MEREKA DI SEKITAR KITA

MEREKA DI SEKITAR KITA
PART 10 MISTERI KANTIN


__ADS_3

Seperti hari biasanya setiap hari Senin pagi kantin sekolah sangat ramai sebelum siswa-siswa masuk dalam kelas dan mengikuti apel pagi.


Jam sekolah yang lebih awal karena sebentar lagi upacara bendera menyebabkan lebih banyak siswa belum sarapan pagi.


Oleh karena itu, mereka banyak yang berbelanja di kantin sekolah.Tepat setelah upacara bendera bubar. Beberapa menit kemudian sebelum pelajaran dalam kelas di mulai, kesempatan siswa masing-masing sibuk dengan mengisi perut mereka di kantin.


Suara riuh piring, botol minuman, sendok garpu, dan sambil rebutan pesanan memenuhi kantin. Termasuk kantinnya Pak Suroso. Pak Suroso juga termasuk salah satu pegawai di kantin SMU yang terkenal di Gorontalo.


Hari ini cukup merepotkan Pak Suroso karena harus melayani siswa-siswa yang memesan makanan. Sementara Pak Suroso hanya melayani sendiri. Istrinya Bu Irma terbaring sakit.


Biasanya Bu Irma yang membantu memenuhi pesanan siswa-siswa itu. Sudah menjelang seminggu Bu Irma terbaring sakit.


Bu Irma mengalami sakit panas dingin, sehingga apa yang dimakan oleh Bu Irma selalu saja dimuntahkan semuanya.


Setiap kali ia mencoba bangun, tubuhnya selalu merasakan pusing dan oleng. Jadi, yang menjaga kantin hanya Pak Suroso sendiri dan melayani pesanan dari siswa-siswa.


Terkadang Bu Irma merasa iba melihat suaminya menyiapakan bumbu atau bahannya, ia mencoba paksakan duduk di samping Pak Suroso.


Tetapi baru mengupas bawang saja tubuhnya gemetaran. Maka tak dibiarkan begitu saja oleh Pak Suroso jika istrinya turun dari tempat tidur. Apalagi membantu di kantin.


Tak terasa waktu begitu cepat, sudah memasuki ke enam tahun Pak Suroso dan Bu Irma bekerja di kantin itu.


Sebagai bayaran atas sewa tempat mereka berjualan. Bekerja menjadi tukang kebun sekolah, membersihkan seluruh ruangan kelas, menguras bak kamar mandi, dan membersihkan toilet sekolah.


Biasanya kedua anak mereka membantu orang tua yaitu Danang dan Irwan. Ketika mereka selesai pulang dari sekolah.


Bertahun-tahun Pak Suroso merasa semua dalam baik-baik saja sampai kejadian semalam mengingatkan sesuatu yang buruk akan terjadi di keluarga Pak Suroso.


Pulang dari sekolah Pak Suroso membereskan ruang kelas, karena saking capeknya tiba di rumah sekitar jam 11 malam.


Pak Suroso tidak begitu langsung tidur, hanya merebahkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidur mereka. Mungkin pengaruh capek.


Tetapi Bu Irma kelihatannya tidak bisa memejamkan matanya, padahal Pak Suroso sudah melihat lingkaran hitam mata yang berada di bawah matanya itu.


Antara sadar atau tidak Pak Suroso mendengar dengan sayup-sayup Bu Irma mengatakan sesuatu yang membuat Pak Suroso agak sedikit gemetar.


“Makhluk itu telah menagih janjinya, Mas,” ucap Bu Irma pada suaminya itu.


“Ada ada saja kamu ini, Bu. Tidurlah ini sudah larut malam, Bu.” Ucap Pak Suroso meminta istrinya segera tidur.


“Makhluk itu memandangi kita dari pojok ruangan dan dari tadi di terus berkata, darah ..., darah.” Ucap Bu Irma kembali.


Kejadiannya itu berawal sekitar enam tahun yang lalu pada saat Pak Suroso ditawari Ibu Melis sebagai kepala sekolah di SMU Gorontalo, Bu Melis menawari Pak Suroso berjualan karena pedagang kantin yang lama mau pindah ke kota lain.


Pada waktu itu Pak Suroso sedang menghadapi kesulitan ekonomi langsung mengiyakan tawaran pekerjaan itu.


Walau persyaratannya mereka harus membersihkan seluruh halaman dan ruangan kelas setiap hari.


Tetapi berjualan memang bukan hal yang mudah bagi Pak Suroso. Apalagi bagi Pak Suroso kebiasannya berdagang di pinggir jalan.


Pak Suroso tidak terlalu paham dengan selera -siswa-siswa SMU Gorontalo yang rata-rata anak-anak konglomerat.


Pak Suroso mencoba dengan belajar mengelola makanan-makanan cepat saji. Tetapi penjualannya tetap saja kalah dengan kantin sebelah.

