
"Kakimu sudah baik-baik saja? Kenapa pergi bekerja? Tidak biasanya kamu pergi ke kantor," tanya Albert, menatap Sia yang berkaca di depan cermin sambil membenarkan make upnya.
"Seperti yang kamu lihat, mau pergi bekerja karena ada beberapa laporan yang harus aku kumpulkan." Sia memasang sebuah anting pemberian Albert beberapa hari yang lalu, membuat lelaki itu salah fokus dengan benda tersebut.
Tak lama kemudian, senyuman lelaki itu terbit dan membuat perhatian Sia teralih kepadanya.
"Kamu baru saja tersenyum? Aku tidak salah lihat, kan?" celetuk Sia, seakan tengah mengejeknya.
Senyuman Albert yang tadinya terlihat sangat lebar, tiba-tiba langsung menghilangkan dan di gantikan dengan tatapan datar.
"Sudah, jangan mengejekku lagi. Sebaiknya kamu segera pergi bekerja dan jangan lupa sarapan dulu sebelum berangkat kerja." Albert berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan segera membersihkan dirinya.
Sementara Sia pergi ke ruang makan untuk menghabiskan sarapannya dan pergi ke kantor kontrol suami terlebih dahulu pada Albert.
Begitu turun ke lantai 1, Albert langsung mencari keberadaan Sia dan tidak menemukan sang istri ada di tempat tersebut.
"Thomas, ke mana istriku pergi? Ya sudah berangkat??" tanya Albert, memandang Thomas yang sedang membereskan meja makan.
Sepertinya dia sedang membereskan piring bekas Sia. Dan seperti yang sudah di duga, tampaknya wanita itu sudah berangkat tanpa bilang apa pun pakainya.
"Nyonya sudah berangkat duluan, Tuan. Teman lelakinya menjemput beliau," jelas Thomas, berlalu masuk ke dapur dan pergi menyiapkan sarapan untuk Albert.
Albert duduk di meja makan, menunggu Thomas menyiapkan sarapannya. "Aku kira tadi dia mau berangkat bersama aku. Tapi aku malah di tinggal. Padahal aku sudah cepat-cepat menyiapkan diri untuk mengejar jadwalnya. Tapi tetap saja aku masih di tinggal," celetuknya, terlihat kesal.
Thomas yang melihat hal itu hanya tersenyum dan segera menyajikan sarapan untuk Albert.
"Tuan saya akan pergi belanja dengan pelayan. Kalau begitu saya pergi sekarang," ucap Thomas, meminta izin kepada Albert.
Albert hanya mengangguk dan membiarkan Thomas pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Jangan lupa belikan aku buah! Dari kemarin aku belum makan buah karena tidak ada pelayan yang bisa aku suruh pergi ke swalayan untuk membelinya. Mereka semua sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing sampai aku tidak berani menambah beban pekerjaan mereka."
Thomas menganggukkan kepalanya mengerti dan membiarkan Thomas benar-benar meninggalkannya kali ini.
"Hem ... sekarang malah aku yang sendirian di rumah!" celetuknya, segera menghabiskan sarapannya dan pergi ke kantor.
Niatnya memang seperti itu, tapi siapa sangka kalau Derick malah menyampaikan berita buruk padanya dan membuat Albert harus buru-buru pergi ke bandara dan terbang meninggalkan kota tersebut.
Bahkan Albert belum mengabari Sia jika dirinya pergi ke China untuk mengurus bisnisnya di sana.
"Kau sungguh mendapat laporan kalau kantor kita kebakaran? Siapa pelakunya?" Albert berpikir keras. "Padahal kemarin ada penyerangan di rumahku. Sekarang tiba-tiba kantor cabang milikku di bakar? Bukankah ini terlalu aneh kalau disebut dengan kebetulan??"
Derick mengganggu kan kepalanya setuju. "Ya, Tuan. Saya juga tidak menyangka kalau ada insiden beruntung seperti ini. Sepertinya mereka sudah mulai bergerak!"
Albert menoleh ke arah Derick dengan tatapan dingin. "Kalau begitu, bukankah kita harus menyiapkan serangan balasan? Toh, mereka hanya bisnis kecil yang berusaha memberontak perusahaan kita. Aku menyarankan kamu untuk menghabisi mereka! Kalau itu terlalu berambisi, bagaimana kalau kita beli perusahaannya dan jadikan anak perusahaan kita? Tampaknya itu lebih manusiawi, kan?"
