Milik Tuan CEO

Milik Tuan CEO
10. Masalah Pribadi


__ADS_3

Sia duduk di salah satu sofa yang ada di dalam ruangan fitting baju, setelah gilirannya selesai, kini saatnya dia melihat Albert yang berganti pakaian sesuai dengan gaun yang tadi dia pilih untuk pesta pernikahan mereka.


"Bagaimana dengan yang ini? Cocok denganku?" tanya Albert, meminta pendapat sang pengantin wanita.


Sia hanya memandangnya beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk setuju dengan pakaian yang di kenakan oleh Albert saat ini.


"Cocok? Atau mau ganti yang lain? Sepertinya aku melihat satu baju yang lebih cocok daripada yang ini. Kamu mau menungguku? Atau sedang buru-buru kembali ke kantor??"


Sia menghela napas panjang dan melambaikan tangannya, meminta Albert untuk masuk ke dalam ruang ganti pakaian dan mengganti pakaian sesuai yang dia inginkan tadi.


10 menit berlalu, Albert kembali ke luar dengan pakaian yang dia maksud tadi. Dan benar saja apa katanya, pakaian yang dikenakan kali ini lebih cocok dengan gaun yang dikenakan oleh Sia tadi.


"Bagaimana bagus yang ini kan? Kamu lebih suka yang ini atau yang tadi? Kalau aku ke lebih suka yang ini. Bagaimana??"


"Itu cukup bagus. Yang tadi juga bagus. Bagaimana menurut kamu Pak Derick?" tanya Sia, malah meminta pendapat sekretaris lelaki Albert.


Derick hanya menganggukkan kepalanya dan menyetujui kemeja yang dikenakan oleh Albert sekarang. "Yang sekarang lebih bagus dari yang tadi, Tuan."


Albert yang mendengar itu, hanya mengangguk dan segera mengganti pakaiannya dengan pakaian yang dikenakan ke sini.


Drt ... drt ....


Ponsel Sia berdering, dia segera mengeluarkan benda kotak pipih itu dari dalam saku celana kemejanya dan melihat nama "Gav" di sana


Sia bangun dari tempat duduknya dan berjalan pergi meninggalkan keuangan tersebut, tentu saja setelah pamit kepada Derick.


"Aku terima telepon sebentar. Aku akan segera kembali," ucap Sia, sambil melangkah pergi.


Sia berdiri di balkon yang ada di lantai tersebut, menatap pemandangan jalan andi bawah sana sambil mengangkat telepon dari sahabat lelakinya itu.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? Bukankah seharusnya kamu sudah di pesawat? Aku dengar dari Pak Farel, kalau kamu sedang melakukan bisnis trip. Memang boleh melakukan panggilan telepon di atas? Pesawat kamu kan baru landai?!" celetuk Sia, begitu dia mengangkat telepon dari Gav.


Gav menghela napas kasar beberapa kali dan membuat Sia mengerutkan keningnya dalam.


"Di mana kau wanita bodoh? Aku akan menjemputmu ke sana dan kita kembali ke kantor sekarang! Tidak ada bantahan dan tidak ada alasan! Kali ini aku benar-benar marah padamu. Bisa-bisanya kamu melakukan hal ini pada kamu. Kamu ingin membuat kami merasa bersalah berjamaah?! Yang benar saja!" ketus Gav, sambil mendenguskan napas kasar beberapa kali.


Sia yang mendengar intonasi bicara Gav yang tidak bersahabat, langsung mengulas senyuman masam dan segera menutup teleponnya.


Albert berjalan mendekat ke arahnya dan memandang wajah Sia yang tampak masam. "Kenapa? Ada masalah yang terjadi di kantor? Kamu mau kembali sekarang??"


Sia yang mendengar kalimat itu hanya menggelengkan kepalanya pelan, menatap Albert dengan tatapan lurus tanpa menghadirkan ekspresi apa pun.


"Kau orang yang cukup pemalas ya? Kenapa di jam seperti ini seorang CEO dari perusahaan besar sepertimu, malah menghabiskan banyak waktu di sini dengan calon istri yang asing? Apa pekerjaanmu hanya duduk di kursi itu tanpa melakukan apa pun?" celetuk Sia, seakan memancing pertikaian di antara mereka.


Tapi anehnya, Albert malah bersikap sampai dan tidak ingin mempermasalahkan hal itu. Lebih tepatnya, dia tidak ingin bertengkar dengan Sia.