__ADS_1


Ibu Melis mewanti-wanti, kalau tidak bisa membuat makan yang disukai siswa-siswa, maka akan diganti dengan pedagang lain yang mau jualan di sekolah SMU Gorontalo.


Dalam hal itu Pak Suroso mengambil jalan pintas tanpa pengatahuan istrinya itu. Pada saat membaca sebuah surat kabar harian Gorontalo Pak Suroso mengetahui seorang dukun bernama Ki Jakabintara.


Ki Jakabintara biasa memberi penglaris pada warung terkenal. Tanpa pikir panjang Pak Suroso pun mendatangi rumah Ki Jakabintara itu.


Ternyata Ki Jakabintara tidak seseram yang dibayangannya Pak Suroso itu. Sosok tubuhnya biasa-biasa saja. Rambutnya tercukur rapi, bersih, dan limas.


Ia memakai baju putih tidak seperti dukun-dukun yang lain. Kulit keriputnya menandakan ia kelihatan ketuaan. Kata orang umurnya berkisar seratus tahun.


Tetapi saat berhadapan mereka seperti seumuran. Sebelum memulai ritual ia mempersilahkan Pak suroso mencicipi hidangan di meja makan itu.


Ada ayam goreng, lalapan, tumis, dan sambal terasi sama sayur bening. Sungguh mengundang selera makan untuk Pak Suroso.


Apalagi Pak Suroso belum makan. Ia makan dengan sekenyang-kenyangnya dengan begitu lahap. Lalu pelan-pelan tertidur di sofa Ki Jakabintara.


Rasanya itu adalah tidur yang paling nyenyak seumur hidupnya Pak Suroso. Ketika sudah menjelang sore, ia kalang kabut dan merasa malu pada tuan rumah. Ki Jakabintara tersenyum ramah.


“Tak apa-apa. Sekarang apa tujuanmu untuk datang ke sini, Pak?” tanya Ki Jakabintara.


“Tujuan saya datang ke sini, Ki. Saya mau minta penglaris untuk kantin saya, Ki.” Jawab Pak Suroso dengan singkat.


“Sudah kuduga.” Ki Jakabintara hanya tersenyum sambil menatap kepada Pak Suroso.


“Makanan yang Pak makan tadi sudah diberi penyedap oleh salah satu pekerjaku! Pak menyukainya, bukan?” tanya Ki Jakabintara.


Pak Suroso yang lagi mengangguk-nganggukan kepalanya itu.


“Kok Ki Jakabintara tahu tujuan saya datang ke sini, ya?” tanya Pak Suroso dengan penasaran.


Ki Jakabintara hanya tersenyum pada Pak Suroso dan kepada seseorang yang wujudnya tak kelihatan di pojok. Tubuhnya tiba-tiba merinding.


Namun, merasa senang juga membayangkan jualannya yang ada di kantinnya akan selalu ramai dan makanan laris manis. Dan kedua anaknya Danang dan Irwan bisa sekolah tinggi.


“Salah satu pekerjaku boleh kamu bawa pulang, Pak. Tetapi dengan satu syarat harus ada darah yang harus dikorbankan setiap bulan,” ucap Ki Jakabintara kepada Pak Suroso dengan memberikan sarannya.


Masalah itu muncul ketika malam yang seharusnya ada darah, Pak Suroso lupa memberi korban.


Mereka tersadar akan kejadian itu ketika suatu malam ada kejadian yang mengerikan. Malam itu ketika Bu Irma tengah mengiris daging untuk dimasak, tak sengaja jarinya teriris pisau.


Darah menetes ke lantai. Tetapi betapa terkejutnya Bu Irma ketika darah di lantai menghilang tanpa meninggalkan bekas.


Awalnya Bu Irma mengira kalau ia hanya sedikit pusing melihat darah itu. Kemudian ia segera berkeliling mencari obat.


Darah itu menetes di sana-sini. Ketika sedang mengabil obat di atas lemari, ia merasakan sesuatu yang basah menjilati kakinya.


Dengan spontan saja Bu Irma melihat ke bawah. Jantungnya Bu Irma serasa berhenti sejenak ketika melihat ada lidah yang panjang yang menjilati ceceran darah di kakinya itu.


Lidah itu menjilati tetesan darah yang jatuh di kaki Bu Irma. Lidah itu mulai menjalar ke tumit hendak mencapai jemarinya yang terluka.


Segenap kekuatan ia kibaskan kakinya kesana-kemari. Tetapi lidah gaib itu ternyata tidak mudah dilepaskan. Lidah itu merekat bagai seekor lintah.


Kalau lintah, mungkin Bu Irma tak akan setakut itu. Tetapi ini lidah. Namun, tak ada tubuh yang menyertainya sama sekali.

