretariat BEM memastikan semuanya aman dan siap. Suara langkah orang bersepatu. Suaranya mendekat.
Indrawan bangun dari tidurnya. Dia melihat kawan-kawannya yang masih tertidur pulas. Jam tangannya menunjukkan jam 3 pagi.
“Siapa yang datang sepagi ini, sih?” tanya Indrawan dalam batinnya.
“Tak ... tak ...tak ....” Suara sepatu melangkah.
Langkah itu berhenti di depan pintu seketariat. Lalu mendengar suara ketukan pintu. Indrawan mencoba membangunkan kawan-kawannya.
Sepertinya memang ada seseorang di luar sana. Kemudian pintu dibuka oleh Indrawan, ternyata tidak ada orang.
Tidak ada siapa-siapa. Hujan rintik-rintik mulai turun. Menghembuskan angin dingin padanya. Indrawan menoleh sekitar, benar-benar tak ada siapa-siapa.
Bahkan tak ada jejak bekas orang melangkah di depan pintu. Seketika Indrawan jadi merinding.
Kemudian dengan cepat Indrawan kembali menutup pintu itu lagi. Berbalik dan hendak kembali ke tempat tidurnya.
Tetapi langkahnya terhenti dan napasnya tercekat saat dia balikkan badannya, sosok pria tinggi kekar membelakanginya.
Pria itu mengenangkan seragam dinas kepolisian. Pria itu kemudian berbalik dengan sangat cepat.
Memperlihatkan wajahnya pada Indrawan. Samar-samar Indrawan bisa mengingat bahwa itu adalah wajah yang beberapa waktu itu dia lempari batu.
Wajah itu sangat pucat membiru dan bibirnya pecah mengeluarkan darah. Lebam bekas tertumpuk batu membiru banyak bagian wajahnya.
Di atas pelipisnya rambut tercabut dan kulit kepalanya terkoyak-koyak. Seperti tengkoraknya dan kulit kepalanya juga terkelupas.
Mata sebelah kirinya pecah. Urat-urat matanya keluar dan darah menetes dari sana.
Aroma anyir darah tercium pekat di hidungnya Indrawan.
Dari satu mata kirinya itu terlihat sekali kalau dia menatap kepada Indrawan dengan penuh kebencian dan kemarahan. Lalu tangan kirinya meraih leher dan mencekik Indrawan.
Napasnya Indrawan tersengal-sengal. Indrawan pun mencoba mengumpulkan segenap tenaganya yang masih tersisa.
“Aaaaaaaaaa ....” Suara Indrawan karena cekikan oleh hantu itu.
__ADS_1
Demo sudah berjalan dua jam. Aksi damai mereka lakukan. Tetapi sepertinya Pak Kapolda enggan ditemui.
Kalau begini terpaksa Indrawan mulai saja aksinya. Salah mereka sendiri menolak perundingan secara damai.
Kemudian Indrawan mengambil batu yang berisi di dalam kantong jaketnya.
Target sudah ditemukan. Polisi di depan sana dilempari batu oleh Indrawan. Tetapi wajah polisi yang sudah meninggal.
Wajah yang semalam mendatangi di sekretariat BEM. Ia menoleh pada Indrawan. Memperlihatkan wajah hancurnya yang mengerikan itu kepada Indrawan.
Kemudian Indrawan mengucak-ngucak matanya mungkin hanya sebagai halusinasinya, sama seperti pagi dia lihat.
Bukannya menghilang, sosok itu justru sekarang semakin terlihat nyata. Tak hanya itu. Semua polisi yang menjaga jalannya demo itu sekarang wajahnya menyerupai polisi itu.
Semua polisi di situ hancur wajahnya dan matanya pecah. Darah mengucur-ngucur dari wajah mereka. Dengan marah menghadapkkan wajah mereka ke arah Indrawan.
Bau anyir sekarang jauh lebih menyengat. Membuat Indrawan mual. Tetapi Indrawan berusaha membrontak.
Kemudian dia mengambil persediaan yang ada di kantong jaketnya. Bersiap untuk melempar batu.
Sedetik kemudian baru dia sadari bahwa yang diambilnya itu bukan batu tapi melainkan benda bulat, licin, dan berurat.
“Aaaaa ....” Teriak Indrawan.
Ternyata yang dipegangnya itu hanyalah bola mata. Keringatnya keluar bercucuran. Dari dalam kepalnya sebelah kanan juga terasa nyeri.
Nyeri yang sangat menyakitkan. Indrawan baru menyadari bahwa sekarang pandangannya kabur.
“Jaangan-jangan ..., bola mata lagi, ya ....” Ucap batin Indrawan.
Dengan tangan yang gemetaran kemudian Indrawan memberanikan diri meraba mata kanannya. Ternyata kosong.
“Berarti yang aku ambil dari kantong jaketku adalah bola mataku sendiri, ya.” ucap Batin Indrawan.
Darah terasa menetes dari tempat yang seharusnya ada bola matanya sendiri. Para polisi berwajah hancur itu lalu bergerak ke arahnya.
Mereka tersenyum melihatnya menjadi hancur dan bercucuran darah. Lalu salah satu dari mereka mendekatinya.
Menempelkan tangannya yang dingin bagai es ke pipinya. Kemudian dengan gerakan cepat, dirasakan jari-jari tangannya mencengkram bola matanya Indrawan dan urat-urat di bola matanya tercabut. Gelap rasanya …
“Aaaaaa ....” Teriak Indrawan.
“Mas ... Mas ... Mas ... Bangun Mas ....” Seorang pria tua mengguncang bahunya Indrawan.
Kemudian Indrawan segera terengah-engah mengecek kedua matanya. Masih ada pada tempatnya, bajunya basah oleh bulir-bulir keringatnya.
“Kok tidur di kuburan ya, Mas?” tanya Pak Tua itu.
Indrawan melihat sekitar benar ternyata ini kuburan. Berarti semua yang dia alami tadi cuma mimpi.
“Tetapi bagaimana bisa aku berakhir dengan tidur di kuburan seperti ini, ya? Dan kumelihat batu nisan tempat aku tertidur! Lho ini kuburan polisi yang meninggal saat demo yang berujung rusuh beberapa hari yang lalu.” Ucap batin Indrawan.
Kemudian Indrawan segera pamit kepada Pak Tua itu dan berlari meninggalkan kompleks pemakaman itu.
Berdasarkan keterangan kawan-kawannya Indrawan yang menginap di sekretariat BEM, mereka terbangun mendengar jeritannya Indrawan pada jam lima pagi.
Mereka lalu mencari Indrawan.Tetapi Indrawan menghilang tanpa jejak. Maka sejak kejadian itu Indrawan berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak akan berbuat anarkis lagi ketika saat demonstrasi lagi.
Pengalaman ini sudah lebih cukup sebagai sebuah teguran untuknya. Masih saja hantu polisi itu mengganggu Indrawan.
Saran kawan-kawannya Indrawan segera kembali ke kuburan polisi yang tewas itu akibat lemparan batu dan kena pas di wajahnya polisi tersebut dan mengakibatkan polisi tersebut tewas.
__ADS_1
Mereka mendatangi kuburan polisi itu dan meminta maaf. Sejak itu pula hantu polisi itu sudah tidak mengganggu Indrawan lagi.