"Jadi begitu? Kau memang tidak ada pekerjaan?" celetuk Sia, menatap jarum jam yang ada di dinding dekat pintu keluar ruangan tersebut. "Tapi aku punya jadwal. Bisakah kembali sekarang? Tidak usah mengantar aku. Aku bisa kembali sendiri," cetusnya, sambil melenggang pergi.


Albert hanya menggelengkan kepalanya ampun dan segera mengejar langkah Sia, yang berjalan pergi meninggalkan ruang fitting baju gaun pernikahan mereka.


"Wait, kenapa kamu tidak mau aku antar? Aku bisa mengantar kamu sampai ke kantor lagi. Atau kamu tidak pergi ke arah kantor? Aku tetap bisa mengantarkan kamu. Jadi pergi saja denganku," ucap Albert, sambil mengikuti langkah Sia dari belakang.


Sayangnya, wanita itu hanya diam dan tidak memedulikan dirinya. Sia hanya terus berjalan sampai ke tepi trotoar dan menghentikan sebuah taksi yang melintas di tepi jalanan tersebut.


"Tidak perlu. Aku sudah mendapatkan taksi. Sampai jumpa, hubungi aku jika kamu ingin melakukan pengecekan pada gedung ataupun katering. Aku akan berusaha meluangkan waktu untuk membantumu mempersiapkan itu," jelas Sia, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil taxi tersebut dan meninggalkan Albert di sana.


Albert mengulas senyuman makan dan memandang ke arah sekretaris lelakinya, yang dari tadi terus mengikuti mereka dari belakang.


"Bagaimana pendapatmu tentang calon pengantinku? Bukankah dia terlalu jual mahal untuk seseorang yang mengemis untuk melakukan olahraga malam denganku?" celetuk Albert, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ampun.

__ADS_1


Derick menatap ke arah perginya mobil Sia, beberapa saat dan tersenyum manis.


Albert yang terlihat hal itu langsung memukul pundak Derick cara membuat lelaki itu menoleh ke arahnya dengan cepat.


"Kenapa Anda memukul saya, Tuan? Memangnya apa yang telah saya lakukan? Saya hanya tersenyum mengingat ekspresi wajah Nona Sia yang selalu ketus pada Anda. Hahaha, itu membuat saya bisa memandang Anda seperti manusia. Karena masih ada seseorang yang tidak menyukai Anda walaupun Anda sudah merasa diri Anda paling sempurna," ucap Derick, entah mengapa menjadi bumerang untuk menyadarkan diri Albert.


Albert pun terdiam, menatap ke arah jalanan yang sempat dilalui oleh mobil taxi Sia beberapa saat, dan ikut tersenyum masam.


"Kau benar, Rick. Hanya dia satu-satunya perempuan yang tidak pernah menginginkan uang ataupun memanfaatkan jabatanku. Wanita yang unik, dia masih memiliki pendiriannya walaupun di depannya berdiri seorang makhluk besar yang bisa memakannya kapan saja. Benar-benar wanita mengerikan," cetus Albert, memeluk dirinya sendiri sambil merasakan bulu kuduknya yang berdiri.


Derick memutar bola matanya malas dan berjalan pergi meninggalkan lelaki itu. "Saya akan mengambil mobil Anda di parkiran. Anda bisa menunggu saya di sini," ucapnya, sambil melangkah pergi menjauh dari Tuannya, yang mulai kumat dengan sikap narsisnya.


***


Sementara itu Sia yang tengah menaiki taksi untuk kembali ke kantornya ....


Dia menghentikan taksi itu di ujung jalan, yang jaraknya cukup jauh dari kantor institut keamanan kota.


Dari sana dia ingin berjalan dan melihat-lihat sekelilingnya. Hitung-hitung untuk menjernihkan pikiran yang sedang kacau balau hidup.


Baru berjalan 5 menit, dan kedua matanya sudah bertemu dengan satu sosok lelaki yang sangat tidak ingin dia temui.


Lelaki itu berjalan ke arahnya, dengan menggandeng seorang perempuan yang cukup cantik tapi tidak secantik Sia.


Sia mengulas senyuman masam dan memalingkan wajahnya, berpura-pura tidak tahu tentang keberadaan mereka dan bersisipan jalan dengan tenang tanpa menyapa satu sama lain.


"Ya, memang seharusnya seperti ini. Aku seharusnya memang tidak pernah mengenal mereka, setidaknya mulai detik ini!" batin Sia, kembali menikmati pemandangan jalanan kota yang sangat asri dan rindang ditemani dengan embusan angin yang menerpa lembut wajahnya dengan halus.


"Kehidupanku yang tenang, akan berakhir beberapa saat lagi!" batinnya, mulai merasa hampa.

__ADS_1


__ADS_2