Milik Tuan CEO

Milik Tuan CEO
25. Wacana


__ADS_3

Hoamm ....


Sia menguap, wajahnya masih terlihat sangat mengantuk, tapi dia memaksakan tubuhnya untuk bergerak turun dari ranjang dan meninggalkan kamar tahu.


"Selamat malam, Nyonya. Anda ingin seperti ke mana?" tanya Thomas, saat melihat Sia keluar dari kamar dan pergi ke ruang kerja Albert.


"Mengerjakan tugas dari kantor. Siapa Thomas? Kamu mencuriku??" Ucap Sia, balik bertanya pada lelaki paruh baya itu.


"Tentu saja tidak, Nyonya. Mana berani saya melakukan hal itu. Kalau Anda berani masuk ke dalam ruang kerja Tuan Albert, itu pasti karena Tuan Albert sudah menginginkannya, iya kan?"


Sia menganggukkan kepalanya dan segera masuk ke dalam ruang kerja Albert. Tapi saat di ambang pintu, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Thomas.


"Thomas, bisa tolong bawakan aku beberapa camilan? Dari tadi siang sampai malam aku terus tidur. Sepertinya perutku lapar. Aku tidak akan bisa fokus untuk mengerjakan tugasku dalam keadaan perut seperti ini, kan?"


Thomas mengangguk mengerti dan bergegas turun ke lantai 1, pergi ke arah dapur untuk membuat makanan kecil, dan segera menghantarkannya pada Sia.


Pintu ruang kerja terbuka lebar, memperlihatkan Sia yang tengah duduk di kursi kebesaran Albert dengan sibuk melakukan ini dan itu kepada laptop, komputer dan ponsel Albert.


Semua benda itu di kunci dengan sandi khusus. Hanya Albert yang mengetahuinya. Bahkan kedua sekretaris dan bodyguard pribadinya, tidak diberitahu apa kata kunci dari tiga benda itu.


Dan jika saat ini Sia bisa mengoperasikannya dengan baik, maka yang memberikan akses tersebut pasti adalah Albert sendiri.


"Sepertinya pekerjaan Anda banyak, Nyonya. Apakah mau saya tambah porsi makannya? Sepertinya saya membawa terlalu sedikit," ucap Thomas, menatap wajah Sia yang bahkan tidak memandangnya dan sibuk melakukan ini dan itu dengan kertas, pulpen, dan alat elektronik yang digunakan saat ini.

__ADS_1


"Tidak perlu membawakan makanan, buatkan aku kopi hitam tanpa gula saja. Walaupun sudah menggunakan ponsel, komputer dan laptop, sepertinya aku tetap harus begadang! Untungnya aku sudah tidur dari siang sampai malam. Jadi mungkin aku bisa bertahan melewati ini semua!" Jelas Sia, tanpa memandang lawan bicaranya.


Thomas hanya mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu. Lantas ketika dia ingin menutup pintunya, tiba-tiba Thomas melihat seorang lelaki berdiri di samping ruangan tersebut, dengan menyandarkan diri ke dinding, dan kedua tangan yang dilipat di depan dada.


"Tuan Albert? Apa yang Anda lakukan di sini? Anda tidak tidur??" tanya Thomas, dengan suara lirih karena Albert memperingatkannya untuk tidak terlalu berisik.


Mungkin karena Albert tidak ingin mengganggu pekerjaan istrinya, atau tidak ingin ketahuan Sia kalau dia tidak sedang tidur saat ini.


"Tidak ada. Dari tadi aku terus merasa janggal karena Sia menggunakan alat-alat pribadiku. Jadi aku ingin melihat sebentar, apa yang dia lakukan di sana!" Ucap Albert, menjelaskan maksud kehadirannya di sini.


"Apa yang dia lakukan di dalam sana, dia benar-benar bekerja, kan?" tanya Albert, menatap wajah Thomas yang sedikit janggal dengan hal tersebut.


"Nyonya sedang bekerja di dalam. Jika Anda ingin melihatnya secara langsung, saya akan membuka pintunya lagi. Karena tadi saat saya datang, pintunya memang dibuka lebar. Mungkin Nyonya tidak ingin orang-orang salah paham dengan dirinya. Karena itulah dia membuka pintu ruangan kerja Tuan Albert lebar-lebar," jelas Thomas, membuat Albert menganggukkan kepalanya mengerti.