Derick tersenyum dan tampak senang. "Baik Tuan, saya akan mengurusnya sesuai permintaan Anda."
"Bagaimana? Kamu bisa mendengarnya dengan jelas?" tanya Sia, pada Lana.
Lana masih diam, kedua alisnya hampir menyatu di tengah-tengah kening. Dia sedang mendengarkan suara Albert berbicara dari alat penghubung, alat penyadap suara yang di pasang Sia di ponsel dan tas kerja lelaki itu.
"Tidak terlalu buruk, tapi sepertinya kamu membeli bahan baku yang tidak sepadan dengan harganya, Sia! Hahaha, sepertinya lagi-lagi kamu di tipu oleh orang itu," celetuk Lana salahkan tengah mengejek Sia dan Alex yang tidak mendapatkan barang bagus dari penjual langganan mereka.
Sia menatap ke arah Alex yang sedang memandangnya dengan tatapan masam. Yah, sepertinya kali ini mereka mendapatkan barang yang jelek dari bermata zamrud itu.
"Mau bagaimana lagi. Orang yang bisa kami percaya hanya dia. Daniel juga sering memberikan barang yang jelek pada kamu, jadi aku tidak berniat beli barang seperti itu padanya. Adanya malah buang-buang buang!" celetuk Sia, mendapatkan tatapan masam dari Lana.
Memutar bola matanya malas, Lana kembali fokus pada layar komputer dan earphone yang dikenakan saat ini.
__ADS_1
"Oh, suaranya semakin jernih? Tampaknya itu bukan barang yang buruk, hehehe ... maaf aku salah menilainya," celetuk Lana, memamerkan senyuman tengil.
Alex dan Sia langsung memukul kepala wanita itu dengan kesal dan menunjukkan ekspresi tidak senang. "Dasar!" pekik mereka, secara bersamaan.
"Tapi sepertinya suamimu pergi ke China. Kamu tidak mendapatkan telepon darinya? Aku baru saja mendengar kalau dia dan sekretarisnya, membicarakan kamu. Mungkin karena Albert masih belum meminta izin padamu," celetuk Lana, menoleh ke arah Sia yang berdiri di belakang kursinya sambil memperhatikan layar komputer milik Lana.
Sia menatap wajah Lana sebelum menggidikkan bahunya samar dan kembali memandang ke arah layar komputer. "Terserah, kalau masalahnya seperti itu mungkin nanti malam dia akan pulang. Walaupun terlambat!"
"Cih percaya diri sekali. Mentang-mentang suamimu suka padamu, ya?!" Lana menatap ekspresi wajah Sia yang tampak masam. "Tapi aku boleh bertanya suatu hal? Aku benar-benar penasaran dengan ini," celetuknya, dengan kedua mata yang sudah berbinar-binar.
Sia menaikkan sebelah alisnya, menatap Lana dengan tatapan bertanya-tanya.
"Apa yang ingin kamu tanyakan? Asalkan tidak hal yang sensitif, aku pasti akan menjawabnya."
Tapi setelah mendengar perkataan itu dari Sia, Lana malah menghentikan ucapannya dan menunjukkan ekspresi masam.
"Kalau begitu tidak jadi," pekiknya, kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sia memutar bola matanya malas, dan menatap Alex yang berdiri di sebelahnya sambil menatapnya dalam diam dari tadi.
"Kenapa memperhatikanku dengan tatapan seperti itu? Memangnya aku punya hutang padamu?!" celetuk Sia, sewot.
Alex menggelengkan kepalanya dan berkata, "Memangnya, selama kamu menikah kamu tidak pernah melakukan malam pertama dengannya? Bagaimanapun juga Albert adalah suamimu, kan? Memangnya dia tidak menginginkan tubuhmu?!"
Selesai sudah, saat perkataan itu terlontar keluar dari mulut Alex. Tangan Sia sudah lebih dulu meraih pipi lelaki itu dan membuat wajah Alex berpaling ke samping dengan rona merah yang muncul di salah satu bagian pipinya.
Alex yang mendapatkan tamparan secara spontan dari Sia, hanya menunjukkan wajah masam dan meminta maaf pada sahabatnya.
"Hehehe, sepertinya pertanyaanku terlalu frontal!" pekik Alex, cengengesan.
__ADS_1
Sementara Lana yang tadinya ingin mempertanyakan hal yang sama dengan Alex, hanya bisa menelan ludahnya susah dan berkata dalam hati, "Untung bukan aku yang tanya!" ucapnya, penuh syukur.