
"Thomas ke mana Albert pergi?" tanya Sia, saat dia menatap kepala pelayan yang baru jalan pergi ke arah dapur.
Thomas menoleh padanya, menatap sang Nyonya yang baru turun dari lantai dua dan langsung menghampirinya dengan langkah pelan.
"Tuan Albert sedang ada di luar, Nyonya. Apa Anda ingin saya panggilkan Tuan?" tanya Thomas, mengerutkan keningnya dalam saat melihat wajah Sia yang tampak letih.
Sia menggelengkan kepalanya dan kembali naik ke atas kamarnya. "Aku akan istirahat, kepalaku agak pusing."
"Baik, Nyonya."
Klek ....
Pintu kamar pun tertutup, Sia yang berada sendirian di dalam kamar itu, langsung menjalankan rencananya.
Dia mencari tas kerja Albert dan menempelkan penyadap suara yang berhasil dia rakit, ke dalam tas tersebut.
Sia berjalan ke arah ruang kerja, dari pintu samping kamar mereka. Melihat tas Albert yang ada di atas meja, dengan senyuman lebar.
Sia segera memasukkan alat penyadap suara ke dalam sana, dan memasangnya pada beberapa benda yang sekiranya tak akan di tinggalkan oleh Albert.
Benda itu sekecil ujung jari, jadi Sia pede meletakkannya di sana. Karena Sia menganggap kalau Albert tak akan pernah meninggalkan tasnya.
Setelah memasang alat tersebut, Sia kembali ke kamar dan beranjak naik ke atas ranjang, lalu tidur. Dirinya yang bilang pusing pada Thomas, bukanlah candaan belakang.
Sia memang pusing. Apa lagi dia tidak bisa tidur karena begadang semalaman untuk merakit benda-benda yang akan membantunya mengintai Albert.
Klek ....
Albert membuka pintu, menatap Sia yang kembali membuka matanya saat mendengar suara seseorang masuk ke kamarnya dan mendekat ke arah ranjang.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Albert, menatap wajah Sia yang pucat karena sedang sakit.
Sia yang mendengar suara lembut itu, langsung meraih tangan Albert dan meletakkannya di atas kepala.
Sia menggerakkan tangan itu seraya mengelus kepalanya, tak lama setelahnya, Sia melepaskan tangannya.
Albert yang peka dengan apa yang di inginkan sang istri, langsung duduk yang samping ranjang dan mengusap kepala Sia dengan gerakan lembut.
"Tidurlah, aku akan ada di sini sampai kamu tidur." Albert mengulas senyuman lembut, menatap kedua kelopak mata Sia yang mulai tertutup dan kehilangan kesadarannya. "Asal kamu sudah minum obat!"
Mendengar perkataan itu, Sia langsung membuka kedua matanya lebar dan menatap ke arah Albert.
"Apa? Kenapa tiba-tiba bangun begitu?" tanya Albert, bingung dengan tatapan Sia yang tiba-tiba menjadi serius.
__ADS_1
"Aku belum minum obat," celetuk Sia, bangun dari posisi tidurnya dan menyandarkan kepalanya pada bahu Albert. "Ambilkan aku obatnya. Aku sangat pusing, Albert!" ucapnya, mengeluh dengan resah.
Albert menghela napas, bangkit dari tempatnya dan mengambil obat pusing di kotak P3K yang ada di dalam laci, dekat jendela.
"Sudah makan, kan?" tanya Albert, melirik sekilas ke arah Sia, saat dia sedang menyiapkan obatnya.
"Sudah tadi," jawabnya.
Albert kembali dengan 2 butir obat dan segelas air. Dia memberikan dua benda itu pada Sia dan mengerutkan kening saat melihat ada dia obat dengan bentuk kapsul berbeda di sana.
"Kenapa ada dua? Satunya obat apa?" tanya Sia, mulai waspada.
Bahkan kedua mata Sia sempat melirik ke arah meja, tempat Albert mengeluarkan dua obat ini.
"Vitamin."
Dan saat Albert mengucapkan hal itu, memang ada botol vitamin dan obat pereda pusing yang ada di luar kota P3K tersebut.
Sia tak banyak berpikir dan langsung menegak kedua obat itu. Tapi saat dia memejamkan matanya, hendak tidur, tiba-tiba tubuhnya terasa panas dan kesadarannya mulai terganggu.
"Uhh ... apa yang kau berikan padaku?!" ronta Sia, saat melihat Albert berada di atasnya dengan senyum penuh kemenangan.
