Milik Tuan CEO

Milik Tuan CEO
33. Permintaan Sederhana


__ADS_3

"Tunggu, aku belum paham dengan maksud kalian. Jadi maksudnya, Albert bukanlah seorang pengedar? Tapi dia hanya di jebak oleh seseorang?" tanya Alex, menatap Farel dan Sia yang sedang menyantap makan malamnya di depannya.


Kedua orang itu langsung menganggukkan kepalanya dan menatap Alex dengan senyuman masam.


"Kau pasti terkejut saat mendengarnya. Aku juga melakukan hal yang sama saat Sia mengatakan hal tersebut padaku. Bagaimana bisa kita salah mencari data seseorang? Jika kita berburuk sangka dan meneruskannya, mungkin kita akan memasukkan orang yang salah ke dalam jeruji besi!" celetuk Farel, sambil terus menyuapkan makanannya ke dalam mulut.


Alex menggelengkan kepalanya pelan, dia masih tidak percaya kalau Albert bukanlah orang yang mereka cari.


"Tunggu, Sia. Bagaimana kamu bisa sangat yakin kalau Albert bukanlah orang yang terlibat? Bukankah kamu juga menekankan kalau lelaki itu memiliki bisnis gelap di belakang perusahaan besarnya? Lalu kenapa tiba-tiba berubah pikiran?" Alex mengerutkan keningnya dalam, mulai curiga dengan hal yang tidak berguna. "Jangan bilang kalau kamu tertarik padanya. Kamu tidak menyukai Albert, kan?!"


Sia memutar bola matanya malas, menatap Alex dengan tatapan lelah dan segera menegak segelas air sampai setengah tandas.


"Kalau aku mencintainya. Bukankah sekarang aku masih ada di sisinya? Bahkan setelah aku kehilangan anak?? Toh, kami bisa membuatnya lagi, kan?!" celetuk Sia, membuat kedua lelaki yang ada di depannya merasa terkejut dengan perkataannya yang sembarangan itu.


"Hee, kenapa cara bicaramu sangat mengerikan akhir-akhir ini? Apa ada sesuatu yang membuat hatimu merasa tidak nyaman??" tanya Alex, mengulas senyuman masam sambil melihat ekspresi wajah Sia yang tampak tidak bersemangat.


Ya, walaupun Sia tetap bekerja walaupun sering membuat suasana di kantor menjadi kacau karena moodnya yang naik-turun. Tapi wanita itu tidak pernah absen sekali bolu setelah keluar dari rumah Albert.


"Ya, tentu saja karena aku tidak kunjung bisa menangkap lelaki itu, kan?!" Sia menghela napas panjang dan kasar. "Hahh ... rasanya aku ingin cepat-cepat menangkapnya dan memasukkannya sendiri ke dalam penjara. Bisakah aku melakukan hal itu?!" celetuknya, menatap Alex yang berprofesi sebagai seorang polisi.


"Tidak masalah kalau kamu cuma ingin memasukkannya ke dalam penjara. Toh, kamu adalah orang yang memiliki kontribusi besar untuk menangkap si bandar kalau memang kamu bisa menjalankan rencana itu dengan mulus tanpa kendala," ucap Alex, mengejek di akhir kalimatnya.


Sia hanya mendengus, dan kembali fokus pada makan malamnya. "Sudahlah, sebaiknya kita segera menyelesaikan makan malam ini dan segera pulang. Masih ada beberapa dokumen yang harus aku baca. Dan aku juga sangat ingin mandi! Akh ... badanku benar-benar bau," celetuknya, mencium bau ketiaknya sendiri dan mengeluh sendiri karena baunya sangat tidak sedap.


***


Klang ....


Pintu yang terbuat dari jeruji besi itu tertutup dan di gembok dari luar.

__ADS_1


Albert yang baru di masukkan oleh Sia ke dalam tempat itu, hanya bisa terdiam dengan memandang punggung Sia yang menjauh beberapa langkah dari posisinya.


Kedua tangan Albert menggenggam dengan erat, menatap ekspresi wajah angkuh Sia dengan tatapan benci.


"Wanita munafik! Kau menghancurkan bisnisku!" marah Albert, tampak geram saat melihatnya.


Sia yang mendengar protes tersebut hanya tersenyum, mengulas senyuman cantik yang sempat menjadi candu untuk Albert.


Tuduhan pengedar narkoba? Yang benar saja. Bahkan Albert tidak pernah menggunakan barang-barang seperti itu walaupun dia memiliki banyak uang dan sering keluar masuk ke klub malam.


"Kau benar-benar melakukan hal ini kepadaku?! Bukannya kamu juga tahu kalau aku tidak memiliki eksistensi di dunia seperti itu?!" marah Albert, masih membuat Sia memandangnya dengan tatapan angkuh.