"Iya Tuan Albert. Tadi Nyonya sudah minta makan malam, Anda tidak perlu khawatir Tuan Albert. Silakan lanjutkan istirahat Anda, biar para pelayan yang menunggu Nyonya," ucap Thomas, hanya mendapat anggukkan kecil dari Albert.


"Ya, tolong jaga dia untukku," ucap Albert, berjalan masuk ke dalam kamar dan meninggalkan Thomas di balkon lantai 2.


***


Menyimak beberapa halaman dari buku bacaan yang Sia baca. Seorang perempuan masuk ke dalam ruangan itu dan membuatnya menoleh ke arah pintu.


Sia menatap Lana datang bersama sahabatnya, Honey. Sudah cukup lama mereka tidak bersua, dan saat keduanya bertemu hari ini, pelukan menjadi hal pertama yang dilakukan kedua wanita itu.

__ADS_1


"Aku merindukanmu, bodoh! Rumah terasa lebih sepi karena kamu tidak ada di tempat. Ah, seandainya aku juga bisa menikah dan meninggalkan rumah itu. Aku mulai bosan melihat wajah mereka semua. Dan lagi, tidak ada orang yang bisa aku aja bicara seperti kamu, Sia!" ucap Honey, mengeluh tanpa melepaskan pelukannya dari Sia.


"Aku akan ambilkan kalian berdua camilan, selamat berbicara!" Ucap Lana, meninggalkan kedua wanita itu di dalam ruang istirahat.


Sia hanya mengangguk dan berkata terima kasih tanpa suara, hanya menunjukkan gerakan bibir pada Lana yang sudah mengantar Honey masuk ke kamarnya.


"Sudah, sekarang duduklah. Aku merasa sesak karena kamu terus memelukku dengan erat. Sekarang duduk dan kita bicara saja," ucap Sia, melepaskan pelukan mereka berdua.


Honey pun duduk di salah satu sofa panjang sementara Sia duduk di salah satu sofa single. Mereka berdua saling bertatapan dengan wajah serius.


Ya, kedatangan wanita itu kesini bukanlah karena tanpa alasan. Dia datang karena ingin memberikan sesuatu kepada Sia. Dan itu adalah benda yang Sia minta darinya.


"Kamu sudah membawa barangnya? Aku harap kamu membelikan aku barang terbaik!" celetuk Sia, mengambil sebuah amplop coklat yang sudah disimpan di dalam saku celana kerjanya.


Honey memberikan sebuah kota kecil berukuran 10x10 cm kepada Sia.


Sia menerima kotak tersebut dan memberikan amplop coklat miliknya kepada Honey.


"Terima kasih! Tapi, kenapa kamu memilih kamera kecil itu? Bukannya kamu bisa merakitnya sendiri?? Kamu pintar melakukannya, kenapa harus membuang-buang uang?!"! celetuk Honey, tidak paham dengan maksud Sia yang bertingkah demikian.


"Aku membutuhkan kamera ini untuk mengganti kamera yang ada di mobil suamiku. Tipenya mirip dan bentuknya suka mirip, aku tinggal memberinya beberapa sentuhan saja. Lagi pula, aku juga harus memasang alat penyadap di kamera kecil ini!"


"Wooo ... ekstrem sekali. Memangnya kamu tidak berhasil memasang penyadap di ponsel Albert? Harusnya kamu bisa melakukannya, bukankah kamu kemarin bilang kalau berhasil meminjam ponselnya??" tanya Honey, masih heran.

__ADS_1


"Ya, aku boleh meminjam ponselnya. Tapi itu masih sekedar permainan saja. Hari ini aku baru memasangnya, mungkin. Aku sudah menduga, Albert pasti curiga dengan gerak-gerikku. Jadi aku tidak bertindak gegabah. Dia itu pebisnis ulung, aku tidak bisa meremehkannya, walaupun dia sedang jatuh hati pada aku. Tapi aku tetap harus mengambil tindakan seaman mungkin!" Sia menatap Honey dengan tatapan serius. "Karena saat kepercayaannya luntur, maka di sanalah kuburanku terpampang, kamu mengerti?!"


__ADS_2