MEREKA DI SEKITAR KITA

MEREKA DI SEKITAR KITA
Bab 5: Taman Ria


__ADS_3

Menuju libur semester kenaikan kelas, aku, Rima dan ketiga temanku, Sabda, Puri, Betran akan berkunjung ke taman bermain tua yang sudah tidak terpakai. Tugas dari Pak Agus, guru kesenian kami, untuk membuat film pendek atau rekaman video menarik semasa liburan. Setiap kelas yang diajarnya mendapatkan tugas yang sama. Dan hanya sedikit yang ingin mengambil tema horor. Kelompokku salah satunya.


Kelompok kelas lain yang mengambil tema horor adalah kelompok Jane dan kelompok Mike. Bedanya, Jane lebih kepada napak tilas menjelajahi setiap sudut bangunan tua di kota yang dianggap horor oleh masyarakat. Sekaligus untuk konten Youtube mereka. Mike lebih kepada drama. Dia ingin membuat film pendek bersama teman-temannya tentang seorang psikopat. Kedua pilihan itu sebenarnya menarik. Bahkan kami sempat berdebat untuk memilih tema horor itu.


"Gampangan kayak Mike aja," ucap Puri. "Gak ribet, gak capek. Kita cuma perlu make-up sama naskah."


"Malah itu yang susah dodol! Enakan Jane. Dia tinggal wawancara kayak di TV. Beres. Entah bener apa gak juga urusan nanti," ujar Betran.


"Hus. Kalian malah ribut sendiri. Kamu gimana Rim? Aku gak setuju keduanya karena perlu editing. Punya Mike ribet karena sudah masuk kategori film pendek. Jane juga sama. Kalau cuma nge-vlog aja mana menarik. Pak Agus bakalan ngantuk." Sabda mulai mencoret kedua pilihan itu di buku tulisnya. Ia menggaruk kepala berkali-kali.


"Ya, nge-vlog aja, bener. Cuma tempatnya fokus satu aja, kita rekam habis-habisan. Kondisinya malam dan ya, beres."


Ketiga temanku menatapku penuh takjub. Aku melihat mereka bergantian. Sepertinya perkataanku barusan menjadi kesalahan terbesar yang pernah kuucapkan selama hidupku.


"Tempatnya?" tanya Puri.


"Di taman bermain di kaki gunung itu gimana? Ya, yang lagi mau diperbaiki itu. Kita kesana cuma mau eksplorasi. Jujur aja, kita gak tahu juga soal ada hantu apa enggaknya. Jadi kalau ketemu anggap aja bonus."


"Setuju!" teriak Betran. "Yang tua itu, kan? Di sana kayaknya seru. Ya, peralatan biar aku yang sediain. Gimana? Tinggal jalan aja."


"Oke, kalau begitu. Deal." Mereka akhirnya memutuskan secepat mungkin menuju taman bermain tua itu.


Semua peralatan siap. Senter, kamera GoPro, P3K, dan juga baju ganti. Tidak lupa berbagai obat oles kulit untuk mencegah serangga dan obat minum kalau ternyata di sana menjadi lebih dingin. Penjelajahan mereka pun di mulai.

__ADS_1


Taman bermain itu memang tua, kesalahan izin membuatnya tidak bisa dibuka untuk umum. Terlebih lagi di kaki gunung yang masih aktif. Berhubung luapan awan panas masih sering terjadi, sehingga untuk keselamatan sangat tidak dianjurkan. Kami memasuki pintu utama yang hanya dipagari besi. Tidak digembok. Mungkin memang untuk para pekerja malam.


"Mau ngapain?" Kami dicegat oleh Petugas Keamanan. Setelah menjelaskan panjang lebar kalau ini untuk tugas sekolah, kami meminta izin. Bahkan Sabda yang menjadi ketua kelompok kami menunjukkan surat sekolah.


"Tapi ini, tidak harus ke sini, kan?" protes Petugas itu.


"Iya, Pak. Tapi tanggung. Berhubung belum benar-benar dibangun, kita bisa ke sini. Sebentar aja kok, Pak. Jam 8 malam paling selesai. Maksimal jam 9 deh, Pak."


Petugas keamanan itu bimbang. Karena dia sendiri yang berjaga hari ini. Dia tidak ingin pusing mengurusi anak-anak.


"Oke. Tapi ingat. Saya gak bisa datang cepat kalau ada apa-apa. Jadi, jangan aneh-aneh, banyak bahan bangunan dan berbahaya."


Kami berterima kasih. Dan Petugas Keamanan menunjukkan kami lokasi wahana permainan yang aman. Kamera sudah dinyalakan, senter juga sudah membuka kegelapan malam. Lampu pencahayaan berpendar dan kami mulai mengobrol untuk mengusir sepi. Dan juga sebagai syarat awal untuk sebuah vlog. Kami mulai menyusuri komedi putar, bianglala, sampai ke rumah kaca.