"Dunia tidak selalu ada di bawah kaki Anda. Jangan terlalu congkak! Rasakan saja penderitaan yang saya berikan. Itu hadiah kecil dari saya, orang yang Anda cintai!" sahut Sia, meninggalkan Albert di balik jeruji besi.


Sia berjalan pergi menjauh darinya, meninggalkan Albert di dalam ruangan gelap dan dingin itu seorang diri.


Albert yang terjebak di dalam ruangan itu, memandang cahaya mentari yang masuk dari sela-sela jeruji besi tersebut dengan tatapan nanar.


"Padahal aku sangat mencintainya. Tapi kenapa dia menghianatiku?" tanya Albert, dengan ekspresi wajah frustrasi.


BRAK!


Suara pukulan itu muncul di balik bingkai jendela yang ada di kamar Albert. Membuat lelaki yang sedang bermimpi buruk, bangun dari mimpinya dan melihat apa yang terjadi di depan sana dengan tatapan remang.


Kesadarannya belum pulih secara total, tapi dia bersyukur kalau hal yang dia lihat hannyalah mimpi buruk untuknya.


Mungkin karena akhir-akhir ini Albert sering berpikiran negatif tentang Sia, karena wanita itu tidak kunjung pulang dan memberinya kabar. Jadi hadirlah mimpi itu dengan dorongan pikirannya.


"Albert! Kapan kau akan sadar dan membantuku, bodoh?! Mereka semua ini adalah musuhmu, kenapa aku yang pulang untuk mengambil baju-bajuku saja harus melawan mereka untukmu?! Dasar lelaki gila, sudah sadar pun kamu masih terlihat bodoh!" marah wanita yang ada di depan sana.

__ADS_1


Wanita terus melawan 4 orang lelaki berpakaian hitam, yang menerobos masuk ke dalam kamar Albert di tengah malam.


Setelah mendengar suara itu sedikit lantang dan menyakiti gendang telinganya, Albert langsung sadar dan melompat turun dari ranjang untuk membantu wanita itu.


"Sejak kapan kamu kembali pulang? Kamu hanya pulang untuk mengambil pakaianmu saja, lalu pergi lagi?!" tanya Albert, tanpa membantu Sia yang tengah melawan 4 orang lelaki itu sendirian di depannya.


Sia memutar bola matanya malas dan melumpuhkan dua orang lelaki yang sempat menyerangnya dengan senjata tajam dengan cepat.


Albert sedikit terkejut melihat pergerakan itu. Ternyata Sia memang benar-benar hebat dalam bidang keamanan.


Yah, mungkin keluarnya sebagai master karate bukanlah kebohongan belakang jika kemampuan bertarungnya lebih mengerikan dari ke mampu Cander, bodyguard pribadinya.


"Haruskah kita membahas hal seperti itu di tengah-tengah situasi seperti ini? Yang benar saja! Inilah mengapa aku tidak ingin mempertahankan pernikahan denganmu, lelaki sampah. Kau tidak pernah bisa melindungiku dengan benar!" geram Sia, segera melumpuhkan dua orang yang lain.


Kedua mata Albert terpaku pada 4 orang lelaki yang berhasil di lumpuhkan oleh istrinya itu. Dia tidak bisa bergeming, karena kemampuan bertarung Sia benar-benar hebat. Bahkan mungkin, kemampuan bertarung yang kalah oleh wanita itu.


"Padahal kamu tidak pernah melihatku melindungimu. Tapi kenapa kamu sudah beranggapan negatif? Jangan begitulah, Sia. Kamu menyakiti hatiku saja! Padahal hari ini 1 minggu setelah kita tidak bertemu, kan? Kenapa hanya di isi dengan pertengkaran??" celetuk Albert, mengikuti langkah Sia yang berjalan mendekati lemari.


Sia tidak memedulikan perkataan lelaki itu dan terus memasukkan pakaiannya ke dalam tas yang dia bawa.


"Kau mau pergi ke mana, Sia? Setidaknya kamu harus mengatakannya kepadaku, kan? Karena kita masih suami-istri."


Mendengar perkataan itu, emosi Sia yang sudah dia tahan dari tadi, tiba-tiba meledak dan membuatnya marah.


"Tidak bisakah kamu tidak menggangguku? Kamu tidak pernah memperlakukan aku seperti istrimu, jadi tidak perlu bersikap seperti seorang suami!" celetuk Sia, sebelum melangkah pergi membawa barang-barangnya dan meninggalkan rumah itu.


Albert tidak diam saja. Dia sekarang mengejar langkah Sia dan menghentikannya di depan pintu.


"Aku benar-benar mencintaimu. Tidak bisakah kamu tetap bersamaku, Sia?"

__ADS_1


__ADS_2