__ADS_1


Dengan perasaan takut sekaligus merasa jijik. Bu Irma meraih botol minyak tanah itu yang berada di sudut rumah. Secepat kilat Bu Irma seramkan minyak tnah itu di kakinya.


Perlahan-lahan lidah itu jatuh ke lantai. Bu Irma menginjak-nginjak benda itu dengan kakinya sampi berkali-kali.


Dengan marahnya tanpa ampun. Setelah dirasa remuk dan tak akan bisa hidup lagi. Ia ambil sapu dan menggeserkan ke bara api yang sedang menyala.


Muncul percikan api kecil-kecilan seiring terbakarnya lidah tak bertubuh itu. Pak Suroso yang tengah asyik-asyik terbawa oleh mimpi buruk akhirnya ia terbangun juga.


Segera bergegas menuju dapur ia mendapati wajah istrinya pucat. Memandang wajah istrinya itu, ia seperti ingat kalau ia belum mengorbankan apa pun malam itu juga.


Jam sudah menunjukkan pukul 00.30. Pak Suroso bak tersengat oleh tegangan listrik dan segera bergegas berlari ke belakang rumah dan memotong ayam kampung yang rencannya pagi-pagi sekali akan direbus bersama kuah soto.


Dengan tergesa-gesa Pak Suroso memenggal leher ayam hingga patah. Darahnya mengucur. Tak sampai beberapa detik darah itu tersedot ke sudut semula.


Bu Irma menangis dan meminta penjelasan kepada Pak Suroso, sebenarnya apa yang terjadi ini?


Sebelum Pak Suroso menjelaskan makhluk itu tiba-tiba muncul di kaca rumah yang sedikit buram berdebu.


Perlahan sosok itu menjadi jelas dan menimbulkan kengerian di malam yang semakin buta.


Makhluk dengan ketinggiannya hanya berkisar 150 meter saja. Di dagunya masih ada bekas darah ayam potong Pak Suroso untuknya itu.


Rambutnya menyentuh lantai. Yang paling menjijikan dari mulutnya keluar lelehan air liur turun ke baju lalu membasahi lantai rumah Pak Suroso.


“Kamu terlambat, Suroso! Kamu mengkhianati perjanjian kita. Istrimu yang kurang ngajar itu juga telah membakar lidahku,” ucap Hantu itu kepada Pak Suroso.


Hantu itu menganga, memperhatikan lidahnya yang punting, betapa ia telah kehilangan keperkasaannya. Karena tidak bisa lagi menyembur ludah dengan lidahnya.


Kini air liurnya hanya menetes begitu saja. Turun perlahan dari dagunya. Sesekali air liur itu diusap dengan tangan kasar ke wajah Pak Suroso maupun Bu Irma kapan pun hantu itu mau melakukannya.


Beberapa hari kemudian kantin Pak Suroso mulai kosong lagi, hanya ada beberapa siswa saja yang mau makan di kantin mereka, itu pun karena tak enak dengan Bu Irma.


Siswa-siswa yang sangat dekat dengan Bu Irma menaruh sopan. Setelah beberapa hari makanan selalu pulang dalam keadaan utuh.


Maka Pak Suroso mulai berpikir untuk kembali mendatangi Ki Jakabintara lagi. Terlebih ketika Bu Irma mulai sakit-sakitan dan mengaku setiap hari selalu bertemu makhluk aneh itu.


Makhluk aneh itu tak mau lagi mengeluarkan ludah untuk mempersedap masakan Pak Suroso. Tetapi terus meminta darah pada Ibu Irma.


Ibu Irma lama-lama menjadi sangat pucat, dan terkena anemia. Pada hari Minggu pagi Pak Suroso kembali pergi menemui Ki Jakabintara.


Alangkah terkejutnya mendapati Ki Jakabintara sudah hangus terbakar. Tinggal puing-puingnya yang ada. Semuanya terbakar hangus.


Beberapa warga penduduk setempat mengatakan rumah Ki Jakabintara dibakar waktu lalu karena dianggap pemuja berhala dan sarang hantu. Lutut Pak Suroso bergetar.


Memandangi tumpukan kayu itu. Bagaimana ia akan mengembalikan makhluk itu?


Pak Suroso pulang dengan gontai.


Ia mendapatkan istrinya sudah tewas dan matanya melotot ketika Bu Irma meninggal dunia.


Anak-anak mereka merasa sangat ketakutan. Akhirnya Pak Suroso dan anak-anaknya pindah dari rumah mereka dan Pak Suroso kemudian mengundurkan dirinya dari sekolah SMU Gorontalo itu.


Konon katanya sampai sekarang hantu peludah itu tak mau beranjak dari SMU Gorontalo, sambil sesekali menghisap darah dari warga sekolah yang ceroboh. Menghisap dengan lidahnya yang sudah menjadi buntung.

__ADS_1


__ADS_2