"Obat yang akan membuatmu terjaga dengan merasakan kenikmatan semalaman," jawab Albert, mulai menyusupkan kepalanya ke tengkuk Sia dan mensyurinya dengan lidah.
"Hah ... sialan, kau pikir aku akan mau di perlakukan seperti ini?" seru Sia, menatap tajam wajah Albert yang mulai menatap ke bagian tubuhnya yang sudah berhasil dia telanjangi.
"Sial!" Duak ....
Sia menendang bagian bawah Albert, membuat lelaki itu kesakitan dan memberinya kesempatan untuk melarikan diri.
Tapi Albert terus berusaha menahannya, dan Sia selalu berusaha melepaskan diri darinya.
"Ini malam Jumat, Sia. Setidaknya kamu harus melayani suamimu! Jika aku tidak menggunakan cara itu, kamu pasti tidak akan mau, kan?!" seru Albert, terbata-bata.
"Istrimu sedang sakit! Kenapa kamu tidak pengertian sama sekali?! Sial!!" teriak Sia, menendang tangan Albert yang ada di pergelangan kakinya dan melepaskan diri.
Sia langsung masuk ke dalam ruangan ganti, dan menguncinya dari dalam. Albert menggedor pintu itu dengan kuat dan membuat Sia yang mengurung diri di dalam sana, merasa semakin menderita.
"Seharusnya pergi ke kamar mandi dan rendam dirimu! Kenapa kamu–"
AKH!! Bruk ....
Albert membulatkan matanya, dia menempelkan telinganya ke arah pintu dan tak mendengar suara apa pun di dalam sana.
__ADS_1
"S-sia? Kamu ada di dalam, kan?!" tanya Albert, mengetuk pintu itu dengan pelan.
Tapi setelah tak mendapatkan sahutan dari Sia, Albert mulai panik sampai berteriak dengan mengetuk pintunya sangat kuat.
Brak ... brak ... brak ....
"Sia! Kau di dalam? Hei, keluarlah. Aku tidak akan berbuat hak itu padamu. Aku janji! Sia!!" teriak Albert, terus mengetuk pintu ruang ganti dengan bertual.
Cander mengetuk pintu kamar Albert, tok ... tok ....
"Tuan, apa terjadi sesuatu?" tanya Cander, tak mendapatkan jawaban dari Albert.
Tapi pintu kamar itu langsung terbuka dan memperlihatkan wajah Albert yang tampak kalut.
"T-tuan, apa yang terjadi?" tanya Cander, menatap cemas sosok Albert yang terlihat panik.
"S-sia. Aku tidak tahu apa yang terjadi di sana. Aku hanya menginginkannya, tapi dia tidak mau. Lalu–"
"Tuan, tolong tenangkan diri Anda. Jelaskan pada saya nanti saja. Sekarang Nyonya ada di mana?" tanya Cander, memandang wajah Albert yang masih khawatir dan cemas.
"Di ruang ganti!" jawab Albert, langsung membuat Cander pergi ke sana dan mencoba membuka pintunya.
Klek ... klek ....
"Nyonya, Anda ada di dalam, Anda bisa mendengar saya?!" tanya Cander, di sertai dengan ketukkan pintu.
Tak ada suara. Albert menatap semakin cemas. Sementara Cander langsung mendobrak pintu itu dan membuat penampakan Sia yang terkapar dengan sebuah tali pinggang di lehernya, menjadi pemandangan horor untuk mereka berdua.
"Nyonya!"
"Sia!!" teriak kedua lelaki itu, dengan suara lantang, tanda mereka sedang terkejut.
Tak ada waktu untuk waktu membeku, keduanya langsung pergi dari tempatnya dan mendekati Sia yang tampak tak baik-baik saja.
"Tuan, apa yang telah Anda berikan pada Nyonya?" tanya Cander, setelah mengecek suhu tubuh Sia yang terasa sangat panas.
"A-aku hanya–"
Cander tak perlu di jawab. Dia sudah bisa menebaknya tanpa harus mendengarnya.
Dengan begitu, tak banyak bicara, Cander langsung membopong tubuh Sia dan membawanya keluar kamar.
Albert langsung mengikutinya tanpa banyak bicara. Namun dia hanya mengumpat saja dalam hatinya. "Kau memang sangat bodoh Albert! Kau lelaki terbodoh yang menyakiti orang yang kau cintai!" batinnya, penuh emosi.
__ADS_1