Tidak terasa, waktu cepat berlalu. Betran menghentikan sebentar rekaman videonya.


"Oke, lagian juga kalau banyak-banyak buat apa. Kita potong aja ntar videonya biar muat sampai 10-15 menit. Pak Agus juga gak mungkin nonton semuanya."


Kami sepakat untuk pulang. Udaranya mencekam. Dinginnya berbeda. Seperti ada yang melihat kami dari belakang. Setelah sampai di pos keamanan, Sabda berhenti mendadak. Betran menabrak punggungnya. Kameranya hampir terjatuh. Aku dan Puri sigap menangkapnya.


"Yang bener dong, Sab! Udah malam ini! Gak usah iseng!" bentak Puri. Aku tahu Sabda bukan orang yang suka iseng. Lebih iseng Betran. Tapi diamnya Sabda membuat kami penasaran.


"Apaan sih?" tanyaku.

__ADS_1


"Lihat, gak, ada yang aneh, coba perhatiin, Rim." Sabda mengarahkan senternya ke kiri dan ke kanan. Aku cukup bingung maksudnya. Sampai sadar kalau sejak tadi, Sabda mencari yang seharusnya ada di sana.


"Pak Satpamnya gak ada?"


"Bukan, duh, lihat tuh..." Sabda akhirnya berjalan terus sampai ke pos satpam dan pintu gerban. "Lihat, gak? Gak ada jalannya!"


Kami mendekati Sabda dan Puri mulai mengambil ponselnya. "Gak ada sinyal juga. Duh, kenapa sih ini?" Puri panik, dia mulai melihat ke segala arah. Cahaya senternya menyinari sembarangan. Dan mendarat di satu tempat. Puri jatuh terduduk. Senternya jatuh.


"Kamu lagi. Gak usah nambahin lebainya," protes Betran. Ia mengeluarkan kameranya lagi. Memasang perlengkapannya dan menyalakan lampu. "Pakai jatuh-jatuh segala. Eh, kalau jalannya gak ada, tinggal muterin aja lagi. Mungkin kita salah. Pintu sebelah sana kali."


Itu juga tidak mungkin. Aku ingat persis baik tapak jalan semennya yang tidak rata dan bentuk Betran berusaha positif. Puri menutup wajahnya sembari memeluk kedua kakinya. Sabda terus menyenteri bagian jalan yang tertutup semak belukan dan pepohonan. Padahal mobil kami ada di situ.


"Yaudah, Sab, ayo ke jalan lain aja, kita cari Pak Satpamnya. Ayo sih Pur." Aku menarik puri. Dia menolak. Dia lalu menunjuk ke arah depannya. Aku berbalik mengikuti petunjukkan. Gelap. "Apaan sih, Pur? Ayo, sih bangun!"


"Gak mau! Lihat aja sendiri!"


"Hah, anak ini masih aja lebainya." Betran ikut menoleh setelah alat rekamnya siap. Baginya ini kesempatan langka. Aku yakin dia ingin menambah cerita bohong di dalam vlog kami. Ya, ya, aku yakin cuma salah jalan. Kuambil senter milik Puri. Kini senterku dua. Akan lebih jelas sekarang.


"Wah, bisa begini ya..." Tangan Betran gemetar. Ucapannya lebih cepat dari tindakanku. Ia terus merekam dan menyoroti arah depan. "Mereka benar-benar niat mau iseng. Hehe, gak papa. Aku rekam terus!"


Aku lalu melihat ke depan. Rasa penasaranku sudah tidak bisa kubendung. Dan tanganku ikut gemetar. Aku jatuh terduduk. Sabda berlari mendekati kami. Aku melihat belasan sosok makhluk manusia berjubah putih, transparan, sesekali cahaya senter menembus kain-kain itu. Wajahnya tidak terlihat, rambutnya panjang menjulur sampai tanah. Mendekati kami dan kusenteri sembarangan. Sampai menyorot kaki-kaki mereka.


"Tembus... Gimana ini Sab!" Aku menoleh ke Sabda. Dia juga tidak kalah panik.

__ADS_1


"Di belakang, ada yang lebih aneh lagi." Suara dari belakang, semak belukar dan pepohonan, bergerak seperti tertiup angin. Padahal tidak ada angin yang meraba tubuh kami. Udara terlalu tenang untuk keributan di belakang.


Suara besi pagar terdengar jelas. Menghantam sesuatu yang keras. Sabda memelukku dari belakang. Aku kesulitan bernafas. Kucoba menoleh dalam keadaan sulit itu. Sama. Sekumpulan manusia berambut panjang berusaha masuk ke dalam. Betran memutar tubuhnya berkali-kali. Antara antusias dan ketakutan dia tetap mengambil kejadian ini. Aku menarik Puri agar lebih dekat denganku. Kupejamkan mata. Berusaha semua ini cuma mimpi.


__ADS_2